Review: Despicable Me

| Rabu, 09 Februari 2011 | |

Bulan Maret lalu, “Toothless” menjadi pusat perhatian lewat atraksinya yang menggemaskan di “How To Train Your Dragon”. Film animasi keluaran DreamWorks Animation tersebut tidak hanya sukses secara komersil dengan mengantongi $400 juta lebih tetapi juga berhasil “menghipnotis” para kritikus untuk memberikan respon positif. Sebuah pertanda baik bagi pecinta film animasi, karena sepertinya 2010 ini memang jadi tahun bagi film-film animasi. Seri terakhir dari “Shrek” pun muncul tahun ini dilanjutkan dengan sekuel ketiga dari petualangan Woody dan Buzz dalam “Toy Story 3”. Sukses besar yang diraih Woody dan kawan-kawan pun kembali mengharumkan nama besar studio animasi Pixar, untuk (masih) menjadi yang terbaik. Pertanyaannya sekarang adalah ketika studio-studio animasi yang sudah punya nama besar begitu mendominasi, apakah studio debutan seperti Illumination Entertainment sanggup berbicara banyak lewat film animasi pertama mereka “Despicable Me”?
Saya sendiri sempat pesimis melihat gambar-gambar dan teaser trailer awal film ini tahun lalu (apa yang saya mesti harapkan ketika filmnya saja masih akan tayang tahun depan). Namun seiring waktu berlalu, tentu saja dengan adanya tambahan poster, puluhan gambar, dan trailer, rasa pesimis itu tergantikan oleh rasa penasaran dan ekspektasi lebih. Apalagi saat perhatian saya “tercuri” oleh kehadiran para Minions yang sepertinya akan menjadi “maskot” film ini. Keyakinan saya bahwa film ini tidak akan mengecewakan ternyata memang terbukti benar, saya tidak kecewa itulah intinya. Dan pertanyaan saya di awal paragraf pun terjawab dengan mudah, studio baru ini ternyata sanggup berbicara, walau tidak “selantang” Woody. Saya tidak akan sejahat Gru dengan membandingkan film ini secara detil dan head to head dengan Pixar ataupun DreamWorks Animation. Apalagi saya menganggap film-film keluaran Pixar hanya pantas untuk dibandingkan dengan film-film mereka sendiri (hehe). Sekali lagi ini hanya komentar seorang yang masih buta ilmu film, ketika melihat kenyataan kualitas dan “benchmark” studio tersebut sepertinya masih sulit untuk dilampaui.
Jadi mari kita fokus saja pada “Despicable Me”, film ini mengawali kisahnya lewat fenomena aneh ketika dunia kehilangan salah satu keajaibannya, Piramida di Mesir. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah Perancis menjaga Menara Eiffel-nya dan Cina dengan persenjataan lengkap tidak akan membiarkan siapapun mencuri Tembok Besarnya. Pada saat seluruh dunia panik, tidak demikian dengan Gru (Steve Carell) yang masih berleha-leha dengan status penjahat nomor satu di dunia. Namun ketika dia tahu seseorang telah berhasil mencuri piramida, Gru sadar tahta penjahat paling terjahat akan segera pindah ke tangan orang lain. Ketika Gru mengetahui penjahat nomor satu itu ternyata adalah anak muda bernama Vector (Jason Segel), dia pun merencanakan kejahatan yang lebih besar dari sekedar mencuri piramida, yaitu mencuri bulan!. Sayangnya sebelum menjalankan rencana terbesarnya itu, Gru terhalang masalah dana untuk membuat roket dan juga harus mencuri sebuah senjata yang bisa mengecilkan segalanya, termasuk bulan.
Untuk mendanai proyeknya, Gru mendatangi “Bank of Evil” disinilah dia bertemu untuk pertama kalinya dengan Vector. Langkah berikutnya mencuri senjata pengecil seharusnya bisa berhasil jika tidak mendapat gangguan dari Vector yang mencuri senjata tersebut dari tangan Gru. Permusuhan diantara mereka pun dimulai, Gru yang harus mendapatkan senjata pengecil tersebut untuk memuluskan jalannya menuju ke bulan sepertinya tidak akan mudah mencurinya kembali dari Vector. Segala cara dia lakukan untuk memasuki “benteng” Vector yang penuh jebakan dan persenjataan lengkap. Satu-satunya yang bisa masuk ke tempat Vector justru anak-anak penjual kue, otak licik Gru pun segera bereaksi ditandai dengan kata-kata sakti dari mulutnya “light bulb” (dengan aksen inggris-eropa). Margo, Edith, dan yang paling menggemaskan si kecil Agnes akhirnya diadopsi oleh Gru dari panti asuhan. Anak-anak penjual kue ini tentu tidak sadar sedang diperalat oleh ayah baru mereka. Selagi Gru sibuk dengan proyeknya bersama dengan para makhluk kuning bernama Minions dan asisten setianya Dr, Nefario, dia pun secara tidak sadar merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakan sebelumnya, yaitu menjadi orang tua.
