Tampilkan postingan dengan label Mystery. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mystery. Tampilkan semua postingan

Review: LIMITLESS

| Selasa, 07 Juni 2011 | |

Hidup di Luar Batasan

Apa jadinya yah jika kita mampu memaksimalkan kinerja otak sampai 100%? mungkin kita bisa mendapat semacam kekuatan “super” untuk melakukan segala aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah, mengerjakan sesuatu yang biasanya membutuhkan waktu lama, menjadi lebih cepat, seperti menyelesaikan buku dalam semalam misalnya. “Limitless” bukan film tentang superhero yang mendapatkan kekuatan dari planet lain atau seseorang yang digigit serangga kemudian menjadi jenius, ini hanya kisah Edward “Eddie” Morra (Bradley Cooper) yang kebetulan looser, ganteng tetapi hidupnya berantakan, dan penulis yang tidak pernah menyelesaikan bukunya, bahkan satu kalimat pun. Kebetulan juga saat kehidupannya makin berantakan, apalagi setelah dicampakkan kekasihnya, Lindy (Abbie Cornish), dia kemudian tak sengaja bertemu dengan kakak dari mantan istrinya, Vernon Gant (Johnny Whitworth), yang dengan baik hati memberikan sebuah solusi.
Vernon bukan mau membantunya menyelesaikan bukunya, tetapi lebih jenius dari itu, ya dia memberikan sebuah pil, obat yang “orang-orang di dapur” sebut sebagai NZT-48, apa khasiatnya? pil berbentuk kecil transparan ini katanya sanggup merangsang otak untuk bekerja sampai 100% bukan 20% seperti biasanya, memaksimalkan kemampuan manusia untuk memanfaatkan otak mereka sampai kekuatan penuhnya. Walau awalnya Eddie tak percaya omongan Vernon, tetapi tidak ada salahnya mencoba lagipula dia butuh segala bantuan, termasuk obat berkhasiat magis sekalipun. Ternyata pil tersebut bukan omong kosong, efeknya bisa dibuktikan hanya dalam sekejap, tidak hanya Eddie merasakan ada perubahan dalam dirinya, tetapi layar kosong di laptopnya sekarang berisi lembar demi lembar tulisan yang dia ketik dalam semalam, sepertinya kata-kata itu membanjiri Eddie begitu saja, buku dia pun selesai.
Setelah membuktikan jika pil itu manjur dan memiliki keajaiban untuk memperbaiki hidupnya yang hopeless, dia kembali ke Vernon. Bukanlah tambahan pil yang kemudian didapat oleh Eddie tetapi masalah baru, Vernon ditembak di kepala. Eddie pun spontan mencari pil NZT sebelum polisi datang, akhirnya dia tidak hanya menemukan sekantung NZT melainkan juga setumpuk uang. Sejak pil ajaib berada di tangan Eddie, hidupnya berubah semakin cerah saja, dia sekarang manusia yang sempurna, cepat sekali belajar sesuatu yang baru, termasuk piano, bahasa asing, sampai bursa saham yang rumit itu. Dia juga tidak berantakan seperti dulu, lebih rapih dan pandai memikat orang lain, terutama wanita, dengan karisma dan kepintarannya. Eddie seperti lahir kembali, kali ini dengan ditemani NZT yang dia minum setiap hari. Walaupun kelihatannya hidup Eddie terlihat bersinar, sempurna, dan sekarang kaya berkat NZT, namun pil tersebut tidak sesempurna ketika khasiatnya masih bekerja, ada efek samping yang membahayakan. Selain itu Eddie juga akan memanen hasil dari keserakahannya, apa yang dia dapat dengan instan, dengan cepat juga Eddie akan kehilangan itu semua.
