Jalan Hidup Seorang Pendekar

Ada adegan ciuman antara aktor asal Korea Selatan, JANG Dong-gun dengan aktris asal Amerika, Kate Bosworth, yang menjadi lawan mainnya di “The Warrior’s Way”, sebuah adegan yang tampaknya makin menegaskan adanya kedekatan hubungan antara Asia dan Hollywood di film yang disutradarai oleh Sngmoo Lee ini. Faktanya film yang memiliki bujet lebih dari 40 juta dolar ini memang buah kreasi dari “perkawinan” antara timur dan barat, tidak hanya menghadirkan aktor asal Korea kemudian dicampur dengan talenta-talenta dari Amerika, atau bahkan Australia dengan masuknya Geoffrey Rush—si ahli terapis pidato, Lionel Logue, di “The King’s Speech” dan si Kapten Barbossa dalam seri “Pirates of the Caribbean”—dalam jajaran pemainnya. Kerjasama antara timur dan barat itu juga dibuktikan oleh “The Warrior’s Way” dalam keseluruhan produksi film ini, dari proses pengembangan, investasi, kasting, koreografi, musik, sampai urusan sinematografi yang dipercayakan pada Kim Woo-hyung dan juga departemen visual efek, yang tidak hanya diisi oleh artis-artis visual efek asal Amerika saja tetapi juga terdapat nama-nama asal Korea Selatan. Yah disana ada semangat kolaborasi yang tinggi untuk membuat “The Warrior’s Way” tampil maksimal tetapi untuk dibilang sebagai film yang luar biasa, debut penyutradaraan Sngmoo Lee ini masih jauh dari kata tersebut, walau tidak juga bisa dikatakan sebagai film yang jelek.
Tidak butuh waktu lama bagi “The Warrior’s Way” untuk sekilas mengingatkan memori saya dengan “300” (Zack Snyder, 2006), entah itu lewat perkenalan dengan gaya narasi yang novel grafis banget dan sudah pasti rentetan adegan aksi yang banyak divisualkan dengan darah-darah dijital serta selusin slow motion. Tapi saya tidak akan menghabiskan waktu untuk membandingkan kedua film tersebut, “The Warrior’s Way” bersama dengan narasinya akan memperkenalkan kita dengan bakal calon pendekar pedang termasyur di muka bumi, Yang (Jang Dong-gun), dari klan “The Sad Flute”. Satu-satunya jalan untuk menjadi yang terhebat adalah dengan cara mengalahkan pemegang sabuk juara saat ini, kesempatan itu datang ketika Yang mendapat tugas menghabisi klan yang sudah menjadi musuh bebuyutan klannya selama ini, sebagai bonus dia akhirnya bertemu sang pendekar pedang terhebat dan berhasil merebut gelarnya. Namun tugas utama Yang tidak tuntas karena rasa kemanusian berbicara lain ketika dia tidak tega membunuh seorang bayi tidak berdosa, akhirnya dia pun melarikan diri bersama bayi dari klan musuh dengan resiko dia pun akan diburu oleh klannya sendiri karena dianggap penghianat.