Apakah Gru berhasil terbang ke bulan atau dia justru menemukan kembali kebaikan yang selama ini telah tercuri dari dalam hatinya? Lewat sebuah kisah animasi yang sederhana, saya kembali diajarkan berharganya nilai keluarga. “Despicable Me” berhasil mengemas nilai-nilai positif tersebut dengan kelucuan yang dihadirkan oleh Gru dalam menggapai ambisinya mencuri bulan, Agnes yang sangat adorable, dan tentu saja tidak lupa dengan pencuri perhatian nomor satu di film ini, para Minions. Para kreator film ini bisa dibilang cemerlang dengan ide karakter berwarna kuning memakai kacamata besar ini. kelucuan-kelucuan yang muncul di film ini kebanyakan berasal dari aksi para anak buah Gru ini. Jumlahnya banyak, kecil, imut, menggemaskan, sering memukul temannya sendiri, bisa punya seribu ekspresi, dan berbicara gibberish, membuat saya langsung jatuh hati pada komplotan pemancing tawa ini.
Keseluruhan kemasan komedi dalam film ini dikemas tidak berlebihan oleh Pierre Coffin dan Chris Renaud namun efektif dalam menghasilkan adegan-adegan yang “memaksa” penonton untuk tertawa. Saya tidak pernah berhenti tertawa ketika tiba lagi saatnya untuk para Minions muncul di layar bioskop. Mereka benar-benar ditempatkan dengan pas pada situasi yang menggelikan, pada akhirnya sukses merangsang urat tawa penontonnya. Gru yang menjadi tokoh utama disini juga tidak kalah kocak, beberapa adegan saat dia hendak mencuri senjata dari Vector atau terpaksa bermain dengan Agnes dan yang lainnya jadi kunci suksesnya dalam membuka tawa penonton, terlebih dengan logat Inggris-nya yang ke-eropa-eropaan. Berbicara soal kekurangan, formula cerita film ini memang masih bisa dibilang kurang teracik dengan hebat dengan plot standart dan alur yang mudah ditebak. Hey untuk ukuran studio baru saya akan melupakan sisi minus film ini, karena dengan dosis hiburan yang diinjeksikan film ini, perasaan menyenangkan itu dengan bahagia berenang-renang mengalirkan euphoria ke dalam penatnya otak.

Review: Cewek Gokil

| | |
Jika nantinya “Cewek Gokil” terkesan ketinggalan zaman dalam hal lagu-lagu pengiring atau dialog antar pemainnya, wajar karena film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani ini awalnya diperuntukan untuk rilis di tahun 2008. Setelah menunggu tiga tahun, film dari rumah produksi Mvp Pictures ini baru bisa dirilis sekarang, katanya sih menunggu momen yang tepat, karena tahun-tahun sebelumnya sedang gencar-gencarnya tema horor yang mendominasi pasar, jadi “Cewek Gokil” terpaksa mengalah untuk ditaruh di awal tahun 2011, tepatnya rilis pada 20 Januari. Film bertema komedi remaja ini memfokuskan ceritanya pada karakter Keke (Velove Vexia), yang di pembukaan film diperlihatkan sedang berlari-lari mengejar sesuatu yang tidak jelas, sambil dirinya juga ternyata sedang dikejar-kejar juga oleh massa. Ketika penonton mulai bertanya-tanya “ada apa?”, adegan tersebut berhenti dan seketika langsung pindah ke masa lalu dimana Keke masih kecil, Keke pun bertugas menarasikan setiap kisah masa lalunya dan kisah-kisah lainnya nanti. Dari kecil Keke itu bisa dibilang hidup “mandiri” karena orang tuanya terlalu sibuk, entah itu ibunya yang disibukkan dengan pekerjaan menjahitnya atau ayahnya yang sibuk bertengkar dengan ibunya, sampai akhirnya orang tua Keke pun berpisah.
