Review: The Warrior's Way

| Senin, 02 Mei 2011 | |

Jalan Hidup Seorang Pendekar

Ada adegan ciuman antara aktor asal Korea Selatan, JANG Dong-gun dengan aktris asal Amerika, Kate Bosworth, yang menjadi lawan mainnya di “The Warrior’s Way”, sebuah adegan yang tampaknya makin menegaskan adanya kedekatan hubungan antara Asia dan Hollywood di film yang disutradarai oleh Sngmoo Lee ini. Faktanya film yang memiliki bujet lebih dari 40 juta dolar ini memang buah kreasi dari “perkawinan” antara timur dan barat, tidak hanya menghadirkan aktor asal Korea kemudian dicampur dengan talenta-talenta dari Amerika, atau bahkan Australia dengan masuknya Geoffrey Rush—si ahli terapis pidato, Lionel Logue, di “The King’s Speech” dan si Kapten Barbossa dalam seri “Pirates of the Caribbean”—dalam jajaran pemainnya. Kerjasama antara timur dan barat itu juga dibuktikan oleh “The Warrior’s Way” dalam keseluruhan produksi film ini, dari proses pengembangan, investasi, kasting, koreografi, musik, sampai urusan sinematografi yang dipercayakan pada Kim Woo-hyung dan juga departemen visual efek, yang tidak hanya diisi oleh artis-artis visual efek asal Amerika saja tetapi juga terdapat nama-nama asal Korea Selatan. Yah disana ada semangat kolaborasi yang tinggi untuk membuat “The Warrior’s Way” tampil maksimal tetapi untuk dibilang sebagai film yang luar biasa, debut penyutradaraan Sngmoo Lee ini masih jauh dari kata tersebut, walau tidak juga bisa dikatakan sebagai film yang jelek.
Tidak butuh waktu lama bagi “The Warrior’s Way” untuk sekilas mengingatkan memori saya dengan “300” (Zack Snyder, 2006), entah itu lewat perkenalan dengan gaya narasi yang novel grafis banget dan sudah pasti rentetan adegan aksi yang banyak divisualkan dengan darah-darah dijital serta selusin slow motion. Tapi saya tidak akan menghabiskan waktu untuk membandingkan kedua film tersebut, “The Warrior’s Way” bersama   dengan narasinya akan memperkenalkan kita dengan bakal calon pendekar pedang termasyur di muka bumi, Yang (Jang Dong-gun), dari klan “The Sad Flute”. Satu-satunya jalan untuk menjadi yang terhebat adalah dengan cara mengalahkan pemegang sabuk juara saat ini, kesempatan itu datang ketika Yang mendapat tugas menghabisi klan yang sudah menjadi musuh bebuyutan klannya selama ini, sebagai bonus dia akhirnya bertemu sang pendekar pedang terhebat dan berhasil merebut gelarnya. Namun tugas utama Yang tidak tuntas karena rasa kemanusian berbicara lain ketika dia tidak tega membunuh seorang bayi tidak berdosa, akhirnya dia pun melarikan diri bersama bayi dari klan musuh dengan resiko dia pun akan diburu oleh klannya sendiri karena dianggap penghianat.
Pelarian Yang mengantarkannya sampai ke negeri jauh di seberang, tepatnya di sebuah kota Amerika zaman old west, gersang dikelilingi padang rumput kering dan gurun, kota dengan tumpukan bangunan-bangunan dari kayu yang telah usang dengan landmark unik sebuah kincir besar yang tampaknya tidak lagi berfungsi. Yang bukan sedang tersesat tapi sengaja datang ke tempat yang dihuni banyak pemain sirkus ini untuk menemui sahabat lama, tapi ternyata dia datang terlambat karena orang yang ingin dikunjungi telah terlebih dahulu tiada. Maka “terjebaklah” Yang bersama bayi perempuan di kota ini, awalnya si pendekar tidak tahu harus apa di tempat yang begitu asing dan kehidupan yang jelas beda dari negeri asalnya, tapi lama-kelamaan dia mampu beradaptasi. Dibantu Lynne (Kate Bosworth), seorang gadis tomboi yang punya masa lalu tragis ini, Yang akhirnya mulai diterima di kota tersebut, apalagi ketika dia melanjutkan usaha cuci-mencuci milik kawan lamanya. Masa “menganggur” Yang tidak lama, karena kota kedatangan bandit-bandit berkuda yang dipimpin oleh Colonel (Danny Huston), di tempat lain klan Sad Flute yang diketuai oleh guru Yang sendiri juga mulai bergerak memburu sang penghianat.
