Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adventure. Tampilkan semua postingan

Review: I AM NUMBER FOUR

| Kamis, 09 Juni 2011 | |

Saatnya Untuk Melawan

Dalam I Am Number Four, aktor muda asal Inggris, Alex Pettyfer, berperan sebagai Daniel, salah satu dari sembilan alien dari ras Lorien yang dikirimkan orangtuanya ke Bumi guna menyelamatkan mereka ketika para alien dari ras Mogadorian mencoba menghapus keberadaan ras Lorien dari catatan sejarah. John tidak sendirian. Sama seperti halnya dengan kedelapan alien lainnya yang dikirim ke Bumi – dan ditempatkan dalam lokasi yang saling berjauhan di Bumi – John memiliki Henry (Timothy Oliphant) yang bertugas sebagai pelindung dan pengasuh dirinya ketika ras Mogadorian melakukan pengejaran terhadap sembilan alien tersebut ke Bumi. Kesembilan alien tersebut masing-masing memiliki nomor pengenal sebagai identitas mereka. Alien pertama berhasil ditemukan dan dibunuh di Malaysia. Alien kedua berhasil ditemukan dan dibunuh di Inggris. Ketika alien ketiga juga berhasil ditemukan dan dibunuh pasukan Mogadorian di Kenya, Daniel, sebagai alien keempat, bersama Henry segera berpindah tempat agar keberadaan mereka tidak diketahui.
Selalu berpindah tempat sebenarnya bukan masalah besar bagi Daniel. Hal tersebut telah ia lakukan bersama Henry semenjak ia kecil ketika mereka menyadari bahwa lokasi tempat keberadaan mereka sekarang telah tercium oleh pasukan Mogadorian. Namun, hambatan terbesar bagi John Smith – nama yang digunakan Daniel setelah pindah ke daerah Paradise, Ohio – ternyata muncul dalam sesosok wanita bernama Sarah Hart (Dianna Agron). John merasa bahwa Sarah adalah wanita yang tepat untuknya. Ketika Henry mulai mencium bahwa pasukan Mogadorian telah mengetahui keberadaan dirinya dan John, ia lantas mengajak John pergi jauh dari wilayah tersebut – sesuatu hal yang jelas kemudian ditolak John atas dasar rasa cintanya pada Sarah yang mulai tumbuh.
Walau membawa tema science fiction di dalam jalan ceritanya, I Am Number Four sama sekali tidak menawarkan sebuah jalinan kisah rumit dan kompleks kepada para penontonnya. Wajar saja, naskah cerita film ini didasarkan pada novel remaja berjudul sama karya James Frey dan Jobie Hughes. Penulis naskah film ini juga merupakan deretan penulis naskah yang berpengalaman dalam menuliskan naskah-naskah serial televisi yang ditujukan untuk remaja – Alfred Gough dan Miles Millar berpengalaman dalam menuliskan naskah cerita serial televisi Smallville sementara Marti Noxon merupakan salah satu dari sekian banyak penulis naskah serial televisi populer, Buffy the Vampire Slayer. Pengaruh akan kesan sebuah serial televisi remaja memang dapat ditemukan dalam komposisi cerita I Am Number Four. Namun yang jelas, berkat kepiawaian sutradara, D. J. Caruso (Disturbia, 2007), jalinan cerita tersebut dapat dikemas dalam bentuk yang ringan dan tetap mampu menghibur.
Jujur saja, I Am Number Four memang sebuah film yang dikemas untuk pangsa pasar penonton yang lebih menikmati intrik jalinan sajian visual action daripada kompleksitas cerita drama yang dihadirkan. I Am Number Four juga beberapa kali hadir dengan beberapa adegan maupun dialog yang terkesan konyol serta berlebihan dan juga beberapa penampilan pemerannya yang sedikit terkesan kaku. Pun begitu, I Am Number Four tidak pernah benar-benar tampil komposisi yang buruk. Intrik yang dihadirkan di dalam jalan cerita disajikan dengan porsi yang tepat. Dialog-dialog para karakternya pun juga tidak pernah terdengar sangat dangkal. Yang paling utama, sajian special effect film ini cukup mampu menunjang I Am Number Four menjadi sebuah film popcorn yang menyenangkan.
Dari departemen akting, dua pemeran utama film ini, Alex Pettyfer dan Dianna Agron, tampil dalam porsi dan kapasitas yang tidak mengecewakan. Walau begitu, para pemeran pendukung film ini seringkali mendapatkan dialog maupun adegan yang terkadang akan mencuri banyak perhatian penonton. Callan McAulliffe, yang berperan sebagai Sam Goode, mendapatkan peran stereotype sebagai sahabat sang karakter utama yang nerd dan sering di-bully teman-teman sekolahnya. Pun begitu, naskah cerita sering memberikan dialog-dialog dan adegan jenaka pada karakter Sam, yang kemudian mampu dieksekusi dengan baik oleh McAuliffe.
Namun, dua penampilan yang mungkin dapat dikatakan paling banyak mencuri perhatian, walau dengan durasi penampilan yang sedikit, adalah penampilan aktor Kevin Durand yang berperan sebagai salah satu punggawa Megodorian dan aktris Teresa Palmer – versi pirang dari Kristen Stewart dari film The Sorcerer’s Apprentice (2010) – yang berperan sebagai alien asal Lorien keenam. Durand berhasil menampilkan penampilan yang garang sebagai salah satu anggota pasukan Megodorian, sementara Palmer tampil cukup panas sebagai seorang alien wanita dengan attitude pemberani dan liarnya. Beberapa nama lain seperti Timothy Oliphant dan Jake Abel juga tampil tidak mengecewakan, walaupun harus diakui sama sekali tidak berarti apapun akibat kurangnya penggalian peran yang mereka mainkan.
Terlepas dari keberadaan unsur alien dan science fiction dalam jalan cerita I Am Number Four, adalah cukup aman untuk mengatakan bahwa film ini tak lebih dari sekedar sebuah versi alternatif dari kisah percintaan remaja, lengkap dengan kehadiran beberapa lagu pop terkenal seperti Radioactive milik Kings of Leon atau Rolling in the Deep milik Adele yang menghiasi beberapa adegan film. Walau begitu, tak dapat disangkal bahwa I Am Number Four mampu dikemas dengan cukup baik. Berbagai intrik yang hendak dihantarkan film ini, mulai dari romansa, science fiction hingga action, mampu disampaikan dengan sederhana namun sangat mengena. D. J. Caruso berhasil untuk menceritakan kisah I Am Number Four dengan begitu menyenangkan untuk diikuti sehingga siapapun rasanya akan tidak sabar untuk mengetahui kelanjutan kisah perjalanan sang alien nomor empat dan para kawanannya dalam menyelamatkan diri mereka dari serangan kaum Megodorian di sekuel selanjutnya.