Dengan opening-nya yang memabukkan itu (dalam artian keren), “Limitless” betul-betul akan mengajak kita ke dunia seberang, ketika NZT berhasil menguasai pemakainya, kita akan merasakan seperti apa rasanya saat pil kecil tersebut mulai bereaksi. Film adaptasi dari novel The Dark Fields karangan Alan Glynn ini, tidak hanya menggiring kita untuk ikut masuk ke dalam kehidupan Eddie yang awalnya berantakan, kemudian mengikutinya pada saat hidupnya mulai terlihat “hidup” dan sempurna. Neil Burger (The Illusionist) juga akan menyelipkan visual-visual magis yang menggambarkan dengan jelas seperti apa hujan kata-kata itu, misalnya, pada saat Eddie dalam sekejap sanggup menyelesaikan bukunya, atau langit-langit rumah yang berubah menjadi angka-angka. Daya kreatifitas film ini dalam mengemas gambaran seperti apa Eddie jika dalam pengaruh obat memang luar biasa “memabukkan” mata. Neil dengan jeli sanggup memisahkan antara dunia yang real dengan dunia ketika seseorang berada dalam kontrol NZT, lewat visual-visualnya itu termasuk pemanfaatan warna dan cahaya yang berbeda untuk menggambarkan pada saat obat sedang bekerja. Untuk urusan pernak-pernik visual ini, Neil sudah bisa dikatakan berhasil dalam misinya untuk merangsang daya tarik film ini untuk bekerja 100% dalam menghibur mata penonton.
Seperti juga NZT, “Limitless” tidak sesempurna itu, tapi juga tidak seburuk efek samping yang diterima pemakai jika kelebihan dosis pil yang satu buahnya seharga $800 tersebut. Skrip yang ditulis oleh Leslie Dixon mampu dijabarkan dengan menarik oleh Neil, kita akan diperlihatkan bagaimana NZT mengubah Eddie, pokoknya membiarkan dia dan kita untuk terbuai dengan khasiat ajaib obat itu, yang pastinya akan mujarab membuat para penonton berandai-andai jika saja obat itu benar ada, maka hidup akan terasa lebih mudah untuk dijalani. Tapi film tetaplah film, buang jauh-jauh pikiran kesuksesan dalam hidup bisa dicapai dengan cara instan, Neil pun segera beranjak dari paruh awal yang santai dan penuh bayang-bayang semu kesuksesan lewat hidup Eddie yang sempurna, kemudian mengantarkan kita bahwa kemudahan tidak selalu mendatangkan sebuah kebahagiaan. Eddie boleh senang dengan segala yang dimilikinya berkat bantuan obat tersebut, tapi hidupnya jadi kosong karena dia maju terlalu cepat dan hanya bisa maju dan maju tanpa bisa menikmati apa yang dia telah capai.
“Limitless” agak kehilangan khasiat daya tariknya di awal, ketika memasuki paruh kedua dimana terlalu banyak dialog-dialog tentang bisnis dan saham yang makin menjemukkan, mungkin film ini ingin terlihat pintar, namun saya sudah agak lelah mengikuti kemauan Neil yang terlalu memaksakan filmnya dan juga bertele-tele menampilkan kesempurnaan Eddie dalam soal bisnis. Peran Robert De Niro sebagai Carl Van Loon juga tidak terlalu berdampak signifikan terhadap alur cerita film ini, dia datang dan pergi kemudian balik lagi ketika diperlukan saja. Untungnya, intrik “Limitless” tidak hanya membahas porsi dalam bisnis saja, tetapi juga bagaimana Eddie berhadapan dengan orang-orang sekitar yang berniat jahat kepadanya dan juga ketergantungannya dengan NZT. Neil mulai meningkatkan tensinya dan terbukti “Limitless” kembali seperti diinjeksi oleh obat yang merangsang daya tarik film ini untuk kembali. Keterlibatan Bradley Cooper disini benar-benar mendongkrak sisi hiburan dan komersil film ini, walau apa yang diperlihatkan Bradley sebetulnya setingkat dengan yang dia lakukan di film “The A-Team” dan “The Hangover”. Perbedaannya disini sisi karismatik Bradley betul-betul ditonjolkan dan itu membantu aktingnya untuk makin mengeluarkan aura hiburan dengan dosis yang pas. Oh iya ada satu karakter “penting yang tidak penting” disini yang sepanjang film tidak punya dialog, menarik! ayo tebak siapa?