Bukan perkara mudah memang ketika “The Warrior’s Way” seperti ingin menceritakan semuanya dalam satu film, dari dua musuh, bandit dan sad flute, yang akan mendatangi kota sampai setiap karakter yang juga memiliki masing-masing latar belakang yang ingin kebagian porsi bercerita, belum lagi usaha film ini untuk menambah satu kisah lagi, porsi cinta yang klise antara Yang dan Lynne. Banyaknya kompilasi kisah yang berdesakan untuk tampil di layar memang terkadang akan makin membuat film semakin menarik, jika mampu diolah dengan formula yang benar. Tapi apa yang terjadi di “The Warrior’s Way” justru sebaliknya, Sngmoo Lee yang pada debut kali ini juga merangkap sebagai penulis skenario memang lihai menambah pernak-pernik cerita pendukung kisah utama, namun ketika berbicara soal esekusi, Lee akan membuat “The Warrior’s Way” berjalan terseok-seok, banyak adegan yang justru hanya membuang-buang waktu saja, misalnya Lee yang asyik fokus dengan karakter Yang dan Lynne, mereka banyak diberikan porsi adegan yang terlalu bertele-tele dibumbui romansa klise, hanya untuk menegaskan kisah “mentor dan murid yang akhirnya saling jatuh cinta”. Setelah dibuat segar dengan aksi-aksi pertarungan pedang ala ninja, bagian drama di kota yang busuk dengan berbagai macam kenangan ini sudah pasti menjadi pemacu kebosanan yang ampuh.
Sambil menunggu adegan aksi berikutnya, kita akan disajikan senampan karakter dengan segalon cerita yang sebetulnya digambarkan unik, apalagi kelompok sirkus ataupun Ron si pemabuk yang dimainkan oleh Geoffrey Rush, bahkan si kolonel bisa dibilang peran penjahat yang badass dengan hobinya memerkosa perempuan bergigi cantik. Sayangnya karena “The Warrior’s Way” lebih condong menceritakan klisenya hubungan Yang dan Lynne, maka karakter-karakter lain hanya stanby saja menunggu giliran porsi yang lebih sedikit. Untungnya, disaat sisi cerita tidak begitu berkilau, sejumlah adegan action jadi porsi yang menggiurkan mata. Dominasi komputer memang sangat jelas terlihat, film ini bisa dibilang dibangun dari itu, CGI dimana-mana, dari setting lokasinya sampai adegan pertarungan-pertarungan epik di “The Warrior’s Way”. Sngmoo Lee pun sanggup dengan baik memanfaatkan segala macam bentuk visual efek untuk membantunya merekreasikan berbagai adegan-adegan aksi yang pastinya ampuh dalam usahanya menghibur penonton, ditambah “The Warrior’s Way” juga tidak terlalu malu mengumbar adegan kekerasan dengan darah yang muncrat kesana-kemari atau bagian tubuh yang terpotong. Saya pikir menarik juga mengawinkan gemulainya seni beladiri pedang ala timur dengan keliaran seni tembak-menembak ala film koboi, hasilnya memang sanggup membiarkan adrenalin ini melompat-lompat kegirangan, pokoknya aksi hiburan yang cool!. Satu hiburan yang tidak boleh dilewatkan dari “The Warrior’s Way”, datang dari seorang bayi, kemunculan dari awal menjadi daya tarik tersendiri disini, menggemaskan! Hahahaha.