Sejak saat itu, Keke makin tidak dipedulikan, tinggal bersama ibunya yang makin sibuk saja dengan jahit-menjahit pakaian. Bahkan kakak satu-satunya pun seperti “hilang” dari kehidupannya, beruntung Keke masih punya nenek yang sangat sayang dengannya. Dari sejak bayi, Keke justru lebih dekat dengan sang nenek, mendapat pelajaran hidup serta nasehat-nasehat kebaikan dari neneknya, ketimbang ibunya yang hanya bisa menyuruh ini dan itu lalu marah-marah. Semua kilas balik yang dinarasikan Keke ini pun lengkap memperkenalkan sang tokoh utama kita, menjelaskan kenapa pada akhirnya dia harus kerja sana-sini, saking fokusnya dengan Keke, karakter lain hanya dijelaskan sepotong-sepotong, kadang hilang lalu dimunculkan lagi. Akhirnya Keke beranjak dewasa, sudah lulus sekolah ceritanya, karena sudah dibiasakan mandiri dari kecil, sudah besar pun dia harus mencari uang sendiri untuk membiayai keperluannya pribadinya, termasuk obsesi-nya untuk mempunyai mobil sendiri, sebuah mobil mini cooper yang bisa dicicil, bukan hanya cicilan uang tapi bisa dicicil bagian body mobilnya. Keke pun harus banting tulang untuk mendapatkan uang 30 juta, dengan bekerja serabutan, menjadi guru les matematika dan bahasa Inggris, SPG, sampai ikutan kasting. Apakah Keke mampu mewujudkan satu impiannya membeli mobil tersebut?
“Cewek Gokil” seperti judulnya memang akan memperlihatkan kegokilan Keke dalam memenuhi setiap keinginannya, termasuk membeli mobil yang tidak hanya semata-mata untuk kebutuhan pribadi tetapi punya niat tulus didalamnya untuk membantu ibunya dengan mobil tersebut, yah untuk lebih mudah mengantar barang-barang jahitan. Keke trauma membawa barang jahitan yang banyak dan harus naik angkutan umum, diganggu kenek, sampai akhirnya menciptakan keributan massal karena ulah Keke mengejar bis yang jalan begitu saja dengan barang-barang Keke masih berada didalamnya. Ulah Keke di film ini memang tidak ada duanya, itu untuk mewujudkan hubungan film dengan judul yang berembel-embel kata gokil, yang bisa diartikan gila. Bermodalkan tema remaja, film ini juga memanfaatkan semangat anak muda, fase dimana biasanya banyak keinginan ini dan itu yang muncul, menjadi sebuah obsesi yang mesti dikejar, karakter Keke mewakili hal tersebut, dengan kegokilannya yang terkadang dikemas berlebihan.
Berbicara soal kemasan, “Cewek Gokil” bisa dibilang tidak se-gokil Keke yang tampil cukup habis-habisan. Terbungkus kurang rapih, saya masih melihat bayangan kameramen ketika sedang ingin menyorot karakter-karakternya, pencahayaan yang tidak alami ketika menyorot Keke di angkot pada saat cuaca di luar tampak mendung karena wajah Keke seperti seorang artis yang sedang dikerumuni wartawan dengan lampu-lampu kamera yang terlalu terang, atau pemakaian footage yang sama berulang-ulang sampai lebih dari 5 kali (jika saya tidak salah hitung), ditambah bagian tersebut sangat low resolution dan tone-nya beda sekali dengan keseluruhan film. Untuk urusan cerita “Cewek Gokil” juga tidak terlalu istimewa, Keke akan menjalani banyak rintangan menuju uang 30 jutanya untuk membeli mobil, namun usaha film ini dalam menyisipkan masing-masing konflik terbilang hanya numpang lewat saja, hanya ingin memperlihatkan betapa mudahnya Keke nantinya melompati setiap rintangan yang telah dipersiapkan, dilengkapi dengan sedikit rasa putus asa dan kecewa. Membosankan dan cerita tidak berusaha mengajak kita ikut serta bersama Keke dalam mewujudkan impiannya, tiba-tiba tanpa sadar Keke sudah berhasil mendapatkan beberapa kaleng kerupuk penuh uang, hmm begitu mudah.
Untungnya tidak semua bagian film ini membosankan, “Cewek Gokil” masih memiliki Velove Vexia yang bisa saya katakan dengan jujur, bermain cukup gokil dalam artian mampu maksimal memerankan karakter Keke dan porsinya dimanfaatkan dengan baik, tidak hanya dia mampu bertingkah nyeleneh tetapi secara mengejutkan Velove berhasil membuat saya tertawa untuk pertama kalinya. Adegan ketika dia kasting untuk tambahan uang membeli mobil adalah bagian terbaik film ini, karena disini saya tertawa untuk pertama kalinya. Lucu bagaimana melihat Velove yang sedang memerankan Keke lalu dia berakting lagi menjadi orang lain, dengan tampang datarnya, adegan ini adalah satu-satunya hiburan tersendiri. Velove Vexia juga satu-satunya pemain yang berakting paling menonjol di film ini, yah sudah sepantasnya ketika perannya adalah sebagai tokoh utama. Sedangkan pemain lainnya benar-benar hanya dijadikan pelengkap, kadang dimunculkan untuk menambah-nambah penderitaan Keke, lalu hilang begitu saja, untuk nantinya lagi-lagi muncul, salah-satunya adalah karakter pacar Keke (Syailendra Soepomo). Karakter yang satu ini muncul hanya untuk mengumbar gombal sesaat, benar-benar mengganggu, lalu hilang dan muncul kembali ketika film memang membutuhkan dia untuk sekedar berbasa-basi soal indahnya cinta, klise. Lewat kemasan dan cerita “Cewek Gokil” yang kurang maksimal seperti ini, kegokilan Velove Vexia sepertinya mubajir.