Review: A Nightmare on Elm Street

| Senin, 02 Mei 2011 | |

Freddy Membunuh Lewat Mimpi

Jason Voorhess sudah lebih dahulu bangkit dari tidurnya di dasar danau “Camp Crystal”, si anak mama ini muncul tahun lalu lewat film remake-nya yang tidak istimewa. Begitu pula dengan si pembuat onar “Michael Myers”, Rob Zombie membukakan pintu kamar di rumah sakit jiwa dimana dia dikurung, membiarkan dia bermain dan membunuh orang. Wajar jika teman “seperjuangan” mereka, Freddy Krueger terlihat iri. Maka dari pada muncul film yang mengadu domba ketiga icon horor ini (sebelumnya sudah ada Freddy vs. Jason, bukan hal yang mustahil kelak akan ada film berisi trio pembunuh ini saling beradu mimpi buruk), Freddy berinisiatif mengadu pada orang-orang di Platinum Dunes. Curhat Freddy sepertinya membuat mereka tersentuh, maka tidak lama kemudian Freddy kembali ke layar lebar. Sial bagi Freddy, dia harus mengulang kembali apa yang pernah dilakukannya di tahun 80-an, karena “A Nightmare on Elm Street” kenyataannya adalah produk daur-ulang yang terkemas baru. Sabar yah Freddy!
Cerita bermula ketika seorang bernama Dean Russel (Kellan Lutz) melakukan bunuh diri di sebuah restoran, semua orang memang menyangka kematiannya wajar. Tapi faktanya, pemuda yang terlihat sudah tidak tidur beberapa minggu ini, tengah dihantui sesuatu. Seseorang yang misterius, mengenakan topi dan baju hangat bergaris-garis, lengkap dengan senjata pembunuh berupa jari-jari bermata pisau, mendatangi mimpinya. “Jika kita mati di mimpi, kita akan mati di dunia nyata” seperti itulah pesan awal Freddy sebelum dia menghabisi “mangsa”-nya yang lain. Kematian Dean ternyata bukan yang terakhir, Freddy mulai mengunjungi anak-anak muda lainnya. Nancy Holbrook (Rooney Mara) dan kawan-kawannya yang senasib bermimpi hal yang sama –Freddy yang ingin membunuh mereka ketika tertidur– ternyata terikat benang merah dengan Freddy, sebuah misteri di masa lalu bertanggung jawab memicu mimpi buruk ini. Nancy pun dipacu untuk berlomba dengan maut untuk mengungkap misteri munculnya pria berwajah “lucu” ini, tentu saja sambil melihat satu-persatu temannya bersimbah darah.
“1,2 Freddy is comin’ for you… 3,4 Better lock your door…” penggalan kata-kata magis dari lagu hits milik Freddy Krueger ini ternyata sukses membuat saya tertidur lelap dan bermimpi buruk tentang keseluruhan film yang berubah menjadi buruk, seburuk wajah Krueger. Ketika Nancy dan kawan-kawan berjuang setengah mati untuk tidak tidur, apa pun akan mereka lakukan demi terbangun dengan mata terbuka, dari memasang alarm sampai menyuntikan cairan adrenalin ke dalam tubuh mereka. Tapi tetap saja, bisikan Freddy lebih manjur untuk membuat mereka terlelap mimpi lalu terbangun sudah berada di peti mati. Saya tidak harus melakukan itu semua, tidak perlu membakar pergelangan tangan hanya untuk terbangun dan terlihat keren seperti anak emo dengan sekeliling mata terhias hitam (alias kurang tidur). 15 menit awal film terbukti sudah berhasil membuat saya menguap, bukan karena saya menonton jam tayang di malam hari, tapi karena film besutan Samuel Bayer ini manjur membuat kantuk layaknya pil tidur murahan.