Review: PIRATE BROTHERS

| | |

Ketika “Merantau” mampir dan unjuk kebolehan pada tahun 2009, perfilman tanah air bisa dikatakan seperti disiram hujan yang menyegarkan, bagaimana tidak, apalagi melihat variasi film yang tayang di bioskop pada saat itu yang masih didominasi genre yang itu-itu saja, ya horor-cacat dan antek-anteknya itu. Melihat film laga lokal kembali beraksi dalam bioskop, tentu saja bagaikan seruan keras yang menendang saya untuk juga balik duduk manis di bioskop menonton film Indonesia. Oh iya saya bangga menyebut film ini film Indonesia, walau disutradarai Gareth Evans, yang notabennya bule, namun seluruh produksi bisa dibilang didominasi hasil kerja keras anak bangsa juga, pemain-pemainnya toh juga kebanyakan orang Indonesia. Sama seperti kebanggaan saya melihat pencak silat diberi kesempatan untuk unjuk gigi lagi di layar lebar, diwakili oleh jurus-jurus maut silat harimau yang ditampilkan Iko Uwais. “Merantau” berlalu, eforia film laga pun ternyata ikut terkikis dihempas oleh gelombang film-film kacrut. Seingat saya setelah “Merantau” memang tidak ada lagi film murni action yang nongkrong di bioskop, mungkin hanya “Darah Garuda”, itupun bergerilya di tema drama-perang, bukan aksi baku hantam tetapi aksi baku tembak dengan latar belakang jaman perang kemerdekaan.
Pertanyaan saya kapan bisa melihat film laga kembali lagi mengisi slot tayang hari ini di bioskop, ternyata dijawab oleh “Pirate Brothers”. Film produksi Creative Motion Pictures ini sayangnya memang tidak terlalu terdengar gaungnya, padahal bisa dibilang melihat trailernya saja, film arahan sutradara Asun Mawardi tersebut terlihat begitu menjanjikan. Setelah melihat filmnya pun, saya berani bilang: ini film layak tonton bagi mereka yang rindu genre ini, film laga yang tidak memalukan dan tidak menipu—apa yang kita lihat di trailer memang toh ada di filmnya dan masih tersisa banyak adegan fighting yang tidak semua dimunculkan di video berdurasi kurang dari 2 menit tersebut. “Pirate Brothers” dibuka dengan adegan yang memperlihatkan dua orang sedang bertarung di sebuah area yang dikelilingi peti kemas (mengingatkan saya pada adegan di Merantau), kemudian kembali mengambil kuda-kuda dan bersiap menyerang, siapa mereka? kita belum tahu.
Lalu adegan tersebut pun terpotong dan kita diajak melihat masa kecil salah-satu orang yang kita lihat di awal film, dia adalah Sunny. Sifat baiknya kelak ketika dewasa bukan lahir begitu saja tetapi diwarisi dari kebaikan kakaknya, walau keduanya yatim piatu dan hidup di jalan, kakak Sunny selalu mengajarkan tidak baik untuk mencuri, membimbing adiknya untuk menjadi orang baik. Namun Sunny harus pasrah kehilangan kakak yang selalu melindunginya ketika dia dibunuh oleh kelompok preman jalanan. Akhirnya takdir membawa Sunny ke sebuah panti asuhan, dimana dia nantinya bertemu dengan anak baru yang selalu diganggu oleh sesama penghuni panti, dia adalah Verdy (dialah lawan Sunny di awal film). Sunny dan Verdy begitu akrab di panti dan sudah saling menganggap satu sama lain sebagai saudara. Sampai suatu ketika mereka harus berpisah, Verdy diangkat anak oleh pengusaha kaya. 20 tahun kemudian, kita melihat Verdy (Verdy Bhawanta) sudah mewarisi perusahaan milik ayah angkatnya dan punya kekasih bernama Melanie (Karina Nadila). Sedangkan Sunny, entah bagaimana ceritanya sekarang menjadi anggota bajak laut. Pada saat Sunny bersama komplotannya sedang melakukan aksi kejahatan, takdir pun mempertemukannya dengan teman lama, saudaranya dari panti asuhan.
Oke, “Pirate Brothers” tidak sepenuhnya mengisi durasinya yang 90 menitan itu hanya dengan menampilkan adegan demi adegan orang saling memukul, menendang, mencekik, dan membanting. Film yang dibintangi oleh Robin Shou—masih ingat dengan film yang diadaptasi dari game, “Mortal Kombat”, ya Robin memerankan Liu Kang—ini memiliki porsi drama untuk mendukung kisah persaudaraan antara Sunny dan Verdy. Walau saya sebetulnya lebih memilih potong semua basa-basi drama dan langsung sajikan porsi aksi banting-bantingan, tapi film action seperti ini juga butuh cerita, dan jika dalam cerita itu terdapat drama yang dikemas baik, akan jadi nilai plus sendiri bagi filmnya. Sayangnya walau Asun yang juga terlibat dalam penulisan skrip bersama dengan Mathew Ryan Fischer (The King of Fighters) dan Douglas Galt, tahu kemana dia akan mengarahkan cerita “Pirate Brothers”, namun tidak ada keterkaitan emosional yang bisa dirasakan saat film ini membuka pintu flashback, yang mana mengajak kita menengok masa lalu Sunny dan Verdy, serta lahirnya persaudaraan mereka. Ada dramatisasi disana tapi usahanya dalam mengikat emosi penonton tidak maksimal, bagian drama di “Pirate Brothers” pun terasa hambar, datar, dan membosankan. Kita hanya dibiarkan untuk cukup mengenal proses terikatnya sebuah persaudaraan dan perpisahan di masa lalu, tetapi percikan masa lalu tersebut tidak berusaha agar penonton juga ikut merasakan chemistry-nya.
Baiklah cukup dengan drama, mari beralih ke porsi baku-hantam, disini “Pirate Brothers” bisa berkata lantang “gw nga main-main” dan itu terbukti sesaat kita melihat komplotan perompak menyerang yacht milik Verdy. Tidak hanya untuk pertama kalinya sang jagoan capoeira yang diperankan Verdy Bhawanta tersebut memamerkan kebolehannya dalam membela diri sambil beraksi akrobatik, tetapi juga lawan mainnya Robin Shou juga tak mau kalah. Walau di usianya yang tidak muda lagi, 50 tahun, Robin mampu masih tampil prima di saat dia melakonkan aksi-aksi tarung tangan kosong. Untuk urusan berantem-beranteman, Asun dan dukungan kru dibelakangnya memang terlihat sekali berupaya semaksimal mungkin untuk menghadirkan pertarungan yang nyata, dan saya akui kerja kerasnya membuahkan hasil yang memuaskan, salut untuk itu. Apalagi “Pirate Brothers” punya banyak figuran yang siap dan rela untuk dijatuhkan satu-persatu oleh Robin dan Verdy, semakin menyemarakkan hiburan adu jotos di film ini.
Mau itu pertarungan satu lawan satu ataupun melibatkan banyak massa untuk adegan pengeroyokan, film yang juga menghadirkan (alm) Pitrajaya Burnama ini tentu saja tidak serta-merta terburu-buru asal main tonjok muka, tetapi membungkus apik porsi laganya dengan koreografi yang menarik, yang pasti tidak hanya menghantam adrenalin ini keras-keras tapi juga mengundang tepuk tangan ketika semua musuh K.O. Di luar dugaan saya memang, jika “Pirate Brothers” ternyata mampu menghadirkan hiburan semenarik itu dalam soal action-nya, tapi sekali lagi agak terganggu dengan drama yang dengan tiba-tiba nyelonong begitu saja tanpa permisi dan menurunkan tensi yang sebelumnya sudah berada di level “aman”. Mungkin formula yang tepat untuk menonton “Pirate Brothers” adalah lupakan dramanya dan ceritanya yang mudah ditebak itu, karena sajian action-nya lebih tidak mengecewakan dan justru melebihi ekspektasi awal saya. Sambil menunggu film-film laga lokal kembali semarak, tidak ada salahnya pergi ke bioskop dan mencicipi “Pirate Brothers”, adegan di laut itu keren juga.

Review: SANCTUM

| Sabtu, 04 Juni 2011 | |

Terjebak di Dalam Gua

Seperti yang dibuktikan Titanic (1997) dan Avatar (2009), tampilan audio visual yang begitu memukau memegang peranan yang sangat penting dalam setiap film yang melibatkan nama James Cameron. Begitu vital, tampilan audio visual yang seringkali menawarkan terobosan baru dalam dunia perfilman tersebut menjadi faktor yang tidak dapat disangkal menjadi titik penting penghasil aliran emosi di dalam jalan cerita film itu sendiri. Di lain pihak, film-film yang ditangani Cameron seringkali memiliki kelemahan dalam segi penceritaan. Yang paling sering dikritisi, tentu saja, adalah kekurangmampuan Cameron untuk melakukan supervisi pada deretan dialog para karakter yang ada di dalam jalan cerita filmnya. Sanctum, yang walaupun hanya melibatkan Cameron sebagai seorang produser eksekutif, juga memiliki keterikatan ciri khas kualitas yang sama dengan film-film yang menjadi karya Cameron sebelumnya.
Tidak dapat disangkal, premis yang berjanji untuk menghadirkan sebuah petualangan ke bagian dasar dan terdalam dari Bumi, ke sebuah wilayah yang sama sekali belum pernah disentuh oleh manusia, dan disajikan dengan tampilan audio visual yang kualitasnya diawasi oleh seorang James Cameron, akan membuat setiap orang menanti kehadiran Sanctum. Dan benar saja, Sanctum adalah sebuah thriller yang berhasil menyajikan petualangan bawah tanah dengan cara yang spektakuler. Namun lebih dari itu, Sanctum benar-benar lemah dalam hal karakterisasi dan penceritaan dialognya. Bahkan lebih lemah dari apa yang pernah ditampilkan oleh Cameron dalam Titanic maupun Avatar!
Ditulis oleh John Garvin dan Andrew Wight, yang diinspirasi dari kisah nyata yang dialami oleh Wight ketika ia hampir saja tewas dalam melakukan kegiatan ekspedisi penyelaman ke sebuah gua bawah laut, Sanctum berkisah mengenai perjalanan yang dilakukan pasangan Carl Hurley (Ioan Gruffudd) dan Victoria (Alice Parkinson) ke Papua Nugini untuk menjelajahi situs gua bawah laut bersama Frank McGuire (Richard Roxburgh), seorang penyelam profesional, dan anaknya, Josh (Rhys Wakefield). Frank telah terlebih dahulu mempersiapkan gua bawah laut tersebut untuk dijelajahi oleh Carl dan Victoria, sehingga ketika jutawan itu datang, Frank akan membawa mereka masuk dalam sebuah petualangan yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup mereka.
Malang, alam sepertinya berkehendak lain. Tepat ketika Carl, Victoria dan Josh bergabung bersama Frank dan tim ekspedisinya di gua bawah laut tersebut, sebuah badai datang menerjang dan mengancam kehidupan mereka. Ketika akhirnya gua tersebut mulai tertutupi oleh banjir, satu-satunya jalan keluar dari teror tersebut adalah untuk menempuh alur gua bawah laut tersebut  sebelum akhirnya mereka dapat menemukan sebuah jalan keluar yang berada di lautan luas. Terdengar seperti sebuah petualangan biasa? Belum ada manusia satupun yang pernah menjelajahi gua bawah laut tersebut. Ditambah dengan kehadiran intensitas emosi yang cukup tinggi di antara para penjelajah tersebut, kematian sepertinya akan dengan mudah menyelinap dan mengambil korbannya.
Sanctum menggunakan sebuah kamera khusus 3D untuk memperoleh gambar-gambarnya – sebuah kamera yang juga digunakan oleh James Cameron pada Avatar dan teknologinya telah dikembangkan Cameron selama hampir satu dekade. Wajar saja jika kemudian Sanctum dipenuhi dengan deretan gambar indah, misterius serta mencekam akan pemandangan dari sebuah gua bawah laut. Tim produksi juga menghabiskan cukup banyak waktu dalam menciptakan latar belakang lokasi yang tepat untuk dapat memberikan pengembangan yang lebih mendalam mengenai suasana yang diperlukan di dalam jalan cerita. Dan mereka, harus diakui, berhasil melakukannya. Dengan latar belakang tempat yang menggunakan pemandangan alam yang benar-benar nyata, gelap dan cenderung sempit, Sanctum berhasil menghadirkan teror tersendiri yang akan datang dari kemampuan film tersebut untuk mengeluarkan rasa takut penontonnya akan ruang yang gelap dan terbatas.
Berbanding terbalik dengan tampilan audio visualnya yang seperti dikerjakan secara intensif oleh sekumpulan tim produksi profesional, naskah cerita Sanctum justru terlihat seperti dikerjakan oleh mereka yang sama sekali tidak mengerti mengenai bagaimana cara mengembangkan cerita dan karakter dengan baik. Hasilnya, di sepanjang penceritaan, banyak dialog-dialog yang terkesan dangkal dikeluarkan oleh para karakter yang setara dangkalnya dalam hal karakterisasi. Plot kisah mengenai hubungan antara ayah dan anak yang berkembang di tengah-tengah jalan cerita juga terkesan kurang mampu menghasilkan ikatan emosional yang baik kepada para penontonnya.
Pengembangan karakterisasi dan cerita yang dangkal, tentu saja, memberikan pengaruh yang besar pada kemampuan para jajaran pemeran film ini untuk dapat menampilkan permainan terbaik mereka. Walau diisi dengan beberapa nama aktor dan aktris populer asal Australia, departemen akting Sanctum sama sekali tidak memberikan sebuah kontribusi yang berarti pada kualitas film ini secara keseluruhan. Richard Roxburgh hampir tampil tipikal sebagai seorang pria ambisius dengan kepribadian yang tertutup. Sementara Ioan Gruffudd juga gagal memberikan permainan yang berkelas. Selain dua aktor tersebut, nama-nama lainnya juga sepertinya tidak akan begitu diingat akan kontribusi akting yang mereka berikan dalam film ini.
Sebagai sebuah film yang mengatasnamakan petualangan bawah laut sebagai tema utama jalan ceritanya, Sanctum sebenarnya tampil cukup menarik. Walau harus menghabiskan sebagian waktunya dalam menghadirkan deretan drama yang terasa kurang esensial sebelum menghadirkan deretan konflik dan adegan dengan intensitas emosional yang cukup hangat, ketika Sanctum menghadirkan konflik utama ceritanya, Sanctum benar-benar mampu tampil mempesona, khususnya dengan kemampuan sutradara Alister Grierson dalam mengarahkan timnya dalam menghadirkan tata produksi yang begitu mengagumkan. Tetap saja, naskah cerita harus diakui sebagai bagian kelemahan terbesar Sanctum. Dangkal dan dipenuhi dengan berbagai hal klise yang kadang tidak masuk akal. Jelas bukan karya dengan  kualitas yang akan mau diingat oleh James Cameron dalam jangka waktu yang cukup lama. enjoy!!

