Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Review: BEASTLY

| Kamis, 09 Juni 2011 | |

Beauty and the Beast di Era Modern

Review Beastly
Siapa yang tidak mengenal kisah dongeng klasik “Beauty and the Beast”, setidaknya kita pernah melihat versi film animasi yang dibuat oleh Disney. Kali ini si buruk rupa tidak lagi digambarkan layaknya hewan berbulu, tapi seperti remaja alay yang menato seluruh tubuhnya, termasuk muka dengan motif bunga-bunga, mungkin saja terinspirasi nonton program-program Discovery Channel mengenai kehidupan penjara, dimana sebagian dari napinya biasanya muka dan tubuhnya habis ditato, kalau mereka sih jelas anggota sebuah geng, yang satu ini sialnya dikutuk karena iseng mem-bully seorang cewek eksentrik dan freak, yang gosipnya sih seorang penyihir, langkah yang bodoh. Yah “Beastly” adalah sebuah versi modern dari dongeng klasik tersebut, tidak lagi bersetting masa lampau tapi dibawa ke New York masa kini dan disesuaikan untuk klop dengan formula film-film romance remaja, yang sayangnya tidak lagi menawarkan sesuatu yang baru.
“Beastly” yang diadaptasi bebas dari novel berjudul sama di tahun 2007, karangan Alex Flinn, akan menceritakan seorang cowok sombong bukan main bernama Kyle Kingston (Alex Pettyfer), bernasib beruntung karena berwajah ganteng, populer di kampus, lalu punya ayah yang kaya raya. Hobinya pun tidak kalah ganteng, yaitu mengejek orang-orang jelek dan “berbeda”, karena itu pun dia terpilih menjadi presiden di kampusnya, yah saya tahu kampus yang aneh. Kyle akan menemukan karmanya ketika dia sialnya berurusan dengan Kendra Hilferty (Mary-Kate Olsen), setelah berhasil mempermalukan imitasi dari lady gaga ini di sebuah pesta, Kendra yang adalah seorang penyihir, mungkin dia anggota pelahap maut saya juga tidak tahu, mengutuk Kyle menjadi kodok…tunggu maksud saya cowok botak yang jelek, pokoknya jelek. Kendra mengatakan kepada Kyle yang sekarang berwajah buruk rupa, jika dia ingin kembali normal, dia harus menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya. Batas waktunya satu tahun, jika gagal, Kyle akan seperti itu selamanya.
Review Beastly
Ayahnya yang kemudian mengetahui keadaan anaknya, langsung menyembunyikannya di sebuah rumah besar, berjanji untuk menjenguk Kyle setiap saat namun tidak dia tepati, Kyle tidak lagi masuk sekolah, dengan alasan palsu kalau dia sedang masuk rehab. Dia sekarang betul-betul diasingkan dari dunia luar yang selama ini baik dengannya karena dia sempurna. Di rumah tersebut, dia tidak sendiri, ada pembantunya yang setia Zola (Lisa Gay Hamilton) dan gurunya yang buta, Will Fratalli (Neil Patrick Harris). Sebuah takdir yang dipaksakan pun akhirnya mempertemukan Kyle kembali dengan Lindy Taylor (Vanessa Hudgens), teman satu sekolahnya dulu. Lindy yang dengan kebetulan sekarang tinggal bersama dengan Kyle di rumah besarnya, akhirnya bertemu langsung dengan Kyle yang lebih memilih dipanggil “hunter”, tentu saja Lindy tidak mengenalnya dengan wajah Kyle yang seperti itu, dan dia secara mengejutkan bisa menerima keadaan Kyle. Lamban laun mereka menjadi makin akur, sedangkan Kyle sendiri makin belajar dari kesalahannya, tapi waktu terus berjalan dan dia tidak bisa meminta perpanjangan deadline dari Kendra. Apakah Kyle berhasil menemukan orang yang dengan tulus dapat mencintainya apa adanya,  Lindy-kah orangnya? mungkin Kendra?
Saya belum membaca novel Alex Flinn, jadi tidak bisa langsung menyalahkan sumber adaptasinya, lagipula “Beastly” itu adaptasi bebas, jadi versi film ada kemungkinan beda jauh dengan novelnya. Sah juga jika film ini mengambil inspirasinya dari dongeng klasik “Beauty and the Beast”, kemudian merekreasi ulang sebuah dongeng yang lebih modern di dunia dimana orang sudah jarang menulis surat cinta dengan tangan. Sayangnya sama seperti penggambaran sang buruk rupa yang justru tidak terlalu buruk rupa itu, serius saya masih melihat sosok “Hunter” itu keren kok, film ini pun jauh dari kesan menarik, penyebabnya jelas, jalan ceritanya terlalu dipaksakan. Begitu pula akting para pemain yang bisa dibilang juga tidak menolong film ini, mungkin hanya Mary-Kate Olsen dan Neil Patrick Harris saja yang masih membuat saya betah duduk berlama-lama menunggu film ini berakhir, Neil pun hanya karena dia lucu seperti biasanya.
Sebetulnya saya juga tidak terlalu gimana-gimana dengan genre romansa remaja seperti ini, tapi “Beastly” terlalu membosankan bagi saya, syukur-syukur film ini tertolong lewat akting dua pemain utamanya, sayangnya tidak, ditambah lagi chemistry antara Alex dan Vanessa pun buruk. Begitu kaku dan tidak mengajak penonton untuk bersimpati kepada hubungan mereka, terlebih lagi sentuhan romantis di film ini juga kurang, percikan cinta pun tidak terasa, kecuali dua orang yang bertatapan kosong, entah ingin berciuman atau gerutu dalam hati mengatakan “apa yang saya mesti lakukan di adegan ini”. Daniel Barnz mungkin berharap bisa membuat sebuah dongeng sebelum tidur tentang kisah cinta sejati, yah dia berhasil membuat saya tertidur tapi tidak dengan dongengnya. “Beastly” mudah ditebak? iya, klise? tentu saja, tapi bukan dua hal itu yang membuat film ini buruk tapi bagaimana Daniel menceritakannya tanpa ingin membuat kita tertarik. Kita mungkin sudah tahu kemana arah cerita tapi jika saja film ini bisa lebih mengeksplor ceritanya untuk tidak kaku dengan beberapa alasan-alasan kebetulan yang bodoh, “Beastly” bisa saja menjadi sajian dongeng modern yang mudah disukai, namun untuk sekarang biarlah saya menempatkan film ini sebagai kandidat film terburuk tahun ini.

Review: BATAS

| Selasa, 07 Juni 2011 | |

Dilema di Batas Negara

Perfilman tanah air boleh berbangga hati, karena di bulan Mei ini, bioskop lokal diisi oleh film-film yang bisa dikatakan membuat senyum ini mengembang lebar, melihat keajaiban sineas-sineas kita yang masih tetap punya semangat tinggi untuk memamerkan karyanya yang berkualitas. Setelah saya terkesima dengan keindahan cerita dan alam dalam “The Mirror Never Lies”, kemudian dihibur oleh pola cerita sederhana yang menyenangkan, sekaligus takjub dengan akting para pemain di “7 Hati 7 Cinta 7 Wanita”. Akhirnya saya berkesempatan untuk menengok satu lagi film bagus yang rilis pada 19 Mei lalu, sebuah karya dari Rudi Soedjarwo (Mengejar Matahari), “Batas”. Ya, saya tahu agak telat baru menonton sekarang, tepatnya beberapa hari lalu (reviewnya pun telat), lucunya pada saat ingin menonton ini awalnya saya menyangka akan menonton “sendirian”. Tahu sendiri, tema yang diusung film yang diproduseri oleh Marcella Zalianty ini bukanlah tema yang populer, well ternyata saya salah ditambah datang telat masuk studio, sekitar 5 menitan. Senang sekali ketika melihat deretan kursi bagian atas di studio 6 itu hampir terisi penuh.
“Batas” sendiri akan mengisahkan Jaleshwari (Marcella Zalianty), yang ditugaskan untuk terjun langsung ke lapangan, mencari tahu kenapa program pendidikan yang digagas oleh perusahaannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Guru-guru yang dikirim ke tempat dimana program tersebut ditargetkan justru tidak ada yang bertahan lama, mereka pulang tanpa ada alasan yang jelas. Berangkatlah Jaleshwari menyebrangi pulau, meninggalkan Jakarta yang menawarkan segala kemewahan hidup untuk menyapa Borneo (Kalimantan) tepatnya desa pedalaman di wilayah Entikong sana, sebuah tempat yang masih dikelilingi hutan lebat, dimana garis batas antara dua negara Indonesia—Malaysia faktanya hanya ditandai dengan sebuah patok kayu yang bersimbolkan angka-angka. Sesampainya disana Jaleshwari disambut dengan ramah oleh Adeus (Marcell Domits), menatap untuk pertama kalinya kehidupan masyarakat Dayak sambil dirinya diantar untuk diperkenalkan dengan pemimpin adat, Panglima Adayak (Piet Pagau). Ada salah paham yang terjadi, Jaleshwari dikira seorang guru, tidak sempat memperbaiki kekeliruan dia pun terpaksa diam.
Review Film Batas
Jaleshwari akhirnya menginap di rumah Nawara (Jajang C Noer), atas usul seorang bocah yang sempat mengambil handphone Jaleshwari saat ia baru saja sampai, namanya Borneo (Alifyandra), dia tak lain juga cucu Nawara, belakangan diketahui ternyata Borneo adalah cucu Panglima, semenjak putri mereka tiada, hubungan Nawara dan Panglima memang jadi berbeda, dibatasi oleh rasa sakit dan bersalah dari masa lalu yang tampaknya belum juga redup. Di rumah Nawara, Jaleshwari bertemu dengan gadis misterius bernama Ubuh (Ardina Rasti), yang kerap terdengar menangis, mengeluarkan banyak air mata namun menyembunyikan rapat-rapat rahasianya, sangat rapuh dan ketakutan. Keesokan paginya, karena kekeliruan soal guru itu, Jaleshwari harus bersiap mengajar di depan murid-murid yang tidak banyak, termasuk Borneo yang paling semangat untuk belajar. Tidak ingin ada salah paham lagi, dia akhirnya mengaku kepada Adeus, jika dia bukanlah seorang guru. Namun karena merasa tidak tega melihat semangat anak-anak, dia akan terus berperan sebagai guru, dengan hanya dia dan Adeus yang tahu. Justru ketika Jaleshwari sudah mulai terbiasa mengajar dan ingin mengajak anak-anak lain ikut sekolah, sebuah batasan yang sudah lama terbentang di tempat tersebut menghalangi niat baik Jaleshwari, belum lagi ada seorang bernama Otik (Otiq Pakis) yang bermulut manis tapi menginginkan sang ibu guru untuk angkat kaki dari desa.
“Batas” bukan soal meributkan perbatasan antara kedua negara, tetapi menunjukkan apa yang terjadi di sebuah desa yang tempatnya hanya beberapa kilo dari garis batas, ketika seseorang yang asing masuk kemudian mencoba mendobrak batasan yang selama ini ada, menekankan keinginannya untuk mengubah kenyataan. Walau jalan menuju perubahan itu memang tidaklah mudah bagi Jaleshwari, dia harus lebih dahulu keluar dari “batas” yang selama ini mengurungnya, meninggalkan kemewahan Jakarta dan melakukan segala hal yang berbeda di tempat yang baru ini. Bukan juga perkara yang mudah ketika nanti ia juga akan berhadapan dengan penghalang yang membatasi dirinya untuk melakukan apa yang ia anggap benar. “Batas” juga tidak hanya membicarakan Jaleshwari, walau pada akhirnya film ini terkesan “filmnya Jaleshwari”, tetapi kita bisa melihat karakter-karakter lain mencoba tampil untuk menceritakan kisahnya. Adeus yang selama ini “betah” dalam zona batas amannya tapi sejak kedatangan Jaleshwari, zona tersebut mulai terusik. Adeus bukan pengecut yang selalu menunduk ketika dia diancam Otik, dia hanya perlu waktu dan keberanian, itu saja. Si gadis misterius yang diberi nama Ubuh oleh Nawara, memang hanya bisa menangis dan diam, tapi ada saatnya ketika dia merasa “aman”, dia dengan sendirinya keluar dari batas yang membatasinya dan bercerita tentang “lukanya”.
Film ini ingin menceritakan banyak hal, termasuk juga menyinggung ketimpangan yang teramat jelas (walau tidak diperlihatkan secara langsung tetapi bisa dibayangkan lewat pembicaraan antara Jaleshwari dan Adeus) di antara kedua sisi perbatasan, sampai-sampai orang desa, termasuk Adeus bilang negeri seberang itu bagaikan “surga”, dari situ kita bisa membayangkan sendiri perbedaan itu, tidak perlu digambarkan. Sayangnya saat film ini mempunyai judul “Batas”, filmnya sendiri seperti tidak punya batas dan ruang lingkup cerita makin melebar bukannya dipersempit, sah-sah saja sih jika film ini ingin bercerita banyak hal, tapi akhirnya toh banyak juga yang ditinggalkan begitu saja untuk kembali kepada kisah Jaleshwari. Beberapa konflik yang sebetulnya sudah disusun rapih dari awal, entah kenapa juga terkesan “digampangkan” ketika tiba waktunya untuk konflik tersebut diselesaikan, antara Jaleshwari dan Otik misalnya.
Namun sebetulnya kekurangan tersebut tidak mengganggu kenikmatan saya dalam menonton dan mencerna setiap pesan yang ingin disampaikan. Filmnya yang beralur tidak terburu-buru dan jadi semacam ujian untuk menguji batas kesabaran saya pun bukanlah hal yang mengganggu, sebaliknya walau lamban saya masih bisa menikmatinya dan justru ketika film ini selesai kok malah terasa cepat berlalu. Apa yang akhirnya mengusik kenyamanan adalah ketika saya tidak terlalu merasa terhubung dengan “Batas”, saya yang salah atau memang film ini kurang begitu punya chemistry yang kuat dengan penontonnya. Beruntung, film yang diproduksi Keana Productions ini masih punya nilai plus dari sisi performa akting para pemainnya, yang menjadi catatan saya adalah Ardina Rasti, walau porsi kemunculannya tidak banyak, tapi mampu mencuri perhatian sekali. “Batas” juga punya kekuatan dalam visualnya, seorang Edi Michael mampu memotret gambar-gambar indah yang tidak hanya memanjakan mata tapi sanggup bercerita lebih. Jika saja film ini bisa lebih fokus pada satu cerita, mungkin hasilnya bisa berbeda, namun bukan berarti “Batas” adalah film yang jelek, kisahnya masih bisa dinikmati apalagi film ini masih memiliki kekuatan lain dari sisi visual dan akting, membuat saya sebetulnya tetap ingin berlama-lama di desa dimana Borneo tinggal. Enjoy!!

