Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Review: Merantau

| Senin, 02 Mei 2011 | |

Merantau
Sepenggal kalimat pembuka dari Merantau, mengantarkan kita ke tanah Minangkabau, Sumatera Barat. Di tempat inilah seorang pemuda bernama Yuda (Iko Uwais) tinggal bersama Ibu dan Kakaknya. Tradisi mengharuskan pemuda yang sehari-hari bekerja di ladang milik keluarga ini dan berlatih silat, untuk merantau dan meninggalkan tempat dimana dia tumbuh. Berbekal ilmu beladiri “Silat Harimau” yang sangat dikuasainya serta doa restu dari Ibu dan Kakaknya, Yuda memulai langkahnya untuk menaklukan kota Jakarta.
Setibanya di kota besar, kenyataan berkata lain. Apa yang dibayangkan Yuda sebelum dia menginjakkan kakinya di ibukota, ternyata jauh berbeda dengan apa yang dia lihat dan rasakan. Setelah menemukan alamat yang ada di catatannya sudah tidak berbentuk rumah dan tidak ada seorangpun yang bisa dia hubungi, Yuda harus merelakan tidur di tempat yang tidak layak. Hari berikutnya, keberuntungan belum berpihak kepadanya. Mimpinya untuk mempunyai tempat melatih silat sendiri tampaknya harus dia simpan dulu. Satu masalah belum selesai, Yuda malah bertemu dengan masalah baru. Dia harus mengejar anak kecil yang mengambil dompetnya. Anak kecil yang kelak diketahui bernama Adit inilah yang membawa “Sang Jagoan” untuk memulai aksi kecilnya.
Yuda dan Guru
Yuda berusaha menolong seorang perempuan bernama Astri yang ternyata adalah kakak dari Adit yang sempat dikejarnya. Mengeluarkan sedikit keahlian silatnya, Yuda berhasil memberi pelajaran kecil pada Johni, orang yang berlaku kasar pada Astri. Namun pertolongan spontan Yuda tampaknya tidak diterima oleh perempuan yang baru saja ditolongnya ini. Astri malah marah karena dia berpikir kalau “sang pahlawan kesiangan”-nya itu sudah membuatnya kehilangan pekerjaan. Dari pertemuan tak manis inilah, Yuda akan memulai petualangan barunya di sisi hitam kota Jakarta. Berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran dan ucapan ibu tercinta di kampung halaman yang selalu diingatnya, nampaknya kejahatan  akan bertemu lawan tandingnya kali ini. Lawannya itu bernama Yuda.
Apa yang gw saksikan dari Merantau selama 2 jam lebih adalah sebuah perjalanan menarik dari film Indonesia. Tentu saja, ini adalah film yang gw tunggu-tunggu untuk segera ditonton karena menawarkan sesuatu yang jelas berbeda. Maka pantaslah kalau gw memilih film yang mengeskplorasi keindahan alam Indonesia dan seni beladiri asli dari bangsa kita ini untuk sekali lagi jadi alasan gw pergi ke bioskop menonton film Indonesia.
Yuda dan Eric
Ditengah kejenuhan film-film tidak bermutu dan tidak berkualitas yang biasanya membawa tema horor dan komedi “dewasa”. Merantau hadir dengan mengusung genre action, kerinduan dan dahaga gw sebagai penikmat film berisi baku hantam dibayar sudah oleh film ini. Gw yang sudah lupa kapan terakhir menonton film action Indonesia, salut dan memberikan nilai  plus dengan film yang berani berjalan di sisi berbeda dengan modal seni beladiri pencak silat ini. Lalu apa yang sebenarnya menarik dari film ini? Kekuatan apa yang dipunyai film ini? adakah kekecewaan dan kekurangan dari film ini?
Film ini memang punya elemen-elemen pendukung yang bisa membuat film ini menarik untuk ditonton dari awal sampai ending. Dari segi action sudah jelas itulah modal terkuat dan menjual dari film ini, gw berdecak kagum dengan variasi perkelahian yang ditampilkan Iko Uwais yang berperan sebagai Yuda. Pencak Silat yang dipertontonkan sungguh luar biasa, memanjakan mata ini dengan aksi-aksi Yuda untuk bertahan, mengelak, dan menyerang musuh-musuhnya. Gerakan-gerakannya yang terkadang tidak biasa, keluwesan dan spontanitas Yuda dalam beraksi di percantik juga dengan angel kamera yang ciamik. Gw emang bukan ahli dalam silat dan tehnik mengambil gambar, tapi sesuai dengan apa yang gw lihat, silat di film ini betul-betul indah. Semakin bangga gw dengan pencak silat.
Yuda in Action
Sekilas gw sebut soal “ngambil gambar” sebelumnya. Yup!! pengambilan gambar di film ini juga bisa dikatakan baik dalam menangkap setiap adegan demi adegan perkelahian dan pergerakan Yuda yang notabennya penuh kejutan. Film ini juga banyak disuguhkan aksi-aksi seru yang kreatif, kadang diselipkan juga komedi yang menurut gw lumayan lucu.
Kelebihan film ini belom selesai, gw paling suka faktor pendukung yang satu ini. Bag-Big-Bug!!! Praaaaang!!! Memang seperti inilah seharusnya film action, Sound Effectnya di film ini benar-benar dasyat. Suara-suara pukulan kadang bikin gw merasa terpukul juga. Kaca pecah, bantingan kursi, pukulan mengenai tulang, jadi semakin nyata aja adegan perkelahiannya.
Sisi akting para pemainnya bisa dibilang lumayan, yang paling menonjol memang Iko Uwais. Selain pandai bermain silat disini, Si Jagoan di film ini  juga bisa mengimbanginya dengan akting yang tidak kaku. Malah menurut gw dia bisa memerankan tokoh Yuda dengan baik. Christine Hakim, walau perannya sedikit, tapi jempolan deh buat peran Ibu yang ditinggal pergi anaknya. Sebagian besar pemainnya sangat mendukung, memang tidak istimewa dalam berakting tapi yang jelas cukup bisa membawakan perannya dengan baik.
Yuda
Nah lho!! Gw malah terganggu dengan akting Astri, entahlah peran dia sok kasar dan tidak tahu terima kasih terasa aneh di film ini. Jujur cewek ini seharusnya jadi peran tidak penting alias pemanis aja, tapi kenyataannya hehehe malah sebaliknya. Asli gw nga dapet “feel” sedih ketika dia beradu akting dengan adiknya. Feel itu malah gw dapetin ketika The Last Battle, tapi justru bukan dari si Astri tapi dari Mister Boss.
Film ini memang tidak sesempurna apa yang dibayangkan. Durasi yang lama mengakibatkan tensi yang seharusnya tinggi oleh faktor action jadi turun naik. Ketika kita disuguhkan perkelahian yang seru, seketika itu juga adegan berpindah menuju drama-nya film ini. Adegan yang di-dramatisir untuk membuat penonton tersentuh memang sah-sah saja, tapi penempatannya kadang mengganggu. Lagi-lagi faktor Astri, mencoreng drama di film ini dan mungkin keseluruhan film. Satu sisi gw menyukai drama yang ingin disisipkan sang sutradara, gw bukan orang yang anti-drama di film action. Gw akan nikmatin drama itu sebagai sebuah hiburan tambahan. Tapi jelas kenikmatan gw sedikit buyar dengan tokoh “gadis yang harus ditolong” ini. Untungnya masih ada adegan-adegan menyentuh lain yang bisa gw nikmatin. Jadi drama di film ini sebenarnya bisa saja dibuang hehehehe. Semoga versi 106 menit untuk rilis di internasional bisa memperbaiki kekurangan yang ada.
Yuda in Action
Secara keseluruhan, Merantau adalah film yang patut ditonton. Cerita yang ringan dan tidak berbelit-belit yang memang diperuntukan untuk hiburan jadi alasan tepat untuk menyaksikan film ini. Toh gw juga adalah penonton biasa yang butuh hiburan yang enjoy-able. Bukan datang untuk menonton dan mencaci filmnya habis-habisan. Munafik jika gw bilang ini adalah film jelek secara utuh. Karena gw betul-betul puas dengan film ini dengan sedikit kekurangan yang ada. Semoga Merantau dengan genre actionnya bisa jadi trendsetter baru di perfilman Indonesia dan kedepannya jadi banyak bermunculan film-film sejenis. Tentu saja dengan kualitas yang lebih baik. Alternatif untuk menonton kan jadinya makin lebar, tidak hanya genre yang itu-itu saja. Enjoy!!! Ciaaaaaaaaaaaaaaaat!!!