Review: The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec

| Senin, 02 Mei 2011 | |

Membangkitkan Mumi Sang Dukun

Luc Besson tampaknya tengah asyik menyutradarai film bertema fantasi dan petualangan, setelah meneluarkan tiga seri film animasi CGI “Arthur”, salah-satunya “Arthur and the Revenge of Maltazard” yang juga sempat tayang di tanah air. Luc kembali menghadirkan kisah petualangan berbalut fantasi lagi, kali ini sebuah film live-action berjudul “Les aventures extraordinaires d’Adèle Blanc-Sec” dibawah bendera studio miliknya sendiri yaitu EuropaCorp. Walau sekarang lebih sering menangani film berbau fantasi, di luar itu Luc juga kerap menulis dan memproduseri banyak film action, diantaranya tiga seri “Transporter” yang dibintangi Jason Statham, “Taken”, “Hitman”, dan “From Paris with Love” yang menggaet duet John Travolta dan Jonathan Rhys Meyers. Film yang punya judul Inggris “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” ini juga bukan fantasi tok, didalamnya Luc juga memberi sentuhan aksi-aksi seru yang akan mengingatkan kita sekilas dengan film Indiana Jones, bedanya yang mondar-mandir beraksi kali ini adalah seorang perempuan tangguh sekaligus penulis novel bernama Adèle Blanc-Sec.
Luc memperkenalkan film yang diadaptasi dari komik berjudul sama karangan Jacques Tardi ini bisa dibilang ajaib dengan setumpuk adegan berbeda karakter yang saling terkait satu sama lainnya oleh peristiwa menghebohkan yang terjadi di Paris pada awal abad ke-20, tepatnya 1912. Diawali dengan seorang ilmuwan jenius, Profesor Espérandieu (Jacky Nercessian), yang secara tidak sengaja menetaskan sebuah telur berusia ratusan juta tahun yang terletak di sebuah museum, bakat telepatis yang dimilikinya telah membangunkan seekor Ptereodactyl. Langit kota Paris pun seketika dihiasi oleh kemunculan dinosaurus terbang mirip burung ini dan kota tersebut mulai dibuat panik apalagi ketika Ptereodactyl memulai serangkaian kejadian-kejadian aneh, termasuk sebuah kecelakaan yang akhirnya menyita perhatian Presiden Armand Fallières (Gérard Chaillou).
Kita kemudian diperkenalkan oleh sosok detektif pemalas dan hobi makan, Albert Caponi (Gilles Lellouche), yang oleh Presiden (tidak secara langsung) diberikan mandat untuk mengatasi masalah burung purba ini dalam waktu 24 jam. Ketika Ptereodactyl sedang berkeliaran sibuk membuat keonaran di kota Paris, Adèle Blanc-Sec (Louise Bourgoin) di luar Perancis, tepatnya di Mesir tengah sibuk mengunjungi kuil demi kuil untuk mencari sebuah “harta karun”, sebuah mumi bergelar dokter di zaman Ramses II yang dipercaya dapat “menghidupkan” adiknya yang menderita koma selama 5 tahun. Kepiawaiannya dalam membaca simbol dan petunjuk akhirnya mengantarkan Adèle kepada makam sang dokter firaun tersebut. Walau sempat tertahan musuh bebuyutannya Dieuleveult (Mathieu Amalric), Adèle dengan mudah dapat melarikan diri dan akhirnya membawa peti berisi mumi tersebut ke kota Paris. Pertanyaannya adalah apa kaitannya mumi berusia ribuan tahun dengan kesembuhan adik Adèle, ternyata kuncinya ada pada Ptereodactyl, bukan maksud saya orang yang menghidupkannya, Espérandieu.
Ptereodactyl, ilmuan sinting, polisi pemalas, pemburu eksentrik, dan seorang perempuan tangguh yang tidak menyerah, nantinya akan mengisi lembar demi lembar cerita fantasi seru dengan petualangan mengasyikkan dalam “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec”. Walau sedikit membingungkan diawal dengan begitu banyak karakter yang berkeliaran serta pola cerita bertumpuk yang justru agak membosankan dan datar, film ini mulai memperbaiki urutan berceritanya di pertengahan hingga akhirnya tanpa sadar saya dengan sendirinya mulai menikmati kisah yang mengalir makin seru ini. Cerita yang agak menyimpang dan terkesan absurd justru membuat film ini makin cocok dengan statusnya sebagai film fantasi, jadi saya akan mempersilahkan Luc untuk menjejalkan film yang didominasi oleh setting kota Paris ini dengan keliarannya dalam bercerita.
Memulai dengan cerita tak beraturan tapi saling terkait, ternyata tidak membuat film ini akhirnya menjadi kisah yang susah dicerna, Luc justru membiarkan ceritanya menjadi terkesan begitu ringan ketika Adèle mulai mencari cara menyembuhkan adiknya disaat dia juga tidak luput dari berbagai rintangan. “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” jelas dibuat memang diperuntukan untuk menghibur dan jujur saya katakan Luc telah berhasil dengan misinya “menyembuhkan” saya dari kepenatan di luar studio bioskop. Film ini pun tidak lupa menyelipkan beberapa adegan-adegan jenaka di tengah petualangan gigih Adèle untuk menyelesaikan misi untuk adiknya tercinta. Dari sejak awal toh kita memang sudah disuguhkan kelucuan-kelucuan berkat karakter-karakternya yang juga didesain untuk tampil unik, eksentrik, komikal, dan lucu. Karakter-karakter kocak ini pun, termasuk Adèle sendiri, dipasangkan pas dengan cerita yang bergulir lucu, seru, dan mampu mengkikis habis rasa kebosanan yang pada awalnya muncul.
“The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” beruntung sekali bisa memajang nama Louise Bourgoin untuk berperan sebagai karakter utama Adèle Blanc-Sec, dengan porsi layar yang banyak, Louise dengan sangat meyakinkan telah menjelma menjadi seorang perempuan Paris yang mandiri, petualang sejati, tidak pernah menyerah ketika mewujudkan keinginannya apalagi untuk menyembuhkan adiknya, sifatnya yang satu ini kadang membuat dia terkesan antagonis karena selalu menempatkan kepentingan pribadi di atas segala-galanya dan tidak peduli dengan orang lain, termasuk juga terlewat keras kepada pria yang sebetulnya menyukainya.
Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh karakter Adèle yang dimainkan dengan mantab oleh Louise pun makin lengkap pada saat karakter-karakter lain juga mampu mengimbangi dominasi karakter Adèle. Jajaran pemain seperti Gilles Lellouche dan Jacky Nercessian sanggup bermain dengan baik dalam balutan make-up yang sungguh fantastis. Selain aktor dan aktrisnya, “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” juga didukung oleh departemen artistik, desain produksi, kostum, dan juga make-up yang handal dalam mengerjakan tugasnya masing-masing, mewujudkan setting meyakinkan kota Paris pada tahun 1912, menghadirkan kemegahan gedung-gedungnya, memamerkan keindahan fashion-nya, serta menyulap para pemain menjadi karakter-karakter yang unik, termasuk Jacky Nercessian yang disini dipermak menjadi ilmuwan yang sudah jompo.
Sebagai sebuah hiburan, “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” tentunya tidak akan mengecewakan, ditangan seorang Luc Besson film ini menjelma dari yang kelihatannya biasa saja menjadi sajian penuh pengalaman ajaib, petualangan yang aneh, dan memperkenalkan kita dengan karakter-karakter yang juga unik. Jika melihat ending-nya yang menjanjikan sebuah sekuel, saya tentunya berharap Luc Besson mau kembali menghadirkan petualangan seru lainnya bersama Adèle Blanc-Sec. Untuk sekarang, saya cukup puas dengan ajakannya berpetualang bersama Adèle di kota Paris, ditemani Ptereodactyl pemarah dan mumi yang secara mengejutkan ditampilkan kocak.