Review: KENTUT

| Sabtu, 04 Juni 2011 | |

Awal Petaka dan Keberuntungan

Sindiran terhadap budaya, sosial dan politik yang biasa dapat ditemukan di dalam kehidupan Anda selama masih berbangsa, bernegara dan bertanah air Indonesia menjadi topik pembicaraan utama dalam Kentut, sebuah film arahan Aria Kusumadewa yang menjadi karyanya setelah memenangkan status sebagai Sutradara Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2009 lewat film Identitas (2009). Seperti halnya Identitas (2009), ada begitu banyak nada-nada satir yang dapat ditemukan dalam cara penceritaan Aria pada Kentut – yang membuat Aria semakin menjauhi gaya penceritaan simbolis yang dulu sempat melekat pada dirinya lewat dua karya pertamanya, Beth (2002) dan Novel Tanpa Huruf R (2003). Hanya saja, Aria kali ini terlihat lebih santai dalam bercerita. Dengan menggunakan komedi yang mengalir ringan dari deretan dialog yang disampaikan para karakter di film ini, Aria berhasil membuat setiap penonton menertawakan bagaimana kehidupan yang sebenarnya mereka jalani di setiap kesehariannya. Bagian tercerdasnya, tidak seorangpun yang sadar bahwa diri merekalah yang sedang ditertawakan.
Kentut dibuka dengan kisah persaingan dua kandidat yang sedang berusaha memperebutkan kursi Bupati di Kabupaten Kuncup Mekar: Patiwa (Keke Soeryo), seorang calon independen perempuan dengan pemikiran yang sangat maju, dengan Jasmera (Deddy Mizwar), seorang calon yang akan berusaha untuk melakukan apa saja demi meraih simpati masyarakat. Dengan berbagai pemikiran majunya tentang kesejahteraan masyarakat, Patiwa sepertinya telah dapat dipastikan untuk memenangkan pemilihan kepala daerah di kabupaten tersebut. Sialnya, pada suatu hari, ketika Patiwa dan Jasmera baru saja selesai melakukan debat terbuka di sebuah saluran televisi, seorang yang tak dikenal datang dan melakukan penembakan terhadap Patiwa.
Manajer kampanye Patiwa, Irma (Ira Wibowo), jelas kelimpungan akibat tertembaknya Patiwa. Ia kemudian berusaha sekuat tenaga agar kondisi lemah yang saat ini dialami Patiwa tidak dimanfaatkan oleh pesaingnya untuk merebut momen dan kesempatan Patiwa dalam memenangkan pemilihan Bupati. Tembakan yang diarahkan kepada Patiwa sebenarnya tidak begitu parah. Tim dokter yang dipimpin oleh dr Ferry (Cok Simbara) sendiri dengan mudah menyelesaikan tahapan operasi medis kepada Patiwa. Namun, jiwa Patiwa ternyata tidak bergantung pada operasi tersebut. Demi menentukan apakah Patiwa dapat segera sembuh atau tidak, dr Ferry kemudian menyatakan bahwa Patiwa harus melakukan satu hal: mengeluarkan kentut. Kini, seluruh masyarakat Kabupaten Kuncup Mekar sedang menunggu Patiwa untuk segera mengeluarkan kentutnya.
Gila? Jelas! Sebuah film yang memuat kata ‘kentut’ sebagai judulnya jelas saja diwajibkan untuk mampu menampilkan jalan cerita yang seunik dan segila mungkin… dan Aria memiliki naskah cerita yang cukup mumpuni untuk memenuhi tanggung jawab itu. Semenjak awal, Aria menceritakan Kentut dengan begitu sederhana. Walaupun awalnya hanya memuat kisah persaingan antar dua orang yang sedang berebut kekuasaan, Aria mampu menghantarkan begitu banyak sindiran sosial dan politik terhadap kehidupan masyarakat modern lewat dialog-dialog yang disampaikan oleh para karakternya. Karakter Patiwa dan Jasmera sendiri sepertinya telah menjadi sebuah sindiran sendiri mengenai bagaimana masyarakat saat ini sering memandang dan memilih kehidupan politik yang ingin mereka jalani. Politikus yang sebenarnya berniat baik dan tulus dalam membangun masyarakat, yang digambarkan lewat karakter Patiwa, seringkali mendapatkan label naif dan munafik oleh banyak orang. Sebaliknya, masyarakat justru lebih tertarik untuk memilih seorang wakil yang memiliki karakter yang lebih ‘berwarna’ seperti Jasmera, seseorang yang lebih sering terdengar karena hal-hal kontroversi (baca: buruk) yang ia lakukan atau ucapkan daripada prestasi yang ia torehkan. Entah apa yang akan dikatakan Naga Bonar ketika ia melihat kondisi politik Indonesia saat ini.
Kentut kemudian berjalan dengan menghadirkan beberapa karakter baru dan semakin banyak plot cerita. Disini Aria mulai terlihat kebingungan dalam menhyatukan kepingan-kepingan pesan dan cerita yang ingin ia sampaikan kepada para penontonnya. Jangan salah, Aria masih mampu mengeksekusi ceritanya dengan cukup baik dan menghibur. Namun sangat jelas terasa bahwa tampilan yang ia berikan lebih lemah daripada ketika Kentut hanya berfokus pada persaingan antara Patiwa dan Jasmera. Aria memasukkan begitu banyak metafora dan sindiran-sindiran halus terhadap struktur masyarakat Indonesia saat ini. Mulai dari bagaimana mereka menjalani kepercayaan mereka, sifat yang selalu berusaha untuk mengambil untung walau dalam sebuah musibah sekalipun (cerdas!), wartawan yang terkadang ‘mendewakan’ UU Pers sebagai perlindungan demi mencari berita (walau terkadang mereka juga melanggar UU yang melindungi orang lain) hingga sindiran terhadap sikap feminisme juga tidak luput dari sasaran Aria. Jalan cerita yang tadinya terlihat sederhana secara tiba-tiba berubah menjadi begitu padat dan kadang terasa terlalu berlebihan. Untung Aria masih mampu menyelipkan sensibilitas komedinya pada setiap adegan sehingga Kentut tidak pernah terasa melelahkan.
Dari jajaran pemeran, Deddy Mizwar jelas telah menjadi atraksi terdepan semenjak film ini dimulai. Tidak seperti penampilan Deddy pada beberapa film sebelumnya – yang lebih sering terlihat terlalu bijaksana dan preachy, penampilan Deddy sebagai Jasmera terasa begitu lepas dan komikal. Sangat menyenangkan untuk disaksikan. Para pemeran lainnya juga mampu tampil dengan kemampuan akting yang tidak mengecewakan, walau beberapa kehadiran mereka terlihat kurang begitu bermakna akibat kurangnya penggalian karakter yang diberikan Aria terhadap peran mereka. Scene stealer pada Kentut jelas adalah Rahman Yakob yang berperan sebagai Rahman Sianipar, seorang kepala petugas keamanan di rumah sakit. Dengan aksen Batak yang jenaka, dan dialog-dialog cerdas dan komikal yang diberikan padanya, sangalah mudah untuk menyukai kehadiran karakter Rahman setiap kali ia berada di dalam jalan cerita.
Menyaksikan Kentut, sebagian orang mungkin akan bertanya-tanya pada dirinya: Apakah kemampuan bangsa Indonesia untuk menertawakan diri mereka sendiri telah sebegitu meningkatnya? Atau hal tersebut hanya terjadi dalam sebuah film layar lebar belaka? Aria Kusumadewa melakukan pekerjaan yang sangat cerdas dalam menyusun rangkaian cerita dan dialog satir yang tidak hanya tajam dan mengena namun tetap tidak melupakan untuk menghibur penontonnya. Walau pada paruh kedua film Aria terlihat terlalu ambisius dalam menyampaikan segala ide-idenya, dan dengan sebuah akhir kisah yang kurang memuaskan, namun Aria tetap berhasil memberikan penampilan yang baik pada Kentut lewat arahan yang ia berikan pada jajaran pemerannya maupun tata produksi yang mampu terjaga dengan baik. Seandainya ada lebih banyak film Indonesia yang secerdas ini. ENJOY!!