Review: Battle: Los Angeles

| | |

Pertahanan Terakhir

Sudah pernah menonton “Black Hawk Down” karya Ridley Scott? apabila jawabannya adalah sudah, maka tidak akan asing melihat “Battle: Los Angeles”, karena film perang arahan sutradara Jonathan Liebesman (The Texas Chainsaw Massacre: The Beginning) ini bisa dibilang mengambil template film tahun 2001 tersebut. Bedanya tentara Amerika tidak lagi dipasangkan dengan tentara milisi Somalia yang sangar, melainkan musuh yang datangnya dari luar bumi, yup alien. Jadi selain terasa sangat “Black Hawk Down”, lalu dipoles dengan opening ala “Saving Private Ryan”, belum apa-apa film ini sudah asyik menyodorkan penonton dengan serangan besar-besaran alien ke kota Los Angeles, serta cuplikan-cuplikan televisi yang memperlihatkan bahwa tidak hanya LA yang ketiban sial tetapi juga kota-kota lain di Amerika dan belahan dunia lain. Sebuah hidangan pembuka yang tentunya tidak bisa ditolak dan saya berharap “Battle: Los Angeles” memang sudah siap dengan “amunisi” berisi adegan-adegan yang lebih gila dari opening tersebut. Tapi sayangnya harapan itu seperti dibombardir, walau tidak sampai luluh lantah.
Pada 11 Agustus 2011, bumi kedatangan tamu sebuah objek asing dari luar angkasa yang awalnya diduga hanya meteor biasa, objek yang “melambat” sebelum jatuh tersebut tiba di kota-kota besar, termasuk Tokyo, Rio de Janeiro, Buenos Aires, New Orleans, Mexico City, New York, Hong Kong, London, Paris, Barcelona, Hamburg, Sydney dan tentu saja Los Angeles (mungkin cerita dari kota lain bisa dijadikan sekuel). Penghuni bumi pun tidak perlu waktu lama sampai akhirnya pertanyaan “apakah mereka sendirian?” selama ini terjawab, ketika dari meteor-meteor tersebut bermunculan alien-alien yang memang semenjak awal bukan datang dengan damai.
Pihak “penyerang” yang berbentuk seperti robot alien lengkap dengan persenjataan darat dan udara ini pun langsung melancarkan taktik Blitzkrieg, apapun tujuan mereka datang ke bumi, yang pasti manusia sepertinya tidak punya harapan. Namun bukan berarti kita diam saja, Amerika pun mengarahkan kekuatan militernya untuk mempertahankan kota-kota mereka, termasuk Sersan Michael Nantz (Aaron Eckhart) bersama dengan pasukan marinir yang bertugas mempertahankan kota Los Angeles dan mengevakuasi warga sipil. Nantz dan pasukannya yang “buta” dengan siapa mereka berhadapan, langsung terjun ke medan perang dan menyisir sudut demi sudut kota yang hancur hanya untuk menemukan bahwa mereka melawan sesuatu yang tidak pernah mereka hadapi sebelumnya.
Jika setelah menonton film ini kalian berpikir kenapa para alien ini bersusah payah untuk menyerang kota-kota dan berhadapan dengan manusia ketimbang diam-diam mengambil yang mereka inginkan, yaitu air, kemudian pulang ke kampung halaman mereka dengan damai, well pikiran itu juga terlintas di kepala saya. Sayangnya dengan tujuan alien yang sudah ditentukan dari awal sudah begitu, “Battle: Los Angeles” terpaksa mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk menghibur kita dengan tumpukan special effect, perang-perangan, dan selipan drama. Alih-alih menyuruh aliennya diam-diam “menyedot” air yang memang melimpah di bumi dan membiarkan manusia berpikir bahwa telah terjadi fenomena aneh akibat pemanasan global, ketika tiba-tiba air laut surut begitu saja, film ini lebih tahu keinginan penonton dengan memerintahkan alien untuk menyerang kota-kota terpenting dunia. Jadi ketika manusia yang panik berpikir “hey kita sedang diinvasi, dikolonialisasi, dan dimusnahkan”, kemudian mati-matian mempertahankan kota mereka, pihak alien justru asyik menyedot sumber daya air di bumi tanpa gangguan.
Alien-alien ini memang punya taktik yang hebat untuk menguasai kota manusia dalam sekejap, dengan senjata canggih yang mereka bawa. sayangnya tidak dengan “Battle: Los Angeles” sendiri, filmnya justru tidak punya taktik sehebat alien, ceritanya bisa dikatakan lemah dan serangkaian drama yang coba dibangun juga tidak sekuat itu untuk menopang banyaknya pemain yang hilir mudik tanpa penggalian karakter yang cukup. Satu-satunya taktik yang cukup berhasil itu datang dari departemen visual effect. Ah berbicara soal efek khusus, salah-satu studio yang mengerjakan polesan pernak-pernik CGI di film ini adalah Hydraulx, milik Strause bersaudara, familiar dengan nama itu? wajar saja karena mereka tahun lalu membuat film bertema serupa, yakni “Skyline”. Karena film tersebut jugalah Hydraulx sempat bersitegang dengan pihak Sony Pictures Entertainment karena dituduh menggunakan materi dari “Battle: Los Angeles” untuk membuat film tandingan.
Saya pun kemudian melihat “Battle: Los Angeles” seperti sebuah pelengkap apa yang tidak dihadirkan oleh “Skyline”. Di review “Skyline”, saya ingat menyinggung bahwa nuansa “invasi” yang dibangun kurang terasa, maka “Battle: Los Angeles” membuatnya dengan cukup memuaskan dan tentunya meyakinkan karena seolah-olah dibuat senyata-mungkin, apalagi dengan kemasannya yang ala dokumenter itu. Jika “Skyline” terlihat superior di angkasa, maka “Battle: Los Angeles” fokus pada perang dalam kota dengan alien-alien berbentuk mekanik yang ditampilan persis seperti tentara manusia lengkap dengan rantai komando dan berperang layaknya manusia, bedanya mereka punya senjata lebih gahar. Sekali lagi atmosfir “Black Hawk Down” memang sangat terasa selama kita dibawa “jalan-jalan” bersama Sersan Nantz dan anak buahnya mengarungi reruntuhan kota Los Angeles. Walaupun cukup membosankan ketika berurusan dengan momen yang ditujukan untuk memancing emosi dan berbagai drama yang tampaknya gagal dalam misi untuk menciptakan chemistry dengan penonton. “Battle: Los Angeles” tidaklah seburuk itu, film ini masih menyenangkan dengan deretan aksi perang-perangan melawan alien, dengan dukungan visual efek yang mumpuni, mata kita pun akan dimanjakannya. Kita memang dipaksa untuk membuat taktik sendiri untuk menikmati “Battle: Los Angeles”, apalagi jika bukan lupakan ceritanya yang loyo itu.