Review: Faster

| Senin, 07 Februari 2011 | |
Memang sudah saatnya Dwayne Johnson, atau lebih dikenal dengan sebutan “The Rock” ini untuk “kabur” dari tema film-film yang  nga-The Rock-banget, sebut saja dua film sebelumnya, satu keluaran Disney “Race to Witch Mountain” yang memaksa dia untuk main kalem, karena ini film anak-anak. Film lainnya, “Tooth Fairy” yang lebih bertema komedi dan menggelikan mengharuskan sang Scorpion King memakai sayap untuk jadi peri gigi, terdengar sangat bodoh bukan untuk seorang yang dulunya dielu-elukan oleh banyak orang sebagai “The People’s Champ” ketika dia masih menggeluti dunia gulat hiburan. Walau tidak bermain di film action, setidaknya Dwayne Johnson masih lebih lebih baik bermain untuk film-film drama bertema american football seperti “Gridiron Gang”, atau masukan dia diantara orang yang benar-benar lucu seperti Steve Carell di film action-comedy “Get Smart”, maka jagoan kita juga tidak akan terlihat memalukan. Menyenangkan bisa melihat Dwayne Johnson beraksi sebentar bersama dengan Samuel L. Jackson dalam “The Other Guys”, masih terlihat pesona badass-nya di film aksi lucu-lucuan yang dihadiri oleh duo Will Ferrell dan Mark Wahlberg ini. Beruntung kita masih akan melihat dia beradu otot dan ketegangan bersama dengan Vin Diesel dan kawan-kawan dalam “Fast Five”, yah ini adalah film ke-5 franchise Fast and Furious.
Nah sebelum kejar-kejaran di “Fast Five”, sebagai pemanasan Dwayne Johnson akan dikurung dalam penjara karena merampok bank, setelah menjalani hukuman, akhirnya dia bisa menghirup udara kebebasan lagi. Saya sedang menceritakan “Faster” dimana Dwayne Johnson akan berperan sebagai Driver, jangan tanya lagi siapa namanya, itulah nama yang tertera di credit, karena sepanjang film pun tidak satu orang yang memanggil nama aslinya. Gelar “supir” tersebut memang pantas untuk Dwayne Johnson, karena di film yang disutradarai oleh George Tillman Jr. (Men of Honor) dia akan berperan sebagai laki-laki kekar, lugu, dan juga jago mengemudikan mobil. Karena keahliannya tersebut juga, Driver akhirnya diajak merampok bank, tugasnya membawa kakak dan komplotan-nya selamat dari kejaran polisi dan tentu saja tidak dipenjara. Kenyataannya kecerdikan Driver ketika berada dibalik kemudi memang berhasil mengantarkan mereka ke tempat yang aman. Sayangnya seseorang sepertinya berkhianat dan memberitahu lokasi mereka, komplotan lain datang untuk mencuri kembali hasil rampokan bank. Uang jerih payah merampok ludes, nyawa pun melayang, Driver kehilangan kakaknya yang tewas dibunuh, sedangkan dia sendiri sempat ditembak tepat di kepala namun ajaibnya selamat. Kini setelah keluar dari penjara, Driver hanya punya satu tujuan yaitu menuntut balas, darah dibayar dengan darah, hutang nyawa dibayar dengan peluru menembus kepala. Bermodal mobil “American Muscle”, Driver pun melaju, layaknya malaikat maut berada di kemudi yang sedang menjemput nyawa. Kill ‘em all, Rock!