Review: Sang Pencerah

| Sabtu, 02 April 2011 | |
Film biopik bisa dibilang tema yang jarang diangkat ke layar lebar, terlebih memfilmkan pahlawan nasional atau tokoh yang berpengaruh dari bangsa sendiri. Tercatat hanya ada beberapa film biopik yang pernah menorehkan tinta emasnya dalam sejarah sinema tanah air, diantaranya Raden Ajeng Kartini (1984) karya Sjuman Djaya, Tjoet Nja’ Dhien karya Eros Djarot di tahun 1988, Marsinah (2001) karya Slamet Rahardjo, terakhir Riri Riza sukses mengangkat nama Soe Hok Gie ke layar lebar lewat Gie di tahun 2005. Tahun ini pun sebenarnya kita memiliki film biopik, namun Obama Anak Menteng tidak bercerita tentang tokoh dalam negeri tetapi kisah hidup masa kecil Presiden Obama ketika tinggal di Indonesia (sebentar). Beruntung kita masih punya kisah inspiratif lain, film biopik lain yang akan memperkenalkan kepada kita siapa itu K.H Ahmad Dahlan. “Sang Pencerah” yang ditulis dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo pun mencoba untuk tidak tampil sebagai film yang mewakili agama tertentu, tetapi dengan bijak sanggup merangkul siapa saja yang ingin mengenal sosok K.H Ahmad Dahlan, yah siapa pun anda…
Lahir dengan nama Muhammad Darwis, si kecil Ahmad Dahlan sudah menunjukkan sisi kepeduliannya dan kegelisahannya terhadap pelaksanaan agama Islam di Kauman yang dimatanya sedikit agak melenceng dari apa yang diajarkan. Anak dari Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta dan lahir pada 1 Agustus 1868 ini semakin menunjukkan sikapnya yang kritis terhadap agamanya sendiri ketika beranjak remaja, sampai-sampai Darwis “iseng” mencuri sesajen warga untuk dibagikan kepada fakir miskin. Darwis pun meninggalkan Kauman dan pergi haji ke Mekah sambil menuntut ilmu serta mendalami ajaran Islam. Sekembalinya dari Mekah, Darwis yang kini mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan, melihat Kauman yang ditinggalkan selama 5 tahun ternyata tidak banyak berubah termasuk ajaran Islam yang masih dicampur-adukan dengan kebudayaan mistis. Ditambah para pemuka agama yang masih “kolot” dalam menerima perubahan, menolak semua yang berkaitan dengan Belanda dan melabelinya dengan produk kafir.
Ahmad Dahlan dengan pemikirannya yang lebih luas, bijaksana, namun kadang terucap dengan sederhana ini berniat untuk meluruskan arti ajaran Islam yang sesungguhnya. Dia pun dipercaya menggantikan ayahnya menjadi Khatib Mesjib Besar Kauman dan mulai membangun surau di dekat rumahnya. Surau inilah yang akan menjadi pusat penyebaran pemikiran dan ajaran Dahlan. Mengubah sudut pandang ajaran Islam yang sudah tumbuh selama setengah abad di Kauman memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, langkah kontroversial Dahlan ingin mengubah arah kiblat pun mengundang pertentangan dari penduduk Kauman dan tentu saja penolakan keras dari Kyai-Kyai disana. Ajarannya pun dianggap sesat dan berakhir dengan dirobohkannya surau miliknya. Sempat putus asa dengan reaksi saudaranya sesama muslim (memperlihatkan dia masih manusia biasa), di bantu dengan dukungan keluarga, Dahlan kembali bangkit dan meneruskan ajarannya demi kebaikan umat. Ahmad Dahlan yang sangat mementingkan pendidikan pun segera membangun sekolah, dia pun mengajar di sekolah Belanda dan mulai terlibat organisasi Budi Utomo. Reaksi keras pun kembali bertubi-tubi menghadangnya termasuk “gelar baru” kyai kafir yang diberikan kepada Dahlan.
“Sang Pencerah” bukan soal agama siapa yang benar atau salah tapi berbicara tentang perbaikan terhadap diri sendiri untuk agama. Saya jarang terbawa secara emosional saat menonton film Indonesia dan film ini dengan bijaksana dapat menuntun penontonnya untuk duduk bersama dengan Ahmad Dahlan tanpa terlihat ingin menggurui. Bertemakan film Islam, Hanung dengan cermat dapat menyingkirkan egonya dan melebarkan celah yang sebelumnya dibilang sempit menjadi selebar gerbang Mesjid Besar Kauman, yang akhirnya melahirkan sebuah film yang bisa ditonton semua orang, non-muslim sekalipun. Walau ini film bercirikan Islam tapi Hanung sanggup mengisi durasi 2 jam filmnya untuk seimbang, tidak melulu menangkap potret Islam itu sendiri, tapi berhasil juga memotret sosok Ahmad Dahlan dengan segala pemikiran dan inspirasinya yang terbalut dengan drama kehidupan yang saya kira bisa diterjemahkan dengan keyakinan manapun.
Saya tidak menyangka Hanung sanggup membalik banyak halaman sejarah, lalu dengan caranya berhasil memvisualisasikan rentang perjalanan hidup seorang Ahmad Dahlan dan dia melakukannya dengan baik. Walau sepertinya film ini terlalu banyak menjejalkan kita dengan potongan demi potongan sejarah tentang Ahmad Dahlan, tetapi pada akhirnya saya cukup betah mendengarkan cerita yang dibacakan oleh Hanung. Kejutan lain yang diberikan Hanung selain bagaimana dia sanggup membuat cerita yang mudah dinikmati, dia juga mengemas film ini dengan kualitas yang jarang dimunculkan untuk ukuran film Indonesia. Saya kembali menyebutkan kata “jarang” untuk kedua kalinya, kali ini untuk sebuah kualitas, karena Hanung berhasil memperlihatkan bagaimana film yang dibangun dengan pondasi cerita yang kokoh dapat berdiri cantik dengan sisi teknis yang manis. Lihatlah bagaimana kota Yogyakarta dan sekitarnya termasuk Kauman versi tahun 1800-an sanggup direka-ulang oleh film ini, berhasil menyatu dengan cerita dan penonton bisa seperti diajak kembali ke masa lalu. Tentu saja suasana masa lalu itu juga didukung oleh sinematografi yang apik menangkap setiap potret keadaan 100 tahun yang lalu, bersama dengan memotretkan setiap keindahan dari potongan sejarah Ahmad Dahlan.
Langkah Hanung untuk menyutradarai film yang ditulisnya sendiri merupakan langkah yang tepat, selanjutnya memilih Lukman Sardi untuk memerankan Ahmad Dahlan adalah langkah jitu berikutnya. Sosok pendiri Muhammadiyah tersebut seperti memang telah menunggu lama untuk diperankan oleh Lukman Sardi, dan aktor serba bisa ini berhasil memerankannya dengan meyakinkan. Dengan memikul tanggung jawab besar dan beban tidak ringan melakonkan pendiri Muhammadiyah tersebut, Lukman Sardi semakin memantapkan dirinya sebagai aktor terbaik yang dimiliki negeri ini. Pemain lainnya juga berhasil memaksimalkan porsi akting yang diberikan kepadanya. Termasuk para pemain muda seperti Giring, Dennis Adishwara, dan kawan-kawan, yang sukses memasukkan akting serius mereka divariasikan dengan humor-humor segar. Membawa film ini untuk tidak terus menerus tampil serius atau sedih tetapi juga ada kalanya sanggup memancing tawa penontonnya.
Jika dilihat dari sudut pandang lain “Sang Pencerah” terlihat jelas seperti sebuah cermin bergerak yang memantulkan bayangan atas apa yang tengah terjadi di masa sekarang. Dimana agama yang seharusnya menyatukan justru menjadi korban, dijadikan kambing hitam dan alat pemecah belah perdamaian. Terlepas dari apakah Hanung ingin mencoba mengingatkan bahwa 100 tahun silam “kekacauan” juga pernah terjadi, “Sang Pencerah” jelas lebih terasa seperti pengetuk hati. Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan banyak nilai-nilai moral yang bermanfaat, tetapi lewat film ini kita juga diperkenalkan dengan kisah-kisah inspiratifnya yang mencerahkan. “Sang Pencerah” layaknya seorang guru yang pandai bermain biola (oh iya, iringan musik di film ini sangat indah!!) dan bercerita tetapi tidak memaksa muridnya untuk terasa digurui, serta menjadi panutan bagaimana seharusnya film Indonesia dibuat, yah kita bisa membuat film bagus jika memang mau. Wajib tonton!