Review: The Book of Eli

| Kamis, 07 April 2011 | |

Buku Misterius Penentu Nasib Manusia

Siluet masa depan, mungkin kata-kata yang cocok untuk mewakili visualisasi yang coba dilukiskan oleh Albert Hughes dan Allen Hughes di “The Book of Eli”. Sebuah proyeksi suram yang coba di tampilkan oleh duo sutradara yang kerap dijuluki dengan The Hughes Brother ini, mengundang kita untuk bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan bumi dimana Eli (Denzel Washington) sekarang hidup. Lekukan-lekukan kehancuran dan hitam pekat kehidupan terpigura dengan “manis”, yah manis namun hampa layaknya bentangan padang pasir yang sekarang menyelimuti tanah subur peradaban manusia. Semua tampak mati tak bernyawa, begitu pula kota-kota yang dulu pernah ramai oleh suara bising manusia yang berseliweran menumpuk impian, harapan, kekayaan, pahala, dan juga dosa. Melalui perjalanan Eli kita akan meneropong jauh ke masa depan, dimana diceritakan dunia yang terlahir kembali dari puing-puing perang besar yang terjadi 30 tahun silam. Kini yang tersisa dari perang (perangnya sendiri tidak pernah dijelaskan secara rinci, mungkin perang nuklir) tersebut hanyalah kematian.
The Hughes Brother tentu tidak akan membiarkan perjalanan Eli melintasi aspal tandus tak berujung ini berakhir membosankan dengan rutinitas pria berkacamata hitam lengkap dengan tas besar dan senjata ini mencari makan dan “survive” di Amerika yang sekarang berembel-embel “post-apocalypse”. Eli yang mempunyai misi pribadi menuju ke barat ini tak begitu saja lepas dari ancaman yang mempertaruhkan nyawanya. Penghuni bumi tak lagi ramah di masa ini (apakah kenyataannya ramah?), mereka tak mengenal hati nurani, tanya mereka untuk menulis atau membaca, itu pun hal yang sulit dikerjakan. Bodoh dan tak punya rasa kemanusiaan, melengkapi dunia yang tak lagi punya warna ini. Eli yang seorang diri berjalan setapak demi setapak tanpa teman ataupun “bodyguard” hanya akan menjadi sasaran empuk para perampok tak punya otak ini, yang ada di otak mereka hanya bagaimana mendapatkan barang milik orang lain untuk bisa “survive” hari ini dan esok.
Disinilah secara mengejutkan sutradara yang menghilang selama 10 tahun lamanya (well, karya terakhir mereka adalah “From Hell” di tahun 2007) ternyata menambahkan warna berbeda ke dalam filmnya. Sekilas kita mengira Eli hanyalah manusia yang beruntung masih bisa hidup dan tidak punya kemampuan apa-apa, namun itu semua diubah ketika dia harus berhadapan dengan maut. Eli diperlihatkan mahir “bermain” dengan machete-nya, kawanan perampok tak ubahnya seperti keju yang terpotong-potong dengan mudah. Hughes Brother mengemas adegan action-nya tidak setengah-setengah, dengan berani mereka menghadirkan aksi-aksi Eli yang sadis menebas musuh-musuhnya. Di awal film, kekerasan yang bukan lagi berada di level ringan ini sudah mulai menjilati adrenalin kita, menghibur dengan caranya sendiri lewat tangan terpotong dan kepala yang terputus karena tebasan Eli. Tetapi jangan dulu menyimpulkan ini adalah film yang akan hanya mengobral adegan kekerasan dan action murahan. Semua tambalan action tersebut tertata rapih dengan koreografi yang tidak asal. Di film berdurasi 118 menit ini pun, Denzel melakukan aksi-aksi perkelahiannya tanpa stuntman alias mencontoh ala Jacky Chan.
Bagian demi bagian plot cerita bergulir datar sampai akhirnya menghantarkan Eli ke sebuah kota kecil yang dipimpin oleh Carnegie (Gary Oldman), seorang yang mempunyai visi yang sebenarnya “mulia” namun tercemar oleh niat buruk ingin menumpuk kekayaan dan menguasai manusia lain demi kepentingan diri sendiri. Sekali lagi kota ini dihiasi pesona “post-apocalyse” yang kental. Aroma kehancuran tercium tajam lewat puing-puing kota mati yang sekarang dihuni oleh manusia-manusia baru yang tersesat. Tak pernah mengenal Tuhan, tak punya panduan hidup, apalagi aturan dan hukum, mereka tak pernah membaca dan kehilangan sumber pengetahuan. Karena ternyata semua buku yang ada didunia ini sudah hangus terbakar bersama perang. Eli dengan misi ke baratnya pun dikisahkan memiliki buku yang kelak bisa menyelamatkan umat manusia. Sebuah buku yang akan menjadi panduan manusia menapaki hari esok yang tampaknya tidak begitu cerah.
Carnegie pun tidak menyia-nyiakan kedatangan Eli, buku yang selama ini dia cari pada akhirnya diantar langsung oleh orang asing dan dia sangat menginginkan buku tersebut bagaimanapun caranya. Namun sayangnya Eli orang yang sangat keras kepala dan lebih memilih meninggalkan kota tersebut daripada harus bergabung dengan Carnegie dan teman-temannya, tentu saja Eli juga tidak begitu saja melepaskan buku yang dibawanya untuk jatuh ke tangan Carnegie. Hughes Brother sudah memoles dunia paska kiamatnya dengan amat kejam tanpa ampun, lewat aksi “tegas” si pembawa buku. Lalu ketika cerita mulai berkembang menjadi perseteruan antara Eli vs. Carnegie, film ini menjadi semakin menarik sekaligus terlunta-lunta. Hughes Brother memang patut diacungi jempol ketika tampil membawakan tema “post-apocalypse” yang berbeda, apalagi ketika menyadari bahwa makin menuju ke akhir sebuah pesan religius di film ini makin terasa. Paska kiamat, cerita yang religius, dan menariknya setting kehancuran, menjadi resep andalan film ini untuk bisa disukai penonton.
Cukup disayangkan, resep menarik yang ada ternyata tidak didukung oleh plot dan juga segi akting. Berbicara soal plot, dari awal bisa dikatakan film ini berjalan terlunta-lunta dengan cerita berkisar pada bagaimana caranya Eli melindungi dirinya dan bukunya. Walaupun cerita berkembang dengan masuknya tokoh sidekick- seperti Solara (Mila Kunis), tambahan adegan action dimana-mana, dan misteri yang lambat laun terkuak, semua itu sepertinya tidak menghantar film ini menjadi sesuatu yang istimewa. Denzel Washington yang punya porsi mendominasi juga sedikit mengecewakan, aktingnya dirasa lemah dan kurang mengundang simpatik. Begitu pula Gary Oldman, walau tampil liar menjadi seorang Carnegie, aktingnya juga kurang ditempa dengan sempurna. Hasilnya pemeran Gordon di dua seri Batman ini, kurang maksimal mengeluarkan kebolehannya berakting.
Akting biasa dari keduanya pun berimbas pada perseteruan Denzel vs. Oldman yang terlihat “dingin” dan tak berchemistry. Tidak usah membahas soal Mila Kunis, jelas peran dia disini hanya sebagai pemanis, lumayan-lah sebagai seorang side-kick. Secara keseluruhan “The Book of Eli” tampil asyik dalam menggambarkan sebuah dunia dalam pose terburuknya, kehancuran yang dramatis. Terlepas dari ceritanya yang terkikis oleh plot yang lumayan datar, tapi twist di akhir dan iringan musiknya terbukti sudah menyelamatkan film ini dari “apocalypse” yang sebenarnya. Pesan-pesan kehidupan dan relijius-nya menjadi sebuah hiasan tersendiri, setidaknya bisa “menghangatkan” hati nurani. Pesan-pesan tersebut juga hadir bukan bermaksud untuk menceramahi tetapi mengingatkan lewat cara tontonan yang menghibur. Apakah Hughes Brother akan menghilang selama 10 tahun lagi? enjoy!