Review: MEGAMIND

| | |

Kalau Penjahat Super Kehilangan Lawan

DreamWorks Animation akhirnya sampai juga pada persembahan terakhir di tahun 2010, dengan dirilisnya “Megamind”. Setelah meninggalkan jejak manis dengan “How to Train Your Dragon” lalu mengakhiri petualangan ogre berwarna hijau dalam “Shrek Forever After”, kini tanggung jawab besar bertumpu pada lelaki bertubuh ramping, berwarna biru, berkepala besar, berasal dari luar bumi, dan berotak penuh kejahatan ini. Apakah studio animasi yang bermarkas di Glendale, California ini mampu menyelesaikan misinya untuk semakin dekat dengan prestasi yang dimiliki Pixar, lewat “Megamind”? ah sebentar, saya tidak usah bermuluk-muluk lebih dahulu sepertinya, saya akan ubah pertanyaannya kalau begitu, apakah Megamind mampu mengalahkan “pesona” HTTYD yang sukses mendapat respon sangat positif dari para kritikus dan tentu saja di blog ini? walau jika dilihat dari segi komersil film ini masih kalah dengan seri terakhir Shrek yang mengantongi 700 juta dolar lebih.
Namun terlepas dari persaingan para studio animasi besar dan kecil dalam usahanya mengambil hati para penonton, pada akhirnya saya hanya akan melupakan persaingan tersebut, karena yang terpenting tahun 2010 ini saya sudah sangat dimanjakan dengan rilisnya film animasi yang bervariasi dari sisi cerita dan tentu kualitasnya, bisa dibilang tahun ini adalah tahunnya untuk film animasi, apalagi dengan kembalinya Woody dan Buzz. Mari kembali ke “Megamind”, tentu kalian pernah menonton film-film bertema superhero kan? nah jika biasanya yang menjadi bintang utama adalah mereka yang punya hati baik alias jagoan yang punya kekuatan super, entah itu bawaan sejak lahir, terkena sinar radiasi, tergigit binatang, atau hanya karena punya kekayaan berlebihan, intinya yah tetap sama, mereka akan selalu jadi sorotan untuk memamerkan kebaikannya. Apakah Megamind juga punya kekuatan super? bisa dikatakan demikian, otak-nyalah sumber dari kekuatannya. Tapi tunggu dulu, Megamind tidak memiliki kekuatan pikiran, telepati, dan semacam itu untuk menolong orang, sebaliknya otaknya yang besar menghasilkan ide-ide super-jenius untuk kejahatan…yah dia memang bukan superhero tapi supervillain.
Megamind (Will Ferrell) terlahir sangat pintar dari ras alien yang memang punya level intelejensi yang diatas rata-rata alias jenius. Sayangnya planetnya hancur karena sebuah black hole, masih berumur 8 hari, Megamind harus rela kehilangan orang tua dan berkelana sendirian di luar angkasa dalam kapsul penyelamatnya, sampai akhirnya tiba di bumi, lalu ditemukan oleh…bukan…bukan sepasang manusia berhati hangat (melirik superman), tapi berlabuh di penjara dan diasuh oleh penghuninya yang notabennya orang jahat. Megamind pun tumbuh besar dengan lingkungan yang tak mengenal kebaikan, hal tersebut diperparah ketika dia bertemu “pesaing”-nya yang ketika kecil juga sama-sama terlempar dari rumahnya—bertetangga dengan planet Megamind yang hancur—yang tersedot black hole juga. Di sekolah anak-anak berbakat, Megamind pun menempa naluri kejahatannya dan mengikis habis semua kebaikan karena perlakuan yang didapatnya di sekolah tersebut, termasuk rasa cemburunya dengan pesaingnya yang kelak akan menjadi pembela kebenaran bernama Metro Man (Brad Pitt).
Megamind selalu menjadi bahan ledekan, tak ada seorang pun yang ingin mengajaknya bermain, dan apapun yang dia lakukan selalu salah, sepertinya menjadi jahat adalah satu-satunya yang paling benar yang bisa dia lakukan, begitulah yang ada dikepalanya. Tahun demi tahun pun berlalu, persaingan antara Megamind dan Metro Man sekarang bukan lagi soal merebut perhatian teman-teman sekolah, tapi seluruh kota Metro. Megamind akan melakukan apa saja untuk bisa menaklukkan kota dengan segala rencana jahatnya dari A-Z, termasuk mengalah musuh bebuyutannya Metro Man. Sedangkan Metro Man sendiri juga tidak akan diam saja melihat kejahatan merajalela, betapa pun jahatnya, pada akhirnya kebaikan selalu punya jalannya sendiri untuk mengalahkan kejahatan. Metro Man pun dicintai penduduk Metro City, sedangkan Megamind mengulang nasib masa kecilnya, dikucilkan dan dibenci.