“Faster” sepertinya memang fokus pada bagaimana Dwayne Johnson bertransformasi menjadi Driver, seorang yang tak kenal takut, nyali sebesar ototnya, dan tidak pernah pernah berkedip ketika menghamburkan peluru pada targetnya. Driver adalah sebuah mesin yang hanya bergerak untuk balas dendam, mungkin peluru yang pernah menembus kepalanya membuat otaknya sedikit berubah posisi, yang ada dipikirannya sekarang adalah main tembak sana-sini, tanpa peduli dia menembak di tengah kerumunan orang yang sedang pusing mengerjakan tugas kantor, atau menodongkan senjata pada ibunya sendiri, dia jelas tak berotak. Tapi pantaslah jika “Faster” memakai model jagoan yang seperti Driver ini, tidak perlu ambil pusing, nothing to lose, fokus pada misi membunuh semua pelaku yang bertanggung jawab menghancurkan kehidupannya dan membuat dia kehilangan kakaknya. Karena jika tidak dibuat seperti ini, “Faster” mungkin akan lebih terpuruk lagi menjadi sajian action yang tak berpeluru, tak berotot, dan tak bernyali, yang tersisa hanya cerita yang sebenarnya juga klise dan membosankan. Jika “Faster” begitu menggebu-gebu memamerkan aksi Driver, untuk urusan cerita bisa terbilang loyo.
Tunggu dulu, jika dibilang porsi cerita di anak-tirikan dan dilupakan, tidak benar juga sih, karena justru selagi Driver sibuk berjalan dari tempat A ke tempat B, kita akan diajak mengenal lebih jauh siapa sebenarnya algojo yang juga dijuluki “The Ghost” ini lewat serangkaian investigasi yang dilakukan oleh Cop (kenapa film ini malas sekali memberi nama pada karakternya?) yang diperankan oleh Billy Bob Thornton dan Cicero (Carla Gugino). Melalui investigasi mereka berdua, “Faster” seperti ingin menjawab setiap pertanyaan yang ada di benak penonton, selain jati diri Driver, juga siapa yang dibunuh olehnya, salah apa mereka, karena dari mulut Driver sendiri kita jarang menemukan jawaban-jawaban tersebut, dia hanya pandai menjawab dengan peluru. Jadi sekarang kita punya dua plot utama disini, Driver mengantarkan maut pada setiap dalang pembunuhan dan juga duo polisi yang berusaha menangkapnya. Tapi dua plot tersebut tidak cukup untuk mengisi slot durasinya yang hampir 100 menit, jadi disinilah peran duo bersaudara Tony dan Joe Gayton untuk memanjang-manjangkan cerita dengan beberapa subplot, termasuk Cop yang berjibaku dengan kecanduan obat-obatan terlarang dan kehidupan pernikahannya. Lalu selain polisi yang mengejar Driver, ada pembunuh bayaran (Oliver Jackson-Cohen) yang anehnya hanya membunuh untuk hobi, karena dia sendiri adalah milyuner muda yang punya segalanya, termasuk perempuan cantik yang tidak peduli jika pacarnya seorang pembunuh.
Alih-alih membuat cerita menjadi semakin menarik dengan menggali kehidupan pribadi polisi pecandu obat dan menambah lawan bagi Driver, dengan munculnya seorang hitman, kedua poin tersebut justru sangat-sangat lemah dalam usahanya menjadi perekat simpati (yang sebenarnya hanya pengalih perhatian) penonton kepada sang polisi dan sang pembunuh bayaran juga hanya terlihat numpang lewat, jauh dari kata lawan tanding sebenarnya bagi jagoan kita, dan pada akhirnya justru punya agenda sendiri yang sama tidak pentingnya dimasukkan seperti juga karakter dia yang muncul di “Faster”. Ketika ceritanya begitu cetek, sub-plot yang lemah malah makin membuat saya bertanya-tanya kenapa tidak dipakai saja untuk melebihkan porsi kehadiran “The Rock”. Karena anehnya tampang Dwayne Johnson bisa dibilang tidak terlalu banyak mengisi layar, kita hanya akan melihatnya dengan pola pengulangan, membunuh, membunuh, dan membunuh. Nah inilah yang sebenarnya dicari penonton, bukannya hitman ganteng yang punya penyakit egosentrik dan galau, membunuh lagi, tidak membunuh, ah membunuh lagi saja. Lebih baik durasi yang mubajir untuk memunculkan pembunuh bayaran yang satu ini dipakai saja untuk yang lain, lebih banyak baku tembak, atau adu jotos misalnya. “Faster” pada akhirnya menjadikan kekurangannya dua kali lipat lebih banyak, kekurangan adegan-adegan baku hantam serta subplotnya yang mengganggu. Tapi sebagai sebuah hiburan, film ini masih layak tonton dan menyenangkan, “Faster” itu The Rock-banget!