Review: Season of The Witch

| Kamis, 03 Maret 2011 | |

You are not afraid of me, are you?

Untuk sementara, mari lupakan gaya rambut Nicolas Cage yang nyatanya lebih menyita perhatian ketimbang filmnya sendiri, “Season of The Witch” sendiri seharusnya sudah tayang dari tahun lalu, dengan jadwal rilis di bulan Maret 2010, namun pihak Lionsgate tiba-tiba menarik filmnya dengan alasan yang hingga sekarang tetap menjadi misteri, well mungkin mereka sadar jika film ini akan kurang “menyihir’ di bioskop. Akhirnya studio lain yang sama-sama memegang hak promosi dan distribusi, yakni Relativity Media segera mengambil alih dan menjadwalkan tanggal rilis baru untuk “Season of The Witch”, 7 Januari 2010. Jika saya tidak salah, dari sekian banyak filmnya, ini untuk pertama kalinya Nicolas Cage memainkan peran dengan tema period, tepatnya bersetting pada abad ke-13, sebenarnya “Sorcerer’s Apprentice” juga bersetting jaman dahulu tapi hanya dipakai sebagai pembuka saja, selebihnya berpindah tahun, ke New York di masa sekarang. Walau Cage bermain di zaman dimana populasi dunia tidak lebih dari 500 juta orang dan perang Salib sedang berkecamuk, saya justru tidak melihat Cage berakting melebur dengan zamannya, bisa dibilang serupa dengan apa yang biasanya dia tampilkan di film-film bergenre action masa kini, penampilannya hanya terbantu oleh desain kostum yang mumpuni menurut saya, kecuali rambutnya.
“Season of The Witch” akan memfokuskan ceritanya pada dua ksatria Perang Salib yang akhirnya memutuskan untuk “pulang kampung” dan membelot pada pihak gereja, setelah melihat kekejian perang yang sebenarnya… entahlah padahal Behmen (Cage) dan Felson (Perlman) sudah membunuh banyak orang atas nama Tuhan selama bertahun-tahun ini, namun baru tersadar jika perang tidak ada gunanya dan masih banyak cara lain untuk menjadi teman Tuhan. Behmen dan Felson yang awalnya berharap bisa melihat sebuah kedamaian di tempat tujuannya, justru mendapati tanah Eropa sedang diserang pandemik mematikan, wabah penyakit aneh telah merenggut nyawa banyak orang selama tiga tahun belakangan ini. Pihak gereja menuduh seorang penyihir jahat yang melakukan ini semua, lalu meminta bantuan Behmen dan Felson untuk membawa sang penyihir ke sebuah biara terpencil dimana terdapat sekelompok biarawan yang sanggup menghancurkan kekuatan jahat penyihir dan menghentikan wabah penyakit yang sedang terjadi, itu jika memang si perempuan yang dituduh sebagai penyihir memang dinyatakan bersalah dengan kata lain memang seorang penyihir. Behmen dan Felson pun menyanggupi permintaan Cardinal D’Ambroise (Christopher Lee), dengan syarat akan ada pengadilan yang adil.
Behmen dan Felson tidak sendirian dengan misi yang penuh bahaya dan menjelajahi tempat yang kelihatannya tidak akan ramah dengan mereka ini, mereka akan ditemani oleh Debelzaq, seorang pendeta, seorang anak muda bernama Kay, Eckhardt, seorang ksatria yang masih berduka dengan kematian keluarganya karena wabah ini, dan satu orang yang ternyata lebih menyita perhatian ketimbang gabungan dari mereka semua, Stephen Graham yang berperan sebagai pemandu bernama Hagamar. Setelah “Season of The Witch” membuka filmnya dengan cukup meyakinkan, beberapa wanita digantung karena dicurigai sebagai penyihir, lalu salah-satunya berubah menjadi iblis. Apa yang saya saksikan selanjutnya adalah sihir yang tidak mujarab dalam tujuannya untuk tetap menjaga ekspektasi penonton stabil. Karena perang Salib bukan fokus dari film ini dan hanya dijadikan pelengkap, wajar saja jika hasilnya biasa saja, hey ini bukan “Kingdom of Heaven” bukan. Adegan perang paket hemat ini hanya ingin memperkenalkan latar belakang Behmen dan Felson, di tengah perang yang sepertinya tidak berganti tempat, kecuali memang di layar kita akan melihat nama perangnya akan berganti-ganti, “Battle of A, B, C, and D”. Bermodalkan tempat yang itu-itu saja, figuran CGI yang sedang sibuk sendiri dibelakang, kostum yang diubah sedikit, lalu menaburkan salju di sekitar jagoan kita, “Season of The Witch” sudah melakukan tugasnya menghadirkan perang epik yang kolosal. Saya akan menonton “Kingdom of Heaven” setelah ini, hanya untuk memuaskan mata melihat Perang Salib yang sebenarnya.
Jadi saya berharap banyak ketika Behmen dan Felson memulai perjalanannya ke biara “in the middle of nowhere”, mereka akan dihadang banyak adegan-adegan yang menantang, menyuapi adrenalin ini dengan ketegangan dan action-action menghibur. Nyatanya film ini justru asyik menyuapi kita dengan suap demi suap cerita yang dipanjang-panjangkan dan itu membosankan. Dominic Sena yang kita kenal dengan film aksi tingkat tinggi dan biasanya sukses menghibur, seperti yang dicontohkan dalam “Gone in Sixty Seconds” dan “Swodfish”, ternyata tidak mampu melakukan apa-apa ketika ia dihadapkan pada kenyataannya jaman ini belum ada senjata api dan mobil untuk dihancurkan. Sebagai gantinya dia memiliki beberapa kuda dan pedang, untuk dimanfaatkan sebaik mungkin dalam menciptakan adegan menegangkan berbalut fantasi. Dominic memang mampu membuat segelintir action, yang membuat kita gigit jari atau gregetan. Namun kemasan yang dipakai terlalu klise dan kita tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, seperti adegan “jembatan” misalnya atau sekelompok serigala jadi-jadian (darimana Dominic mendapat serigala yang seram-seram ini). Ketika “Season of The Witch” sudah didukung dengan lanskap Eropa yang cukup dipotret dengan kelam, dan beberapa setting yang cukup bisa membuat kita merinding, hutan gelap berkabut misalnya. Sayangnya kelebihan tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik, apalagi ketika film ini lebih asyik bercakap-cakap dengan dialog-dialog yang cukup cheesy, yah yang untungnya dialog-dialog tersebut bisa sedikit menghibur ketika seorang Ron Perlman bisa membuatnya menjadi lucu.
Satu lagi yang cukup mengganggu adalah bagaimana “Season of The Witch” membuat mahkluk-mahkluk fantasi yang jumlahnya terbatas jadi tidak sedap dipandang, pada saat hasil akhirnya tidak didukung oleh efek visual yang mumpuni. Serigala jadi-jadian masih bisa dibilang okay, tapi tidak dengan iblis yang seharusnya sanggup meneror dengan rupa dan bentuknya, namun nyatanya hanya membuat saya tergelitik untuk tertawa, betapa kasarnya mereka membuat musuh tandingan Behmen yang sudah tampil meyakinkan dengan rambutnya ini. Dengan tampilan buruk efek visual, “Season of The Witch”, lalu penampilan para pemainnya juga tidak menyelamatkan film ini, yah kecuali Ron Perlman dan Stephen Graham yang mampu menghibur di setiap porsi aktingnya, sedangkan Cage dan sisanya bermain biasa saja. Pengecualian lagi untuk Claire Foy, yang ditakdirkan untuk bermain sebagai penyihir, dia memang tidak diberi kesempatan untuk berakting lebih, tetapi di dalam sangkar burung ternyata dia mampu membuat jengkel dengan muka polosnya, membuat saya bertanya-tanya apakah dia witch atau… completely bitch! Di dunia penuh kegelapan, “Season of The Witch” ternyata tidak mampu berbicara banyak dengan sihirnya, matra-matranya sudah terlebih dahulu terserang wabah membosankan, sebagai hiburan masih bisa ditolerir namun jelas film ini mudah dilupakan.

Review: 127 Hours

| | |
Plot: Diangkat dari sebuah kisah nyata, 127 Hours bercerita tentang seorang mountain climber bernama Aron Ralston (James Franco) yang sedang menikmati perjalanannya mengunjungi Canyonlands National Park. Aron adalah seorang adventurer yang spontaneous, sedikit cocky dan carefree, bahkan ia sama sekali tidak memberitahu siapa-siapa mengenai 'trip'nya menjelajahi canyon ini. Apa yang kemudian terjadi adalah, Aron terpeleset dan membuat jatuh kedalam sebuah lembah. Just to make it worse, sebuah batu besar menjepit tangan kanannya disana. Long story short, dalam masa-masa ia terjebak disitu, Aron kemudian mengingat-ingat kembali hal-hal apa saja yang telah ia telah took for granted selama ini. Dari situlah ia kemudian mendapatkan guts untuk melakukan suatu hal yang.... luar biasa.