Review: SANCTUM

| | |

Terjebak di Dalam Gua

Seperti yang dibuktikan Titanic (1997) dan Avatar (2009), tampilan audio visual yang begitu memukau memegang peranan yang sangat penting dalam setiap film yang melibatkan nama James Cameron. Begitu vital, tampilan audio visual yang seringkali menawarkan terobosan baru dalam dunia perfilman tersebut menjadi faktor yang tidak dapat disangkal menjadi titik penting penghasil aliran emosi di dalam jalan cerita film itu sendiri. Di lain pihak, film-film yang ditangani Cameron seringkali memiliki kelemahan dalam segi penceritaan. Yang paling sering dikritisi, tentu saja, adalah kekurangmampuan Cameron untuk melakukan supervisi pada deretan dialog para karakter yang ada di dalam jalan cerita filmnya. Sanctum, yang walaupun hanya melibatkan Cameron sebagai seorang produser eksekutif, juga memiliki keterikatan ciri khas kualitas yang sama dengan film-film yang menjadi karya Cameron sebelumnya.
Tidak dapat disangkal, premis yang berjanji untuk menghadirkan sebuah petualangan ke bagian dasar dan terdalam dari Bumi, ke sebuah wilayah yang sama sekali belum pernah disentuh oleh manusia, dan disajikan dengan tampilan audio visual yang kualitasnya diawasi oleh seorang James Cameron, akan membuat setiap orang menanti kehadiran Sanctum. Dan benar saja, Sanctum adalah sebuah thriller yang berhasil menyajikan petualangan bawah tanah dengan cara yang spektakuler. Namun lebih dari itu, Sanctum benar-benar lemah dalam hal karakterisasi dan penceritaan dialognya. Bahkan lebih lemah dari apa yang pernah ditampilkan oleh Cameron dalam Titanic maupun Avatar!
Ditulis oleh John Garvin dan Andrew Wight, yang diinspirasi dari kisah nyata yang dialami oleh Wight ketika ia hampir saja tewas dalam melakukan kegiatan ekspedisi penyelaman ke sebuah gua bawah laut, Sanctum berkisah mengenai perjalanan yang dilakukan pasangan Carl Hurley (Ioan Gruffudd) dan Victoria (Alice Parkinson) ke Papua Nugini untuk menjelajahi situs gua bawah laut bersama Frank McGuire (Richard Roxburgh), seorang penyelam profesional, dan anaknya, Josh (Rhys Wakefield). Frank telah terlebih dahulu mempersiapkan gua bawah laut tersebut untuk dijelajahi oleh Carl dan Victoria, sehingga ketika jutawan itu datang, Frank akan membawa mereka masuk dalam sebuah petualangan yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup mereka.
Malang, alam sepertinya berkehendak lain. Tepat ketika Carl, Victoria dan Josh bergabung bersama Frank dan tim ekspedisinya di gua bawah laut tersebut, sebuah badai datang menerjang dan mengancam kehidupan mereka. Ketika akhirnya gua tersebut mulai tertutupi oleh banjir, satu-satunya jalan keluar dari teror tersebut adalah untuk menempuh alur gua bawah laut tersebut  sebelum akhirnya mereka dapat menemukan sebuah jalan keluar yang berada di lautan luas. Terdengar seperti sebuah petualangan biasa? Belum ada manusia satupun yang pernah menjelajahi gua bawah laut tersebut. Ditambah dengan kehadiran intensitas emosi yang cukup tinggi di antara para penjelajah tersebut, kematian sepertinya akan dengan mudah menyelinap dan mengambil korbannya.
Sanctum menggunakan sebuah kamera khusus 3D untuk memperoleh gambar-gambarnya – sebuah kamera yang juga digunakan oleh James Cameron pada Avatar dan teknologinya telah dikembangkan Cameron selama hampir satu dekade. Wajar saja jika kemudian Sanctum dipenuhi dengan deretan gambar indah, misterius serta mencekam akan pemandangan dari sebuah gua bawah laut. Tim produksi juga menghabiskan cukup banyak waktu dalam menciptakan latar belakang lokasi yang tepat untuk dapat memberikan pengembangan yang lebih mendalam mengenai suasana yang diperlukan di dalam jalan cerita. Dan mereka, harus diakui, berhasil melakukannya. Dengan latar belakang tempat yang menggunakan pemandangan alam yang benar-benar nyata, gelap dan cenderung sempit, Sanctum berhasil menghadirkan teror tersendiri yang akan datang dari kemampuan film tersebut untuk mengeluarkan rasa takut penontonnya akan ruang yang gelap dan terbatas.
Berbanding terbalik dengan tampilan audio visualnya yang seperti dikerjakan secara intensif oleh sekumpulan tim produksi profesional, naskah cerita Sanctum justru terlihat seperti dikerjakan oleh mereka yang sama sekali tidak mengerti mengenai bagaimana cara mengembangkan cerita dan karakter dengan baik. Hasilnya, di sepanjang penceritaan, banyak dialog-dialog yang terkesan dangkal dikeluarkan oleh para karakter yang setara dangkalnya dalam hal karakterisasi. Plot kisah mengenai hubungan antara ayah dan anak yang berkembang di tengah-tengah jalan cerita juga terkesan kurang mampu menghasilkan ikatan emosional yang baik kepada para penontonnya.
Pengembangan karakterisasi dan cerita yang dangkal, tentu saja, memberikan pengaruh yang besar pada kemampuan para jajaran pemeran film ini untuk dapat menampilkan permainan terbaik mereka. Walau diisi dengan beberapa nama aktor dan aktris populer asal Australia, departemen akting Sanctum sama sekali tidak memberikan sebuah kontribusi yang berarti pada kualitas film ini secara keseluruhan. Richard Roxburgh hampir tampil tipikal sebagai seorang pria ambisius dengan kepribadian yang tertutup. Sementara Ioan Gruffudd juga gagal memberikan permainan yang berkelas. Selain dua aktor tersebut, nama-nama lainnya juga sepertinya tidak akan begitu diingat akan kontribusi akting yang mereka berikan dalam film ini.
Sebagai sebuah film yang mengatasnamakan petualangan bawah laut sebagai tema utama jalan ceritanya, Sanctum sebenarnya tampil cukup menarik. Walau harus menghabiskan sebagian waktunya dalam menghadirkan deretan drama yang terasa kurang esensial sebelum menghadirkan deretan konflik dan adegan dengan intensitas emosional yang cukup hangat, ketika Sanctum menghadirkan konflik utama ceritanya, Sanctum benar-benar mampu tampil mempesona, khususnya dengan kemampuan sutradara Alister Grierson dalam mengarahkan timnya dalam menghadirkan tata produksi yang begitu mengagumkan. Tetap saja, naskah cerita harus diakui sebagai bagian kelemahan terbesar Sanctum. Dangkal dan dipenuhi dengan berbagai hal klise yang kadang tidak masuk akal. Jelas bukan karya dengan  kualitas yang akan mau diingat oleh James Cameron dalam jangka waktu yang cukup lama. enjoy!!

Review: HEART 2 HEART

| Senin, 02 Mei 2011 | |

Yang Muda Yang Bercinta

Dirilisnya “Heart 2 Heart” menandai film ke-12 (koreksi saya jika ada kesalahan dalam penghitungan, itu juga jika anda sudi untuk menghitungnya) dari Nayato Fio Nuala untuk tahun 2010 ini. Mari kita singkirkan dulu sang sutradara paling produktif sebentar (maaf ya bro) dan melirik siapa yang duduk di bangku penulis skenario. Menarik! karena disana tercantum nama Titien Wattimena. Awal karirnya dimulai dengan “Mengejar Matahari” (ini salah-satu film favorit saya ngomong-ngomong) dengan menjadi penulis skenario sekaligus asisten sutradara menemani Rudi Soedjarwo. Lewat film buatan tahun 2004 ini juga nama Titien tercatat sebagai nominator skenario terbaik dalam ajang penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) di tahun yang sama. Sebuah awal yang sangat baik bagi perempuan kelahiran Ujung Pandang ini dan sejak saat itu Titien konsisten terlibat dalam proyek-proyek film layar lebar maupun televisi, baik sebagai penulis skenario—dia kembali dinominasikan sebagai penulis skenario terbaik pada FFI 2005 untuk film “Tentang Dia”—maupun asisten sutradara seperti di film 3 Hari untuk Selamanya, The Photograph, dan Laskar Pelangi.
Tahun 2010 sepertinya menjadi tiket paling berharga untuknya karena setelah menulis skenario untuk banyak film drama romantis remaja, di tahun inilah Titien diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya untuk menuliskan skenario yang benar-benar berbeda, lewat film “Minggu Pagi di Victoria Park”, yang disutradarai oleh Lola Amaria. Mari kita kembali ke “Heart 2 Heart”, setelah MPdVP—film ini terpilih untuk ikut berkompetisi bersama 7 film lainnya di FFI 2010—dan jangan lupakan “Menebus Impian”, film ketiga “Heart 2 Heart”, bisa dibilang levelnya berada jauh di bawah kedua film lainnya yang sama-sama dia tuliskan tahun ini. “Heart 2 Heart” juga tidak hanya menandai 12 film yang disutradarai Nayato, tapi juga ajang “reuni” antara Nayato dengan Titien, karena ini adalah kerjasama ke-3 mereka (Cinta Pertama, The Butterfly).
Tidak ada yang istimewa jika melihat jalinan cerita yang dirangkai menjadi drama cinta remaja berdurasi sekitar satu setengah jam ini. Dua pasang remaja, si laki-laki ganteng dan si perempuan juga cantik, dipertemukan dengan tidak sengaja, mereka adalah Pandu (Aliff Alli) dan Indah (Irish Bella). Butuh waktu tidak lama dan beberapa kali ketemuan di hutan, kebun teh, dan danau sampai akhirnya hati mereka saling mengangguk, mereka pun saling jatuh cinta. Namun kebersamaan mereka terbatas oleh waktu, karena Indah harus kembali bersekolah di Jakarta. Yah namanya juga jodoh, takdir pun sepertinya menyukai mereka berdua dan mengijinkan Pandu dan Indah bertemu kembali di Jakarta, bahkan di satu sekolah yang sama, karena Pandu ternyata entah sengaja atau tidak juga pindah sekolah ke Jakarta. Tunggu dulu, cinta keduanya bukan tanpa rintangan basa-basi, karena di sekolah Indah sudah “diklaim” pacar oleh playboy sekolah, Ramon (Miradz), jodoh pilihan mamanya Indah (Wulan Guritno).
Kompetisi antara Pandu dan Ramon pun mulai memanas untuk mendapatkan cewek yang mereka sukai, sedangkan Indah sudah pasti memilih Pandu, sang jodohnya, ketimbang si Ramon yang suka pamer baru pulang dari Paris lalu membagikan oleh-oleh pada antrian cewek-cewek yang sudah tidak tahu malu meminta-minta untuk mendapat bagian. Cukup dengan pertikaian tak berujung, untuk menambah kadar melodrama sekaligus menguji cinta siapa yang paling tulus, dikorbankanlah Indah yang mengalami kecelakaan. Akibat kecelakaan tersebut, Indah terpaksa harus kuat menjalani hari-harinya dalam kegelapan, dia sekarang buta sekaligus bisu. Apakah Indah bisa sembuh? Bagaimana dengan Pandu? jika semua yang saya tulis diatas terdengar klise, cerita yang mudah ditebak akhirnya, hmm…semua itu memang benar. Terlepas dari ceritanya yang memfokuskan pada drama percintaan remaja yang lagi-lagi tidak menghadirkan sesuatu yang baru, sebenarnya film seperti ini bisa saja berpeluang menjadi tontonan ringan yang cukup menghibur, tapi hal tersebut dikandaskan begitu saja ketika Nayato memainkan perannya sebagai sutradara.
Film ini tak lebih seperti pengulangan apa yang sudah pernah dilakukan Nayato jutaan kali di film-film berjenis sama yang sebelumnya dia buat. Nayato lagi-lagi (Oh bosannya saya..) meleset untuk menghadirkan momen demi momen yang alami, cinta di film ini seharusnya yah bisa dong gitu tidak dibuat penuh visual basa-basi, sebaliknya dia justru terjebak dengan formula drama romantis dari filmnya yang sudah-sudah. Penuhi adegan dengan pengambilan-pengambilan gambar yang “romantis”, memanipulasi tontonan agar penonton betah dengan berbagai macam potret-potret manis yang disebar Nayato dari adegan demi adegan. Namun sekali lagi, Nayato hanya mampu memoles film ini untuk tampak cantik dari luar dengan segala sentuhan dramatisasi mubajir dimana-mana, tetapi tidak berusaha “menyentuh” penonton untuk terkoneksi dengan jalan cerita.
Anehnya saya melihat film ini seperti kumpulan video klip musik yang dikumpulkan jadi satu, belum sempat bercerita panjang lebar, Nayato terus saja mengumpani penonton dengan potongan-potongan gambar “bisu”, dengan diiringi lagu dari Melly Goeslaw. Yah tidak ada salahnya memang, tapi jika adegan ini terus diulang-ulang sampai memenuhi kotak persediaan bertuliskan “kesabaran”, itu namanya sudah keterlaluan. Akhirnya saya bukannya betah melahap kegombalan dan kelebayan yang disajikan Nayato—sudah bro, sudah cukup, saya sudah sangat kekenyangan—tapi tidak sabar untuk secepatnya keluar dari bioskop karena kebosanan ini sudah mendidih. Tidak sempat bercerita dengan baik, Nayato juga tidak mampu mengarahkan pemain-pemain muda-nya untuk tampil menarik, ditambah lagi dialog-dialog yang disumpalkan pada mereka terdengar oh…sangat-sangat penuh gombal murahan, dibuat-buat, dan penyampaian yang aneh, khususnya mendengar Aliff Alli ketika sedang berbicara (salah-satu faktor paling mengganggu dalam film ini). “Heart 2 Heart “ akhirnya hanya menjadi kisah basi yang sulit untuk dinikmati (walau dipaksa), dikemas basi dengan berlabel tulisan kapital “MEMBOSANKAN”.