Pelarian Yang mengantarkannya sampai ke negeri jauh di seberang, tepatnya di sebuah kota Amerika zaman old west, gersang dikelilingi padang rumput kering dan gurun, kota dengan tumpukan bangunan-bangunan dari kayu yang telah usang dengan landmark unik sebuah kincir besar yang tampaknya tidak lagi berfungsi. Yang bukan sedang tersesat tapi sengaja datang ke tempat yang dihuni banyak pemain sirkus ini untuk menemui sahabat lama, tapi ternyata dia datang terlambat karena orang yang ingin dikunjungi telah terlebih dahulu tiada. Maka “terjebaklah” Yang bersama bayi perempuan di kota ini, awalnya si pendekar tidak tahu harus apa di tempat yang begitu asing dan kehidupan yang jelas beda dari negeri asalnya, tapi lama-kelamaan dia mampu beradaptasi. Dibantu Lynne (Kate Bosworth), seorang gadis tomboi yang punya masa lalu tragis ini, Yang akhirnya mulai diterima di kota tersebut, apalagi ketika dia melanjutkan usaha cuci-mencuci milik kawan lamanya. Masa “menganggur” Yang tidak lama, karena kota kedatangan bandit-bandit berkuda yang dipimpin oleh Colonel (Danny Huston), di tempat lain klan Sad Flute yang diketuai oleh guru Yang sendiri juga mulai bergerak memburu sang penghianat.
Bukan perkara mudah memang ketika “The Warrior’s Way” seperti ingin menceritakan semuanya dalam satu film, dari dua musuh, bandit dan sad flute, yang akan mendatangi kota sampai setiap karakter yang juga memiliki masing-masing latar belakang yang ingin kebagian porsi bercerita, belum lagi usaha film ini untuk menambah satu kisah lagi, porsi cinta yang klise antara Yang dan Lynne. Banyaknya kompilasi kisah yang berdesakan untuk tampil di layar memang terkadang akan makin membuat film semakin menarik, jika mampu diolah dengan formula yang benar. Tapi apa yang terjadi di “The Warrior’s Way” justru sebaliknya, Sngmoo Lee yang pada debut kali ini juga merangkap sebagai penulis skenario memang lihai menambah pernak-pernik cerita pendukung kisah utama, namun ketika berbicara soal esekusi, Lee akan membuat “The Warrior’s Way” berjalan terseok-seok, banyak adegan yang justru hanya membuang-buang waktu saja, misalnya Lee yang asyik fokus dengan karakter Yang dan Lynne, mereka banyak diberikan porsi adegan yang terlalu bertele-tele dibumbui romansa klise, hanya untuk menegaskan kisah “mentor dan murid yang akhirnya saling jatuh cinta”. Setelah dibuat segar dengan aksi-aksi pertarungan pedang ala ninja, bagian drama di kota yang busuk dengan berbagai macam kenangan ini sudah pasti menjadi pemacu kebosanan yang ampuh.


Sambil menunggu adegan aksi berikutnya, kita akan disajikan senampan karakter dengan segalon cerita yang sebetulnya digambarkan unik, apalagi kelompok sirkus ataupun Ron si pemabuk yang dimainkan oleh Geoffrey Rush, bahkan si kolonel bisa dibilang peran penjahat yang badass dengan hobinya memerkosa perempuan bergigi cantik. Sayangnya karena “The Warrior’s Way” lebih condong menceritakan klisenya hubungan Yang dan Lynne, maka karakter-karakter lain hanya stanby saja menunggu giliran porsi yang lebih sedikit. Untungnya, disaat sisi cerita tidak begitu berkilau, sejumlah adegan action jadi porsi yang menggiurkan mata. Dominasi komputer memang sangat jelas terlihat, film ini bisa dibilang dibangun dari itu, CGI dimana-mana, dari setting lokasinya sampai adegan pertarungan-pertarungan epik di “The Warrior’s Way”. Sngmoo Lee pun sanggup dengan baik memanfaatkan segala macam bentuk visual efek untuk membantunya merekreasikan berbagai adegan-adegan aksi yang pastinya ampuh dalam usahanya menghibur penonton, ditambah “The Warrior’s Way” juga tidak terlalu malu mengumbar adegan kekerasan dengan darah yang muncrat kesana-kemari atau bagian tubuh yang terpotong. Saya pikir menarik juga mengawinkan gemulainya seni beladiri pedang ala timur dengan keliaran seni tembak-menembak ala film koboi, hasilnya memang sanggup membiarkan adrenalin ini melompat-lompat kegirangan, pokoknya aksi hiburan yang cool!. Satu hiburan yang tidak boleh dilewatkan dari “The Warrior’s Way”, datang dari seorang bayi, kemunculan dari awal menjadi daya tarik tersendiri disini, menggemaskan! Hahahaha.