Review: Dua tahun yang lalu, jagoan gw untuk Oscar, Benjamin Button ternyata harus gigit jari dengan kemenangan besar Slumdog Millionaire (which by the way I was okay with, both made into my top 10). Slumdog Millionaire adalah sebuah cerita inspiratif dibawakan oleh sutradara Danny Boyle, scriptwriter Simon Beaufoy, produser Christian Colson dan komposer A.R Rahman. Keempat orang tersebut pulang dengan senyum besar saat Oscar 2009 lalu karena masing- masing berhasil membawa pulang piala emas tersebut. Terus apa hubungannya dong sama 127 Hours? Well, tim sukses Millionaire itu kembali lagi dengan sebuah film yang tidak kalah inspiratifnya untuk tahun ini. Apa lagi kalau bukan 127 Hours?

127 Hours diangkat dari kisah yang memang benar-benar terjadi. Aron Rolston yang asli konon menghiasi headline media-media di Amerika tahun 2003 lalu (maklum gw belom aware dgn news saat itu). So it means that this is a biopic. Membuat film biopic itu nyatanya susah-susah gampang. Susah kalo tokohnya udah meninggal karena gak ada yang bisa klarifikasi, atau malah gak mau ikutan gabung dalam produksi karena takut aibnya keluar hahaha Not talking about The Social Network tho. Iya-iya itu sebagian adalah terkena pengaruh fictionalized dikit, toh hasilnya keren *tetep dukung. Kembali ke 127 Hours, ternyata Aron Ralston memberikan respon yang sangat baik terhadap film ini. Walau dibagian prolog dimana ada pertemuan Aron dengan 2 cewek hikers (diperankan oleh Amber Tamblyn dan Kate Mara) tidak pernah terjadi, tapi the rest of it was pretty much what actually happened, according to Ralston himself.

Membuat film ini sebenarnya menjadi suatu risk yang besar. Bahaya kalo tidak di-treat dengan baik dan benar, karena hasilnya akan menjadi film yang membosankan (dengan setting 5 hari yang disitu-situ aja) atau jadi parade flashback yang ga jelas. Kudos untuk tim sukses tadi yang memberikan big effort dan membuat film ini jadi enak untuk dinikmati. Ciri khas penyutradaraan Boyle yang dinamis masih ada disini dengan serta score yang uplifting dari A.R Rahman. Extra triple kudos untuk James Franco yang berhasil pula memberikan performance menakjubkan dari tipe film one-man-show seperti ini. Franco yang sebelumnya gw kenal hanya dari Sam Raimi's trilogy of Spider-Man sebagai Harry Osborn, menunjukkan kemampuan akting nya yang apik. Sebuah poin crucial karena film ini hanya fokus pada tokoh yang ia perani saja. Ekspresinya harus benar-benar nyata dan convincing. Fortunately, Franco did it well. Scratch that, I meant really well. Hasilnnya? Pujian dimana-mana dan berujung pada nominasi Oscar pertamanya tahun ini. Dan ditambah lagi, Franco pun ditunjuk sebagai host Oscar yang ke-83! Walaupun alasannya bukan hanya karena penampilannya disini -,-

Sepertinya udah gw sebutkan diatas, dengan gaya penyutradaraan Boyle yang dinamis, 127 Hours tidak berubah menjadi suatu film yang membosankan. Dengan pergerakan kamera dengan angle-angle yang unik serta editing yang rapi, film ini sukses menghidupkan emosi yang ingin ditunjukkan. Bagusnya lagi 127 Hours tidak ikutan terjun kedalam film-film klise yang bertema sama. Bagaimana Aron 'menghidupi' dan me-reka ulang memori-nya sampai bagaimana ironisnya ia menghibur diri atau shot ketika ia harus meminum urine nya sendiri (yeek) digambarkan dengan sangat baik dan berbeda dengan film lainnya. Membuat gw merasa pesan 'don't ever give up' yang memang ingin disampaikan jadi ngena banget. Bagian premonitionnya agak sedikit cheesy sih, cuman ayo lah, masa kita gak pernah berfantasi tentang masa depan kita, ya gak? Apa yang selalu gw permasalahkan dengan film-film bertama staying alive seperti ini adalah gw paling enjoy melihat aftermath nya (which most movie lacks). Bagaimana ia disambut dengan meriah dan penuh rasa cinta oleh keluarga dan teman-teman dekatnya atau sebaliknya.

I never consider the ending as spoilers cause it's like all over the news (it's a true story after all), but if you do, then don't read this paragraph. Kalo misalnya lo belom tau dan bertanya-tanya, apa sih yang membuat seorang yang terjebak dalam lembah dan berhasil selamat jadi suatu cerita yang 'extraordinary'. Jawabannya adalah: Aron Ralston dengan sangat terpaksa harus mengamputasi tangannya sendiri. And no, I'm not finished... Aron memotongnya dengan pisau tumpul buatan China. Shit really does happen. Adegan fenomenal tersebut sudah menjadi kontroversi karena telah membuat beberapa orang pingsan, muntah, bahkan walked out dari teater. Gw sih awalnya mikir agak skeptis, 'yaelah masa gitu doang heboh banget'. Setelah gw tonton, wow ternyata memang as bloody and horrifying as what I've been told. No, tidak sebrutal film-film gore sih, tapi memang bikin ngilu. Sekali lagi, semua berkat akting James Franco.

127 Hours itu inspiratif. Sebuah kisah nyata yang luar biasa dari keberanian dan keteguhan seorang yang terjepit dalam satu situasi (literally) untuk terus melangkah maju dan gak menyerah, apapun yang terjadi, whatever it takes. Boyle cs memberikan sebuah cinematic experience yang mengasyikkan (dengan editing, cinematography yang ciamik), mengharukan (dengan flashback serta pesan don't take everything for granted), memilukan (the 'scene') serta memberikan harapan (the ending). 127 Hours adalah film inspiring yang disajikan dengan apik disertai penampilan yang tak kalah luar biasa dari James Franco. For short, 127 Hours is one of the best films of 2010.

Review: Avatar

| Kamis, 06 Januari 2011 | |

"You're not on Kansas anymore, you're on Pandora, ladies and gentlemen"

Avatar (2009)
Bermula ketika planet Bumi sudah kekurangan energi, para manusia kemudian menemukan planet Pandora yang memiliki kekayaan energi yang melimpah ruah. Upaya untuk mengambil energi di planet tersebut ternyata tidak mudah. Selain karena udara yang tidak bersahabat, ada juga faktor dari 'penduduk' lokal planet tersebut, bangsa Na'vi, makhluk yang menyerupai manusia (dan sedikit mirip monyet hahaha) dengan kulit biru dengan kemampuan berhubungan dengan alam. Source energi terbesar dalam planet Pandora terletak tepat dibawah tempat tinggal mereka.
Jake Sully (Sam Worthington) adalah mantan angkatan laut yang lumpuh. Ketika kakaknya meninggal, ia terpaksa harus mengikuti sebuah proyek Avatar, yaitu menggunakan pikirannya untuk mengontrol Avatar body yang diciptakan mirip dengan bangsa Na'vi. Pada saat percobaan pertamanya, Jake malah tanpa sengaja tersesat dalam hutan Pandora. Dalam usahanya mempertahankan diri dari makhluk-makhluk ganas, ia diselamatkan oleh Neytiri (Zoe Saldana), seorang putri bangsa Na'vo. Melihat sesuatu yang menarik dalam diri Jake, raja bangsa Na'vi menugaskan Neytiri untuk mengajari Jake untuk hidup sebagai Na'vi. Di lain pihak, Jake juga ditugasi untuk meyakinkan bangsa Na'vi untuk pindah dari home tree mereka agar source energi dibawahnya dapat diambil, kalau tidak, pihak manusia akan merusak hutan dan mengambil dengan paksa. Hal ini lah yang menjadi dilema bagi Jake. Jake yang akhirnya keburu jatuh cinta dan terkesan dengan bangsa Na'vi dan Pandora (dan juga Neytiri), juga harus memikirkan bahwa dengan sumber energi itulah bumi yang sedang sekarat dapat terselamatkan. Siapa yang akhirnya ia bela?