Review: TRIANGLE

| | |

Terjebak Dalam Lingkaran

Jess (Melissa George), ikut berlayar bersama dengan Greg (Michael Dorman), Viktor (Liam Hemsworth), Sally (Rachael Carpani), Heather (Emma Lung), dan Downey (Henry Nixon), di sebuah yacht yang tidak terlalu besar. Semua tampak menikmati perjalanan mereka mengarungi lautan atlantik yang luas, kecuali Jess. Ibu satu orang anak ini sudah berlaku aneh sejak pertama kali datang ke pelabuhan, ditambah anaknya yang autis diakuinya tengah berada disekolah. Sikap Jess yang tidak biasa itu menyulut rasa penasaran semua orang di “perahu kecil” tersebut, termasuk Greg yang selalu bertanya apakah ia baik-baik saja. Ketika laut menjadi pemandangan yang indah dan sedap untuk dipandang mata, serta Jess dan yang lainnya begitu menikmati pelayaran ini. Awan gelap yang diselimuti halilintar mendadak muncul di kejauhan, semua tahu badai akan segera mengancam keasyikan mereka. Greg pun segera memanggil bantuan penjaga pantai melalui radio, namun bukannya pertolongan yang didapat, ia malah menerima sinyal aneh yang entah datang darimana. Suara seorang wanita tiba-tiba muncul mengatakan sesuatu yang mengerikan, ketika Greg meminta posisi wanita tersebut, tidak ada jawaban balasan yang berarti dari wanita misterius. Badai pun datang tanpa diundang.
Ombak besar mulai menggulung yacht yang sepertinya tidak akan selamat tersebut. Greg bersama dengan Viktor mencoba untuk mengendalikan perahu ini agar tidak tenggelam sedangkan yang lain berada di kabin yang mulai dibanjiri air. Guyuran hujan yang deras dan ombak yang kian besar akhirnya berhasil menyapu yacht tersebut hingga terguling, menghempaskan Jess dan kawan-kawan ke lautan atlantik yang dingin. Amukan badai seketika itu pula mereda, menyisakan yacht dalam keadaaan terbalik dan para awaknya tercerai berai. Jess, Greg, dan yang lainnya berhasil selamat dan berusaha menaiki yacht yang terbalik. Namun sayangnya satu orang diantara mereka hilang, yaitu Heather. Kala harapan sepertinya sudah menghilang, sebuah kapal pesiar muncul dihadapan mereka. Tanpa pikir panjang dan ditengah ketakutan serta kebingungan, mereka mulai berteriak meminta pertolongan. Jess dan yang lainnya pun berhasil menaiki kapal besar tersebut. Tetapi apa yang mereka temui di “kapal penyelamat”-nya itu? mereka ternyata tidak menemui siapapun. Kapal pesiar ini kosong seperti tidak berawak. Jess makin bertingkah tidak jelas ketika ia mengaku seperti pernah berada di kapal ini sebelumnya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan kapal tak berpenghuni ini?
Triangle, tidak akan memberikan jawaban-jawaban secepat itu, film yang disutradarai oleh Christopher Smith ini akan terus mengurung kita dengan rasa penasaran dan menyelimuti pikiran kita dengan pertanyaan-pertanyaan yang saling bersautan. Belum selesai dengan misteri menghilangnya penghuni kapal pesiar, kita akan disuguhkan dengan misteri lainnya bersamaan dengan munculnya orang lain di kapal tersebut. Namun sosok misterius ini bukanlah orang yang akan menyambut hangat kedatangan Jess dan kawan-kawan, justru sebaliknya ia tampaknya menginginkan semua orang mati. Berawal dari Viktor yang ditemukan berlumuran darah oleh Jess dan tewas seketika, lalu berlanjut dengan suara tembakan yang ternyata berasal dari sebuah Theater. Jess yang berlari menuju kesana menemukan Greg tergeletak sudah tak bernyawa. Anehnya, Sally dan Downey menuduh Jess yang menembak. Keduanya pun berakhir dengan kematian, setelah “sang pembunuh” sukses menembak mereka dari atas balkon. Film ini memang pintar menyajikan misteri demi misterinya, kita justru akan dikejutkan dengan begitu cepatnya para pemain “ditewaskan” karena memang film ini punya kejutan lain yang siap meledakkan otak kita dengan sekali tembakan.
Sutradara asal Inggris ini dengan cerdas membawa kita terpontang-panting melalui plot yang cukup membuat kita akan meneguk sebutir aspirin. Tak cukup dengan hanya satu twist yang sukses membuat kita terbengong-bengong, Smith bertubi-tubi menjejalkan twist-twist berikutnya, yang tentu saja tak kalah mengejutkan dan mencengangkan (membuat kita kembali ingin meminum satu butir aspirin lagi). Setiap detil dari film ini begitu halus diramu, Smith tidak mengijinkan kita untuk sedikitpun lengah dan tidak memperhatikan “clue” yang ada. Wajib hukumnya untuk terus mengikuti Jess, karena dia satu-satunya yang akan membimbing kita keluar dari labirin menyesatkan ini. Film yang berdurasi 99 menit tentu saja memberi kesempatan kita untuk menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya atau bahkan ending dari film ini, tapi percayalah anda akan makin tersesat dan tebakan tersebut akan sia-sia. Sutradara yang juga menuliskan cerita film ini tahu betul mengemas setiap adegannya dengan menarik, dengan pengesekusian cerita yang matang, tak ada satupun adegan di film ini yang tidak berarti ataupun sia-sia. Layaknya sebuah rantai yang saling menyambung, adegan-adegan yang disajikan juga saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Maka dari itu dibutuhkan konsentrasi yang penuh dalam menonton film ini atau sekali lagi kita akan tersesat.
Film ini memperdaya para penontonnya tidak hanya dari cerita yang tampil memikat dan berhasil mengikat kita dari awal hingga akhir film. Tetapi juga dari ikatan emosi yang tercipta dengan apik dari tokoh utama Jess, yang dilakonkan dengan luar biasa oleh Melissa George. Aktris yang sudah sering bermain dalam film-film horor seperti: The Amityville Horror, Turistas, dan juga 30 days of Night ini berhasil menghantarkan performa akting yang sangat mendukung alur cerita yang sedang berjalan. Kita akan ikut ketakutan, kebingungan, bersama dengan Jess yang babak-belur menuntaskan setiap “halangan” yang ada didepannya dalam usahanya memecahkan misteri di kapal ini. Jess juga terbukti sukses mengajak penontonnya ikut merasa tegang ketika dia kembali berhadapan dengan “sang pembunuh”. Film yang mengambil judul dari nama yacht yang dinaiki Jess dan kawan-kawan ini memang punya level ketegangan yang sudah berada di titik didih yang pas, membaurnya dengan tingkat penasaran yang sudah mencapai titik stress. Tetapi tenang dulu, Smith tidak akan membuat anda gila dan justru memaki-maki film ini. Pertanyaan yang menumpuk, sedikit demi sedikit mulai terjawab, sekali lagi dengan syarat anda betul-betul memperhatikan tiap detil film ini. Secara keseluruhan film yang dirilis tahun 2009 ini hadir menyajikan kisah horor yang berbeda, thriller psikologis yang cerdas dan plot yang digarap rapih. Bersiaplah mengumpulkan pecahan kaca yang berserakan, mengumpulkannya menjadi satu seperti pemainan puzzle yang akan membuat anda depresi sekaligus juga mengasyikkan dan menghibur. Enjoy!

Review: Blood Diamond

| Kamis, 07 April 2011 | |

Lebih Dari Sekedar Pencarian Sebuah Berlian

Blood Diamond
Bersetting tempat di Sierra Leone pada saat konflik dan perang sipil tahun 1999. Diperlihatkan dalam film ini, dimana negara hancur berantakan dikarenakan perlawanan antara pihak tentara pemerintah dan pihak pemberontak. Film ini menggambarkan dengan jelas kekerasan dan kejahatan yang mengerikan diakibatkan oleh perang. Termasuk amputasi tangan orang-orang tidak berdosa oleh pihak pemberontak, hanya agar mereka tidak bisa lagi ikut dalam pemilu.
Film dimulai dengan penangkapan Solomon Vandy (Djimon Hounsou), seorang nelayan miskin, oleh pemberontak Revolutionary United Front (RUF) saat mereka menyerang sebuah desa bernama Shenge. Terpisahkan dari keluarganya, khususnya anaknya yang dibawa oleh RUF, Solomon dijadikan budak di sebuah tambang berlian dipimpin oleh Captain Poison. Sedangkan anaknya bernama Dia, yang diculik oleh pemberontak RUF, dicuci otaknya untuk akhirnya menjadi pembunuh.
RUF memanfaatkan berlian untuk mendanai perang mereka, menukar berlian-berlian itu dengan senjata api. Saat bekerja di tambang berlian, Solomon dengan tidak sengaja menemukan berlian berwarna merah muda yang langka. Sesaat sebelum serangan pasukan pemerintah, Captain Poison melihat Solomon yang berusaha menyembunyikan berlian tersebut. Akibat serangan, Captain Poison terluka sebelum dapat merebut batu berlian dari Solomon. Keduanya akhirnya dibawa ke penjara Freetown, ibukota Sierra Leone.
Danny Archer (Leonardo DiCaprio), mantan tentara bayaran dari Rhodesia (now Zimbabwe), berdagang senjata dengan imbalan berlian dari Komandan RUF. Berusaha membawa secara ilegal berlian, Archer tertangkap dan di penjara. Archer bekerja membawakan berlian kepada seorang tentara bayaran asal Afrika Selatan bernama Colonel Coetzee, yang sekaligus menjadi bawahan sebuah perusahaan berlian milik Van De Kaap. Archer yang sangat putus asa karena kehilangan berlian ketika dia tertangkap dan dimasukkan ke penjara yang sama dengan Solomon, berusaha mencari cara agar ia bisa membayar berlian yang hilang kepada Colonel Coetzee.
Saat di penjara inilah, Archer mengetahui ada penemuan berlian besar merah muda dan berencana menemukannya. Setelah keluar dari penjara dan mengatur pembebasan Solomon, Archer menawarkan bantuan kepada Solomon untuk mempertemukannya dengan keluarganya dengan imbalan berlian. Archer dan Solomon, dibantu oleh Wartawan Amerika bernama Maddy Bowen (Jennifer Connelly), berusaha mencari keluarga Solomon diantara rumitnya situasi di Sierra Leone.
Archer yang berencana hanya memanfaatkan Solomon dan mencuri berlian lalu kabur dari Afrika selamanya, namun rencana tersebut tercium oleh Bowen. Bowen yang seorang humanitarian, menolak membantu Archer asalkan memberitahu semua informasi mengenai perdagangan berlian untuk menghentikan berlian-berlian berdarah ini keluar dari Afrika dan menghentikan pendanaan untuk konflik ini. Archer pun memberikan semua informasi yang ada, lalu mendapatkan akses ke Kono untuk berlanjut mencari berlian.
Perjalanan yang penuh rintangan dari pihak pemberontak dan juga medan yang berat menuju berlian yang dicari, menambah kedekatan antara Archer dan Solomon, bukan lagi sebagai partner dengan tujuan masing-masing, tetapi sebagai teman yang saling membantu. Keduanya yang semula bersifat egois dan keras kepala dikarenakan desakan kepentingan pribadi, dengan pencarian keluarga dan berlian ini, akan mengubah segalanya. Archer pun akan mendapat pelajaran yang amat berharga yang selama ini dia abaikan begitu saja. Konflik, Dosa, Darah dan Berlian menyatukan dua orang ini. Akankah Solomon bertemu dengan keluarganya dan Archer mendapat berlian yang diinginkannya?
Archer & Solomon
Blood Diamond, merupakan film bagus yang menguras emosi gw. Edward Zwick, sang sutradara berhasil membuat film yang lengkap akan drama, action, dan pesan-pesan moral didalamnya. Film yang dinominasikan untuk 5 oscar ini,  termasuk nominasi bagi Leonardo DiCaprio sebagai Aktor Terbaik dan Djimon Hounso sebagai Aktor Pendukung Terbaik. Keduanya memang menampilkan akting terbaiknya untuk film yang dibuat tahun 2006 silam.
Khususnya dengan aksen khas Inggris-Afrika yang dibawakan Leonardo menambah nilai plus untuk peran Archer yang dibawakannya. Leonardo makin lama semakin matang saja dalam berakting,  sebelumnya dia juga bermain bagus di The Departed. Tinggal menunggu waktu saja serta peran dan film bagus lagi untuk Leonardo DiCaprio, kemungkinan besar  dia akan mendapatkan Oscar pertamanya.
Pendalaman peran yang sukses juga diperlihatkan oleh Djimon Hounsou. Gw pribadi salut sama akting Djimon Hounsou sebagai Solomon, bener-bener menjiwai peran ayah yang bersikeras untuk menemukan keluarga dan anaknya. Tepat banget film ini memasukkan mereka berdua dalam jajaran pemainnya. Karena duo pencari berlian ini memang tampil maksimal.
Film yang juga memiliki unsur politik dan sosial didalamnya ini, menampilkan juga aktris cantik Jennifer Connelly, yang apik memerankan Maddy Bowen, wartawan Amerika yang kuat dan juga cerdas, dimana dia harus membantu dalam pencarian keluarga  Solomon dan sekaligus berlian yang diinginkan oleh Archer.
Sekali lagi gw dibuat tersentuh dan sedih dengan keadaan Afrika yang menjadi set film ini. Setelah sebelumnya, gw udah pernah liat situasi konflik yang membawa kesengsaraan bagi negara dan rakyatnya, melalui film-film seperti Hotel Rwanda, Lord of War, dan masih banyak lagi. Kenyataan tragis yang membuat gw memejamkan mata dan mengelus dada.
Situasi yang amat kacau-balau di negara yang sebetulnya kaya akan sumber daya alam, termasuk berlian, namun amat miskin karena perang berkepanjangan. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bersenang-senang dari kekacauan ini, entah itu pemimpin yang mendapat keuntungan secara materi dari konflik sehingga dia juga terus dapat memimpin atau seorang pedagang senjata seperti Archer ini yang mendapatkan banyak uang dengan memanfaatkan perang. Mereka yang pandai mendapatkan banyak uang dari konflik yang sebenarnya membuat rakyat menderita, kenyataan pahit dan memilukan yang dapat dilihat difilm ini.
Gw sih jujur nga pernah bosen untuk menonton film Blood Diamond ini, pelajaran yang bisa kita ambil dari film ini amat berharga. Selain emang filmnya bagus, penuh pesan moral, gw juga punya kenangan pribadi di film yang berdurasi 143 menit ini. Cuma nga mungkin-lah gw ungkapin disini, kan udah gw sebut sebagai “kenangan pribadi”. Hahahahahaha. Gw amat-sangat merekomendasikan untuk nonton film yang gw rating dengan nilai 4 bintang dari 5, enjoy then!!!!