Sutradara yang sebelumnya kerap menyutradarai video musik, termasuk band Marilyn Manson ini, sepertinya lupa waktu antara memberikan pemanasan untuk penonton dan memasukkan penonton ke dalam cerita. Kenyataannya, bagi saya Samuel menjatahkan kita untuk melakukan pemanasan terlalu lama, saya tidak ingin terlihat kejam tetapi porsi pemanasan yang membosankan menghabiskan lebih dari setengah durasi. Freddy… oh Freddy! ternyata dia tidak puas menghukum para remaja kurang tidur ini, dia justru melampiaskan kekesalannya karena bajunya terlalu sempit dengan mengajak kita juga ke mimpi buruknya. Sebuah mimpi paling membosankan yang pernah diciptakan seorang Freddy, sepertinya dia telah kehilangan kreativitasnya membuat kita mengompol karena ketakutan hanya dengan melihat bayangannya di depan pintu kamar. Freddy berubah dari pria menyeramkan yang siap menyajikan menu santap malam yang mengerikan, menjadi pelayan restoran bertopi murahan yang hanya mampu menyajikan makanan basi.
Lupakan tentang plot tidak menyegarkan, tidak istimewa, dan tentu saja mudah diprediksi dari awal. Ditambah saya tidak merasa nyaman mengikuti langkah Freddy dari menit ke menitnya, saya seperti dipaksa untuk enjoy tapi pada dasarnya saya sudah “tertidur” dari sayatan pertama Freddy. Mari kita simak bagaimana cara Freddy membawa film ini ke level tegang dan tingkat horor yang sesungguhnya. Freddy pintar muncul dimana-mana dengan tambahan efek musik yang mengagetkan, tapi sayangnya lagi-lagi formula yang dipakai Samuel adalah produk basi yang sudah dipakai di ratusan film horor. Jeda antara adegan “kaget” yang satu ke yang lainnya pun diracik tanpa perhitungan, sudah jelas-jelas gagal tapi tetap saja dimunculkan, alhasil hanya menambah nilai minus untuk film ini karena bukannya menakuti, Samuel sekali lagi berhasil mengganggu fantasi saya akan Freddy yang menakutkan. Ibaratnya Samuel menempelkan kertas bertuliskan “saya tidak seram” di punggung Freddy. Turut berduka untuk Freddy.
Dahulu saya tidak perlu menunggu adegan Freddy Krueger menghabisi “tamu” di mimpi-mimpinya, sebaliknya hanya dengan melihat wajah seram dengan tempelan luka bakar saja, itu sudah membuat saya menutup mata. Image yang sudah terbentuk dari Freddy versi Robert Englund ini sepertinya tidak bisa tergantikan. Mimik wajah pcycho dengan tatapan mata melotot tajam sudah cukup menghadirkan mimpi buruk tersendiri. Sebalik-nya, Jackie Earle Haley terlihat mengecewakan dalam balutan wajah terbakarnya. Film ini mungkin ingin “mencuci otak” penonton dengan tampilan teranyar dari Freddy, tetapi langkah itu gagal dibarengi aksi-aksi tumpul sang monster. Akting Jackie pun tidak menyelamatkan film ini dari kobaran api yang menghanguskan nilai positip filmnya. Luka bakar versi terbaru ini mungkin saja terlihat lebih alami, namun malah terlihat seperti topeng “Scarecrow” yang terjahit berantakan. Saya pun kembali merasa kasihan dengan Freddy, terutama Jackie yang tampaknya kesulitan untuk menyanyikan lagu “nina bobo” nya dibalik riasan tidak nyamannya itu. “9,10 Never sleep again…”
Satu-satunya yang menarik dan membuat saya terbangun dari tidur, sayangnya adalah ketika film sudah mencapai menit-menit akhirnya. Freddy dan sepertinya sudah kesal sendiri dengan filmnya mulai memperlihatkan siapa dia sesungguhnya, dan dunia mimpi yang diciptakannya sekarang mulai membuat saya membuka mata. Dari awal dunia alam bawah sadar milik Freddy ini, memang elemen paling menarik dari film ini, karena berhasil menghadirkan dunia yang aneh dan “spooky”. Samuel tampaknya kini harus pintar membujuk Freddy yang sedang “ngambek” di pojok kamarnya, membuatkan film sekuelnya juga sepertinya bukan ide yang brilian. Jason dan Freddy sepertinya harus segera ikut sesi terapi, karena ulah Platinum Dunes yang sukses membuat dua icon horor legendaris ini menjadi bahan lelucon. No more hide and seek, Freddy!

