Review: The Green Hornet

| Senin, 14 Februari 2011 | |

“The Green Hornet” awalnya merupakan karakter fiktif yang dikreasi oleh George W. Trendle dan Fran Striker untuk sebuah acara di stasiun radio Amerika, yang debut pada tahun 1936. Sejak saat itu karakter The Green Hornet dan Kato, sidekick-nya muncul di banyak media, termasuk kemunculan serial komik dan film seri di tahun 1940an. Tidak hanya itu, The Green Hornet juga dibuatkan serial televisinya yang tayang dari tahun 1966 sampai 1967. Ada yang menarik tentang The Green Hornet versi serial televisi yang dimainkan oleh Van Williams sebagai Britt Reid aka Green Hornet ini, orang yang berperan sebagai Kato adalah Bruce Lee. Lewat serial Green Hornet, peran Bruce Lee sebagai Kato pun akhirnya secara tidak langsung memperkenalkan budaya beladiri negeri Amerika dengan kungfu., dan beladiri tersebut pun mulai populer sejak tahun 60an.
The Green Hornet ternyata tidak hanya dikenal di Amerika saja namun sukses di Hongkong, dengan judul yang lebih dikenal dengan “The Kato Show”, sejak saat itulah Bruce Lee akhirnya main di beberapa film dan membuatnya terkenal seperti apa yang kita tahu sekarang, seorang pop culture icon. Walaupun komik The Green Hornet masih bermunculan hingga tahun 2010, namun karakter ini tidak lagi pernah muncul di televisi maupun film, kecuali karakter Kato yang dibuat tributnya di film Hongkong “Black Mask” yang dimainkan oleh Jet Li pada tahun 1996, lalu ada “Legend of the Fist: The Return of Chen Zhen” yang dalam salah satu bagian filmnya, Donnie Yen memerankan karakternya Chen Zhen diperlihatkan sedang menyamar dengan gaya yang diinspirasi oleh Kato. Nah barulah di tahun 2011 ini, The Green Hornet kembali muncul untuk pertama kalinya di layar lebar, disutradarai oleh Michel Gondry (Eternal Sunshine of the Spotless Mind, The Science of Sleep, Be Kind Rewind).
Film yang dibintangi oleh Seth Rogen sebagai Britt Reid alias Green Hornet, sedangkan Kato dimainkan oleh Jay Chou ini, akan menceritakan seorang anak pengusaha media, Britt Reid yang diumurnya yang menginjak 28 tahun hanya bisa berleha-leha dari hasil kekayaan ayahnya, James Reid (Tom Wilkinson) yang ingin anaknya berubah dan tidak hanya berpesta dan justru berbuat memalukan sampai masuk surat kabar The Daily Sentinel, yang notabennya dimiliki sang ayah. Kehidupan liar Britt Reid pun masih saja berlanjut bahkan pada saat ayahnya ditemukan tewas karena alergi terhadap sengatan lebah, dia adalah orang yang terakhir mengetahui hal itu. Hubungan Britt Reid dengan ayahnya memang tidak berjalan sebaik itu, Britt pun hanya ingat dengan omelannya dan sifat kerasnya yang dia terima sejak kecil, namun kematian ini tetap saja membuat dia terpukul. Setelah pemakaman, Britt pun melampiaskan kekesalannya dengan memecat seluruh karyawan di rumahnya, kecuali seorang pelayan wanita dan beruntung dia tidak memecat Kato, seorang mekanik handal, jago beladiri, dan pembuat kopi terenak.
Pertemuan Britt dan Kato yang diawali dengan kopi lalu berlanjut dengan minum sampai mabuk bersama sambil saling melempar kebenciannya kepada mendiang James Reid. Mereka pun dengan konyol memutuskan pergi ke pemakaman dan memotong kepala patung ayah Britt. Disinilah untuk pertama kalinya Britt dan Kato beraksi menyelamatkan sepasang kekasih dari gangguan berandalan, namun mereka justru balik dikejar oleh para polisi karena disangka merekalah penjahatnya. Kejar-kejaran mobil pun terjadi, walau sedikit mengacau akhirnya Britt dan Kato selamat sampai kembali ke rumah. Diinspirasi oleh kejadian yang baru saja terjadi, Britt berpikir kenapa mereka tidak sekalian saja memerangi kejahatan, dengan menjadi semacam superhero, tetapi bedanya mereka akan berkedok sebagai penjahat untuk bisa mendekati penjahat yang sesungguhnya. Kato pun setuju dengan ide tersebut dan dengan keahliannya membuat alat-alat canggih dia segera menyiapkan semuanya, termasuk kostum, beberapa peralatan, senjata, dan kendaraan canggih yang dilengkapi senjata, bernama “Black Beauty”.
Britt juga memanfaatkan Daily Sentinel untuk mempromosikan aksi kejahatan mereka agar menjadi pusat perhatian orang banyak termasuk para penjahat. Sejak saat itu surat kabar yang diwarisi oleh sang ayah memfokuskan beritanya pada penjahat yang diberi nama “Green Hornet”. Dengan nama alter ego barunya, Britt dan Kato yang bertindak sebagai sidekick plus “supir” melanjutkan aksi kejahatan mereka. Di lain pihak, seorang penjahat beneran bernama Benjamin Chudnofsky (Christoph Waltz) yang menguasai pimpinan-pimpinan mafia di Los Angeles dibawah kekuasaannya, mulai gerah dengan ulah penjahat berkostum yang menganggu daerah kekuasaannya. “Green Hornet” pun sekarang punya musuh tandingan dan nama mereka tidak hanya jadi target media tetapi juga target pembunuhan, berhasilkah “Green Hornet” menangkap gembong penjahat LA atau justru mereka yang “disengat” lebih dahulu?