Review: Gnomeo and Juliet

| Sabtu, 02 April 2011 | |
Melihat judulnya, mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya, adakah hubungan film ini dengan mahakarya William Shakespeare, “Romeo & Juliet”? tentu saja ada, karena cerita “Gnomeo & Juliet” sendiri nantinya akan seperti sebuah versi lain dari kisah tragedi cinta sepanjang masa tersebut. Persamaannya hanya mendasar pada kisah cinta dua pasang manusia… eh maksud saya patung gnome, patung kurcaci bertopi lonjong yang biasanya menghiasi kebun atau pekarangan rumah, yang terpisahkan oleh tembok perseteruan dua keluarga yang sudah lama berstatus musuh bebuyutan. Lalu untuk membedakan animasi ini dengan naskah drama Shakespeare, Kelly Asbury (Shrek 2, Spirit: Stallion of the Cimarron) yang didapuk sebagai sutradara sekaligus penulis, merombak cerita yang aslinya ditulis oleh John R. Smith dan Rob Sprackling, bersama dengan 6 orang penulis lain. Hasilnya sebuah cerita daur ulang yang lebih ringan, disesuaikan untuk konsumsi tontonan keluarga dengan pernak-pernik hiburan berwarna. Tapi jelas, walau “Gnomeo & Juliet” sudah mencoba mengumpulkan 9 penulis, cerita yang dihasilkan terbilang masih lemah, well berhasil menghibur didalam bioskop mungkin iya, namun ketika keluar dari bioskop “Gnomeo & Juliet” hanya akan jadi animasi yang tidak lama nongkrong didalam ingatan dalam artian mudah untuk dilupakan, terlebih patung-patung gnome ini justru akan mengingatkan kita dengan para mainan yang sudah lebih dulu “hidup”, kalian pasti tahu saya sedang menunjuk-nunjuk film animasi yang mana, coba tebak apa?
“Gnomeo & Juliet” akan mengajak kita bersantai di halaman belakang indah milik Tuan Capulet (Richard Wilson) dan Nyonya Montague (Julie Walters), dua orang yang tinggal bersebelahan tapi tidak akur. Keajaiban terjadi ketika sang pemilik rumah yang mengecat tempat tinggal mereka dengan warna merah dan biru ini tidak berada di rumah, patung-patung gnome yang menghuni perkarangan mulai bergerak dan hidup. Sama saja dengan pemilik rumah, kedua sisi perkarangan yang dihuni oleh gnome bertopi merah dan biru ternyata juga bermusuhan, saling bersaing satu sama lain dalam berbagai macam hal, dari siapa yang paling indah menata perkarangan sampai adu cepat di lintasan balap, bukan dengan mobil balap tentunya tetapi sebuah mesin pemotong rumput yang dikendarai oleh Gnomeo (James McAvoy) dari pihak topi biru sedangkan topi merah diwakili oleh Tybalt (Jason Statham). Persaingan di lintasan balap pun tidak menghasilkan apa-apa kecuali dendam baru karena Tybalt sukses menghancurkan pemotong rumput Gnomeo.
Ketika permusuhan seakan tidak akan pernah berakhir, cinta justru berkata lain, Gnomeo yang sedang melarikan diri sesudah menyusup ke wilayah merah, tidak sengaja bertemu dengan Juliet (Emily Blunt) yang kala itu berniat mengambil bunga anggrek langka untuk makin memperindah kebun. Gnomeo dan Juliet pun saling jatuh cinta pada pandangan pertama sambil memperebutkan bunga tersebut. Namun momen indah tersebut tidak lama karena Gnomeo menemukan bahwa Juliet berasal dari kebun merah di sebelah, yang tak lain adalah musuhnya, begitu juga sebaliknya dengan Juliet. Sepertinya permusuhan kali ini harus mengalah, karena kedua gnome ini memang betul-betul saling jauh cinta, tidak peduli cinta tersebut terlarang, apalagi dengan kenyataan Gnomeo adalah anak dari Lady Blueberry (Maggie Smith), pemimpin gnome bertopi biru, sebaliknya Juliet adalah anak Lord Redbrick (Michael Caine), pemimpin gnome bertopi merah. Saat Gnomeo dan Juliet saling menutupi hubungannya dari kedua belah pihak yang bermusuhan dan cinta mereka semakin kuat, permusuhan antara merah dan biru pun semakin menjadi.
“Gnomeo & Juliet” seperti yang saya singgung di awal paragraf, membangun ceritanya berpondasikan kisah cinta berakhir tragedi, “Romeo & Juliet”, karya Shakespeare, lalu dirombak dari tangan ke tangan 9 penulisnya. Sayangnya hasil rombakan cerita tersebut tidak dimaksimalkan untuk menjadikan “Gnomeo & Juliet” punya kisah yang lebih kuat, lebih mencengkram penontonnya, dan lebih menarik. Film animasi yang awalnya akan diproduksi oleh studio animasi Walt Disney, lalu kemudian diambil alih oleh studio asal Kanada Starz Animation ini tampaknya sudah puas ketika cerita terbatas hanya untuk menghibur. “Gnomeo & Juliet” nyatanya memang menghibur, tipikal animasi keluarga yang punya cerita ringan dengan konflik-konflik renyah, namun sayangnya sekali lagi tidak didukung oleh cerita yang menarik. Apa yang disajikan “Gnomeo & Juliet” seperti diumpamakan saya yang sedang memakan permen karet yang rasa manisnya cepat sekali hilang di mulut, film ini memang membuka kisahnya dengan menjanjikan namun begitu melewati menit demi menit, rasa “manis” itu hilang dan cerita mulai diulur-ulur dengan berbagai konflik yang membosankan.
Beruntung ketika kisah cinta dan perseteruan yang makin lama tak lagi menarik, film ini masih punya deretan aksi komedi yang setidaknya cukup membuat saya tersenyum, tidak terlalu lucu memang tapi menghibur di tengah perkembangan cerita yang hambar. Tentu saja sisipan komedi tersebut berhasil karena “Gnomeo & Juliet” punya karakter-karakter yang menarik dan lucu, yang paling menonjol adalah Nanette (Ashley Jensen) sebuah hiasan kebun berbentuk kodok yang bisa memancarkan air dari mulutnya. Sahabat baik Juliet ini tidak hanya menghadirkan gerak-gerik yang kocak tetapi juga sanggup punya dialog-dialog lucu didukung juga suara khas milik Ashley Jensen. Satu lagi karakter yang menurut saya menyelamatkan film ini dari kebosanan total adalah Featherstone, dengan aksen spanyol yang disuarakan oleh Jim Cummings, si burung flamingo berwarna merah muda ini selalu saja bisa memberikan “kesegaran” tersendiri diantara konflik dan kisah cinta Gnomeo & Juliet. Sangat disayangkan ada satu lagi atau sekelompok karakter yang menjanjikan tapi tidak diberikan porsi lebih, saya suka dengan gnome kecil bertopi merah yang di awal film sempat mencuri perhatian ketika dipercaya untuk membuka film ini, sedikit mengingatkan saya dengan karakter “minions” dari “Despicable Me”.
Walau punya kekurangan dari segi bercerita, tidak dapat dipungkiri “Gnomeo & Juliet” memiliki kelebihan dari sisi animasi. Starz Animation, yang sebelumnya memproduksi animasi untuk film “9” karya Shane Acker, kali ini mampu kembali unjuk gigi dengan menciptakan animasi yang berkualitas. Tentu saja berbeda dengan “9” yang didominasi oleh warna gelap dan animasi yang kelam, di “Gnomeo & Juliet”, para animator terlihat begitu bersemangat memberikan warna-warna yang memanjakan mata. Kurcaci-kurcaci yang terbuat dari tanah liat pun makin terlihat memang seperti patung penghuni kebun dengan warna dan pencahayaan yang dipadu-padankan dengan sempurna. Dunia gnome yang penuh warna-warni yang mencolok mata dengan kualitas animasi yang mumpuni akhirnya menjadi alasan saya untuk tetap betah duduk di bioskop sambil mengunyah “permen karet” yang sudah lama kehilangan rasanya tersebut.