Review: TRIANGLE

| | |

Terjebak Dalam Lingkaran

Jess (Melissa George), ikut berlayar bersama dengan Greg (Michael Dorman), Viktor (Liam Hemsworth), Sally (Rachael Carpani), Heather (Emma Lung), dan Downey (Henry Nixon), di sebuah yacht yang tidak terlalu besar. Semua tampak menikmati perjalanan mereka mengarungi lautan atlantik yang luas, kecuali Jess. Ibu satu orang anak ini sudah berlaku aneh sejak pertama kali datang ke pelabuhan, ditambah anaknya yang autis diakuinya tengah berada disekolah. Sikap Jess yang tidak biasa itu menyulut rasa penasaran semua orang di “perahu kecil” tersebut, termasuk Greg yang selalu bertanya apakah ia baik-baik saja. Ketika laut menjadi pemandangan yang indah dan sedap untuk dipandang mata, serta Jess dan yang lainnya begitu menikmati pelayaran ini. Awan gelap yang diselimuti halilintar mendadak muncul di kejauhan, semua tahu badai akan segera mengancam keasyikan mereka. Greg pun segera memanggil bantuan penjaga pantai melalui radio, namun bukannya pertolongan yang didapat, ia malah menerima sinyal aneh yang entah datang darimana. Suara seorang wanita tiba-tiba muncul mengatakan sesuatu yang mengerikan, ketika Greg meminta posisi wanita tersebut, tidak ada jawaban balasan yang berarti dari wanita misterius. Badai pun datang tanpa diundang.
Ombak besar mulai menggulung yacht yang sepertinya tidak akan selamat tersebut. Greg bersama dengan Viktor mencoba untuk mengendalikan perahu ini agar tidak tenggelam sedangkan yang lain berada di kabin yang mulai dibanjiri air. Guyuran hujan yang deras dan ombak yang kian besar akhirnya berhasil menyapu yacht tersebut hingga terguling, menghempaskan Jess dan kawan-kawan ke lautan atlantik yang dingin. Amukan badai seketika itu pula mereda, menyisakan yacht dalam keadaaan terbalik dan para awaknya tercerai berai. Jess, Greg, dan yang lainnya berhasil selamat dan berusaha menaiki yacht yang terbalik. Namun sayangnya satu orang diantara mereka hilang, yaitu Heather. Kala harapan sepertinya sudah menghilang, sebuah kapal pesiar muncul dihadapan mereka. Tanpa pikir panjang dan ditengah ketakutan serta kebingungan, mereka mulai berteriak meminta pertolongan. Jess dan yang lainnya pun berhasil menaiki kapal besar tersebut. Tetapi apa yang mereka temui di “kapal penyelamat”-nya itu? mereka ternyata tidak menemui siapapun. Kapal pesiar ini kosong seperti tidak berawak. Jess makin bertingkah tidak jelas ketika ia mengaku seperti pernah berada di kapal ini sebelumnya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan kapal tak berpenghuni ini?
Triangle, tidak akan memberikan jawaban-jawaban secepat itu, film yang disutradarai oleh Christopher Smith ini akan terus mengurung kita dengan rasa penasaran dan menyelimuti pikiran kita dengan pertanyaan-pertanyaan yang saling bersautan. Belum selesai dengan misteri menghilangnya penghuni kapal pesiar, kita akan disuguhkan dengan misteri lainnya bersamaan dengan munculnya orang lain di kapal tersebut. Namun sosok misterius ini bukanlah orang yang akan menyambut hangat kedatangan Jess dan kawan-kawan, justru sebaliknya ia tampaknya menginginkan semua orang mati. Berawal dari Viktor yang ditemukan berlumuran darah oleh Jess dan tewas seketika, lalu berlanjut dengan suara tembakan yang ternyata berasal dari sebuah Theater. Jess yang berlari menuju kesana menemukan Greg tergeletak sudah tak bernyawa. Anehnya, Sally dan Downey menuduh Jess yang menembak. Keduanya pun berakhir dengan kematian, setelah “sang pembunuh” sukses menembak mereka dari atas balkon. Film ini memang pintar menyajikan misteri demi misterinya, kita justru akan dikejutkan dengan begitu cepatnya para pemain “ditewaskan” karena memang film ini punya kejutan lain yang siap meledakkan otak kita dengan sekali tembakan.
Sutradara asal Inggris ini dengan cerdas membawa kita terpontang-panting melalui plot yang cukup membuat kita akan meneguk sebutir aspirin. Tak cukup dengan hanya satu twist yang sukses membuat kita terbengong-bengong, Smith bertubi-tubi menjejalkan twist-twist berikutnya, yang tentu saja tak kalah mengejutkan dan mencengangkan (membuat kita kembali ingin meminum satu butir aspirin lagi). Setiap detil dari film ini begitu halus diramu, Smith tidak mengijinkan kita untuk sedikitpun lengah dan tidak memperhatikan “clue” yang ada. Wajib hukumnya untuk terus mengikuti Jess, karena dia satu-satunya yang akan membimbing kita keluar dari labirin menyesatkan ini. Film yang berdurasi 99 menit tentu saja memberi kesempatan kita untuk menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya atau bahkan ending dari film ini, tapi percayalah anda akan makin tersesat dan tebakan tersebut akan sia-sia. Sutradara yang juga menuliskan cerita film ini tahu betul mengemas setiap adegannya dengan menarik, dengan pengesekusian cerita yang matang, tak ada satupun adegan di film ini yang tidak berarti ataupun sia-sia. Layaknya sebuah rantai yang saling menyambung, adegan-adegan yang disajikan juga saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Maka dari itu dibutuhkan konsentrasi yang penuh dalam menonton film ini atau sekali lagi kita akan tersesat.
Film ini memperdaya para penontonnya tidak hanya dari cerita yang tampil memikat dan berhasil mengikat kita dari awal hingga akhir film. Tetapi juga dari ikatan emosi yang tercipta dengan apik dari tokoh utama Jess, yang dilakonkan dengan luar biasa oleh Melissa George. Aktris yang sudah sering bermain dalam film-film horor seperti: The Amityville Horror, Turistas, dan juga 30 days of Night ini berhasil menghantarkan performa akting yang sangat mendukung alur cerita yang sedang berjalan. Kita akan ikut ketakutan, kebingungan, bersama dengan Jess yang babak-belur menuntaskan setiap “halangan” yang ada didepannya dalam usahanya memecahkan misteri di kapal ini. Jess juga terbukti sukses mengajak penontonnya ikut merasa tegang ketika dia kembali berhadapan dengan “sang pembunuh”. Film yang mengambil judul dari nama yacht yang dinaiki Jess dan kawan-kawan ini memang punya level ketegangan yang sudah berada di titik didih yang pas, membaurnya dengan tingkat penasaran yang sudah mencapai titik stress. Tetapi tenang dulu, Smith tidak akan membuat anda gila dan justru memaki-maki film ini. Pertanyaan yang menumpuk, sedikit demi sedikit mulai terjawab, sekali lagi dengan syarat anda betul-betul memperhatikan tiap detil film ini. Secara keseluruhan film yang dirilis tahun 2009 ini hadir menyajikan kisah horor yang berbeda, thriller psikologis yang cerdas dan plot yang digarap rapih. Bersiaplah mengumpulkan pecahan kaca yang berserakan, mengumpulkannya menjadi satu seperti pemainan puzzle yang akan membuat anda depresi sekaligus juga mengasyikkan dan menghibur. Enjoy!