Review: Skandal

| | |










Di tahun 2001, Jose Poernomo bersama dengan Rizal Mantovani memperkenalkan kita, penonton Indonesia, dengan “Jelangkung”, sebuah film horor yang bisa dibilang sangat fenomenal ketika dirilis, film yang terkenal dengan tagline “datang tak dijemput, pulang tak diantar” ini berhasil menyedot sampai satu juta lebih penonton untuk berbondong-bondong datang ke bioskop, angka yang menghebohkan kala itu, jika melihat pada akhir 90-an dan awal 2000-an adalah masa ketika perfilman tanah air sedang merangkak bangkit setelah mati suri dan hanya diisi film esek-esek. “Jelangkung” juga semacam sebuah blueprint untuk film-film horor yang kemudian hadir, termasuk juga sekuel film ini bertajuk “Tusuk Jelangkung”, sejak saat itu “Jelangkung”-nya Jose Poernomo dan Rizal Mantovani seperti menciptakan tren baru dan film horor lokal pun kembali bergeliat dan bergairah untuk menakut-nakuti dengan variasi cerita dan tentu saja kualitas yang naik-turun, kebanyakan ‘turun’-nya sih. Jika Rizal Mantovani kemudian di tahun 2006 membuat film horor lagi, yaitu “Kuntilanak”, Jose Poernomo baru nimbrung meramaikan horor lokal lagi pada 2007, lewat film “Angker Batu”, lalu setia membuat film setiap tahun, hingga terakhir film bertema komedi “Kirun + Adul” di tahun 2009. Setelah “beristirahat” setahun, Jose Poernomo kembali tahun ini dengan film “Skandal”.
Mengusung genre drama-thriller, “Skandal” memang terbilang berani untuk menciptakan skandal di tengah ramainya film horor murahan yang masih saja setia menumpuk kotoran hingga menutupi film yang sebenarnya “berlian”, yah tentunya masih dengan formula setan kacangan dipasangkan dengan porsi “buka-buka-an”, yang keseluruhannya dikemas nanggung atau memang tidak niat buat film. Saya tinggalkan pembahasan tentang horor mesum murahan yang justru hanya membuat tidak mood menulis, lanjut kembali ke film “Skandal”, kisahnya sendiri akan berputar pada persoalan selingkuh, dimana semuanya bermula dari kecurigaan seorang istri, Mischa (Uli Auliani) terhadap suaminya Aron yang diperankan oleh Mike Lucock (Rumah Dara), yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai membiarkan Mischa “menganggur” di ranjang karena rekan sparingnya selalu menolak ketika diajak main olehnya. Mischa pun hanya bisa melampiaskan nafsu-nya sendirian di sebuah bathtub, masturbasi ditemani busa dan dihiasi teriakan-terikan birahi tanpa ada yang merespon balik, mungkin hanya penonton saja yang nantinya bisa merespon Mischa dengan berbagai candaan.
Acuhnya Aron pun berbuntut pada tuduhan Mischa bahwa suaminya telah selingkuh dengan sekretarisnya (Laras Monca) yang diperlihatkan selalu berpakaian seksi kemana-mana itu. Kecurigaan Mischa makin membuat dia paranoid dan sering bermimpi yang tidak-tidak antara Aron dengan sekretarisnya. Pada saat kecurigaan dan horny sama-sama memuncak, muncul Vincent (Mario Lawalata) yang diketahui belakangan ternyata adalah mantan kekasih Mischa. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya hubungan terlarang ini terjadi, dalam pikiran Mischa “emang suami gw aja yang bisa selingkuh, gw buktikan klo gw juga bisa”. Bermodalkan sedikit ingin balas dendam dan didominasi oleh hasrat ingin memuaskan kebutuhan seksualnya, Mischa menjadi “buta” dan lupa jika dia sudah punya keluarga, apalagi punya seorang anak hasil pernikahannya dengan Aron. Pertemuan demi pertemuan yang berakhir di ranjang pun makin menjauhkan Mischa dengan keluarga, jadi suka pulang larut malam sampai lupa menjemput anaknya di sekolah.
“Skandal” yang dibuka dengan adegan syur Mischa sedang masturbasi—dilakonkan oleh Uli Auliani dengan sangat meyakinkan—dalam sebuah bathtub dan tak ada hentinya digerayangi mata jahil lensa kamera, bisa dibilang sebuah hidangan pembuka yang lezat bagi mata lelaki, apalagi Jose Poernomo tidak malu-malu menghempaskan daya fantasi liarnya ke layar untuk makin menegaskan “Skandal” memang totally untuk dewasa, jadi bukan untuk anak kemaren sore yang masih bau kencur dan kencingnya masih belum lurus (sebentar…horee!! lurus!!). Tidak sah dong kalau “Skandal” cuma tampil berani di awal saja dan tidak lucu juga setelah dibuat “melek”, ternyata sisanya drama dan drama. Mumpung ini dikategorikan film dewasa, sudah sewajarnya Jose Poernomo menyelipkan berderet adegan syur yang saling berlomba untuk menggoda dan siap disantap oleh mata penonton, yup “Skandal” akan begitu vulgar!. Tapi bukan vulgar versi film-filmnya KK Dheraj, adegan-adegan syur malu-malu tahi kucing yang biasanya hanya ditaruh secara sembarangan disela-sela cerita yang sedang menjalankan misinya untuk menurunkan IQ penontonnya, mendoktrin kecerdasan dengan ideologi cacat bahwa bikin film itu tidak perlu pakai otak, buang kata F, I, dan L, dan sisakan M untuk Mesum.
Jose Poernomo yang juga merangkap sebagai penulis skrip dan director of photography sepertinya mengerti untuk tidak sembarang memajang Uli Auliani dengan tampilan seksi atau sempilan adegan seks, walau serasa seperti sebuah cemilan ketika bergulirnya cerita, “Skandal” mampu menempatkan seks sesuai kebutuhannya, terkadang justru diperlukan untuk menambah penegasan dalam cerita, sudah sampai dimana sih level skandal antara Vincent dan Mischa. Lagipula ini bukan lagi film anak kecil yang harus ditutupi, bukan, dan menariknya Jose Poernomo tak kenal basa-basi disini, dia mengemas skandal dengan pertemuan singkat tanpa dialog, cukup bahasa gambar, lalu “dialog” sebenarnya selalu berlanjut dengan komunikasi antar tubuh di ranjang atau di kursi belakang taksi. Namun sayangnya tidak semua keliaran yang ingin disampaikan Jose Poernomo tampil sevulgar yang diinginkan (oleh Jose sendiri maupun penonton hahaha), disinilah “Skandal” mulai membatasi dirinya dengan sedikit artistik untuk terlihat masih “sopan”, bermainlah Jose dengan adegan-adegan syur tersebut, menambahkan gaya “fade-in-fade-out” yang cepat, jadi gambar timbul lagi dan hilang lagi. Perlakuan Jose pada adegan seks-nya tersebut tentunya sangat mengganggu, melelahkan mata tapi untungnya hanya beberapa menit.
Persoalan cerita lain lagi, dikemas dengan alur yang lurus-lurus saja, sesekali kita akan diajak menengok kilas balik masa lalu Vincent dan Mischa, drama perselingkuhan dalam “Skandal” bisa dibilang terlalu melelahkan untuk diikuti karena sudah sekian banyak film yang memperkenalkan kita dengan model drama seperti ini, sebelum Mischa sadar bahwa “selingkuh itu mendatangkan bencana” dan semua film sejenis juga kompak menyerukan hal yang sama, penonton sudah lebih tahu kemana “Skandal” akan mengarahkan konflik. Ketika penonton tidak sabar untuk segera menyimpulkan akhir dari perselingkuhan antara Vincent dan Mischa, Jose Poernomo justru asyik mengulur-ngulur waktu dengan adegan yang muncul berulang. Karena ini film drama-thriller, wajar jika Jose ingin menumpuk segala macam drama namun porsinya terbilang membosankan, sejam pertama sepertinya dihabiskan untuk drama perselingkuhan dan kegalauan. Baru pada saat “Skandal” mulai melangkah ke konflik berikutnya, cerita kembali menarik dengan mulai masuknya efek samping perselingkuhan terhadap keluarga, terkuaknya “sisi gelap” Vincent dan Mischa yang ingin kembali ke keluarga walau tetap paranoid dengan Aron.
Porsi thriller betul-betul dimanfaatkan Jose Poernomo untuk mengajak penonton kembali bereaksi lewat situasi pelik dan pergolakan emosi yang mulai ditinggikan levelnya, dalam cerita yang mulai “ereksi” setelah terlalu lama dibawa “foreplay” dengan permainan kucing-kucingan antara Mischa dan suaminya. Di bagian akhir inilah cerita menampilkan gairahnya untuk memberikan rasa tegang pada penonton dan Jose Poernomo ternyata tak begitu saja membiarkan penonton keluar tanpa pertanyaan karena dia brengsek-nya masih punya twist yang lumayan menghibur. Didukung dengan pengambilan gambar yang pas, “Skandal” tidak hanya memperlihatkan betapa ketakutan itu memuncak pada diri Mischa saja tetapi juga mencoba berinteraksi dengan penonton lewat visual. Selain pengambilan gambar, “Skandal” juga memiliki kualitas gambar yang “seksi” dan memanjakan mata.
Interaksi visual antara film dengan penontonnya juga didukung oleh kemampuan Uli Auliani dalam mengatasi karakternya, permainan aktingnya secara mengejutkan bisa berhasil mengajak penonton untuk masuk ke dalam situasi cinta, perselingkuhan, serta konflik yang nantinya hadir berurutan. Uli Auliani juga mampu menghadirkan chemistry yang cukup seimbang pada selingkuhan dan suami. Mario Lawalata dan Mike Lucock juga turut serta menampilkan porsi akting yang cukup baik. “Skandal” memang hadir dengan cerita usang yang dipermak untuk terlihat baru, namun Jose Poernomo tidak mengemasnya dengan bungkus murahan. “Skandal” yang percaya diri mengklaim dirinya sebagai film dewasa juga tidak malu-malu bermain “berani”, seksi, dan vulgar, walau dengan berbagai alasan “Skandal” juga berupaya untuk membatasi filmnya agar masih terlihat “sopan”. Ditengah pilihan tontonan yang itu-itu saja, film ini bisa menjadi sebuah alternatif bagi penonton dewasa yang ingin melihat film Indonesia yang bukan horor, duh memang sudah saatnya penonton film kita diberi sebuah pilihan, tidak melulu horor, tak apa jika bagus tapi ini dengan kualitas yang merengek-rengek minta dimaki.