Megamind dengan sidekick-nya yang seekor ikan—yah ikan peliharaan lengkap dengan wadah kaca namun bertubuh robot—bernama Minion (David Cross) tidak pernah menyerah, kali ini mereka menculik reporter berita Roxanne Ritchi (Tina Fey) sebagai umpan untuk menjebak Metro Man. Rencana mereka anehnya berhasil mengurung sang pahlawan, Megamind pun mendapat bonus ketika kekuatan Metro Man perlahan hilang karena secara kebetulan observatorium tempat dimana dia terjebak terbuat dari tembaga, kelemahan terbesarnya (Kryptonite bagi superman). Dengan sekali serangan besar, Metro Man pun berhasil dikalahkan kali ini. Megamind tidak percaya bisa menaklukkan musuh besarnya dan sekaligus sukses menguasai kota. Awalnya kehidupan jahat Megamind berjalan normal dan bahagia, namun perlahan Megamind menyadari hidup tanpa lawan itu lebih menyebalkan ketimbang saat dia selalu dikalahkan semasa Metro Man masih hidup. Megamind akhirnya memutuskan untuk melahirkan seorang pahlawan baru, untuk mengembalikan gairah hidupnya, untuk dia lawan. Siapakah yang beruntung?
Seperti sudah menjadi tradisi bagi DreamWorks Animation, untuk memboyong para artis terkenal untuk duduk di depan microphone, meminjamkan suara mereka untuk masing-masing karakter animasi. Tokoh Megamind sendiri akan disuarakan oleh Will Ferrell dan sepertinya pilihan DreamWorks berjalan dengan baik, karena Will berhasil menghadirkan performa yang tidak berlebihan. Kita tahu seperti apa Will jika sudah berakting komedi, tapi kali ini lelucon-lelucon yang keluar dari mulutnya terasa sangat pas dengan tampilan alien berkepala besar. Megamind pun berhasil dalam misinya menjadi karakter yang dibenci sekaligus perlahan mengambil hati penonton untuk bersimpati padanya, setidak-nya tidak terus mengkambing-hitamkan Will jika di beberapa leluconnya dia sama sekali tidak lucu. Beruntung Megamind ditemani oleh Minion, karakter yang disuarakan oleh David Cross ini tidak hanya menjadi pusat perhatian ketika sukses membantu master-nya dalam melakukan kejahatan, tetapi juga sukses mengangkat komedi—bentuk karakternya saja sudah lucu, bayangkan ikan bisa bicara dalam tubuh robot—dalam film ini.
Pemain-pemain lainnya Tina Fey, Jonah Hill, bahkan hadir juga Brad Pitt yang memberi suara pada karakter Metro Man, masing-masing juga punya andil besar melengkapi film ini untuk menjadi tontonan yang menghibur. Suara mereka pada akhirnya berhasil tidak hanya menjadikan karakter-karakternya lebih “hidup” tetapi juga memberikan chemistry yang manis dengan karakter lain sekaligus juga menjalin koneksi dengan penontonnya. Tom McGrath (Madagascar, Madagascar 2) yang duduk di bangku sutradara sepertinya tahu betul bagaimana memainkan boneka-boneka animasinya dalam jalinan cerita yang walau tidak lagi orisinal (melirik The Incredibles, Despicable Me) namun mengejutkan mampu membuat saya “terikat” selama 96 menit tanpa rasa bosan, sepertinya Megamind tidak berniat jahat dengan penonton, tidak ada yang namanya serum jahat yang akan membuat penonton cepat bosan. Dari segi animasi “Megamind” juga tidak mau kalah dan DreamWorks Animation semakin baik saja dalam mengemas kualitas animasinya. Secara keseluruhan “Megamind” tampil tidak mengecewakan sebagai penutup animasi dari DreamWorks Animation, tetapi saya masih lebih menyukai Toothless.