Review: Devil

| Kamis, 03 Maret 2011 | |

JIKA IBLIS ITU NYATA, MAKA TUHAN JUGA NYATA

Iblis tidak akan pernah berhenti menggoda manusia sampai hari akhir nanti, mengirim agen neraka terbaik mereka untuk mengajak sebanyak-banyaknya cucu Adam masuk ke dalam kesesatan, menjerat para pendosa untuk terbakar di api abadi sebelum mulut-mulut mereka sempat mengeluarkan kata penyesalan. Iblis selalu punya cara mempermainkan manusia, seperti sebuah permainan catur, mereka adalah ahli strategi terbaik. Ahli dalam menjatuhkan pion demi pion kebaikan manusia, merobohkan pilar demi pilar benteng keimanan manusia, dan “SKAK”! iblis tanpa sadar sudah menyudutkan manusia dalam sudut yang membuat kita tidak lagi bisa melangkah. Seperti juga iblis yang bisa datang dalam wujud apapun, termasuk manusia, permainan mereka juga hadir dalam bentuk apapun, termasuk apa yang akan dikisahkan oleh “Devil”, disini satu dari sekian banyak permainan licik iblis itu akan memainkan jiwa-jiwa manusia yang terjebak dalam ruang sempit sebuah lift. Kita juga akan diajak bermain, menebak-nebak siapa diantara mereka yang bersembunyi dalam kulit manusia, siapa diantara mereka yang berasal dari neraka?
Film dimulai dengan seseorang yang bunuh diri dari sebuah gedung, kasus misterius ini langsung memperkenalkan kita dengan detektif Bowden (Chris Messina) yang ditugasi untuk menginvestigasi kasus ini. Dalam upayanya memecahkan kasus bunuh diri yang memang cukup aneh ini, karena letak jatuhnya tepat diatas mobil yang tidak berada di tempat kejadian yang seharusnya. Bowden akhirnya mengikuti sebuah petunjuk yang menggiringnya ke sebuah gedung yang dipercaya adalah TKP yang sesungguhnya. Saat Bowden sedang menangani kasus bunuh diri ini, di gedung yang sama, sekelompok orang yang terdiri dari Ben (Bokeem Woodbine), seorang satpam gedung; seorang nenek tua (Jenny O’Hara); Vince (Geoffrey Arend), seorang salesman; seorang mekanik yang juga mantan marinir pada saat perang di Afganistan, bernama Tony (Logan Marshall-Green); terakhir ada Sarah (Bojana Novakovic), secara kebetulan bertemu dalam satu lift. Kelima orang yang tidak saling kenal ini pun disatukan oleh serangkaian kejadian aneh.
Semua dimulai dengan lift yang tiba-tiba berhenti, teknisi sudah memeriksa lift yang bermasalah dan menemukan tidak ada kerusakan apapun. Awalnya mereka yang terjebak dalam lift tenang-tenang saja karena menganggap lift akan segera diperbaiki, tapi setelah lift tak kunjung kembali normal, mereka mulai diliputi kegelisahan. Ditambah kejadian aneh yang menimpa Sarah, yang tiba-tiba terluka di bagian punggung setelah lampu lift padam. Sarah percaya jika ada seseorang yang menggigitnya dan Vince pun dijadikan kambing hitam, apalagi setelah dia sebelumnya juga dituduh “iseng” menyentuh Sarah. Vince makin terpojok ketika ada darah yang membekas di pakaian dan tangannya. Ketika setiap orang main tuduh melakukan sesuatu yang belum tentu mereka lakukan, lampu lift tiba-tiba kembali padam. Lalu setelah lampu menyala, Vince sudah tergeletak bersimbah darah dengan leher yang tertusuk pecahan kaca.
Dua orang satpam, termasuk salah-satunya bernama Ramirez (Jacob Vargas), yang dari awal berkomunikasi satu arah (mereka yang didalam lift dapat mendengar suara mereka tapi tidak sebaliknya) dengan mereka yang terjebak dalam lift dan memonitor lewat cctv, segera menghubungi pihak berwajib. Bowden yang kebetulan sedang berada di gedung tersebut pun menerima kasus baru, dia segera bergabung dengan Ramirez menyaksikkan kejadian demi kejadian aneh yang menimpa Tony dan kawan-kawannya. Bowden yang mencoba berpikir logis terus mencari-cari hubungan antara orang-orang yang terjebak dalam lift tersebut dan ternyata mereka memang membawa rahasianya masing-masing. Sedangkan Ramirez mencoba memberitahu Bowden jika semua kejadian aneh tersebut bukanlah perbuatan manusia tetapi iblis. Ketika iblis “bertamu” ke bumi semua selalu berawal dengan bunuh diri, iblis bisa datang dalam bentuk manusia, dan salah-satu dari mereka yang terjebak dalam lift adalah iblis tersebut, benarkah? siapa?