Pihak “penyerang” yang berbentuk seperti robot alien lengkap dengan persenjataan darat dan udara ini pun langsung melancarkan taktik Blitzkrieg, apapun tujuan mereka datang ke bumi, yang pasti manusia sepertinya tidak punya harapan. Namun bukan berarti kita diam saja, Amerika pun mengarahkan kekuatan militernya untuk mempertahankan kota-kota mereka, termasuk Sersan Michael Nantz (Aaron Eckhart) bersama dengan pasukan marinir yang bertugas mempertahankan kota Los Angeles dan mengevakuasi warga sipil. Nantz dan pasukannya yang “buta” dengan siapa mereka berhadapan, langsung terjun ke medan perang dan menyisir sudut demi sudut kota yang hancur hanya untuk menemukan bahwa mereka melawan sesuatu yang tidak pernah mereka hadapi sebelumnya.
Alien-alien ini memang punya taktik yang hebat untuk menguasai kota manusia dalam sekejap, dengan senjata canggih yang mereka bawa. sayangnya tidak dengan “Battle: Los Angeles” sendiri, filmnya justru tidak punya taktik sehebat alien, ceritanya bisa dikatakan lemah dan serangkaian drama yang coba dibangun juga tidak sekuat itu untuk menopang banyaknya pemain yang hilir mudik tanpa penggalian karakter yang cukup. Satu-satunya taktik yang cukup berhasil itu datang dari departemen visual effect. Ah berbicara soal efek khusus, salah-satu studio yang mengerjakan polesan pernak-pernik CGI di film ini adalah Hydraulx, milik Strause bersaudara, familiar dengan nama itu? wajar saja karena mereka tahun lalu membuat film bertema serupa, yakni “Skyline”. Karena film tersebut jugalah Hydraulx sempat bersitegang dengan pihak Sony Pictures Entertainment karena dituduh menggunakan materi dari “Battle: Los Angeles” untuk membuat film tandingan.


























Kita kemudian diperkenalkan oleh sosok detektif pemalas dan hobi makan, Albert Caponi (Gilles Lellouche), yang oleh Presiden (tidak secara langsung) diberikan mandat untuk mengatasi masalah burung purba ini dalam waktu 24 jam. Ketika Ptereodactyl sedang berkeliaran sibuk membuat keonaran di kota Paris, Adèle Blanc-Sec (Louise Bourgoin) di luar Perancis, tepatnya di Mesir tengah sibuk mengunjungi kuil demi kuil untuk mencari sebuah “harta karun”, sebuah mumi bergelar dokter di zaman Ramses II yang dipercaya dapat “menghidupkan” adiknya yang menderita koma selama 5 tahun. Kepiawaiannya dalam membaca simbol dan petunjuk akhirnya mengantarkan Adèle kepada makam sang dokter firaun tersebut. Walau sempat tertahan musuh bebuyutannya Dieuleveult (Mathieu Amalric), Adèle dengan mudah dapat melarikan diri dan akhirnya membawa peti berisi mumi tersebut ke kota Paris. Pertanyaannya adalah apa kaitannya mumi berusia ribuan tahun dengan kesembuhan adik Adèle, ternyata kuncinya ada pada Ptereodactyl, bukan maksud saya orang yang menghidupkannya, Espérandieu.
“The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” beruntung sekali bisa memajang nama Louise Bourgoin untuk berperan sebagai karakter utama Adèle Blanc-Sec, dengan porsi layar yang banyak, Louise dengan sangat meyakinkan telah menjelma menjadi seorang perempuan Paris yang mandiri, petualang sejati, tidak pernah menyerah ketika mewujudkan keinginannya apalagi untuk menyembuhkan adiknya, sifatnya yang satu ini kadang membuat dia terkesan antagonis karena selalu menempatkan kepentingan pribadi di atas segala-galanya dan tidak peduli dengan orang lain, termasuk juga terlewat keras kepada pria yang sebetulnya menyukainya.