Review: TANGLED

| | |

Si Cantik Penghuni Menara


Berbicara soal animasi tradisional, nama Walt Disney Animation Studios belum ada yang mampu mengalahkan di Hollywood, dalam melahirkan animasi-animasi berkualitas dan film-film animasi yang punya tempatnya sendiri di hati para penggemar film animasi, khususnya mereka yang mendewakan film-film klasik Disney. Satu-satunya yang bisa menyaingi keapikan Disney dalam animasi bisa jadi datang dari negeri di timur, Jepang, lewat Studio Ghibli (Spirited Away, My Neighbour Totoro). Disney bisa dibilang adalah Pixar-nya dalam urusan animasi tradisional, siapa yang bisa lupa dengan hubungan ayah dan anak singa di “The Lion King” atau film-film klasik Disney yang bertema princess dan fairy tale, seperti “Snow White and the Seven Dwarfs”, “Cinderella”, “Sleeping Beauty”, “The Little Mermaid”, “Beauty and the Beast”, “ Aladdin, dan “Mulan”.
Di tengah makin banyaknya animasi-animasi CGI yang lahir, dengan Pixar yang bisa dibilang juaranya sejak mereka memulai dengan “Toy Story” pada tahun 1995 (ketika itu Disney juga merilis “Pocahontas”), Disney juga sempat labil dan kehilangan jati dirinya dengan ikut terjun ke dunia animasi modern yang kental akan nuansa rekaya komputer. “Home and Range” yang rilis pada 2004 dan tidak terlalu sukses secara komersil pun jadi film animasi tradisional terakhir Disney. Menginjakan kaki di daftar film panjang mereka yang ke-46, Disney melahirkan film animasi komputer pertama ,“Chicken Little” di tahun 2005, disusul dengan “Meet the Robinsons” dan “Bolt”. Syukurlah ketika Pixar diambil alih oleh Walt Disney Company di tahun 2006 lalu Ed Catmull dan John Lasseter menjadi presiden dan chief creative officer Disney/Pixar, mereka memutuskan kembali menghidupkan departemen animasi tradisional. Maka akhirnya kita bisa melihat lahirnya kembali kisah klasik Disney dengan animasi tradisionalnya, lewat “The Princess and the Frog” yang rilis tahun lalu. Tidak tanggung-tanggung film ini diganjar tiga nominasi di ajang Academy Award ke-82, termasuk untuk kategori film animasi terbaik.
Disney tidak serta merta langsung meninggalkan animasi komputer dengan kesuksesan kisah dongeng putri dan pangeran kodok tersebut, atau karena sekarang mereka berada di bawah bayang-bayang Pixar. Pada tahun 2010 ini Disney justru kembali membuat film animasi CGI dengan memanggil putri lain yang belum pernah diangkat ceritanya. Masih dengan tema andalan princess dan fairy tale, Disney pun merilis “Rapunzel” dan siap mengajak kita ke negeri dongeng ala film-film animasi klasik studio ini. Film animasi yang juga menandakan film animasi panjang ke-50 bagi Disney ini diangkat dari dongeng asal Jerman karangan Brothers Grimm. Dengan sentuhan magis Disney, sang putri yang terkurung tidak akan ditolong oleh pangeran melainkan seorang pencuri. Alkisah hidup seorang gadis berambut panjang bernama Rapunzel (Mandy Moore), sebentar lagi akan beranjak berumur 18 tahun namun tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di dunia luar. Rapunzel hanya menuruti kata-kata sang Ibu, Gothel (Donna Murphy), untuk tetap tinggal di menara karena di luar sana sangat kejam dan banyak orang yang akan mencoba memotong rambut ajaibnya. Gadis berambut emas dan panjang ini (sangat panjang) hanya bisa bermain dengan cat-cat lukisnya dan setiap setahun sekali, tepat pada ulang tahunnya, terhibur dengan kumpulan cahaya yang melayang di langit.