Jika iblis itu nyata maka keberadaan Tuhan juga nyata, dimana ada kejahatan disana juga pasti ada kebaikan. “Devil” bisa dibilang adalah sebuah film yang berpondasi pada nilai-nilai relijius, tapi tidak serta merta men-cap film ini terkesan hanya akan menceramahi penontonnya. Menonton film ini sama saja seperti mendengar cerita-cerita pendamping tidur yang biasanya “didongengkan” oleh orang tua pada anak-anak mereka, membuat si pendengar merasa nyaman untuk akhirnya tertidur. Seperti halnya Ramirez yang teringat akan cerita-cerita ibunya tentang iblis, pada akhirnya dia alami sendiri ketika kelima orang asing terjebak dalam lift. “Mencekam” mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang akan terjadi sepanjang film ini, dengan medium sebuah lift sebagai penyebar terornya. Membayangkan terjebak dalam lift saja terkadang sudah menakutkan, bagaimana jika kita juga terjebak dengan sosok iblis yang bersembunyi di balik manusia yang sama-sama ketakutan. Film ini pun akan mengajak kita menebak-nebak siapa serigala yang berbulu domba itu sambil juga menggiring kita untuk sama-sama merasakan claustrophobia, takut terhadap ruangan sempit seperti halnya Ben.
“Devil” bisa dikatakan cukup berhasil membangun intensitas ketegangannya dari awal lift mulai terjebak hingga misteri demi misteri terungkap, dan sosok jahat yang selama ini bersembunyi berkata “booo!”. Walau memang tidak sempurna karena seringkali film ini terpeleset ketika sudah berada di jalur yang benar untuk mengajak penontonnya untuk ikut ketakutan, tegang, dan ber-klaustrofobik-ria, ketika tiba-tiba Dowdle juga dengan seenaknya menarik kita ke luar lift untuk ikut mencari pecahan puzzle bersama detektif Bowden. Bersama dengan akting para pemainnya yang mumpuni untuk menghadirkan ketakutan yang real dan ditambah pengambilan gambar Tak Fujimoto (sinematographer langganan Shyamalan) yang apik mengurung penonton dalam visual sempit, Dowdle terus menghajar penonton dengan ketegangan demi ketegangan setiap lampu lift padam. Sekaligus menjadi pemicu pusing kepala yang manjur saat Dowdle juga tidak hanya mengajak kita untuk diliputi perasaan mencekam tetapi juga mengajak kita memecahkan kasus misterius ini, berpikir bersama Bowden untuk mencari siapa dalang semua ini.
Yah apa yang dilakukan Dowdle untuk memancing penontonnya untuk “tertipu” bisa dibilang berhasil, karena ketika kita sibuk menunggu apa yang kan terjadi dengan kelima orang yang terjebak dalam lift dan dipikat untuk membuntuti Bowden mencari setiap bukti dan petunjuk, kita justru akan lupa melihat petunjuk kecil yang diperlihatkan oleh masing-masing orang yang kesemuanya tampak tidak bersalah. Pada saat permainan iblis begitu mencekam untuk disaksikan, permainan Dowdle begitu menarik untuk diikuti sampai selesai. Dari awal film ini sudah dibuka dengan begitu mencekam dengan pengambilan gambar yang unik ditemani oleh musik Fernando Velázquez yang juga tidak kalah mencekam, sentuhan musik Fernando adalah “pemanis” yang manjur, membuat mood kita terjaga sepanjang film. Selanjutnya Dowdle langsung mengajak kita bermain dan 80 menit durasinya benar-benar dimaksimalkan olehnya. Dowdle seakan seperti mengangkut semua penonton ke dalam lift dan di setiap lantai Dowdle sudah menyiapkan kejutan-kejutannya lalu pada akhirnya menjebak kita untuk diteror olehnya dan juga sang iblis. Semoga setelah menonton film ini kita tidak takut untuk naik lift, bukan hanya takut jika lift berhenti tetapi siapa tahu diantara mereka yang naik lift, salah-satunya adalah…

