Review: Daybreakers

| Selasa, 01 Februari 2011 | |








8 tahun dari sekarang, tepatnya di tahun 2019, bumi tidak lagi didominasi oleh manusia. Sebaliknya ras manusia sekarang diburu dan menjadi barang langka, bahkan di “ternak” kan layaknya sapi yang diambil susu dan dagingnya. Bedanya disini, darah manusia yang segarlah yang sangat diperlukan. Pertanyaannya untuk apa darah manusia? Tentu saja sebagai bahan makanan utama, karena populasi bumi sekarang digantikan oleh vampir. Sebuah wabah penyakit mengubah hampir seluruh manusia yang hidup menjadi makhluk yang haus darah, sisanya yang masih normal menjadi manusia tak punya harapan lagi. Manusia yang tersisa di tangkap dan dijadikan hewan ternak untuk diambil darahnya, dan vampir pun akan hidup bahagia. Tapi kesempurnaan itu tidak selamanya sekekal hidup abadi para vampir ini. Vampir-vampir yang sekarang hidup layaknya manusia, berprilaku seperti manusia ini –yang membedakan adalah malam hari adalah waktu dimana mereka bisa beraktivitas, karena sinar matahari adalah musuh bebuyutan vampir– sekarang tengah menghadapi krisis pangan (darah). Jumlah manusia semakin berkurang, tak lama lagi kemungkinan besar sumber makanan mereka satu-satunya akan punah.
Tugas Edward Dalton (Ethan Hawke) dan beberapa ilmuwan lain di Bromley Marks-lah yang dapat menghentikan mimpi buruk para vampir tersebut untuk tidak menjadi nyata. Bromley Marks sendiri adalah supplier darah terbesar di Amerika, dipimpin oleh seorang yang hanya memikirkan bisnis saja, Charles Bromley (Sam Neill). Ditekan oleh bos dan fakta mengerikan yang ada –vampir akan berubah menjadi hewan buas berbentuk kelelawar jika “kehausan” dalam waktu yang lama– Dalton terus melakukan eksperimen-eksperimen di lab, guna menemukan darah sintetik yang bisa menggantikan darah manusia. Berbeda dengan vampir-vampir lainnya, Dalton termasuk “vampir baik”, dia juga tidak meminum darah manusia. Di tempat lain, sekelompok manusia yang dipimpin oleh Audrey (Claudia Karvan), bergerak dalam kegelapan untuk menolong manusia yang masih hidup dari patroli vampir. Takdir pun mempertemukan Audrey dan Dalton, dengan memanfaatkan kebaikan Dalton dan keahliannya, Audrey memperkenalkannya dengan Elvis (Willem Dafoe). Elvis ternyata dahulu adalah seorang vampir namun karena keajaiban dia bisa “sembuh”. Dia-lah kunci satu-satunya untuk membuka tabir misteri yang akan menghentikan manusia dari kepunahan.
Di film, vampir biasanya digambarkan sebagai “kaum” minoritas yang harus dijauhi dan diburu karena dianggap setan atau iblis penghisap darah. Vampir pun sulit untuk berbaur dengan manusia yang notabennya mendominasi planet, seperti dilihat di seri “Blade” dan film-film vampir lain. Munculah “Daybreakers” dengan duo sutradara kembar yang mengubah paradigma lama sebuah film vampir. Michael dan Peter Spierig, yang lebih percaya diri dengan nama “panggung” The Spierig Brothers ini, menghadirkan kisah mahkluk penghisap darah yang bener-benar diluar perkiraan dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Mereka berdua dengan seenaknya menjungkir-balikkan situasi kedalam plot yang menarik, kali ini manusia yang diburu dan vampir menguasai dunia. Tidak hanya mendominasi, vampir digambarkan punya kehidupan layaknya saat mereka masih manusia. Memiliki jabatan, bersosialisasi, bepergian, berbelanja, sampai minum kopi, tentu saja tidak lagi memakai gula sebagai “pemanis” tetapi darah.
Kucuran dana yang tidak sedikit dari pihak studio –padahal sebelumnya mereka hanya filmmaker independent yang sempat membuat film zombie berjudul “Undead”– tidak disia-siakan oleh The Spierig Brothers, sebaliknya mereka berhasil mentransfer ide cerita yang bisa dikatakan orisinil ini ke dalam visual layar lebar yang menarik. Sutradara yang juga menuliskan sendiri cerita film ini, dengan cermat dapat menambahkan pernak-pernik cantik ke dalam filmnya. Unsur-unsur khas film vampir yang sudah ada diracik kembali dengan ide-ide baru, hasilnya adalah aksi vampir versus manusia selama 98 menit yang diluar dugaan mengundang decak kagum. Walau tidak sepenuhnya diisi dengan adegan action, tetapi juga diselingi dengan pertarungan moral antara kedua belah pihak. Duo sutradara asal negeri kangguru ini juga tidak lupa mengemas film ini dengan paket “gore” yang cukup intens dimunculkan di beberapa adegannya. Darah dan adegan sadis memang sepertinya sengaja dicampurkan sebagai “bumbu penyedap”, tapi jangan bayangkan film ini dengan film-film slasher seperti “Saw”. Tingkat sadis di film ini masih bisa dikatakan wajar, sebagai pemacu aliran darah ke titik adrenalin yang pas.

Tentu saja jika berbicara kelebihan, belum lengkap jika tidak “curhat” soal kelemahan film ini. The Spierig Brothers seperti halnya manusia biasa dan vampir yang juga punya kekurangan, sayangnya tidak maksimal dalam mengolah cerita yang sudah tampil orisinil ini. Di beberapa bagian masih saja ditemui hal-hal klise, adegan-adegan diusahakan agar menarik terkadang tidak maksimal dan justru terkesan “murahan”. Dengan ending film yang juga mudah ditebak, kekuatan film ini menjadi berkurang walau tidak sampai menjadikan film ini kalah telak. Film ini masih punya “senjata rahasia” seperti visual-visual efek yang diciptakan agar penonton tetap berada di kursi. Dukungan perusahaan sekelas Weta Workshop dalam menciptakan desain mahkluk vampir yang mengerikan,  terbukti sanggup membuat leher ini serasa digerayangi oleh gigi-gigi tajam mereka. Jika itu dirasa belum cukup, film yang memulai produksinya pada 2007 ini di Australia ini punya kumpulan pemain yang ternyata bisa mendukung film dengan baik. Terutama Ethan Hawke yang dapat memerankan lakonnya dengan meyakinkan sebagai ilmuwan dan vampir yang “cool” serta masih memiliki hati manusia ini. Secara keseluruhan film yang juga menampilkan Willem Dafoe ini, tampil unik dengan ceritanya. Menginjeksi “darah segar” kedalam genre vampir yang sudah kehilangan taringnya. Enjoy!