Review: Rumah Tanpa Jendela

| Kamis, 03 Maret 2011 | |

Bu, kapan kita punya rumah yang ada jendelanya

Benturan takdir yang mempertemukan antara si kaya dan si miskin lagi-lagi menjadi tema yang diangkat sineas Indonesia, kini lewat film keluarga arahan Aditya Gumay berjudul “Rumah Tanpa Jendela”. Tema yang juga baru-baru ini diangkat oleh “Rindu Purnama” sebagai pondasi ceritanya, film debut penyutradaraan Mathias Muchus tersebut sama-sama menghiasi perfilman tanah air di bulan Februari ini. Walau punya tema cerita yang bisa dibilang senyawa, namun di bawah arahan sutradara Aditya Gumay, film “Rumah Tanpa Jendela” akan terkecap berbeda dengan adanya unsur musikal di dalamnya. Musik dan tari-tarian ditambah nyanyian yang kebanyakan ditampilkan oleh anak-anak menjadi visualisasi pas untuk menggambarkan keceriaan anak-anak dan juga mimpi-mimpi mereka. Jika pada film sebelumnya, “Emak Ingin Naik Haji”, Aditya Gumay sukses mengaduk-ngaduk emosi penonton lewat peran yang dimainkan oleh Atie Kanser dan  Reza Rahadian. Sekarang kesederhanaan kisah persahabatan yang terjalin antara kedua malaikat kecil yang dipisah status sosial ini bisa dibilang banyak dibumbui keceriaan dan kehangatan, walau pada akhirnya Aditya Gumay masih akan menyeret penontonnya ke situasi menyentuh dan menyedihkan, tapi dengan takaran yang pas dan tidak berlebihan untuk usahanya mendongkrak sisi drama yang ingin ditonjolkan film ini.
“Rumah Tanpa Jendela” yang kembali diramaikan oleh kehadiran Atie Kanser sebagai seorang nenek yang lincah dan penyabar, akan menceritakan dua sisi dadu yang berbeda, Rara (Dwi Tasya) boleh dibilang gadis kecil yang enerjik dan selalu bisa melihat sesuatu dengan cara positif didampingi keluguannya, seperti anak-anak lain seumurannya, Rara juga pastinya punya mimpi dan keinginan, eh bukan boneka atau gaun yang bagus untuk ke pesta, tapi hanya sebuah jendela untuk rumahnya. Jendela? yah barang yang terlihat murah dan banyak menghiasi rumah-rumah mereka yang beruntung, tapi untuk Rara dan keluarganya untuk makan sehari-hari saja sudah sulit apalagi mengabulkan impian untuk memiliki jendela. Rara hanya tinggal di perkampungan kumuh dimana dia dan puluhan anak-anak lain tinggal bersama orang tua mereka yang memiliki beragam pekerjaan, yah termasuk juga sebagai pemulung. Sedangkan ayah Rara (Rafi Ahmad) untuk menghidupi anak dan Si Mbok (Ingrid Widjanarko), harus banting tulang setiap hari berjualan ikan hias dan memperbaiki sepatu. Rara yang juga bekerja serabutan dari mengamen dan mengojek payung pun hanya bisa meminta dan bersabar untuk selembar daun jendela.
Nah beda jauh dengan sisi kehidupan Rara, di tempat lain, Aldo (Emir Mahira) hidup di keluarga yang berkecukupan, rumah mewah dan segala kebutuhannya selalu terpenuhi, namun Aldo yang sedikit “berbeda” dengan anak lainnya merasa kesepian ketika Ayah dan Ibunya beserta kakak-kakaknya terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Kesepian Aldo sedikit terobati ketika neneknya, Nek Aisyah (Atie Kanser), memutuskan untuk tinggal di Jakarta dan menemani cucunya. Kesepian Aldo pun makin hilang ketika dia bertemu teman baru, Rara, walau harus diawali tidak baik, karena Rara pada saat itu tidak sengaja terserempet mobil yang ditumpangi Aldo dan neneknya. Sejak saat itulah, keduanya saling berbagi dan menjalin persahabatan yang tulus, Aldo jadi sering datang ke tempat dimana Rara tinggal, berkenalan dengan teman-teman Rara lainnya, termasuk menyumbangkan buku-buku untuk sekolah singgah dimana Rara dan teman-temannya belajar bersama guru sukarelawan bernama Bu Alya (Varissa Camelia). Lalu bagaimana dengan impian Rara untuk merasakan sinar matahari lewat sepasang jendela? apakah Aldo juga akan merasakan kehangatan kasih sayang keluarga yang utuh?
Seperti Rara dan juga Aldo yang berbagi kehangatan lewat persahabatan layaknya sebuah sinar matahari pagi, “Rumah Tanpa Jendela” juga mampu membagi rasa hangat tersebut pada penontonnya, selain nantinya juga mengantarkan kita ke adegan demi adegan yang penuh keceriaan anak-anak, yang salutnya mampu disampaikan dan digarap dengan apik, semangat dan kepolosan anak-anak di film ini berhasil mengajak kita untuk sementara waktu melupakan kesibukan kita dibalik kursi bioskop untuk melebur bersama mereka ke sebuah kisah yang diceritakan dengan pola sederhana namun tetap menyenggol dengan pas emosi dan hati penonton. Ketika film-film “ajaib” masih saja ngesot dengan enaknya dan nangkring dengan pe-de-nya di bioskop, film-film sederhana namun penuh makna dan pesan moral macam “Rumah Tanpa Jendela” menjadi begitu berharga dimata saya, karena tidak hanya mengingatkan saya betapa kesederhanaan itu indah dan segala nikmat kehidupan itu patut selalu disyukuri, tetapi juga melalui film-film seperti inilah sampai sekarang saya masih bisa tetap optimis dengan film-film lokal, kemasan film yang serba kurang itu bisa diperbaiki nanti yang terpenting tidak mengurangi kualitas cerita dan film itu sendiri apalagi sampai membuat film asal jadi dan asal taruh judul seperti film-film yang seenaknya ngesot dan menzalimi perfilman nasional.
“Rumah Tanpa Jendela” bukan tanpa cela di tengah cerita simpelnya yang terhantarkan dengan sempurna ke tiap kursi penonton. Yah saya kecewa dengan kemasan visualnya yang bisa dbilang kurang cerah, seperti menonton film ketika baru bangun tidur saja, agak gelap jadi kurang menikmati pada saat film ini berniat memamerkan gambar-gambar yang indah, sayang sekali. Satu lagi dan yang bisa dibilang cukup mengganggu adalah kualitas tata suaranya, ini memang bukan film action yang perlu hingar bingar efek suara yang memanjakan telinga, tapi kedepannya film drama seperti ini saya harap bisa lebih memperhatikan tata suara, karena walau film drama, penonton akan lebih enak dan nyaman ketika suara yang dihasilkan jernih dengan kualitas gambar dan suara yang sinkron, sayangnya film ini terkadang gambar yang disampaikan tidak selaras dengan suara yang sampai ke telinga. Tapi biarlah, seperti yang saya singgung di paragraf diatas, kemasan yang kurang bisa diperbaiki di film berikutnya, sisi teknis yang sekarang cukup mengganggu kenikmatan menonton semoga bisa lebih diperhatikan.
Untungnya semua kekurangan, termasuk cerita yang beberapa kali terpeleset, tidak fokus, musikalnya hilang begitu saja dan menyelipkan beberapa adegan tidak penting, termasuk seperti adegan “sekolah SD Obama” misalnya, yang walaupun sejalan dengan pesan film ini tentang sebuah impian tapi adegan tersebut seperti numpang lewat dan “tidak kena”, kenapa tidak mencoba cari panutan dari negeri sendiri, mungkin akan lebih punya makna tersendiri. Cukuplah bicara melulu soal kekurangan, ketika lubang-lubang tersebut pun sanggup di tambal permainan akting dua tokoh utama anak-anak dalam film ini, Emir Mahira (Garuda di Dadaku) apik melakonkan anak yang terbelakang dengan bahasa tubuh dan penyampaian dialog yang pas. Aktingnya pun berhasil menjalin chemistry yang lumayan kuat dengan lawan main, Rara yang diperankan Dwi Tasya, walaupun debut pertama kalinya di film layar lebar, dia mampu bermain natural, luwes, sesekali masih terlihat kekakuan ketika berdialog, ah tapi kepolosan anak-anak ini pada saat berakting sekali lagi membuat saya lupa dengan kekurangan-kekurangan film ini.
Aditya Gumay sepertinya mengerti sekali bagaimana mengarahkan anak-anak ini dan memperlakukan mereka di depan kamera, menjadi wajar memang karena pengalamannya bertahun-tahun yang dekat dengan dunia anak, apalagi ketika dia mendirikan Sanggar Ananda yang sukses menghasilkan anak-anak yang berbakat, jika ada yang ingat dengan “Lenong Bocah”, itu adalah salah-satu dari karya sanggar ini. “Rumah Tanpa Jendela” pun akhirnya memang akan menjadi film anak-anak, dikemas terkadang juga dengan adegan dan dialog kekanak-kanakan yang polos, lalu apa film ini hanya akan membuat senang anak-anak saja, tidak juga. Saya yang bukan lagi pantas disebut anak-anak justru terhibur dengan apa yang disampaikan Aditya Gumay, dengan segala pesan moral yang dikemas dengan warna-warni kehidupan yang manusiawi dan tidak berlebihan. Letupan-letupan emosi yang dirangkai oleh cerita yang ditulis oleh Aditya Gumay dan Adenin Adlan pun mahir dalam misinya untuk mempermainkan perasaan saya sebagai penonton. “Rumah Tanpa Jendela” pun mampu menjadi film keluarga yang tidak terlalu menggurui dan dengan mudah kita dapat memetik kematangan makna di setiap kisahnya.