Salah satu film termegah tahun ini. James Cameron, sineas yang membawa kita kepada film terbesar abad ini, Titanic, kini kembali lagi dengan sebuah film yang sangat mengedepankan teknologi (yang katanya) super canggih. Promosi yang sebenernya tidak terlalu besar-besaran sudah terbayar dengan nama Cameron dan berita bahwa film ini menghabiskan hampir setengah milliar dollar dalam proses pembuatannya. Film ini menjajikan effect yang luar biasa menawan. Dengan segala kelebihan-kelebihan yang disampaikan bulan-bulan sebelumnya, gw menjadi sedikit antipati terhadap salah satu film paling ditunggu akhir tahun ini. Kenapa? Karena dari experience2 yang gw dapet, high expectations could lead into major disappointment. Ternyata gw salah. Film ini benar2 membuat gw terkesima.
Benar memang cerita film ini klise dan gampang ditebak. Agak sedikit mengingatkan gw dengan Princess Mononoke malah (gw doang ya yang mikir gitu? tapi emang mirip kan?). Tetapi ceritanya mengalir dengan asik. Walaupun agak sedikit kelamaan pun tetep aja gw gak kerasa nontonnya. Kelamaan juga mungkin karena runtut banget ceritanya pas Jake bener2 harus belajar menjadi seorang Na'vi. Di awal-awal film mungkin sedikit menjemukkan menurut gw, karena memang gak sabar sama Pandora nya hahaha Belom lagi action sequence dan battle terakhir yang.. GILA! Magnificent! Oiya thumbs up juga sama para cast yang bermain dengan baik, walaupun belom sempurna juga. Para cast manusia nya oke, bangsa Na'vi nya juga gak kalah baik, walaupun pake CGI, tapi agak keliatan sedikit akting2 para pengisi suaranya.
The best part of this movie, as you guys maybe have already known: the effects. The graphics were spectacular. Mulus banget dan penuh warna-warna yang enak banget buat dilihat. Tampilan planet Pandora yang heavenly tertangkap jelas banget sama special effect yang canggih banget itu. Ditambah lagi dengan creatures2 yang sangat amat unik. Pinter banget itu yang bikin, keren2 soalnya, kayak gabung2in hewan-hewan bumi jadi bentuk yang gak jelas gitu hahaha gw suka banget sama 'naga'nya.As for the Na'vis, pretty cool ideas. Agak geli-geli juga sih ngeliat suku ini awalnya. Dengan tampilan seperti manusia kulit biru (inget baru2 ini belajar tentang mutasi gen manusia biru *beneran ada*) tapi kelakuan primitif, maksudnya hidupnya kayak macem Tarzan, jalannya juga hahaha Gw juga suka sama ada rambut-rambut halus dibalik rambut mereka yang panjang yang gunanya untuk berhubungan dengan binatang-binatang di Pandora.

Gw merekomendasikan lo untuk nonton yang 3D. Sebenernya pun tanpa 3D, kata orang-orang juga film ini memang sudah cukup spektakuler dalam hal grafis. Tapi kayaknya 3D memang lebih nampol. Ya tapi ketika nntn 3D lo harus menerima resiko nntn tanpa subtitle. Tapi sih gw fine-fine aja. Soalnya karena memang cerita nya gak terlalu berat dan masih dapat dimengerti, gw juga udah ngerti garis besar ceritanya. Jadi kalau memang nonton yang 3D, kalau bisa udah ngerti ceritanya sebelumnya, biar gak rugi-rugi banget lah. Tapi walaupun terlanjur pun, lo masih akan termanjakaan dengan tampilan visual nya yang... udah lah gak usah gw ungkapkan lagi hahaha
Overall sih film ini sebenernya sangat pas untuk dijadikan film hiburan dan sangat cocok memang dengan atensi yang diberikan pada film ini. Gembar-gembor film ini beberapa minggu lalu ternyata sebanding dengan hasilnya sendiri. Gw gak kecewa nntn film ini dan gak kecewa dengan cerita serta CGI nya yang dijanjikan sangat canggih. Tapi jika dinobatkan sebagai one of the year's best? Hmmmm bisa sih diselipkan, tapi sepertinya masih ada film-film yang sedikit lebih baik dari film ini (baca: District 9 hahaa). Tetapi nominasi Golden Globe untuk Film Terbaik memang masih pantas-pantas saja kalo disematkan untuk Avatar.

Sebagai film yang ditunggu-tunggu, film ini melebihi ekspektasi gw. Ceritanya yang klise tetap berjalan dengan lancar, ditambah dengan grafis yang yang wah banget. Durasi nya yang 2,5 jam-an memang sedikit berlebihan dan sebenarnya agak bisa dikurangin, cuman dengan tampilan visual yang mencengangkan itu, kayaknya 2,5 jam terasa begitu cepat. Keragaman budaya suku Na'vi sampai makhluk-makhluknya menjadi sebuah hiburan tersendiri. Sebuah masterpiece baru dari sang sutradara Titanic. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah Avatar akan menyamai kesuksesan gemilang dari Titanic -- film terlaris sepanjang masa dan 11 Oscar diraih? We'll see..

Review: Toy Story 3

| | |

"Andy's going to college, can you believe it?"


Sekuel kedua dari pelopor animasi CGI ini menceritakan bertahun-tahun setelah filmnya yang kedua. Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen) dan teman-teman sesama mainannya harus menerima fakta bahwa pemilik mereka, Andy, sudah beranjak dewasa. Dalam beberapa hari, Andy akan meninggalkan rumah untuk memasuki masa-masa kuliah. Para mainan Andy, yang juga sudah bertahun-tahun tidak pernah dimainkan lagi, kini menjadi panik. Bagaimanakah nasib mereka nantinya ketika Andy meninggalkan mereka?
Berawal dari suatu kesengajaan, kelompok mainan tersebut harus terdampar di sebuah day-care. Mainan2 lain, selain Woody, merasa excited dan senang dengan suasana tempat tersebut ketika mereka datang. Belum lagi sambutan hangat dari sang 'ketua' day-care tersebut, Lotso 'The Hugging Bear' (Ned Beatty). Woody berusaha untuk mengajak teman-temannya untuk kembali ke Andy, tapi tentu saja teman-temannya menolak. Apa yang mereka tidak ketahui adalah ternyata tempat tinggal baru mereka bukanlah seperti yang mereka bayangkan, ditambah dengan niat terselubung Lotso dan antek-anteknya.

Toy Story seperti yang gw bilang, adalah pelopor film animasi CGI. Sekuelnya juga menjadi sekuel pertama yang dibuat dengan teknik sama. Kedua film tersebut bisa dikatakan sangat monumental, dilihat dari kesuksesan dari kualitas maupun finansial. Ada sedikit keraguan ketika terdengar kabar seri ini akan kembali dibuat sekuelnya. Menunggu-nunggu sudah jelas, sebagai generasi yang tumbuh bersama karakter-karakter tersebut, kangen rasanya melihat aksi mainan-hidup kembali. Tapi pastilah gw merasa agak sedikit sangsi apakah kualitas film ketiga ini akan menyamai senior-seniornya? Apakah kru Disney Pixar kembali mencengangkan dan memenuhi ekspektasi gw? Jawabannya: major yes. Setelah 11 tahun kita ditinggalkan oleh Woody dkk, akhirnya mereka kembali dengan petualangan yang lebih seru. Lee Unkrich, yang sebelumnya menjadi editor dan co-director di 2 film awal, kini duduk di bangku sutradara. Unkrich akhirnya berhasil mewujudkan mimpi gw dan tentu saja orang-orang yang telah menunggu film ini dengan sebuah film yang sangat entertaining.

Sudah lah gak perlu lagi bahas mengenai masalah animasi yang sudah jelas Pixar berada di tingkat atas, dengan segala detil dan halusnya animasi yang mereka ciptakan. Salah satu keunggulan Disney Pixar dibandingkan produk studio lain adalah ceritanya yang selalu bagus, lucu dan menyentuh. Sama seperti pendahulunya, Toy Story 3 memiliki lawakan-lawakan cerdas, hilarious, dan original. Siapa sih yang akan menyangka mereka akan memberi 'tubuh' lain untuk Mr. Potato Head? Atau mereset ulang Buzz menjadi versi Spanyol? Dan tentu masih banyak lagi bagian-bagian yang membuat gw terbahak-bahak. Disini mungkin kelebihan tim penulis Disney Pixar, yang menulis jokes-jokes yang fresh di setiap filmnya. Salut. Karakter-karakter baru yang jumlahnya lumayan banyak dan dengan karakteristik yang berbeda-beda juga semakin memperkaya hiburan yang disuguhkan film ini.

Hebatnya lagi, cerita film ini ditulis sedemikian rupa untuk mengaduk-aduk emosi. Openingnya yang awalnya seru diakhiri dengan sebuah sentuhan sendu ketika musik 'You've Got A Friend In Me' terhenti. Sepanjang film, adegan-adegan kocak, medebarkan sampai yang mengharukan benar-benar menghipnotis penonton ke dalam serunya petualangan Woody kali ini. Kalau dulu gw menobatkan Up menjadi film Pixar paling mengharukan, kini posisi tersebut harus direbut oleh Toy Story 3. Beberapa menit akhir film ini, setelah kita disuguhkan dengan aksi seru petualangan Woody, kita dibawa menuju adegan-adegan mengharukan yang rasanya susah untuk gak ngeluarin air mata. Gw yakin sepertinya, kalo lo gak menitikkan air mata, atau minimal terharu menyaksikan film ini rasanya lo gak punya hati (lebay).

Apa yang gw suka lagi dengan film ini adalah, melihat dari seorang yang tumbuh bersama Toy Story, ada suatu kedewasaan dalam film ini. Life goes on, people grow up. Rasanya gak mungkin lah kita akan stuck dalam satu fase aja. Itulah yang terjadi pada Andy yang sudah dewasa (and I'm going to college this year too, so we're kinda the same). Itu yang gw suka dari Toy Story 3, mereka gak menulis cerita yang dipaksakan bahwa Andy sampe gede tetep main dengan boneka, dengan ending yang dibentuk dengan konklusi yang sepertinya 'rasional' tapi tetap membawa kepuasan bagi semua pihak. It's about letting go and moving on. Bukan hanya Andy saja, Woody pun harus melakukannya. Adegan terakhir antara Andy dan Woody menjadi salah satu adegan tersedih dalam film ini. Melihat pesan terakhir dalam film ini juga sukses membuat gw menitikkan air mata.