Review: Sang Pencerah

| | |
Film biopik bisa dibilang tema yang jarang diangkat ke layar lebar, terlebih memfilmkan pahlawan nasional atau tokoh yang berpengaruh dari bangsa sendiri. Tercatat hanya ada beberapa film biopik yang pernah menorehkan tinta emasnya dalam sejarah sinema tanah air, diantaranya Raden Ajeng Kartini (1984) karya Sjuman Djaya, Tjoet Nja’ Dhien karya Eros Djarot di tahun 1988, Marsinah (2001) karya Slamet Rahardjo, terakhir Riri Riza sukses mengangkat nama Soe Hok Gie ke layar lebar lewat Gie di tahun 2005. Tahun ini pun sebenarnya kita memiliki film biopik, namun Obama Anak Menteng tidak bercerita tentang tokoh dalam negeri tetapi kisah hidup masa kecil Presiden Obama ketika tinggal di Indonesia (sebentar). Beruntung kita masih punya kisah inspiratif lain, film biopik lain yang akan memperkenalkan kepada kita siapa itu K.H Ahmad Dahlan. “Sang Pencerah” yang ditulis dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo pun mencoba untuk tidak tampil sebagai film yang mewakili agama tertentu, tetapi dengan bijak sanggup merangkul siapa saja yang ingin mengenal sosok K.H Ahmad Dahlan, yah siapa pun anda…
Lahir dengan nama Muhammad Darwis, si kecil Ahmad Dahlan sudah menunjukkan sisi kepeduliannya dan kegelisahannya terhadap pelaksanaan agama Islam di Kauman yang dimatanya sedikit agak melenceng dari apa yang diajarkan. Anak dari Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta dan lahir pada 1 Agustus 1868 ini semakin menunjukkan sikapnya yang kritis terhadap agamanya sendiri ketika beranjak remaja, sampai-sampai Darwis “iseng” mencuri sesajen warga untuk dibagikan kepada fakir miskin. Darwis pun meninggalkan Kauman dan pergi haji ke Mekah sambil menuntut ilmu serta mendalami ajaran Islam. Sekembalinya dari Mekah, Darwis yang kini mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan, melihat Kauman yang ditinggalkan selama 5 tahun ternyata tidak banyak berubah termasuk ajaran Islam yang masih dicampur-adukan dengan kebudayaan mistis. Ditambah para pemuka agama yang masih “kolot” dalam menerima perubahan, menolak semua yang berkaitan dengan Belanda dan melabelinya dengan produk kafir.
Ahmad Dahlan dengan pemikirannya yang lebih luas, bijaksana, namun kadang terucap dengan sederhana ini berniat untuk meluruskan arti ajaran Islam yang sesungguhnya. Dia pun dipercaya menggantikan ayahnya menjadi Khatib Mesjib Besar Kauman dan mulai membangun surau di dekat rumahnya. Surau inilah yang akan menjadi pusat penyebaran pemikiran dan ajaran Dahlan. Mengubah sudut pandang ajaran Islam yang sudah tumbuh selama setengah abad di Kauman memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, langkah kontroversial Dahlan ingin mengubah arah kiblat pun mengundang pertentangan dari penduduk Kauman dan tentu saja penolakan keras dari Kyai-Kyai disana. Ajarannya pun dianggap sesat dan berakhir dengan dirobohkannya surau miliknya. Sempat putus asa dengan reaksi saudaranya sesama muslim (memperlihatkan dia masih manusia biasa), di bantu dengan dukungan keluarga, Dahlan kembali bangkit dan meneruskan ajarannya demi kebaikan umat. Ahmad Dahlan yang sangat mementingkan pendidikan pun segera membangun sekolah, dia pun mengajar di sekolah Belanda dan mulai terlibat organisasi Budi Utomo. Reaksi keras pun kembali bertubi-tubi menghadangnya termasuk “gelar baru” kyai kafir yang diberikan kepada Dahlan.
“Sang Pencerah” bukan soal agama siapa yang benar atau salah tapi berbicara tentang perbaikan terhadap diri sendiri untuk agama. Saya jarang terbawa secara emosional saat menonton film Indonesia dan film ini dengan bijaksana dapat menuntun penontonnya untuk duduk bersama dengan Ahmad Dahlan tanpa terlihat ingin menggurui. Bertemakan film Islam, Hanung dengan cermat dapat menyingkirkan egonya dan melebarkan celah yang sebelumnya dibilang sempit menjadi selebar gerbang Mesjid Besar Kauman, yang akhirnya melahirkan sebuah film yang bisa ditonton semua orang, non-muslim sekalipun. Walau ini film bercirikan Islam tapi Hanung sanggup mengisi durasi 2 jam filmnya untuk seimbang, tidak melulu menangkap potret Islam itu sendiri, tapi berhasil juga memotret sosok Ahmad Dahlan dengan segala pemikiran dan inspirasinya yang terbalut dengan drama kehidupan yang saya kira bisa diterjemahkan dengan keyakinan manapun.
Saya tidak menyangka Hanung sanggup membalik banyak halaman sejarah, lalu dengan caranya berhasil memvisualisasikan rentang perjalanan hidup seorang Ahmad Dahlan dan dia melakukannya dengan baik. Walau sepertinya film ini terlalu banyak menjejalkan kita dengan potongan demi potongan sejarah tentang Ahmad Dahlan, tetapi pada akhirnya saya cukup betah mendengarkan cerita yang dibacakan oleh Hanung. Kejutan lain yang diberikan Hanung selain bagaimana dia sanggup membuat cerita yang mudah dinikmati, dia juga mengemas film ini dengan kualitas yang jarang dimunculkan untuk ukuran film Indonesia. Saya kembali menyebutkan kata “jarang” untuk kedua kalinya, kali ini untuk sebuah kualitas, karena Hanung berhasil memperlihatkan bagaimana film yang dibangun dengan pondasi cerita yang kokoh dapat berdiri cantik dengan sisi teknis yang manis. Lihatlah bagaimana kota Yogyakarta dan sekitarnya termasuk Kauman versi tahun 1800-an sanggup direka-ulang oleh film ini, berhasil menyatu dengan cerita dan penonton bisa seperti diajak kembali ke masa lalu. Tentu saja suasana masa lalu itu juga didukung oleh sinematografi yang apik menangkap setiap potret keadaan 100 tahun yang lalu, bersama dengan memotretkan setiap keindahan dari potongan sejarah Ahmad Dahlan.
Langkah Hanung untuk menyutradarai film yang ditulisnya sendiri merupakan langkah yang tepat, selanjutnya memilih Lukman Sardi untuk memerankan Ahmad Dahlan adalah langkah jitu berikutnya. Sosok pendiri Muhammadiyah tersebut seperti memang telah menunggu lama untuk diperankan oleh Lukman Sardi, dan aktor serba bisa ini berhasil memerankannya dengan meyakinkan. Dengan memikul tanggung jawab besar dan beban tidak ringan melakonkan pendiri Muhammadiyah tersebut, Lukman Sardi semakin memantapkan dirinya sebagai aktor terbaik yang dimiliki negeri ini. Pemain lainnya juga berhasil memaksimalkan porsi akting yang diberikan kepadanya. Termasuk para pemain muda seperti Giring, Dennis Adishwara, dan kawan-kawan, yang sukses memasukkan akting serius mereka divariasikan dengan humor-humor segar. Membawa film ini untuk tidak terus menerus tampil serius atau sedih tetapi juga ada kalanya sanggup memancing tawa penontonnya.
Jika dilihat dari sudut pandang lain “Sang Pencerah” terlihat jelas seperti sebuah cermin bergerak yang memantulkan bayangan atas apa yang tengah terjadi di masa sekarang. Dimana agama yang seharusnya menyatukan justru menjadi korban, dijadikan kambing hitam dan alat pemecah belah perdamaian. Terlepas dari apakah Hanung ingin mencoba mengingatkan bahwa 100 tahun silam “kekacauan” juga pernah terjadi, “Sang Pencerah” jelas lebih terasa seperti pengetuk hati. Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan banyak nilai-nilai moral yang bermanfaat, tetapi lewat film ini kita juga diperkenalkan dengan kisah-kisah inspiratifnya yang mencerahkan. “Sang Pencerah” layaknya seorang guru yang pandai bermain biola (oh iya, iringan musik di film ini sangat indah!!) dan bercerita tetapi tidak memaksa muridnya untuk terasa digurui, serta menjadi panutan bagaimana seharusnya film Indonesia dibuat, yah kita bisa membuat film bagus jika memang mau. Wajib tonton!

Review: Skandal

| | |










Di tahun 2001, Jose Poernomo bersama dengan Rizal Mantovani memperkenalkan kita, penonton Indonesia, dengan “Jelangkung”, sebuah film horor yang bisa dibilang sangat fenomenal ketika dirilis, film yang terkenal dengan tagline “datang tak dijemput, pulang tak diantar” ini berhasil menyedot sampai satu juta lebih penonton untuk berbondong-bondong datang ke bioskop, angka yang menghebohkan kala itu, jika melihat pada akhir 90-an dan awal 2000-an adalah masa ketika perfilman tanah air sedang merangkak bangkit setelah mati suri dan hanya diisi film esek-esek. “Jelangkung” juga semacam sebuah blueprint untuk film-film horor yang kemudian hadir, termasuk juga sekuel film ini bertajuk “Tusuk Jelangkung”, sejak saat itu “Jelangkung”-nya Jose Poernomo dan Rizal Mantovani seperti menciptakan tren baru dan film horor lokal pun kembali bergeliat dan bergairah untuk menakut-nakuti dengan variasi cerita dan tentu saja kualitas yang naik-turun, kebanyakan ‘turun’-nya sih. Jika Rizal Mantovani kemudian di tahun 2006 membuat film horor lagi, yaitu “Kuntilanak”, Jose Poernomo baru nimbrung meramaikan horor lokal lagi pada 2007, lewat film “Angker Batu”, lalu setia membuat film setiap tahun, hingga terakhir film bertema komedi “Kirun + Adul” di tahun 2009. Setelah “beristirahat” setahun, Jose Poernomo kembali tahun ini dengan film “Skandal”.
Mengusung genre drama-thriller, “Skandal” memang terbilang berani untuk menciptakan skandal di tengah ramainya film horor murahan yang masih saja setia menumpuk kotoran hingga menutupi film yang sebenarnya “berlian”, yah tentunya masih dengan formula setan kacangan dipasangkan dengan porsi “buka-buka-an”, yang keseluruhannya dikemas nanggung atau memang tidak niat buat film. Saya tinggalkan pembahasan tentang horor mesum murahan yang justru hanya membuat tidak mood menulis, lanjut kembali ke film “Skandal”, kisahnya sendiri akan berputar pada persoalan selingkuh, dimana semuanya bermula dari kecurigaan seorang istri, Mischa (Uli Auliani) terhadap suaminya Aron yang diperankan oleh Mike Lucock (Rumah Dara), yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai membiarkan Mischa “menganggur” di ranjang karena rekan sparingnya selalu menolak ketika diajak main olehnya. Mischa pun hanya bisa melampiaskan nafsu-nya sendirian di sebuah bathtub, masturbasi ditemani busa dan dihiasi teriakan-terikan birahi tanpa ada yang merespon balik, mungkin hanya penonton saja yang nantinya bisa merespon Mischa dengan berbagai candaan.
Acuhnya Aron pun berbuntut pada tuduhan Mischa bahwa suaminya telah selingkuh dengan sekretarisnya (Laras Monca) yang diperlihatkan selalu berpakaian seksi kemana-mana itu. Kecurigaan Mischa makin membuat dia paranoid dan sering bermimpi yang tidak-tidak antara Aron dengan sekretarisnya. Pada saat kecurigaan dan horny sama-sama memuncak, muncul Vincent (Mario Lawalata) yang diketahui belakangan ternyata adalah mantan kekasih Mischa. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya hubungan terlarang ini terjadi, dalam pikiran Mischa “emang suami gw aja yang bisa selingkuh, gw buktikan klo gw juga bisa”. Bermodalkan sedikit ingin balas dendam dan didominasi oleh hasrat ingin memuaskan kebutuhan seksualnya, Mischa menjadi “buta” dan lupa jika dia sudah punya keluarga, apalagi punya seorang anak hasil pernikahannya dengan Aron. Pertemuan demi pertemuan yang berakhir di ranjang pun makin menjauhkan Mischa dengan keluarga, jadi suka pulang larut malam sampai lupa menjemput anaknya di sekolah.
“Skandal” yang dibuka dengan adegan syur Mischa sedang masturbasi—dilakonkan oleh Uli Auliani dengan sangat meyakinkan—dalam sebuah bathtub dan tak ada hentinya digerayangi mata jahil lensa kamera, bisa dibilang sebuah hidangan pembuka yang lezat bagi mata lelaki, apalagi Jose Poernomo tidak malu-malu menghempaskan daya fantasi liarnya ke layar untuk makin menegaskan “Skandal” memang totally untuk dewasa, jadi bukan untuk anak kemaren sore yang masih bau kencur dan kencingnya masih belum lurus (sebentar…horee!! lurus!!). Tidak sah dong kalau “Skandal” cuma tampil berani di awal saja dan tidak lucu juga setelah dibuat “melek”, ternyata sisanya drama dan drama. Mumpung ini dikategorikan film dewasa, sudah sewajarnya Jose Poernomo menyelipkan berderet adegan syur yang saling berlomba untuk menggoda dan siap disantap oleh mata penonton, yup “Skandal” akan begitu vulgar!. Tapi bukan vulgar versi film-filmnya KK Dheraj, adegan-adegan syur malu-malu tahi kucing yang biasanya hanya ditaruh secara sembarangan disela-sela cerita yang sedang menjalankan misinya untuk menurunkan IQ penontonnya, mendoktrin kecerdasan dengan ideologi cacat bahwa bikin film itu tidak perlu pakai otak, buang kata F, I, dan L, dan sisakan M untuk Mesum.
Jose Poernomo yang juga merangkap sebagai penulis skrip dan director of photography sepertinya mengerti untuk tidak sembarang memajang Uli Auliani dengan tampilan seksi atau sempilan adegan seks, walau serasa seperti sebuah cemilan ketika bergulirnya cerita, “Skandal” mampu menempatkan seks sesuai kebutuhannya, terkadang justru diperlukan untuk menambah penegasan dalam cerita, sudah sampai dimana sih level skandal antara Vincent dan Mischa. Lagipula ini bukan lagi film anak kecil yang harus ditutupi, bukan, dan menariknya Jose Poernomo tak kenal basa-basi disini, dia mengemas skandal dengan pertemuan singkat tanpa dialog, cukup bahasa gambar, lalu “dialog” sebenarnya selalu berlanjut dengan komunikasi antar tubuh di ranjang atau di kursi belakang taksi. Namun sayangnya tidak semua keliaran yang ingin disampaikan Jose Poernomo tampil sevulgar yang diinginkan (oleh Jose sendiri maupun penonton hahaha), disinilah “Skandal” mulai membatasi dirinya dengan sedikit artistik untuk terlihat masih “sopan”, bermainlah Jose dengan adegan-adegan syur tersebut, menambahkan gaya “fade-in-fade-out” yang cepat, jadi gambar timbul lagi dan hilang lagi. Perlakuan Jose pada adegan seks-nya tersebut tentunya sangat mengganggu, melelahkan mata tapi untungnya hanya beberapa menit.
Persoalan cerita lain lagi, dikemas dengan alur yang lurus-lurus saja, sesekali kita akan diajak menengok kilas balik masa lalu Vincent dan Mischa, drama perselingkuhan dalam “Skandal” bisa dibilang terlalu melelahkan untuk diikuti karena sudah sekian banyak film yang memperkenalkan kita dengan model drama seperti ini, sebelum Mischa sadar bahwa “selingkuh itu mendatangkan bencana” dan semua film sejenis juga kompak menyerukan hal yang sama, penonton sudah lebih tahu kemana “Skandal” akan mengarahkan konflik. Ketika penonton tidak sabar untuk segera menyimpulkan akhir dari perselingkuhan antara Vincent dan Mischa, Jose Poernomo justru asyik mengulur-ngulur waktu dengan adegan yang muncul berulang. Karena ini film drama-thriller, wajar jika Jose ingin menumpuk segala macam drama namun porsinya terbilang membosankan, sejam pertama sepertinya dihabiskan untuk drama perselingkuhan dan kegalauan. Baru pada saat “Skandal” mulai melangkah ke konflik berikutnya, cerita kembali menarik dengan mulai masuknya efek samping perselingkuhan terhadap keluarga, terkuaknya “sisi gelap” Vincent dan Mischa yang ingin kembali ke keluarga walau tetap paranoid dengan Aron.
Porsi thriller betul-betul dimanfaatkan Jose Poernomo untuk mengajak penonton kembali bereaksi lewat situasi pelik dan pergolakan emosi yang mulai ditinggikan levelnya, dalam cerita yang mulai “ereksi” setelah terlalu lama dibawa “foreplay” dengan permainan kucing-kucingan antara Mischa dan suaminya. Di bagian akhir inilah cerita menampilkan gairahnya untuk memberikan rasa tegang pada penonton dan Jose Poernomo ternyata tak begitu saja membiarkan penonton keluar tanpa pertanyaan karena dia brengsek-nya masih punya twist yang lumayan menghibur. Didukung dengan pengambilan gambar yang pas, “Skandal” tidak hanya memperlihatkan betapa ketakutan itu memuncak pada diri Mischa saja tetapi juga mencoba berinteraksi dengan penonton lewat visual. Selain pengambilan gambar, “Skandal” juga memiliki kualitas gambar yang “seksi” dan memanjakan mata.
Interaksi visual antara film dengan penontonnya juga didukung oleh kemampuan Uli Auliani dalam mengatasi karakternya, permainan aktingnya secara mengejutkan bisa berhasil mengajak penonton untuk masuk ke dalam situasi cinta, perselingkuhan, serta konflik yang nantinya hadir berurutan. Uli Auliani juga mampu menghadirkan chemistry yang cukup seimbang pada selingkuhan dan suami. Mario Lawalata dan Mike Lucock juga turut serta menampilkan porsi akting yang cukup baik. “Skandal” memang hadir dengan cerita usang yang dipermak untuk terlihat baru, namun Jose Poernomo tidak mengemasnya dengan bungkus murahan. “Skandal” yang percaya diri mengklaim dirinya sebagai film dewasa juga tidak malu-malu bermain “berani”, seksi, dan vulgar, walau dengan berbagai alasan “Skandal” juga berupaya untuk membatasi filmnya agar masih terlihat “sopan”. Ditengah pilihan tontonan yang itu-itu saja, film ini bisa menjadi sebuah alternatif bagi penonton dewasa yang ingin melihat film Indonesia yang bukan horor, duh memang sudah saatnya penonton film kita diberi sebuah pilihan, tidak melulu horor, tak apa jika bagus tapi ini dengan kualitas yang merengek-rengek minta dimaki.