Review: Khalifah

| | |
Nurman Hakim kembali tahun ini dengan “Khalifah”, film terbarunya dengan tema yang bisa dibilang serupa dengan “3 Doa 3 Cinta”, menghadirkan nuansa relijius dan juga mengajak penontonnya untuk bermain dengan prasangka dan rasa curiga. Jika mengingat film yang yang punya judul internasional “Pesantren: 3 Wishes 3 Loves” tersebut pasti saya akan diingatkan kembali betapa setiap karakternya berhasil dibangun oleh Nurman Hakim untuk tidak lepas dari kata “dicurigai” ini dan itu, Nurman dengan cemerlang bisa mengajak nalar dan instuisi ini untuk bermain, menebak-nebak, dan sekaligus terkadang ingin langsung menuduh yang bukan-bukan, termasuk menebak-nebak apa yang akan terjadi dengan dua pemain yang dipertemukan lagi di film ini semenjak Ada Apa Dengan Cinta (2002), Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Lewat penggarapan “3 Doa 3 Cinta” yang begitu apik dilihat dari cara Nurman Hakim mengemas cerita yang berlatar pesantren hingga pembangunan karakter yang kuat—kita akan diajak untuk menilai cover masing-masing karakter sampai akhirnya kita diberi akses lebih dalam mengenal mereka. Tentu saja membuat saya berharap “Khalifah” memiliki kualitas yang sama atau bahkan lebih baik dari film yang sukses memboyong penghargaan dalam dan luar negeri tersebut.
Selain melirik nama Nurman Hakim yang duduk di bangku sutradara, sekaligus menjadi jaminan “Khalifah” bukanlah film sembarangan, saya langsung tertarik melihat daftar pemainnya, karena disitu terdapat nama Marsha Timothy. Saya tidak tahu apakah Chacha (nama panggilan akrabnya, sok akrab nih saya) bermain sinetron apa tidak setelah “Pintu Terlarang”, tapi yang jelas permainan aktingnya sangat ditunggu di film Indonesia, sesudah dia memaku saya dengan perannya sebagai Talyda di film Joko Anwar tersebut. “Khalifah” pun menjadi tambah menarik karena disini Marsha diharuskan berakting dengan memakai cadar, well yang satu ini membuat rasa penasaran bertambah nilainya satu poin. Marsha berperan sebagai perempuan muda, cantik, dan pintar, bernama sama dengan judul film ini, Khalifah. Semenjak ibunya meninggal, dia sekarang tinggal dengan ayahnya (Brohisman), yang kesehariannya bekerja sebagai penjaga mesjid, lalu ada adik satu-satunya (Yoga Pratama), yang sebentar lagi akan menginjakkan kakinya di bangku kuliah. Sedangkan Khalifah sendiri bekerja di sebuah salon kecantikkan milik Tante Rita (Jajang C. Noer), yang tidak lain adalah sahabat baik ibunya.
Bayar kontrakan rumah, biaya uang sekolah adiknya, dan keinginan untuk meringankan beban sang ayah, memaksa Khalifah untuk memeras hati dan otaknya ditengah keadaan ekonominya yang pas-pasan, sekaligus memikirkan jalan keluar lain dari masalah pelik yang dipikulnya, yaitu menerima pinangan keponakan teman ayahnya. Mudah ditebak bukan? akhirnya Khalifah pun menikah dengan pria yang dijodohkan dengannya, Rasyid (Indra Herlambang), yah cinta bisa tumbuh belakangan yang terpenting sekarang adalah membuat orang tua dan adiknya bahagia. Pengorbanan Khalifah ternyata tidaklah sia-sia, hidupnya mulai membaik dan Rasyid ternyata juga adalah orang yang soleh, maka satu-satunya cara untuk membalasnya adalah dengan mengabdi kepada suaminya tersebut. Walau sering ditinggal lama oleh suaminya karena alasan pekerjaan Rasyid yang seorang pedagang barang-barang dari Arab Saudi, Khalifah tetap loyal sampai-sampai mengikuti ajakan suaminya untuk memakai kerudung dan mampu menjaga perasaannya terhadap tetangganya, Yoga (Ben Joshua), yang tampaknya punya perhatian lebih pada Khalifah.
“Khalifah” dengan mudah membuat saya melabeli film ini sebagai film dengan tutur cerita yang bertempo lambat. Tapi hal tersebut tidak membuat “Khalifah” lemah secara keseluruhan, lihatlah bagaimana Nurman Hakim membuat kita untuk terjerat dengan konflik awal keluarga Khalifah, walau konfliknya lagi-lagi klise tapi Nurman sanggup menjaganya untuk tidak jadi dangkal, hanya pemeras simpati penonton belaka. Nurman bisa dibilang memperkenalkan konflik yang tidak dibuat berlebihan, cukup hanya satu-dua masalah diawal, uang dan rasa kasihan pada orang tua, bukan konflik “sudah jatuh kena timpa tangga pula”, disini pencipta konflik batin Khalifah masih wajar dan rasional. Nurman juga dengan baik mampu memperkenalkan masing-masing karakternya, sebaik dia mengenalkan karakter di “3 Doa 3 Cinta”. Jika Indra Herlambang sebagai Rasyid adalah karakter yang tertutup—Indra benar-benar merubah image-nya yang dikenal hura-hura menjadi pria berkumis dan berjenggot yang sangat relijius, Khalifah bisa dibilang lebih terbuka kepada penonton. Kita memang terkadang tidak diberi dialog namun kita bisa tahu apa yang sebenarnya ada di dalam benak Khalifah lewat gerak tubuh dan mimik wajahnya. Sesepi setting tempat yang dipakai film ini, rumah yang sama, mesjid yang sama, sampai halte yang sama, film ini juga menawarkan sepinya dialog, namun tidak mengurangi ramainya makna yang tersirat dalam setiap adegannya.
Saya sempat bosan dengan pemilihan lokasi yang hanya “memamerkan” rutinitas tempat yang itu-itu saja, berapa kali saya melihat adegan Khalifah memperbaiki kunci pintu rumah atau hiasan dinding berupa gambar Ka’bah (betulkan jika ternyata gambar lain). Entah kenapa Nurman hobi sekali mengulang adegan yang sama dengan lokasi yang juga sama, membosankan memang, tapi setelah dipikir-pikir mungkin ini adalah refleksi dari kejemuan yang dirasakan oleh Khalifah, kehidupan perkawinannya yang tidak memiliki variasi, menunggu suaminya pulang dan menyambut suaminya ketika datang beberapa minggu kemudian. Nurman pun mengajak penonton untuk merasakan kejemuan tersebut, rasa bosan yang dirasakan oleh Khalifah, rasa bimbang antara meneruskan menonton film ini atau keluar lebih dahulu. Saya memilih untuk tetap berada di kursi seperti halnya si pelakon utama kita yang tetap memilih berada di rumah menyambut suaminya yang kian hari semakin misterius saja dengan tas entah berisi barang dagangan atau ah entahlah. Disinilah peran Nurman diharapkan untuk lebih aktif memberikan rasa penasaran, makin membuat saya terlena dalam prasangka, dan makin mencurigai Rasyid dengan pikiran yang tidak-tidak. Nurman sudah berhasil menyetir saya sebagai penontonnya.
Nurman sebelum pemutaran film dalam press screening yang dilakukan pada Senin, 3 Januari lalu mengatakan Khalifah bukanlah film dakwah. Apakah ini film dakwah? Masing-masing penonton mungkin akan melihatnya secara berbeda dan punya opininya sendiri-sendiri. Sedangkan saya cukup puas mengatakan ini memang bukan film dakwah, jika dibandingkan dengan “3 Doa 3 Cinta” pun saya melihat pesan provokatif di film ini lebih bersahabat, sinopsis yang menyebutkan kata-kata Islam “garis keras” mungkin akan membuat kita membayangkan yang macam-macam lebih dahulu tetapi ternyata Nurman menyampaikan cerita dari sudut yang berbeda, bukan soal seperti apa Islam “garis keras” tetapi apa dampak kata tersebut (yang sepertinya sudah dikonotasikan yang buruk-buruk di masyarakat) terhadap perempuan sepolos Khalifah, yang tidak tahu apa-apa. Dia hanya memakai cadar agar membuat suaminya senang dan Tuhan tidak marah lagi—Khalifah keguguran dan Rasyid menyebut ini adalah peringatan Tuhan agar Khalifah menutup auratnya. Khalifah memang bergulat dengan batinnya dengan memakai cadar tetapi tidak untuk dicemoohkan, dipandang sebelah mata, dan ditunjuk-tunjuk sebagai istri teroris.
Ketika Khalifah mulai memakai cadar inilah konflik mulai kembali bergeliat, di satu sisi menarik dimana saya bisa melihat respon lingkungan kepada Khalifah ber-cadar, namun juga di sisi lain memperlihatkan Nurman yang sepertinya terburu-buru mengesekusi film ini. Saya melihat beberapa hal yang dikemas secara tiba-tiba, hmmm… tiba-tiba orang di halte menyebut Khalifah dengan sebutan teroris (entah kenapa adegan ini sangat aneh) dan secepat itu juga perubahan terhadap diri Khalifah terjadi dari pernikahan hingga dia bercadar, di tengah cerita yang berjalan lesu. Disinilah kedua sisi tersebut saling bertolak belakang, lagi-lagi seperti sebuah refleksi terhadap gejolak batin yang dirasakan Khalifah ketika dirinya harus memilih memakai cadar atau tidak. “Khalifah” jadi tidak menarik? tidak juga, karena masih ada jajaran pemain yang siap mendongkrak mood kita ketika menonton. Marsha Timothy mampu memaksimalkan aktingnya, perempuan yang galau, selalu mempertanyakan tindakannya, dan juga canggung. Jadi sepertinya ketika saya melihat Marsha terlihat kaku, mungkin karena aura canggung tersebut berusaha keluar secara berlebih, agar pesona polos Marsha main terlihat, apalagi ketika dia bertemu Yoga yang sama-sama kaku, maka terlihatlah adegan paling kaku di film ini. Tapi sekali lagi Nurman mungkin memang ingin membentuknya seperti itu, saya pun orang seperti Yoga ini jika bertemu perempuan, canggung akhirnya salah tingkah (lho malah curhat).
Sebagai film pertama yang tayang di tahun 2010, “Khalifah” bukanlah film yang buruk tetapi juga tidak begitu istimewa, saya sendiri masih lebih menyukai “3 Doa 3 Cinta” yang masih memiliki pesona yang kaya warna ketimbang “Khalifah” yang kurang menarik ketika berbicara soal monotonnya film ini ketika bercerita. Namun usaha Nurman Hakim, seharusnya bisa diapresiasi dengan usahanya untuk merefleksikan apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat kita yang pikirannya sudah terpatri seperti yang bisa dilihat di film ini. “Khalifah” mungkin ingin terlihat komersil dengan poster yang terpajang seperti itu—sekali lagi poster film Indonesia yang ingin bermain aman, namun jelas terlihat setelah menonton, “Khalifah” bukanlah film yang membuat kita berkata enak dengan sekali gigitan, bisa dibilang jauh yah dari kata film yang komersil dengan tema yang secara “relijius” serupa tapi tidak sama dalam kemasannya. Berjalan dengan lamban, membuat “Khalifah” membosankan, butuh waktu lama untuk film ini untuk menemukan jalannya mengikat chemistry kepada penonton.