Nama Michel Gondry sendiri sudah menjadi daya tarik film ini, bagaimana sutradara Eternal Sunshine of the Spotless Mind ini nantinya akan menangani sebuah film action, karena selama ini Gondry dikenal dengan tema romantis, drama, dan komedi. “Green Hornet” pun tidak sepenuhnya akan berisi aksi-aksi pemacu adrenalin, menengok siapa nama penulisnya, yaitu Seth Rogen sendiri dan Evan Goldberg, wajar saja jika film ini juga akan dipenuhi oleh komedi yang bisa dibilang  begitu familiar dengan film-film Seth Rogen sebelumnya. Komedi sepertinya bukan masalah bagi Gondry, karena sebelumnya dia juga menyutradarai dan menulis sendiri film yang bertema komedi “Be Kind Rewind” dengan bintang utama Jack Black, tapi pertanyaannya adalah apakah Gondry bisa cocok dengan komedi yang ditulis oleh Seth Rogen dan Evan Goldberg. Kedua orang ini seperti yang kita tahu adalah partner in crime dalam menulis dan juga memproduseri film-film komedi dibawah bendera klan Judd Apatow, seperti contoh “Knocked Up”, “Superbad”, “Pineapple Express” dan “Funny People”. Pertanyaan tersebut tanpa basa-basi dijawab oleh Gondry dan “Green Hornet”-nya, bersiaplah tertawa karena sejak awal film ini akan menawarkan lelucon dan humor yang memang akan mengingatkan kita dengan gaya film produksi Apatow, tapi Gondry sendiri sepertinya mampu membatasi komedinya untuk tidak terlalu “Apatow” dan menjauhkan filmnya dari kesan tersebut.
Menyengat! itulah kata yang tepat ketika berbicara soal kemasan action yang dipadukan dengan komedi di “The Green Hornet”. Ketika komedinya begitu sukses membuat saya terpingkal-pingkal melihat bagaimana Seth Rogen bertingkah, plus dia sekarang tidak hanya akan beraksi dalam membuat orang tertawa tetapi juga bergelayut dalam film aksi superhero, yang jika saya tidak salah ingat memang belum pernah dia lakukan di film-film sebelumnya. Seth Rogen pun sanggup membagi porsi kelucuannya kepada Kato yang dimainkan oleh Jay Chou, yang walau porsi dialognya tidak sebanyak pemain lain tidak mengurangi pesona humornya disini, bahkan ketidakmampuan dia dalam berbahasa Inggris yang baik justru jadi kelucuan tersendiri. Seth Rogen tetaplah menjadi Seth Rogen yang kita kenal, kata-kata lucu yang keluar dari mulutnya, gaya beraktingnya ketika menyampaikan kelucuan tersebut tidak ada yang berubah, di film ini saya melihat Seth Rogen sebagai Seth Rogen, tetap lucu seperti biasanya, yang berbeda adalah dia kini adalah superhero bertopeng di film aksi-komedi yang ditangani oleh seorang Gondry.
Berbicara soal action, tidak adil juga jika dibilang “The Green Hornet” punya sajian aksi yang tidak ada apa-apanya, walau memang tidak ada yang baru kecuali ketika Gondry bermain dengan sesuatu yang spesial bernama “Kato Vision”, jejeran adegan aksinya bisa dibilang masih mampu menghibur mata dan juga adrenalin ini untuk meloncat-loncat bersama Kato dan Green Hornet, kenyataannya Gondry memang tidak membuat film aksi yang seburuk itu. Porsi aksi yang cukup melimpah memang tidak terlalu “menyengat” seperti apa yang dilakukan oleh porsi komedinya, namun semua itu tertutupi dengan apa yang disebut dengan “Kato Vision”, saya tidak akan membeberkan semua kejutan yang dipamerkan oleh Gondry disini, jadi sebaiknya memang tonton sendiri untuk merasakan sensasi “Kato Vision” tersebut. Sayangnya ajang pamer “Kato Vision” sangat langka di munculkan oleh Gondry, begitu pula dengan dukungan cerita yang berbobot. Seth Rogen dan Evan Goldberg betul-betul fokus mengisi ceritanya dengan ledakan humor ketimbang mengajak cerita untuk tidak menjurus klise dan di beberapa bagian cukup membosankan.
Cerita yang berfokus pada duo jagoan kita pun memberi ruang yang sempit pada porsi pemain lain untuk tampil lebih, Cameron Diaz misalnya yang bisa dibilang hanya jadi pemanis yang memberikan info bermanfaat bagi Green Hornet. Sedangkan Christoph Waltz yang bermain sebagai penjahat utama Chudnofsky, masih bisa menampilkan ciri khas aktingnya yang unik lewat aksen Rusianya dan gayanya yang terkadang konyol-konyol menakutkan. Waltz masih bisa memaksimalkan porsinya yang terbatas untuk bisa melebur dengan kelucuan-kelucuan yang ada, dia masih mampu tampil lucu tidak ingin kalah dengan Green Hornet tentunya. Dari segala kekurangan yang muncul, disinilah kerja keras Gondry, Seth Rogen dan Evan Goldberg akan diuji untuk mampu menutupi kekurangannya dan mereka terbukti memang berhasil menjadikan hasil akhir “The Green Hornet” agar tidak terpuruk. Lewat komedi yang menampar dan ledakan aksi yang sekali lagi saya sebut: menghibur! “The Green Hornet” masih layak untuk disaksikan di layar lebar, untuk merasakan sensasi sengatannya dan juga 3D yang bisa terbilang efektif di beberapa bagian aksinya, khususnya ketika Kato Vision mulai beraksi.