Review: Buried

| Kamis, 03 Maret 2011 | |

DIKUBUR HIDUP-HIDUP

“Buried” membuka menit pertamanya dengan kegelapan total, beberapa menit penonton hanya akan disuguhi suara seseorang yang terengah-engah sulit bernafas, penonton hanya bisa mendengar suara gaduh seseorang tampak berusaha memberontak keluar dari suatu tempat yang sempit, pertanyaan siapa dia dan apa yang terjadi seketika langsung hinggap dalam benak masing-masing penonton, termasuk saya yang ketika itu duduk di deretan kursi dua teratas. Sekilas saya mengingat bangun dari tidur dalam suasana yang sama—bukan mimpi, saya tahu itu karena saya dalam keadaan sadar walau belum 100 persen—beberapa saat terpikir bahwa ini mimpi, selanjutnya saya berpikir “apakah saya buta?”, momen yang menakutkan walau hanya berlangsung beberapa menit, sampai saya pada akhirnya sadar untuk bangun dari tempat tidur dan mendapati bahwa ini hanya listrik padam, leganya saya sambil mencari saklar yang berada di luar rumah.
Mungkin itulah yang dirasakan oleh Paul Conroy (Ryan Reynolds) sesaat dia sadar dari pingsannya, mendapati dirinya dalam ruang gelap gulita, susah bergerak dalam keadaan mulut terikat. Rodrigo Cortes, sutradara asal Spanyol ini sudah sukses mengantarkan mimpi buruk setiap orang pada menit pertama, mengantarkan ketakutan orang pada ruang gelap, mengantarkan ketakutan orang terikat tanpa tahu apa yang terjadi dengannya. Tapi tidak dengan Paul Conroy, ini bukanlah mimpi buruk yang setiap saat bisa hilang ketika dia terbangun. Chris Sparling (penulis film ini) memilih sebuah takdir yang sangat pahit bagi Paul Conroy, yang hanya seorang pengemudi truk. Paul Conroy akhirnya bisa bebas membuka mata ketika dia berhasil menyalakan zippo, yang secara kebetulan tidak tahu bagaimana caranya bisa ada ditangannya yang terikat.
Paul Conroy berada di sebuah peti mati! dengan cahaya yang terbatas dia bisa melihat itu, dia terperangkap entah seberapa meter di dalam tanah, di dalam peti kayu. Selama hampir 20 menit, kita pun diajak untuk merasakan ketakutan, kegelisahan, dan kebingungan Paul yang kala itu masih terbata-bata mengingat apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Tidak ada narasi, tidak ada dialog hanya ada Paul yang meneriakkan ketakutannya sambil berupaya keluar dari peti tersebut, tapi segala upayanya hanya sia-sia belaka dan upaya saya untuk menebak-nebak apa yang terjadi dengan Paul juga sama sia-sianya. Okay saya pun memutuskan tidak ambil pusing untuk terus bermain tebak-tebakan dan fokus untuk menikmati sebuah “kemalangan”, Paul pun akhirnya bisa sedikit bernafas lega pada saat sebuah telepon genggam, lebih tepatnya blackberry, bergetar tanda ada panggilan masuk. Paul pun dengan susah payah dalam kondisi sesempit itu dan oksigen yang terbatas untuk mencoba meraih alat komunikasi yang mungkin bisa menolongnya.
Untuk pertama kalinya kita akan mendengar suara orang lain, selain suara gelisah Paul, untuk pertama kalinya juga satu-persatu pecahan puzzle terkumpul, pertanyaan kenapa Paul bisa ada di peti mati tersebut akhir sedikit terkuak. Panggilan tersebut berasal dari orang yang menculiknya, meminta tebusan 5 juta dolar atau dia akan dibiarkan mati, Paul juga akhirnya ingat jika rombongannya sebelumnya diserang oleh orang tidak di kenal. Dengan menggunakan telepon genggam, Paul pun berusaha menghubungi semua orang, termasuk istrinya, perusahaannya, dan tidak ketinggalan FBI, apakah Paul akhirnya bisa diselamatkan? apakah kita juga akan “diselamatkan” untuk tidak bosan melihat film yang hanya menyorot satu orang di satu lokasi sempit atau justru sebaliknya “Buried” berhasil mengubur rasa bosan itu?
“The Amityville Horror” di tahun 2005, adalah kali terakhir saya melihat Ryan Reynolds berakting begitu ketakutan, kala itu karena melihat rumahnya berhantu. Semenjak film horor ini saya jarang lagi melihat dia “merinding”, karena Reynolds pun lebih asyik bermain dalam drama/komedi romantis. Sebelum melihat dia berakting heroik dalam balutan kostum superhero di film “Green Lantern”, film karya Rodrigo Cortes “Buried” ini bisa dibilang ajang pembuktian terbaik bagi Reynolds dimana kita bisa melihat akting yang begitu maksimal dari seorang Reynolds, yang juga kelak akan memerankan tokoh jagoan Deadpool ini. Berbeda dengan “Devil” yang juga memanfaatkan lokasi sempit sebuah lift, di sini lakon yang dihadirkan bukan lagi lima orang yang terjebak melainkan satu orang yang terkurung dalam peti mati. Jika dalam film yang ditulis oleh M. Night Shyamalan, kita masih diajak untuk bernafas bebas keluar dari kurungan lift karena film ini juga menceritakan keadaan di luar lift tersebut, “Buried” tidak melakukan itu, film ini memblokir akses penonton untuk mengetahui apa yang terjadi dibalik peti kotak kayu tersebut. Yah kita akan dikurung bersama Paul Conroy yang diperankan oleh Reynolds, selama 90-an menit tanpa sedikitpun diberi celah untuk mengintip keluar.
Rodrigo Cortes melakukan tugasnya dengan BRILIAN, memanfaatkan satu orang pemain saja dengan lokasi yang itu-itu aja plus hanya sebuah peti mati sempit dan gelap dengan minimnya cahaya. Tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya bagaimana Cortes melakukan itu, mengesekusi cerita yang hanya menyorot seorang yang terjebak dalam peti mati, apa yang akan membuat film ini menarik? pertanyaan tersebut pun akhirnya seperti “diludahi” balik oleh Cortes. Ternyata apa yang ditawarkan film yang premier di festival film Sundance ini adalah sebuah serangkaian cerita yang tidak hanya menarik, tetapi bisa membuat penonton terpaku di bangkunya masing-masing, “menghibur” saya dengan suapan-suapan ketegangan yang maksimal. Minimnya cahaya, sempitnya ruang gerak, sesaknya nafas, diperlakukan sangat istimewa sebagai “teman setia” yang kerjanya menggenjot mood kita untuk tetap sejalan dengan setiap hembusan nafas Paul yang makin terburu-buru memasukkan udara ke paru-paru. Cortes dengan cemerlang sanggup mengisi setiap menit film ini dengan ketegangan demi ketegangan yang dijamin membuat kita juga ikut bersumpah-serapah, berteriak kasar seperti apa yang dilakukan Paul.
“F**k you Cortes!” bagaimana dia bisa membuat film ini begitu emosional, tidak hanya pintar mengarahkan Ryan Reynolds untuk memaksimalkan performanya, tetapi juga dia sanggup membuat setiap emosi Reynolds untuk berinteraksi dengan penontonnya. Paul sukses melempar setiap ketakutan, kebingungan, rasa hopeless-nya, kegelisahan, dan juga termasuk kata-kata kotornya untuk tersampaikan dengan tepat hinggap di bangku para penontonnya. Ketika Paul kesal dengan pihak perusahaan, FBI, dan pihak terkait lainnya, Cortes juga dengan cerdik mampu menyelipkan sebuah pesan anti-perangnya, memberi sebuah gambaran “bodoh”-nya pemerintah Amerika ketika berurusan dengan masalah penyanderaan warganya, semua seakan berbelit-belit dan penuh birokrasi ketika semua menyangkut warga sipil dan bukan seorang jenderal. Ketika saya juga ikut memaki-maki perlakuan mereka kepada nasib hidup Paul, Cortes entah dimana sepertinya tersenyum karena sudah berhasil membuat penonton termasuk saya, untuk ikut melebur ke dalam film, untuk ikut terperangkap dalam peti, untuk ikut terkubur dalam ketegangan.
“Buried” pun tidak hanya pintar memanipulasi emosi, mengingatkan akan sebuah mimpi buruk, tetapi juga sanggup membuat kita senantiasa berada di posisi tersudut, mencekam dengan setiap ketegangan yang dimasukkan Cortes sekop demi sekop sampai akhirnya saya terkubur dengan ketegangannya. Bahkan film ini sanggup mengingatkan betapa satu bar status baterai telepon genggam itu benar-benar penting, siapapun pasti pernah berada pada posisi genting, dimana ketika handphone diperlukan justru tidak bersahabat karena “low-batt” dan kita tidak membawa charger, hidup seperti berakhir begitu saja. Film ini mengajak kita ke momen tersebut namun melipat-gandakan situasinya menjadi berpuluh kali lipat, seakan hidup Paul tidak hanya tergantung pada takdir yang sedang berlomba dengan waktu, tetapi juga bergantung pada baterai telepon genggam.
Pengambilan gambar yang menyorot layar status baterai pun sesekali diperlihatkan untuk menambah ketegangan. Berbicara soal bagaimana film ini bermain kamera, hal ini juga yang jadi kelebihan film ini. Entah apa yang dilakukan Eduard Grau dengan kamera tersebut, yang jelas dia berhasil menangkap momen-momen Paul versus peti mati dengan luar biasa apik. Setiap pergerakan kamera, memutar 360 derajat, meng-close up, dan juga menyorot lambat dari atas telah berhasil menghias visual film ini untuk selaras dengan ketegangan yang ingin dimunculkan. Ketika semua berjalan dengan brilian, sekarang tinggal bagaimana Reynolds mampu mengajak penonton untuk bermain “kubur-kuburan” dengannya, dan dia ternyata sanggup melakukannya juga dengan brilian. Cortes dan satu pemain bernama Ryan Reynolds sudah berhasil menutup rapat-rapat rasa bosan, walau dengan jalan cerita yang lambat. Namun jalan cerita tersebut memang dibuat tidak hanya untuk mengulur waktu tetapi sudah pas dalam usahanya membuat penonton menunggu, karena terkadang menunggu itu lebih buruk dari kematian itu sendiri. “Buried” sudah menyuguhkan 95 menit terbaiknya dengan menawarkan rentetan ketegangan dan juga kejutan demi kejutannya, giliran saya memberikan film ini tempat terbaik di daftar film terbaik 2010 dan memaku film ini dengan label ENDING terbaik tahun ini.