Review: Nakalnya Anak Muda

| | |
Awalnya saya mengira film ini adalah sekuel dari Pengantin Topeng, karena kurang lebih plot dan twistnya hampir mirip apalagi dengan kemunculan sang pembunuh yang lagi-lagi berkostum jas hujan. Bedanya kali ini sang pembunuh dipaksa untuk tidak memakai topeng, supaya bisa membedakan filmnya nayato “Nakalnya Anak Muda” ini dengan film Awi Suryadi tersebut. Padahal si pembunuh sudah merengek-rengek minta memakai topeng, tapi nayato tidak mau dikatakan filmnya nanti hasil contekan (tidak mungkinlah nayato yang hebat ini mau membuat film hasil plagiat, karena dia hanya membuat film-film berkualitas yang rilis setiap satu bulan), jadi dengan cerdik membujuk akan membeli jas hujan baru yang lebih gaul dari perancang terkenal KKD tailor. Akhirnya si pemeran pembunuh mau lanjut main film karena girang punya kostum baru, nayato pun gembira bisa menyelesaikan filmnya dalam waktu dua minggu (mungkin kurang).
Setelah semua siap, film akan dirilis dalam beberapa minggu, nayato bangga dengan film terbarunya, dan produser sedang berbunga-bunga karena sebentar lagi akan mengantongi uang “haram”, sebuah poster pun dipajang lebih dahulu dengan judul sangat hebat yang saya pastikan itu hasil meditasi tujuh hari tujuh malam, dilanjutkan dengan mandi tengah malam kembang tujuh rupa. Judulnya apa? “JIPER: Jeritan Perawan”, jika tidak salah karena saya masih menderita gangguan otak karena over-dosis “Selimut Berdarah”. Lalu tiba-tiba judulnya berubah dalam waktu kurang dari 24 jam, berganti menjadi yah dengan judul yang sekarang, yaitu “Nakalnya Anak Muda”. Nama sutradara yang sebelumnya tertera nama legenda koya pagayo pun diubah, lalu apakah ada perseteruan diantara dua sutradara ini. Mungkin akan meniru kontroversi dua sutradara di film obama anak yang hilang, maaf maksud saya “Obama Anak Menteng”.
Kedua sutradara paling cemerlang ini ternyata tidak memanfaatkan kerancuan judul dan nama sutradara yang begitu cepat berganti—secepat nayato membuat filmnya sendiri—mereka berdua sepertinya merelakan dengan lapang dada, saling berpelukan, dan sedikit ciuman. buat apa nayato ambil pusing mempromosikan filmnya dengan kontroversi dan segala tetek bengeknya, toh nama dia sendiri adalah sebuah kontroversi abad ini dan dia bisa membuat film lagi dengan hanya menjentikkan jari. Terbukti dengan judul yang bisa diubah secara cepat, nayato memang bukan hanya pintar menyembunyikan identitas asli, sutradara paling produktif saat ini, tetapi juga seorang pesulap yang berbakat. Saya pikir ada baiknya nayato mengasah bakat sulapnya dan berguru kepada mister dedi-you-know-who, siapa tahu kelak dia mau berhenti membuat film dan fokus bermain sulap saja.
Well, masih dengan kejeniusannya, nayato kali ini membawa saya ke ranah slasher dan bukan untuk pertama kalinya, karena sebelumnya ada…ada…hmmm saya lupa. Ratu Felisha kembali diajak bermain setelah sebelumnya bermain cemerlang di film nayato yang juga tayang tahun ini (muka saya sudah datar banget dan berwarna kuning mirip dengan emoticon ym) berjudul…mampus lupa lagi. Feli akan berperan sebagai ratu disko bernama Andien, yang harus menerima nasib buruk karena diperkosa orang. Iyalah orang masa setan, kecuali judul filmnya diperkosa setan jilid kedua, lagian kepalang tanggung karena Feli bermain di film nayato juga sudah sial lebih dahulu. Berawal di pesta topeng, Andien berkenalan dengan empat orang cowok, dibuat mabuk lalu diperkosa ramai-ramai di mobil. Ketika berusaha untuk kabur (dibikin sial lagi sama nayato), Andien terkena pukulan lalu tak sadarkan diri. Cowok-cowok bermuka mesum dan berti**t kecil ini serta bodoh mengira cewek yang baru saja diperkosanya sudah tidak bernyawa.
Andien pun dibuang ke sebuah air terjun (ini juga bukan sekuel air terjun pengantin), nah disinilah kejutannya karena Andien ternyata belum mati. Saya kira setelah bangkit dari kematian, Andien akan ditolong oleh seseorang kakek-kakek berjubah hitam, berjenggot, dan bertongkat tengkorak, setelah itu mengajarkan Andien ilmu beladiri dan kesaktian. Tapi nayato punya trik untuk menyingkat waktu dengan membuat Andien seperti sedang kerasukan salah-satu setan di film-film nayato, atau dia meminjam dulu setan properti milik KKD untuk memasuki tubuh Andien. Sepertinya dari sinilah asal muasal kekuatan Andien, karena dia berubah total dari ratu disko menjadi mesin pembunuh yang sanggup menerbangkan korban-korbannya. Saatnya untuk balas dendam, bagaimana caranya? ya tentu saja kembali lagi ke tempat disko, bergoyang seksi, memancing cowok-cowok yang pernah memperkosanya (tempat favorit nayato karena sesuai dengan citarasa filmnya dia yang remang-remang). Bagaimana mungkin para cowok ini tidak mengenali Andien yang diperkosa mereka dan mayatnya dibuang, jadi ceritanya sewaktu diperkosa mereka lupa membuka topengnya, masuk akal kan sekarang kenapa tidak kenal? tetap saja nga.
Tidak ada yang masuk di akal ketika berurusan dengan “directed by nayato cs”, begitu pula dengan film ini. Dari begitu cepatnya setiap karakter menjadi bodoh dan terbunuh, chemistry yang dipaksakan ada padahal kosong, pembunuh berjas hujan (Andien) yang jadi begitu kuat mengangkat korban-korbannya (jason dan teman-teman sepertinya akan kalah jika diajak duel oleh andien), sampai plotnya sendiri memang tidak masuk di akal manusia normal karena begitu dangkal hinggal sulit dicerna oleh otak. Singkat cerita—bukannya saya malas untuk bercerita tetapi sudah lupa hampir seluruh adegan yang tidak penting—setelah andien berhasil membunuh para pemerkosanya dan meninggalkan dua orang yang selamat, sahabat andien dan satu pemerkosa lagi (mereka tidak tahu kalau si pembunuh itu adalah andien, karena mereka mengira andien menghilang dihutan). Jadi dua orang ini melapor ke polisi bahwa teman-temannya terbunuh di villa antah berantah, semua orang di film ini tidak diberi dialog yang bagus termasuk pak polisi, mereka hanya bisa menjawab “siap..siap” atau “baiklah…siap…siap…pak” (ini yang paling panjang).
Bodohnya saya kembali mendengar dialog “baiklah pak, nanti kalau teman kami dihutan menghubungi, kami akan kabari bapak”, lupa yah teman kalian itu sudah mati gimana bisa menelepon. Andien pun sudah menukar blakberinya dengan palu besar, jas hujan, dan make-up anti luntur, bagaimana pula dia bisa menelepon. nayato memang handal jika berurusan dengan mencekoki pemain-pemainnya untuk terlihat bodoh di film yang tak kalah jauh bodohnya. Saya yang lagi-lagi berharap film ini bisa memuaskan (saya orang yang baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong…), ternyata harus dikecewakan dan terpaksa harus membetulkan posisi otak yang salah. Saya pikir andien akan melancarkan aksi balas dendam super sadis dengan memanfaatkan kekuatannya yang entah darimana itu (apakah benar dia kerasukan penunggu air terjun? atau sedang diguna-guna oleh kkd untuk main di film dia selanjutnya…#tolongbaim).
Saya membayangkan andien menjadi mesin seks super-sinting yang memperkosa balik cowok-cowok pemerkosanya lalu satu-persatu disunat sampai habis dan potongan “daging” tersebut jadi aksesoris cantik berupa kalung atau ditempel di hidung menjadikan andien sosok horor baru, andien si pembunuh berhidung k*n**l. Tapi apa daya, nayato punya ide yang lebih hebat untuk mengemas horornya. Darah yang secukupnya dicoreng-coreng ke wajah pemain dengan ditambah cara mati mereka yang mengenaskan…tunggu maksudnya menggelikan, itu sudah cukup gila bagi nayato yang punya standar kualitas horor yang tidak ada duanya (didukung oleh pengalaman dia menyutradarai ratusan film horor impoten). “Nakalnya Anak Muda”, menjadi sebuah judul yang tidak ada sangkut-pautnya dengan filmnya sendiri, judul asal buat sepertinya memang menggambarkan isi filmnya. Jika saja judulnya masih memakai jeritan perawan itu, kemungkinan masih ada sedikit benang merahnya (itu pun sudah dibelah tujuh …#tolongbaim), karena filmnya memang berisi teriakan-teriakan mengganggu para pemainnya, cowok dan cewek.
Menunggu film Indonesia berkualitas sebenarnya di bioskop tanah air itu seperti sedang buang air besar yang padat dan keras, susah payah dikeluarkan sampai berkeringat tapi ketika saya mendengar bunyi “plung” itu lega sekali. Berbeda dengan film dari planet mesumnus dan garapan nayato (dan juga sekelompok sutradara yang sepertinya sedang berupaya sekuat tenaga bisa sesukses mereka), film mereka itu sebaliknya diumpamakan seperti saya yang sedang sakit perut dan mencret, gampang keluarnya tetapi tidak bikin lega dan baunya bukan main membuat muntah (maaf yang sedang makan), ditambah tak ada berentinya karena setelah dibuang tetap saja masih sakit perut. Entah obat macam apa yang dicampurkan ke adukan formula filmnya, mungkin memang obat pencuci perut dan dosis obat tidur yang berlebihan. Siapa saja yang punya kesulitan tidur, insomnia, film ini bisa saja jadi terapi tidur…tapi saya tidak menganjurkannya jika tidak memakai resep dokter karena efek sampingnya bisa menyebabkan pendarahan otak fatal.