Cahaya-cahaya tersebut sebenarnya adalah lampion-lampion yang sengaja diterbangkan dari sebuah kerajaan dalam rangka “merayakan” hari ulang tahun putri yang hilang, dan bukan sebuah kebetulan selalu bertepatan dengan ulang tahun Rapunzel, karena dialah putri kerajaan tersebut yang hilang semenjak diculik oleh siapalagi jika bukan orang yang dia anggap sebagai ibu. Sejak bayi, Rapunzel pun dirawat oleh Gothel, yang hanya ingin memanfaatkan keajaiban rambutnya yang mampu membuat dirinya awet muda. Sejak itu Rapunzel hidup tanpa teman (manusia) di menara yang tersembunyi, satu-satunya yang menemani dia, kecuali sang ibu, adalah seekor bunglon bernama Pascal. Takdir pun akan menghampiri Rapunzel lewat seorang pencuri bernama Flynn Rider (Zachary Levi ) yang tiba-tiba masuk ke menara. Setelah sempat membuat Flynn tidak sadarkan diri disusul dengan perdebatan sengit, Rapunzel membuat kesepakatan dengan Flynn, dia meminta Flynn untuk membawanya ke luar menuju tempat dimana dia biasa melihat cahaya-cahaya yang melayang setiap tahun, imbalannya Rapunzel akan mengembalikan barang miliknya (sebuah mahkota curian). Akhirnya, Rapunzel pun berhasil menginjakkan kaki di luar untuk pertama kalinya, merasakan keindahan dunia tidak seperti apa yang ibunya pernah ceritakan padanya. Petualangan pun menanti Rapunzel dan Flynn, termasuk akan bertemu dengan pendamping perjalanan, yaitu seekor kuda bernama Maximus.
Seperti nasib Flynn yang masuk ke menara dan akhirnya “terjebak” bersama Rapunzel, film yang juga punya judul lain “Tangled” (oh saya benci sekali judul ini) ini juga sudah berhasil “menjebak” saya untuk terikat dengan keindahannya dari awal saya menginjakan kaki di negeri dongeng Disney. Pesona pertamanya tentu saja animasi dalam film ini, walau diciptakan dari komputer tapi para animator handal sukses membuatnya bernuansa animasi tradisional buatan tangan. Yup! menonton “Rapunzel” yang disutradarai oleh Nathan Greno dan Byron Howard ini bisa dibilang seperti melihat lukisan yang terpajang di sebuah galeri namun bedanya dia hidup, bergerak dengan halus, dan terus melambai-lambai, mengajak kita untuk masuk ke dalam lukisan tersebut. Kibasan rambut panjang berwarna emas Rapunzel pun berhasil menghipnotis saya, mencuri perhatian ketika saya melihat begitu sempurnanya rambut itu bergerak. Tiap karakternya pun dibuat menarik dan unik, ada Flynn yang heroik (bercampur dengan kebodohannya), ada Maximus yang lucu (bertubuh kuda tapi kelakuan mirip anjing peliharaan), Gothel yang menyebalkan, dan terakhir favorit saya, Pascal, seekor bunglon yang menggemaskan dengan segala tingkah laku yang imut, walau tidak dibuat untuk berbicara (sama dengan Maximus) tapi lewat gesture-nya dia sanggup berkomunikasi dengan penonton, membuat kita tertawa.
“Rapunzel” juga punya cerita yang menghibur, Dan Fogelman yang sebelumnya juga bekerja sama dengan Byron Howard dalam “Bolt” berhasil memberikan sentuhan kisah klasik yang kerap ada di setiap film-film animasi Disney, memolesnya untuk tidak terlalu terlihat dewasa dan dapat dinikmati orang dewasa dan juga anak-anak, mengisinya juga dengan bumbu kasih sayang dan persahabatan. Digabungkan dengan animasi yang sudah dibuat sedemikian rupa tampil klasik dan menarik, film ini tidak hanya menjadi sebuah hiburan memanjakan mata tapi juga hiburan untuk hati. Semua keindahan cerita, karakter, animasi pun terbalut manis dengan komposer langganan Disney, Alan Menken, yang dengan daya magisnya mampu menemani mood ini untuk sejalan dengan setiap adegan yang bergulir dari menit ke menitnya, bisa dibilang memanjakan telinga juga. Dengan paket lengkap yang ditawarkan “Rapunzel”, tidak salah jika saya menyebut film animasi ini sebagai salah-satu yang terbaik di tahun 2010 ini…klasik!