Review: The Mechanic

| Rabu, 02 Februari 2011 | |
 
Tidak salah memang jika pada akhirnya Sylvester Stallone mengangkut Jason Statham dalam satu truk dengan orang-orang kekar dan spesialis film action lainnya dalam film action paling ambisius tahun lalu ‘The Expendables’. Lihatlah curriculum vitae yang dimiliki Statham, dia pernah bermain dalam dua film Guy Ritchie (Lock, Stock and Two Smoking Barrels, Snatch), bertandem dengan Jet Li untuk pertama kalinya dalam “The One”, dan cukup sukses dengan franchise “The Transporter”, yang sudah menelurkan tiga film dan menghasilkan lebih dari $200 juta. Berbicara soal film kejar-kejaran mobil, baku hantam, dan melakukan seks di tengah keramaian chinatown, Statham sudah pernah melakukan itu semua di banyak film berbau steroid-nya, jadi pantaslah jika melihat sosok pria berkepala plontos ini pasti identik dengan film action tingkat tinggi (walau tidak semuanya dibarengi cerita yang membekas di kepala penontonnya). Meneruskan tradisi, Statham kembali bermain film yang bisa dibilang “Statham banget”, seorang pembunuh bayaran elit yang super-cool di film arahan Simon West “The Mechanic”.
The Mechanic” belum apa-apa sudah berhasil mempesona saya yang datang ke bioskop dengan ekspektasi rendah, Jason Statham yang berperan sebagai Arthur Bishop langsung memamerkan keahliannya dengan membunuh gembong obat-obatan terlarang Amerika Selatan. Sambil menghabisi targetnya tanpa diketahui orang lain, termasuk anak buahnya yang berkeliaran kesana kemari dengan senjata lengkap, Arthur memperkenalkan dirinya sebagai “The Mechanic”, orang yang bekerja “memperbaiki” masalah dengan cara paling bersih, membunuh targetnya dan meninggalkan tempat kejadian layaknya pembunuhan yang dia lakukan adalah sebuah kecelakaan. Adegan pembunuhan yang dituturkan sangat cepat di pembuka sudah dengan jelas memberitahu kita siapa sebenarnya Arthur dan apa pekerjaannya, dia cool, sangat fokus, tidak kenal takut, dan tipe orang yang you-definitely-don’t-want-to-mess-with, intinya pembunuh bayaran yang bad-ass.
Tibalah pekerjaan paling sulit datang kepada Arthur, membunuh mentor sekaligus kontak dia selama ini, Harry McKenna (Donald Sutherland), yang oleh ‘The Company’ sudah dianggap berkhianat dan harus dimusnahkan. Akan lebih mudah bagi ‘The Company’ dengan memilih Arthur untuk misi tersebut karena mereka teman dekat, namun bagi Arthur sendiri tentu saja sangat sulit membunuh orang yang sepertinya sudah dianggap bagai ayah. Pekerjaan tetaplah pekerjaan, dia akhirnya membunuh Harry. Setelah itu, Steve McKenna (Ben Foster) muncul, Arthur dan anak dari Harry tersebut pun bertemu sapa di pemakaman, mereka ternyata sudah saling kenal. Walau hubungan Steve dengan ayahnya renggang dan ayahnya lebih memilih Arthur untuk mewarisi keahliannya, dia tetap akan mencari dalang pembunuh ayahnya. Mendengar misi balas dendam Steve, Arthur mau tidak mau seperti punya “hutang” pada Steve, apalagi dia sendirilah pelaku yang dicari oleh Steve. Maka Arthur pun mulai menjadikan Steve layaknya murid dan mengajari apa yang harus dilakukan untuk menjadi seorang “Mechanic”. Melatihnya dengan skill dasar pembunuh bayaran, bagaimana merencanakan setiap misi, sampai cara mengesekusikan rencana dengan bersih, Steve pun diajak oleh Arthur dalam misi yang sesungguhnya dan memberikan dia sebuah “praktek kerja lapangan”.
Lupakan saja jika ceritanya memang klise dan mudah ditebak, karena “The Mechanic” punya sajian no-holds-barred-R-rated-action! yup didalamnya akan banyak adegan yang brutal dan Jason Statham sekali lagi membuktikan dia adalah jagoan di filmnya sendiri. Simon West yang bertanggung jawab dengan hiburan blak-blakan ini bukanlah orang baru di dunia film aksi, jika kalian tidak kenal namanya, pasti kalian kenal dengan film yang dibintangi oleh Nic Cage “Con Air” atau “Lara Croft: Tomb Raider” dengan si seksi Angelina Jolie sebagai Lara Croft, yup kedua film ini disutradarai oleh Simon West. Jika pada tahun 2006 dia mendaur-ulang sebuah film horor tahun 70-an berjudul “When A Stranger Calls” yang sayangnya terbilang terpuruk alias gagal, kali ini Simon mencoba kembali me-remake film tahun 70-an, “The Mechanic” yang dahulu dibintangi Charles Bronson. “The Mechanic” memang tidak menyiapkan keseluruhan film untuk menjadi sesuatu hal yang baru, temanya seragam dengan film-film pembunuh bayaran serupa yang memfokuskan cerita pada penghianatan dan balas dendam, itu pun bagi saya tidak masalah karena toh pada akhirnya Simon mampu membangun cerita yang “basi” dengan sajian pukul sana pukul sini, tembak sana tembak sini, yang terkesan tidak basa-basi.