Review: Cewek Gokil

| Rabu, 09 Februari 2011 | |
Jika nantinya “Cewek Gokil” terkesan ketinggalan zaman dalam hal lagu-lagu pengiring atau dialog antar pemainnya, wajar karena film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani ini awalnya diperuntukan untuk rilis di tahun 2008. Setelah menunggu tiga tahun, film dari rumah produksi Mvp Pictures ini baru bisa dirilis sekarang, katanya sih menunggu momen yang tepat, karena tahun-tahun sebelumnya sedang gencar-gencarnya tema horor yang mendominasi pasar, jadi “Cewek Gokil” terpaksa mengalah untuk ditaruh di awal tahun 2011, tepatnya rilis pada 20 Januari. Film bertema komedi remaja ini memfokuskan ceritanya pada karakter Keke (Velove Vexia), yang di pembukaan film diperlihatkan sedang berlari-lari mengejar sesuatu yang tidak jelas, sambil dirinya juga ternyata sedang dikejar-kejar juga oleh massa. Ketika penonton mulai bertanya-tanya “ada apa?”, adegan tersebut berhenti dan seketika langsung pindah ke masa lalu dimana Keke masih kecil, Keke pun bertugas menarasikan setiap kisah masa lalunya dan kisah-kisah lainnya nanti. Dari kecil Keke itu bisa dibilang hidup “mandiri” karena orang tuanya terlalu sibuk, entah itu ibunya yang disibukkan dengan pekerjaan menjahitnya atau ayahnya yang sibuk bertengkar dengan ibunya, sampai akhirnya orang tua Keke pun berpisah.
Sejak saat itu, Keke makin tidak dipedulikan, tinggal bersama ibunya yang makin sibuk saja dengan jahit-menjahit pakaian. Bahkan kakak satu-satunya pun seperti “hilang” dari kehidupannya, beruntung Keke masih punya nenek yang sangat sayang dengannya. Dari sejak bayi, Keke justru lebih dekat dengan sang nenek, mendapat pelajaran hidup serta nasehat-nasehat kebaikan dari neneknya, ketimbang ibunya yang hanya bisa menyuruh ini dan itu lalu marah-marah. Semua kilas balik yang dinarasikan Keke ini pun lengkap memperkenalkan sang tokoh utama kita, menjelaskan kenapa pada akhirnya dia harus kerja sana-sini, saking fokusnya dengan Keke, karakter lain hanya dijelaskan sepotong-sepotong, kadang hilang lalu dimunculkan lagi. Akhirnya Keke beranjak dewasa, sudah lulus sekolah ceritanya, karena sudah dibiasakan mandiri dari kecil, sudah besar pun dia harus mencari uang sendiri untuk membiayai keperluannya pribadinya, termasuk obsesi-nya untuk mempunyai mobil sendiri, sebuah mobil mini cooper yang bisa dicicil, bukan hanya cicilan uang tapi bisa dicicil bagian body mobilnya. Keke pun harus banting tulang untuk mendapatkan uang 30 juta, dengan bekerja serabutan, menjadi guru les matematika dan bahasa Inggris, SPG, sampai ikutan kasting. Apakah Keke mampu mewujudkan satu impiannya membeli mobil tersebut?
“Cewek Gokil” seperti judulnya memang akan memperlihatkan kegokilan Keke dalam memenuhi setiap keinginannya, termasuk membeli mobil yang tidak hanya semata-mata untuk kebutuhan pribadi tetapi punya niat tulus didalamnya untuk membantu ibunya dengan mobil tersebut, yah untuk lebih mudah mengantar barang-barang jahitan. Keke trauma membawa barang jahitan yang banyak dan harus naik angkutan umum, diganggu kenek, sampai akhirnya menciptakan keributan massal karena ulah Keke mengejar bis yang jalan begitu saja dengan barang-barang Keke masih berada didalamnya. Ulah Keke di film ini memang tidak ada duanya, itu untuk mewujudkan hubungan film dengan judul yang berembel-embel kata gokil, yang bisa diartikan gila. Bermodalkan tema remaja, film ini juga memanfaatkan semangat anak muda, fase dimana biasanya banyak keinginan ini dan itu yang muncul, menjadi sebuah obsesi yang mesti dikejar, karakter Keke mewakili hal tersebut, dengan kegokilannya yang terkadang dikemas berlebihan.
Berbicara soal kemasan, “Cewek Gokil” bisa dibilang tidak se-gokil Keke yang tampil cukup habis-habisan. Terbungkus kurang rapih, saya masih melihat bayangan kameramen ketika sedang ingin menyorot karakter-karakternya, pencahayaan yang tidak alami ketika menyorot Keke di angkot pada saat cuaca di luar tampak mendung karena wajah Keke seperti seorang artis yang sedang dikerumuni wartawan dengan lampu-lampu kamera yang terlalu terang, atau pemakaian footage yang sama berulang-ulang sampai lebih dari 5 kali (jika saya tidak salah hitung), ditambah bagian tersebut sangat low resolution dan tone-nya beda sekali dengan keseluruhan film. Untuk urusan cerita “Cewek Gokil” juga tidak terlalu istimewa, Keke akan menjalani banyak rintangan menuju uang 30 jutanya untuk membeli mobil, namun usaha film ini dalam menyisipkan masing-masing konflik terbilang hanya numpang lewat saja, hanya ingin memperlihatkan betapa mudahnya Keke nantinya melompati setiap rintangan yang telah dipersiapkan, dilengkapi dengan sedikit rasa putus asa dan kecewa. Membosankan dan cerita tidak berusaha mengajak kita ikut serta bersama Keke dalam mewujudkan impiannya, tiba-tiba tanpa sadar Keke sudah berhasil mendapatkan beberapa kaleng kerupuk penuh uang, hmm begitu mudah.
Untungnya tidak semua bagian film ini membosankan, “Cewek Gokil” masih memiliki Velove Vexia yang bisa saya katakan dengan jujur, bermain cukup gokil dalam artian mampu maksimal memerankan karakter Keke dan porsinya dimanfaatkan dengan baik, tidak hanya dia mampu bertingkah nyeleneh tetapi secara mengejutkan Velove berhasil membuat saya tertawa untuk pertama kalinya. Adegan ketika dia kasting untuk tambahan uang membeli mobil adalah bagian terbaik film ini, karena disini saya tertawa untuk pertama kalinya. Lucu bagaimana melihat Velove yang sedang memerankan Keke lalu dia berakting lagi menjadi orang lain, dengan tampang datarnya, adegan ini adalah satu-satunya hiburan tersendiri. Velove Vexia juga satu-satunya pemain yang berakting paling menonjol di film ini, yah sudah sepantasnya ketika perannya adalah sebagai tokoh utama. Sedangkan pemain lainnya benar-benar hanya dijadikan pelengkap, kadang dimunculkan untuk menambah-nambah penderitaan Keke, lalu hilang begitu saja, untuk nantinya lagi-lagi muncul, salah-satunya adalah karakter pacar Keke (Syailendra Soepomo). Karakter yang satu ini muncul hanya untuk mengumbar gombal sesaat, benar-benar mengganggu, lalu hilang dan muncul kembali ketika film memang membutuhkan dia untuk sekedar berbasa-basi soal indahnya cinta, klise. Lewat kemasan dan cerita “Cewek Gokil” yang kurang maksimal seperti ini, kegokilan Velove Vexia sepertinya mubajir.

Review: Alangkah Lucunya (negri ini)

| Minggu, 09 Januari 2011 | |
Pendidikan itu penting. Kalau ingin jadi koruptor, ya harus sekolah

Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, harusnya bisa menghasilkan sebuah sinergi besar bagi negeri Indonesia demi tercapainya kesejahteraan masyarakat. Kenyataannya, rakyat miskin masih saja banyak, pengangguran dimana-mana, tingkat kriminalitas meningkat, serta masih banyaknya anak-anak yang belum bisa menikmati pendidikan sebagaimana mestinya. Yang makin menyedihkan, ketika jurang antara yang kaya dan miskin makin menganga, ketidakadilan semakin meraja lela dimana mereka dengan modal kecil yang harus selalu dikalahkan. Koruptor bisa tebar pesona menikmati hasil jarahan besar uang rakyat, di sisi lain pencopet dengan hasil jarahan yang jauh lebih kecil seringkali mendapatkan hukuman yang bisa sangat mengenaskan.


Mendapati banyaknya pencopet belia, Muluk (Reza Rahadian) dengan berbekal sarjana di bidang manajemen, berusaha mengentaskan para pencopet belia yang dikelola oleh Jarot (Tio Pakusadewo). Meski sudah mempunyai gelar sarjana, Muluk ini sudah dua tahun menganggur. Sempat terpikirkan beternak cacing, namun dia mundur ketika ada pihak-pihak yang mentertawakan niat tersebut. Program yang ditawarkan oleh Muluk, terkesan sangat muluk-muluk, namun berkat bantuan dua temannya, Pipit (Ratu Tika Bravani) dan Samsul (Asrul Dahlan) yang juga menganggur meski berpendidikan tinggi, perlahan-lahan program Muluk mulai mendapatkan hasil. Ketiganya bahu-membahu membangun mental positif anak-anak dengan pelajaran agama, budi pekerti serta kewarganegaraan.
Sebuah program, tentu akan bisa berjalan kalau ada sokongan dana. Minta pada ayahnya (Deddy Mizwar) sangatlah tidak mungkin. Maka dilontarkanlah ide semacam management fee sebesar 10% dari hasil mencopet. Dana yang terkumpul, kedepannya akan dijadikan sebagai modal bagi anak-anak untuk beralih profesi yang lebih halal. Ketika segalanya terlihat sesuai dengan apa yang diharapkan, muncul gugatan yang dilematis yakni ketika ayah Muluk, Pak Makbul (Deddy Mizwar) dan ayah Pipit (Slamet Rahardjo) yang sangat relijius, murka mendapati anak-anak mereka menikmati uang haram. Apa langkah Muluk dkk selanjutnya?