Megamind (2010) BDRip

| | |
___________________________________________________________________________________
Info: Megamind
Release Date: 5 November 2010 (Indonesia)
Genre: Animation | Comedy | Family
Pemain: Will Ferrell, Brad Pitt, Jonah Hill, Tina Fey, David Cross
Quality: BDRip 720p
Subtitle: Indonesia, English
Sinopsis:


Seluruh penghuni Metro City tahu siapa Megamind (Will Ferrell). Penjahat super yang penuh dengan tipu daya ini memang selalu mengancam seluruh isi kota Metro. Kalau tak ada Metro Man (Brad Pitt), entah apa jadinya Metro City. Sayangnya, keadaan akan segera berubah. Tak ada lagi yang akan membela penghuni Metro City karena Megamind punya rencana keji untuk menghabisi Metro Man.

Dengan rencana yang matang, rencana menghabisi Metro Man pun berhasil dan kini warga Metro City tak lagi punya superhero yang akan melindungi mereka. Celakanya, berhasil membunuh Metro Man ternyata malah mendatangkan masalah baru buat Megamind. Tanpa Metro Man, artinya tak ada lagi yang bisa menghalangi Megamind. Kini, Megamind seolah kehilangan tujuan hidup.

Megamind memang bukan sembarang penjahat super. Ia jenius dan tak mudah menyerah. Tak ingin kehilangan tujuan hidup, Megamind pun menciptakan seorang superhero baru yang punya kekuatan jauh lebih hebat dari Metro Man. Megamind menyebutnya Titan (Jonah Hill). Tapi tak lama kemudian, masalah baru datang. Titan bosan menjadi superhero dan bermaksud menjadi penjahat super seperti Megamind. Bedanya, kalau Megamind bermaksud menguasai dunia, Titan justru bermaksud memusnahkannya. Sekarang, peran jadi berbalik, Megamind harus berusaha sekuat tenaga untuk mencegah niat buruk Titan.
____________________________________________________________________________________


Total Size 500 MB (.mkv)
Join file dengan HJSplit
_____________________
Single Link:
DOWNLOAD Maknyos
______________________