Di film seperti “The Mechanic” ini apalagi yang diharapkan, jika bukan aksi brutal dan Simon menyanggupi harapan saya tersebut dengan loyal dan dengan alurnya yang bang-bang, dalam artian cepat, secepat Arthur membunuh target-targetnya, film ini terkesan berlalu begitu saja dan menjauhkan penontonnya dari rasa bosan tentu saja. Alurnya saya rasa melebur dengan baik dengan aksi yang saya sudah sebutkan di awal tanpa basa-basi. Simon pun mampu menjaga intensitas film ini untuk tetap terasa “mendidih”, kita tidak akan diberi kesempatan untuk melihat jam berapa sekarang, karena Simon dengan baik sanggup mengajak penonton untuk ikut dalam setiap misi yang dikerjakan oleh Arthur dan kelak bersama Steve. Pusat perhatian kita benar-benar sudah diarahkan untuk tertuju di layar, mengamati setiap kebrutalan yang mengasyikkan, perkelahian satu lawan satu yang dikemas sangat jantan, dan aksi-aksi lain yang sudah terinjeksi dengan perangsang adrenalin. Film ini memang sudah terpaket untuk Jason Statham, pria plontos berusia 43 tahun ini tidak pernah main-main jika berurusan dengan otot dan senjata, akting dan bisa dibilang insting binatang menyatu menjadi satu untuk memunculkan karakter Arthur yang dengan mudah bisa meninggalkan korbannya tergeletak tak bernyawa. Ben Foster yang tampik apik di film sci-fi horor “Pandorum”, bisa memberikan akting yang juga menarik, punya level buas yang setingkat dengan Arthur, itu menjadikan chemistry dua orang ini begitu kuat sebagai mentor dan murid, dan sebagai partner in crime ketika menghilangkan nyawa para targetnya. Jika kalian memang butuh aksi cepat tanpa basa-basi dan tidak perlu memikirkan soal cerita, “The Mechanic” adalah paket tontonan yang tepat, menghibur, action menggairahkan dan tanpa kompromi.

Review: Daybreakers

| Selasa, 01 Februari 2011 | |








8 tahun dari sekarang, tepatnya di tahun 2019, bumi tidak lagi didominasi oleh manusia. Sebaliknya ras manusia sekarang diburu dan menjadi barang langka, bahkan di “ternak” kan layaknya sapi yang diambil susu dan dagingnya. Bedanya disini, darah manusia yang segarlah yang sangat diperlukan. Pertanyaannya untuk apa darah manusia? Tentu saja sebagai bahan makanan utama, karena populasi bumi sekarang digantikan oleh vampir. Sebuah wabah penyakit mengubah hampir seluruh manusia yang hidup menjadi makhluk yang haus darah, sisanya yang masih normal menjadi manusia tak punya harapan lagi. Manusia yang tersisa di tangkap dan dijadikan hewan ternak untuk diambil darahnya, dan vampir pun akan hidup bahagia. Tapi kesempurnaan itu tidak selamanya sekekal hidup abadi para vampir ini. Vampir-vampir yang sekarang hidup layaknya manusia, berprilaku seperti manusia ini –yang membedakan adalah malam hari adalah waktu dimana mereka bisa beraktivitas, karena sinar matahari adalah musuh bebuyutan vampir– sekarang tengah menghadapi krisis pangan (darah). Jumlah manusia semakin berkurang, tak lama lagi kemungkinan besar sumber makanan mereka satu-satunya akan punah.
Tugas Edward Dalton (Ethan Hawke) dan beberapa ilmuwan lain di Bromley Marks-lah yang dapat menghentikan mimpi buruk para vampir tersebut untuk tidak menjadi nyata. Bromley Marks sendiri adalah supplier darah terbesar di Amerika, dipimpin oleh seorang yang hanya memikirkan bisnis saja, Charles Bromley (Sam Neill). Ditekan oleh bos dan fakta mengerikan yang ada –vampir akan berubah menjadi hewan buas berbentuk kelelawar jika “kehausan” dalam waktu yang lama– Dalton terus melakukan eksperimen-eksperimen di lab, guna menemukan darah sintetik yang bisa menggantikan darah manusia. Berbeda dengan vampir-vampir lainnya, Dalton termasuk “vampir baik”, dia juga tidak meminum darah manusia. Di tempat lain, sekelompok manusia yang dipimpin oleh Audrey (Claudia Karvan), bergerak dalam kegelapan untuk menolong manusia yang masih hidup dari patroli vampir. Takdir pun mempertemukan Audrey dan Dalton, dengan memanfaatkan kebaikan Dalton dan keahliannya, Audrey memperkenalkannya dengan Elvis (Willem Dafoe). Elvis ternyata dahulu adalah seorang vampir namun karena keajaiban dia bisa “sembuh”. Dia-lah kunci satu-satunya untuk membuka tabir misteri yang akan menghentikan manusia dari kepunahan.