Faktor lain mengapa film ini gw anggap lebih 'dewasa' mungkin dibandingkan dengan yang pertama dan kedua, film ini memiliki lebih banyak adegan yang mendebarkan serta kadar aksi nya juga lebih banyak, apalagi di bagian ending, serasa mendapatkan petualangan seru bertubi-tubi. Sepertinya sih itu usaha buat para 'generasi Toy Story' yang juga sudah beranjak dewasa seperti gw ini mendapatkan lebih banyak kepuasan. Talking bout the ending, hhhh rasanya masih terbayang-bayang betapa cerdasnya ceritanya ditulis. Bagaimana sangat amat mengharukannya ketika para mainan 'menerima nasib mereka dan saling berpegangan tangan' atau ketika 'scene di rumah Bonnie' <-- Silahkan disaksikan sendiri, gak mau gw spoil. Oiya dan juga dengan running-time yang sepertinya agak lebih lama dibanding film-film animasi lain. Agak kerasa di belakang-belakang itu tadi, dengan aksi yang kok kayaknya gak selesai-selesai. I didn't mean it's a bad thing though. Dengan ekspetasi yang tinggi, nyatanya apa yang gw dapatkan melebihi infinity and beyond. Dari detik awal film ini bergulir, ledakan tawa, sorak, bahkan air mata pun tak kuasa gw tahan. Sebuah film hangat yang memiliki banyak pesan berharga, dan juga memiliki ending yang brilian dan memuaskan serta jauh dari klise. Segala macam hiburan yang disajikan, terjalin dengan sangat sempurna. Film ini gak hanya menghibur maupun menyentuh tapi juga mengajari kita banyak hal mengenai arti pentingnya persahabatan dan kebersamaan. Ditambah lagi dengan pengisi suara yang fenomenal. So far, film Summer terbaik tahun ini dan mungkin film terbaik tahun ini. Gw sangat yakin akan memasukkan film ini di list film paling memuaskan gw di tahun 2010. DisneyPixar, you will never fail me.

Review: Harry Potter and the Deathly Hallows part 1

| | |



Plot: The boy who lived, Harry Potter (Daniel Radcliffe) akhirnya akan menginjak umurnya yang ke-17. Umur dimana ia tidak lagi dianggap hanya sebagai penyihir cilik, dan dimana perlindungan yang dulu mendiang Ibu nya berikan, akan terhapus. His nemesis, Lord Voldemort (Ralph Fiennes) juga mulai memperkuat dirinya serta antek-anteknya, Death Eaters, hingga mampu menguasai Kementrian Sihir. Semenjak aksi pengungsian dirinya dari rumah Dursley yang berakhir tragis, Harry dan kedua sahabatnya, Ron Weasley (Rupert Grint) dan Hermione Granger (Emma Watson), tahu bahwa keadaan akan menjadi lebih dark dan difficult di hari-hari ke depan. Sebuah petualangan mencari Horcruxes (kepingan jiwa) milik Voldemort yang juga tugas peninggalan dari Dumbledore pun harus dilalui oleh trio tersebut sebagai satu-satunya cara untuk dapat mengalahkan Voldemort.
Review: Sebuah pembuka so-called epic finale dari satu series yang dianggap sebagai motion picture event of our generation, which I totally agree with. Ketika keputusan untuk membagi dua seri terakhir Harry Potter menjadi dua bagian yang pertama gw pikir adalah kesel karena jadi harus nunggu lebih lama lagi untuk melihat aksi terakhir trio favorit gw di layar lebar. Tak sedikit juga yang berspekulasi bahwa Warner Bros bermaksud untuk memerah lebih banyak keuntungan ketika tahu bahwa series 'tambang emas' ini harus berakhir. But no, setelah menyaksikan Part 1, it's not about the money, it's about the story. Dibuka dengan sangat brilian dan emotionally relevant dengan adegan Hermione harus menghapus ingatan orang tua nya dan menghapus foto-foto dirinya. Adegan ini memang tidak tergambar di bukunya, hanya sebuah cerita yang Hermione ceritakan. Tapi dengan adanya adegan ini, film ini sudah menandakan bahwa it's not like any other Potter films. The stakes were higher, the situation were getting darker. Lupakan sejenak Prisoner of Azkaban yang gw anggap sebagai Potter's darkest film yet, Part1 sekarang sudah membuktikannya dengan cerita yang lebih kompleks dan korban-korban yang berjatuhan dimana-mana.
Melihat dari alurnya, Part 1 ini memang lebih cenderung ke arah drama. Pengubahan cerita yang dilakukan oleh Steve Kloves, sang screenwriter memang tidak terlalu signifikan. Bahkan bisa dibilang Part1 diadaptasi hampir seperti bab per bab dari bukunya. Untuk mereview filmnya tentu harus berpakuan pada cerita novelnya. Untuk ceritanya sendiri, Rowling memang ratunya dalam hal mengaduk emosi tanpa menghilangkan tingkat ketegangan. Untungnya lagi masih ada selipan humor-humor khas Rowling yang dipakai dalam film ini. Sebagai seorang pembaca, tidak sulit bagi gw untuk mengikuti alurnya. Mungkin untuk non-reader atau hanya mengikuti filmnya akan agak sulit mencerna banyak informasi. Singgungan cerita-cerita maupun tokoh-tokoh terdahulu yang diselipkan disini juga menjadi suatu nostalgia tersendiri. Seru melihat tokoh-tokoh lama bermunculan disini, yang juga banyak tambahan karakter-karakter baru (beberapa overdue yang harusnya muncul sebelum2nya) seperti Bill Weasley, Mundungus Fletcher, beberapa Death Eathers, serta si eksentrik Xenophillius Lovegood (Rhys Ifans).

Untuk divisi akting, trio Radcliffe-Grint-Watson memang sudah terlihat mendewasa seiring dengan filmnya yang semakin gelap. Walaupun jujur, masih terasa adanya awkward moment disana-sini, yang probably kesalahan terletak pada naskah, tapi hubungan antara mereka terasa lebih kuat. Akting-akting pemeran pembantu juga gak kalah heboh, walaupun porsi mereka sangat minim disini. Helena Bonham Carter yang menjadi si gila Bellatrix masih terasa menyeramkan, Jason Isaacs sebagai Lucius Malfoy juga terlihat menderita akibat tekanan batin sang Dark Lord. Part1 juga memanjakan kita dengan sinematografi gemilang, sama seperti Half-Blood Prince. Sepertinya akan mendapat Oscar nod lagi nih. Score nya juga walaupun tidak begitu gembar-gembor, masih terasa pas menjaga intens cerita.
Kembali ke adaptasinya, memang ada beberapa hal yang diganti untuk lebih mudah divisualisasikan dan tidak membuang waktu bertele-tele (movie-wise speaking). Tapi melihat penggambaran sempurna Seven Potters, breakout to Ministry, meeting with 'Bathilda', sampai penceritaan Deathly Hallows yang sepertinya harus digarisbawahi karena dibuat dengan sangat artistik, membuat gw sangat puas dengan adaptasinya. Seperti yang gw bilang, cerita Part1 ini memang terlihat lebih dewasa dari film-film sebelumnya. Karakter-karakter tidak sedikit yang kehilangan nyawa, satu adegan antara Harry dan Hermione yang berciuman mesra (walaupun hanya imajinasi), penyiksaan Bellatrix pada Hermione dan beberapa adegan lainnya memang terasa bukan adegan dalam film family-oriented lagi.
Salah satu hal yang membuat Part 1 menarik adalah unsur magic bukan lah menjadi suatu hal ditonjolkan atau dipusatkan, tapi special effectnya yang luar biasa mengagumkan benar-benar menyatu dengan cerita. Ingat bagaimana terkesannya kita ketika pertama kali quidditch dimainkan, ataupun saat Harry harus bertarung dengan naga dalam Goblet of Fire? Part 1 memang memiliki adegan-adegan dengan special effect yang seru. Aksi cursing (not profanity) dengan tongkat sihir, transformasi seven Potters, adegan dalam Ministry dibuat dengan natural. Memang agak terasa terlalu cepat antara pergantian sequence, tapi dengan alur yang dibuat menarik, jadi adegan demi adegan masih bisa enak dinikmati. Kalau Half-Blood Prince sempat dicerca karena membuat ending yang sangat menggantung dan anti-klimaks. Kloves dan Yates membuat keputusan tep at mengakhiri Part1 dengan adegan yang menyayat hati. Adegan kematian salah satu tokoh yang loveable dibuat secara dramatis dan lebih emosional daripada kematian Sirius maupun Dumbledore yang gw anggap tidak seru sama sekali.

Part 1 adalah sebuah pembuka yang memuaskan untuk ending Harry Potter, dengan fokus pada cerita yang mostly loyal dengan bukunya dan emotional feeling pada karakter-karakternya. The effect? Well it's a Harry Potter fi lm, you'll find the most sophisticated special effect you'll ever find these days. An emotional roller-coaster ride with magic blend in its core. Akting-akting para pemain utama juga ikut dewasa sesuai dengan atmosfir filmnya. Layaknya mengobati kesalahan Half-Blood Prince, ending film ini terasa sangat membuat penasaran dengan cliffhanger yang ditaruh dengan pas. Gw sejujurnya memang lebih menyukai the second half of the book, yang jauh lebih tegang dan seru. But to know what David Yates brought to the first half, I am really excited to watch the other part so freaking bad. July 2011, come sooner pleaseeeee.