Setelah digempur puluhan film horor dan drama percintaan, kehadiran Alangkah Lucunya (Negeri Ini)/ALNI memberikan kesegaran tersendiri bagi dunia sinema nasional. Seperti karya Deddy Mizwar sebelumnya, ALNI memasukkan banyak kritikan, terutama kepada kebijakan pemerintah, isu nasionalisme dan balutan dakwah agama yang cukup kental. Bagi Gilasinema, Deddy Mizwar adalah seorang pengkhotbah yang asyik, karena banyak sekali bermain diwilayah abu-abu. Deddy Mizwar tidak menghujani penonton dengan dogma-dogma. Dia hanya membeberkan suatu realita yang pada akhirnya memaksa penonton untuk melakukan semacam pengkajian dan pemahaman sendiri. Solusi diserahkan pada masing-masing individu. Dalam ALNI, kecuali pemerintah, tidak ada yang benar-benar salah atau benar.


Hasilnya? ALNI menjadi sebuah tontonan yang sangat berat karena meninggalkan semacam PR bagi penontonnya. Tidak mudah, mengingat Deddy Mizwar memberikan banyak PR yang dilematis. Apakah langkah yang ditempuh oleh Muluk dkk harus dihentikan gara-gara bertentangan dengan ajaran agama? Padahal, tujuan mereka sangatlah baik dan menunjukkan hasil, meski mungkin kalau kisah berlanjut akan mengalami gugatan baru perihal pekerja di bawah umur. Aksi mereka itu ibarat antitesis dari kondisi riil negeri ini. Banyak orang cerdas di negeri ini yang mengalami kemerosotan moral. Bandingkan dengan para anak-anak pencopet yang mengalami peningkatan moral berkat aksi Muluk dkk. Muluk memanfaatkan uang haram untuk tujuan yang baik, sedangkan para koruptor memanfaatkan hasil jarahan demi kepentingan diri sendiri. Menyedihkan, ketika ilmu dan kecerdasan hanya dimanfaatkan demi ambisi pribadi (materi).


Duo Deddy Mizwar dan Aria Kusumadewa yang lewat Identitas menyoroti soal carut marutnya pelayanan kesehatan, dalam ALNI mencoba membeberkan kegagalan sistem pendidikan yang tidak mampu menyentuh semua kalangan dan juga belum berhasil mengentaskan kemiskinan. Dengan alokasi 20% dari APBN untuk pendidikan, mengapa belum juga terlihat adanya peningkatan kualitas hidup. Program BOS yang harusnya mensukseskan Program Wajib Belajar 9 Tahun justru mendorong banyak SD dan SMP untuk meningkatkan standar menjadi RSBI yang bisa melegalkan berbagai pungutan. Pendidikan Dasar makin mahal dari sebelum adanya BOS dan sekolah terbaik hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu. Nilai berupa angka menjadi ukuran kecerdasan anak (UAN), tanpa melihat potensi anak di bidang yang lain.
Tapi bukan hanya salah pemerintah juga lho. Pentingnya pendidikan belum disadari oleh semua lapisan masyarakat. Sebagai contoh, tempat dimana Gilasinema tinggal. Keberhasilan seseorang tidak diukur dari tingkat pendidikan, tapi dari apa yang dia hasilkan dari pekerjaannya yang bisa dilihat oleh mata telanjang seperti kendaraan atau rumah. Dan kalau ada iuran kampung atau bantuan dari pemerintah, tujuannya untuk apa? Pembangunan jalan yang sebenarnya tidak terlalu mendesak untuk diperbaiki. Gilasinema membayangkan, ada baiknya kali ya kalau suatu kampung itu ada iuran demi pendidikan anak-anak berprestasi dan berpotensi di suatu bidang, dan sebagai balasannya, ketika si anak ini berhasil bisa membangun kampungnya.


Aduuuh...jadi ngelantur. Kesimpulannya, ALNI adalah sebuah film yang komplet dan cerdas. Lucu sekaligus pahit, terutama endingnya yang sukses membuat tangis. Dan seperti halnya Naga Bonar(Jadi) 2, ALNI juga menghadirkan gesekan antar generasi. Kehadiran beberapa produk mungkin terasa mengganggu, namun naskah olahan Musfar Yasin sangat rapat dan menghadirkan banyak quote-qoute segar, tajam dan cerdas. Gilasinema suka sekali dengan dialog pas Rina Hasyim sedang mengisi TTS :


Rina Hasyim : Yang nentuin haram atau halal siapa Beh?
Slamet Rahardjo : MUI!
Rina Hasyim : Lima kotak Beh.
Ratu Tika Bravani : Allah ... Nyak!

Gilasinema juga dibuat terhenyak dengan ”amien” setelah lagu Indonesia Raya. Iya ya, Lagu Indonesia itu kan ibarat doa, namun kita lupa untuk mengamininya. Brillian!!!


Selain kekuatan naskahnya, yang dari Gilasinema baca idenya sudah ada sejak 9 tahun yang lalu, ALNI sangat tertopang dengan penampilan para pemainnya yang padu dan prima. Untuk barisan pemain senior, sudahlah gak usah dibahas. Mereka selalu tampil jauh dari mengecewakan. Reza Rahadian kembali menunjukkan potensinya sebagai calon bintang besar. Penampilan aktor yang sudah Gilasinema sukai sejak tampil di Film Horor ini terlihat matang dan dewasa serta bisa mengimbangi para pemain senior. Ekspresinya di penghujung film benar-benar mantap. Kalau boleh berpesan, Mas Reza ini jangan nglakuin hal-hal yang macam-macam ya. Sayang sekali dengan potensi besar yang kau miliki (sok banget ya hehehe). Asrul Dahlan yang aksi bagusnya di King kurang dilirik, juga pantas diberi tepuk tangan. Sedangkan untuk Ratu Tika Bravani, dia pantas diberi lebih banyak kesempatan untuk tampil. Para anak-anak jalanan juga tampil bagus dan natural. Tidak sia-sia mereka digodok selama dua bulan. Alangkah Lucunya (Negeri) Ini adalah sebuah film yang wajib tonton, dan setelahnya kamu bakalan dibuat yakin ALANGKAH TIDAK LUCUNYA NEGERI INI!

Review: Kambing Jantan

| Kamis, 06 Januari 2011 | |

2 jam yang gak penting


First thing first = this movie is as cheesy as italian cheese <-- what the?

Gw bingung sama pencetus ide ngebuat novel goblok KambingJantan jadi sebuah film. Mau dibawa kemana arah film nya? Secara novel nya tentang catatan harian bung Raditya Dika dalam periode waktu yang loncat2, walaupun banyak yang berhubungan. Gw sih punya banyak harapan kalo film ini bakalan jadi bagus. Karena novel nya best seller (seperti Ayat-Ayat Cinta hahaha) pasti di garap sama crew yang jempolan.

Harapan gw jatoh tiba2 denger review di kaskus.us ttg KambingJantan. Sebenernya harapan gw udah jatoh dari sebelum2nya gara2 liat trailer nya yang sangat amat tidak menjanjikan. Basi, sorry to say. Gak ada konflik di trailer nya jadi males nntn, tapi tetep lah penasaran.

Balik lagi ke masalah review di kaskus, gak sedikit yg bilang kalo film ini totally not recommended. Udah bener2 low expectation bgt tuh. Tapi tetep penasaran. Nah jadi akhirnya gw nntn juga, berhubung di pejaten village, xxi baru, jadi murah cuman 15rb. First impression = JAYUS PARAH

Bukan maksud gw untuk menjelek2an film Indonesia ya cuman emang bener film ini jelek bgt. Ya, film ini gak sejelek film2 horor/komedi/seks kacangan yang sekarang lagi nge trend. Banyak dari film2 Indonesia yg mungkin lebih buruk dari ini. Tapi film2 kacangan itu emang udah ketauan jelek nya kan dari awal. Lah kalo KambingJantan, pasti banyak orang2 punya harapan besar dong. Karena udah ngeliat hasilnya, pastilah rasa kecewa lebih besar daripada nntn film2 kacangan itu.

Perbandingan cerita di novel nya pun banyak yg beda. Film ini cuman menekankan kisah cinta Raditya "kambing" Dika sama pacarnya 'Kebo' yang harus ngejalanin long distance relationship karena Dika harus kuliah di Adelaide.

Apa sih yang salah dari film ini? Akting. Plis, Dik, lo udah cocok kok cuman nulis, ga usah dipaksain akting. Sori bgt nih kalo lo tersinggung, tapi itu dari lubuk hati gw yang paling dalem hahaha Naskah nya juga, sebenernya sih mungkin udah di set sejayus mungkin. Tapi pembawaan Dika yang kaku, ngebuat dialog2 nya jadi hambar. Jadi jayus. Pemeran2 pembantu juga sayangnya gak ngebantu banyak

Trus lagi2 masalah naskah. Dialog nya nih jayus bgt dan ga jelas mau dibawa kemana. Jadi sebenernya kita cuman disuguhin cerita cinta nya dika dan kebo + dika sadar kalo dia salah pilih jurusan. Segitu cuman 2 jam??? Kenapa? Banyak tempelan2 ga penting, bahkan keliatannya cuman film ini isinya tempelan2 ga penting + cinta2an sama salah pilih jurusan. Jadi kayak makan sambel pake nasi. Film ini disingkat jadi 30 menitan juga bisa. Di Adelaide nya pun cuman berapa scene sih? Padalah pesan ttg salah jurusan tuh bagus bgt, cuman disini kesannya jadi tempelan doang.

Gw lagi2 bilang kalo gw bukan movie expert dan gw juga gak bermaksud untuk menghina film Indonesia. Tapi apa mau dikata, itulah yang ada dalam hati gw abis nntn film ini = kecewa. besar. Plis bagi yang mau nntn, pikir2 lagi deh. Gw ga ngelarang lho, cuman ya, pikir2 lagi aja.