Review: Khalifah

| | |
Nurman Hakim kembali tahun ini dengan “Khalifah”, film terbarunya dengan tema yang bisa dibilang serupa dengan “3 Doa 3 Cinta”, menghadirkan nuansa relijius dan juga mengajak penontonnya untuk bermain dengan prasangka dan rasa curiga. Jika mengingat film yang yang punya judul internasional “Pesantren: 3 Wishes 3 Loves” tersebut pasti saya akan diingatkan kembali betapa setiap karakternya berhasil dibangun oleh Nurman Hakim untuk tidak lepas dari kata “dicurigai” ini dan itu, Nurman dengan cemerlang bisa mengajak nalar dan instuisi ini untuk bermain, menebak-nebak, dan sekaligus terkadang ingin langsung menuduh yang bukan-bukan, termasuk menebak-nebak apa yang akan terjadi dengan dua pemain yang dipertemukan lagi di film ini semenjak Ada Apa Dengan Cinta (2002), Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Lewat penggarapan “3 Doa 3 Cinta” yang begitu apik dilihat dari cara Nurman Hakim mengemas cerita yang berlatar pesantren hingga pembangunan karakter yang kuat—kita akan diajak untuk menilai cover masing-masing karakter sampai akhirnya kita diberi akses lebih dalam mengenal mereka. Tentu saja membuat saya berharap “Khalifah” memiliki kualitas yang sama atau bahkan lebih baik dari film yang sukses memboyong penghargaan dalam dan luar negeri tersebut.
Selain melirik nama Nurman Hakim yang duduk di bangku sutradara, sekaligus menjadi jaminan “Khalifah” bukanlah film sembarangan, saya langsung tertarik melihat daftar pemainnya, karena disitu terdapat nama Marsha Timothy. Saya tidak tahu apakah Chacha (nama panggilan akrabnya, sok akrab nih saya) bermain sinetron apa tidak setelah “Pintu Terlarang”, tapi yang jelas permainan aktingnya sangat ditunggu di film Indonesia, sesudah dia memaku saya dengan perannya sebagai Talyda di film Joko Anwar tersebut. “Khalifah” pun menjadi tambah menarik karena disini Marsha diharuskan berakting dengan memakai cadar, well yang satu ini membuat rasa penasaran bertambah nilainya satu poin. Marsha berperan sebagai perempuan muda, cantik, dan pintar, bernama sama dengan judul film ini, Khalifah. Semenjak ibunya meninggal, dia sekarang tinggal dengan ayahnya (Brohisman), yang kesehariannya bekerja sebagai penjaga mesjid, lalu ada adik satu-satunya (Yoga Pratama), yang sebentar lagi akan menginjakkan kakinya di bangku kuliah. Sedangkan Khalifah sendiri bekerja di sebuah salon kecantikkan milik Tante Rita (Jajang C. Noer), yang tidak lain adalah sahabat baik ibunya.
Bayar kontrakan rumah, biaya uang sekolah adiknya, dan keinginan untuk meringankan beban sang ayah, memaksa Khalifah untuk memeras hati dan otaknya ditengah keadaan ekonominya yang pas-pasan, sekaligus memikirkan jalan keluar lain dari masalah pelik yang dipikulnya, yaitu menerima pinangan keponakan teman ayahnya. Mudah ditebak bukan? akhirnya Khalifah pun menikah dengan pria yang dijodohkan dengannya, Rasyid (Indra Herlambang), yah cinta bisa tumbuh belakangan yang terpenting sekarang adalah membuat orang tua dan adiknya bahagia. Pengorbanan Khalifah ternyata tidaklah sia-sia, hidupnya mulai membaik dan Rasyid ternyata juga adalah orang yang soleh, maka satu-satunya cara untuk membalasnya adalah dengan mengabdi kepada suaminya tersebut. Walau sering ditinggal lama oleh suaminya karena alasan pekerjaan Rasyid yang seorang pedagang barang-barang dari Arab Saudi, Khalifah tetap loyal sampai-sampai mengikuti ajakan suaminya untuk memakai kerudung dan mampu menjaga perasaannya terhadap tetangganya, Yoga (Ben Joshua), yang tampaknya punya perhatian lebih pada Khalifah.
“Khalifah” dengan mudah membuat saya melabeli film ini sebagai film dengan tutur cerita yang bertempo lambat. Tapi hal tersebut tidak membuat “Khalifah” lemah secara keseluruhan, lihatlah bagaimana Nurman Hakim membuat kita untuk terjerat dengan konflik awal keluarga Khalifah, walau konfliknya lagi-lagi klise tapi Nurman sanggup menjaganya untuk tidak jadi dangkal, hanya pemeras simpati penonton belaka. Nurman bisa dibilang memperkenalkan konflik yang tidak dibuat berlebihan, cukup hanya satu-dua masalah diawal, uang dan rasa kasihan pada orang tua, bukan konflik “sudah jatuh kena timpa tangga pula”, disini pencipta konflik batin Khalifah masih wajar dan rasional. Nurman juga dengan baik mampu memperkenalkan masing-masing karakternya, sebaik dia mengenalkan karakter di “3 Doa 3 Cinta”. Jika Indra Herlambang sebagai Rasyid adalah karakter yang tertutup—Indra benar-benar merubah image-nya yang dikenal hura-hura menjadi pria berkumis dan berjenggot yang sangat relijius, Khalifah bisa dibilang lebih terbuka kepada penonton. Kita memang terkadang tidak diberi dialog namun kita bisa tahu apa yang sebenarnya ada di dalam benak Khalifah lewat gerak tubuh dan mimik wajahnya. Sesepi setting tempat yang dipakai film ini, rumah yang sama, mesjid yang sama, sampai halte yang sama, film ini juga menawarkan sepinya dialog, namun tidak mengurangi ramainya makna yang tersirat dalam setiap adegannya.
Saya sempat bosan dengan pemilihan lokasi yang hanya “memamerkan” rutinitas tempat yang itu-itu saja, berapa kali saya melihat adegan Khalifah memperbaiki kunci pintu rumah atau hiasan dinding berupa gambar Ka’bah (betulkan jika ternyata gambar lain). Entah kenapa Nurman hobi sekali mengulang adegan yang sama dengan lokasi yang juga sama, membosankan memang, tapi setelah dipikir-pikir mungkin ini adalah refleksi dari kejemuan yang dirasakan oleh Khalifah, kehidupan perkawinannya yang tidak memiliki variasi, menunggu suaminya pulang dan menyambut suaminya ketika datang beberapa minggu kemudian. Nurman pun mengajak penonton untuk merasakan kejemuan tersebut, rasa bosan yang dirasakan oleh Khalifah, rasa bimbang antara meneruskan menonton film ini atau keluar lebih dahulu. Saya memilih untuk tetap berada di kursi seperti halnya si pelakon utama kita yang tetap memilih berada di rumah menyambut suaminya yang kian hari semakin misterius saja dengan tas entah berisi barang dagangan atau ah entahlah. Disinilah peran Nurman diharapkan untuk lebih aktif memberikan rasa penasaran, makin membuat saya terlena dalam prasangka, dan makin mencurigai Rasyid dengan pikiran yang tidak-tidak. Nurman sudah berhasil menyetir saya sebagai penontonnya.
Nurman sebelum pemutaran film dalam press screening yang dilakukan pada Senin, 3 Januari lalu mengatakan Khalifah bukanlah film dakwah. Apakah ini film dakwah? Masing-masing penonton mungkin akan melihatnya secara berbeda dan punya opininya sendiri-sendiri. Sedangkan saya cukup puas mengatakan ini memang bukan film dakwah, jika dibandingkan dengan “3 Doa 3 Cinta” pun saya melihat pesan provokatif di film ini lebih bersahabat, sinopsis yang menyebutkan kata-kata Islam “garis keras” mungkin akan membuat kita membayangkan yang macam-macam lebih dahulu tetapi ternyata Nurman menyampaikan cerita dari sudut yang berbeda, bukan soal seperti apa Islam “garis keras” tetapi apa dampak kata tersebut (yang sepertinya sudah dikonotasikan yang buruk-buruk di masyarakat) terhadap perempuan sepolos Khalifah, yang tidak tahu apa-apa. Dia hanya memakai cadar agar membuat suaminya senang dan Tuhan tidak marah lagi—Khalifah keguguran dan Rasyid menyebut ini adalah peringatan Tuhan agar Khalifah menutup auratnya. Khalifah memang bergulat dengan batinnya dengan memakai cadar tetapi tidak untuk dicemoohkan, dipandang sebelah mata, dan ditunjuk-tunjuk sebagai istri teroris.
Ketika Khalifah mulai memakai cadar inilah konflik mulai kembali bergeliat, di satu sisi menarik dimana saya bisa melihat respon lingkungan kepada Khalifah ber-cadar, namun juga di sisi lain memperlihatkan Nurman yang sepertinya terburu-buru mengesekusi film ini. Saya melihat beberapa hal yang dikemas secara tiba-tiba, hmmm… tiba-tiba orang di halte menyebut Khalifah dengan sebutan teroris (entah kenapa adegan ini sangat aneh) dan secepat itu juga perubahan terhadap diri Khalifah terjadi dari pernikahan hingga dia bercadar, di tengah cerita yang berjalan lesu. Disinilah kedua sisi tersebut saling bertolak belakang, lagi-lagi seperti sebuah refleksi terhadap gejolak batin yang dirasakan Khalifah ketika dirinya harus memilih memakai cadar atau tidak. “Khalifah” jadi tidak menarik? tidak juga, karena masih ada jajaran pemain yang siap mendongkrak mood kita ketika menonton. Marsha Timothy mampu memaksimalkan aktingnya, perempuan yang galau, selalu mempertanyakan tindakannya, dan juga canggung. Jadi sepertinya ketika saya melihat Marsha terlihat kaku, mungkin karena aura canggung tersebut berusaha keluar secara berlebih, agar pesona polos Marsha main terlihat, apalagi ketika dia bertemu Yoga yang sama-sama kaku, maka terlihatlah adegan paling kaku di film ini. Tapi sekali lagi Nurman mungkin memang ingin membentuknya seperti itu, saya pun orang seperti Yoga ini jika bertemu perempuan, canggung akhirnya salah tingkah (lho malah curhat).
Sebagai film pertama yang tayang di tahun 2010, “Khalifah” bukanlah film yang buruk tetapi juga tidak begitu istimewa, saya sendiri masih lebih menyukai “3 Doa 3 Cinta” yang masih memiliki pesona yang kaya warna ketimbang “Khalifah” yang kurang menarik ketika berbicara soal monotonnya film ini ketika bercerita. Namun usaha Nurman Hakim, seharusnya bisa diapresiasi dengan usahanya untuk merefleksikan apa yang sebenarnya terjadi pada masyarakat kita yang pikirannya sudah terpatri seperti yang bisa dilihat di film ini. “Khalifah” mungkin ingin terlihat komersil dengan poster yang terpajang seperti itu—sekali lagi poster film Indonesia yang ingin bermain aman, namun jelas terlihat setelah menonton, “Khalifah” bukanlah film yang membuat kita berkata enak dengan sekali gigitan, bisa dibilang jauh yah dari kata film yang komersil dengan tema yang secara “relijius” serupa tapi tidak sama dalam kemasannya. Berjalan dengan lamban, membuat “Khalifah” membosankan, butuh waktu lama untuk film ini untuk menemukan jalannya mengikat chemistry kepada penonton.