Di film, vampir biasanya digambarkan sebagai “kaum” minoritas yang harus dijauhi dan diburu karena dianggap setan atau iblis penghisap darah. Vampir pun sulit untuk berbaur dengan manusia yang notabennya mendominasi planet, seperti dilihat di seri “Blade” dan film-film vampir lain. Munculah “Daybreakers” dengan duo sutradara kembar yang mengubah paradigma lama sebuah film vampir. Michael dan Peter Spierig, yang lebih percaya diri dengan nama “panggung” The Spierig Brothers ini, menghadirkan kisah mahkluk penghisap darah yang bener-benar diluar perkiraan dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Mereka berdua dengan seenaknya menjungkir-balikkan situasi kedalam plot yang menarik, kali ini manusia yang diburu dan vampir menguasai dunia. Tidak hanya mendominasi, vampir digambarkan punya kehidupan layaknya saat mereka masih manusia. Memiliki jabatan, bersosialisasi, bepergian, berbelanja, sampai minum kopi, tentu saja tidak lagi memakai gula sebagai “pemanis” tetapi darah.
Kucuran dana yang tidak sedikit dari pihak studio –padahal sebelumnya mereka hanya filmmaker independent yang sempat membuat film zombie berjudul “Undead”– tidak disia-siakan oleh The Spierig Brothers, sebaliknya mereka berhasil mentransfer ide cerita yang bisa dikatakan orisinil ini ke dalam visual layar lebar yang menarik. Sutradara yang juga menuliskan sendiri cerita film ini, dengan cermat dapat menambahkan pernak-pernik cantik ke dalam filmnya. Unsur-unsur khas film vampir yang sudah ada diracik kembali dengan ide-ide baru, hasilnya adalah aksi vampir versus manusia selama 98 menit yang diluar dugaan mengundang decak kagum. Walau tidak sepenuhnya diisi dengan adegan action, tetapi juga diselingi dengan pertarungan moral antara kedua belah pihak. Duo sutradara asal negeri kangguru ini juga tidak lupa mengemas film ini dengan paket “gore” yang cukup intens dimunculkan di beberapa adegannya. Darah dan adegan sadis memang sepertinya sengaja dicampurkan sebagai “bumbu penyedap”, tapi jangan bayangkan film ini dengan film-film slasher seperti “Saw”. Tingkat sadis di film ini masih bisa dikatakan wajar, sebagai pemacu aliran darah ke titik adrenalin yang pas.

Tentu saja jika berbicara kelebihan, belum lengkap jika tidak “curhat” soal kelemahan film ini. The Spierig Brothers seperti halnya manusia biasa dan vampir yang juga punya kekurangan, sayangnya tidak maksimal dalam mengolah cerita yang sudah tampil orisinil ini. Di beberapa bagian masih saja ditemui hal-hal klise, adegan-adegan diusahakan agar menarik terkadang tidak maksimal dan justru terkesan “murahan”. Dengan ending film yang juga mudah ditebak, kekuatan film ini menjadi berkurang walau tidak sampai menjadikan film ini kalah telak. Film ini masih punya “senjata rahasia” seperti visual-visual efek yang diciptakan agar penonton tetap berada di kursi. Dukungan perusahaan sekelas Weta Workshop dalam menciptakan desain mahkluk vampir yang mengerikan,  terbukti sanggup membuat leher ini serasa digerayangi oleh gigi-gigi tajam mereka. Jika itu dirasa belum cukup, film yang memulai produksinya pada 2007 ini di Australia ini punya kumpulan pemain yang ternyata bisa mendukung film dengan baik. Terutama Ethan Hawke yang dapat memerankan lakonnya dengan meyakinkan sebagai ilmuwan dan vampir yang “cool” serta masih memiliki hati manusia ini. Secara keseluruhan film yang juga menampilkan Willem Dafoe ini, tampil unik dengan ceritanya. Menginjeksi “darah segar” kedalam genre vampir yang sudah kehilangan taringnya. Enjoy!