Review: The Sorcerer’s Apprentice

| | |

Alright, Mr. Pointy Hat

“The Sorcerer’s Apprentice”, jadi seperti ajang reuni bagi sutradara Jon Turteltaub dan Nicolas Cage. Keduanya sebelumnya pernah bekerja sama dalam dua seri film “National Treasure”, tentu saja reuni ini juga membawa kembali sang produser bervisi elang Jerry Bruckheimer dan Walt Disney Pictures. Wajar jika film ini punya nafas dan energi yang sama dengan film petualangan mencari harta karun tersebut, bedanya Nic Cage tidak lagi mengandalkan fisik dan kecerdasan saja disini tetapi juga dia memiliki kekuatan magis. Jika pada duet Bruckheimer dan Disney “Prince of Persia” mereka menampilkan esotika padang pasir lengkap dengan keunikan budaya dan kemegahan era kekaisaran Persia saat itu, kali ini bersama Turteltaub, mereka menghadirkan dongeng penyihir dalam balutan kemodernan kota New York. Mantera-mantera berwarna-warni akan melebur bersama dengan keangkuhan gedung-gedung pencakar langit. Apakah para penyihir ini mampu menaklukkan kota yang tidak pernah tidur tersebut dan menyihir kita semua?
“The Sorcerer’s Apprentice” mengawali kisahnya dengan mengajak kita ke tahun 740, masa dimana penyihir hebat seperti Merlin dikalahkan oleh kekuatan jahat dalam bentuk penyihir wanita bernama Morgana. Dikhianati oleh muridnya sendiri, Maxim Horvath (Alfred Molina) yang bersekutu dengan Morgana, Merlin beruntung masih memiliki dua murid, Balthazar Blake (Nicolas Cage) dan Veronica (Monica Bellucci). Keduanya mati-matian menghancurkan Morgana, tapi berakhir dengan pengorbanan besar Veronica yang menjadikan tubuhnya sendiri sebagai “penjara” jiwa Morgana. Balthazar lalu mengurung tubuh Veronica bersama jiwa Morgana dalam sebuah boneka bernama Grimhold. Merlin sebelum menghembuskan nafas terakhirnya memberikan wasiat kepada Balthazar, cincin naga yang akan memilih seorang penerus Merlin, seorang “Prime Merlinian”.
Balthazar pun mengarungi lautan waktu, melompat dari zaman ke zaman mencari si anak terpilih ini dan mengurung para pengikut Morgana yang tersisa, termasuk Horvath. Lalu sampailah Balthazar di era modern, tahun 2000, dimana dia ditakdirkan untuk bertemu dengan Dave Stutler (Jake Cherry) yang masih berumur 10 tahun. Balthazar yang yakin bahwa dia akhirnya bertemu dengan penerus Merlin, memberikan Dave cincin tersebut. Keyakinan Balthazar terbukti benar, naga di cincin tersebut hidup dan melingkar di jadi Dave tanda bahwa dia adalah yang selama ini dicari, sebagai penerus Merlin yang satu-satunya bisa mengalahkan Morgana. Pertemuan ini juga tak sengaja membawa kembali permusuhan lama, karena Hovarth berhasil bebas dari boneka Grimhold. Namun perang antara dua orang penyihir ini harus tertunda karena keduanya justru terhisap ke dalam guci yang punya kekuatan sihir menahan mereka selama 10 tahun.
Singkat cerita Dave (Jay Baruchel) yang sudah beranjak menjadi remaja “geek” dan penggemar fisika, akhirnya bertemu kembali dengan masa lalunya yang sudah bebas dari guci, Balthazar dan tentu saja Hovarth yang kini memburu Dave untuk menemukan Grimhold. Awalnya Dave menolak untuk belajar sihir tetapi akhirnya dia pun resmi menjadi murid Balthazar. Keduanya akan berusaha menyelamatkan dunia dari kebangkitan Morgana dan pengikut-pengikutnya. “The Sorcerer’s Apprentice” memang sanggup menyihir saya lewat ragam efek visual yang memanjakan mata. Mantera-mantera yang pastinya mengingatkan kita pada kamehameha-nya Dragon Ball ini, mampu menjebol lapisan dinding kebosanan dan mengubahnya menjadi hiburan berwarna-warni. Segi cerita yang ringan, mudah ditebak alurnya, dengan sentuhan khas Disney yang mengobral keceriaan dan mengutamakan sisi kepahlawanan yang berlebihan, tentunya menjadi nilai plus dan minus untuk film ini.
Jon Turteltaub memang akan sangat bergantung pada sudut pandang penontonnya dalam menilai suguhan atraksi para penyihir yang saling melempar bola api  berwarna-warni ini. saya sendiri menilainya sebagai sebuah hiburan “temporary”, karena ketika keluar dari bioskop saya hanya mengingat keceriaannya saja namun tidak dengan ceritanya. Tidak ada poin menarik yang menjadikan film ini istimewa kecuali memang efek hiburan yang didongkrak dengan efek visualnya itu. Jay Baruchel yang lagi-lagi bermain sebagai anak muda yang “cupu” (sepertinya memang takdirnya untuk selalu teraniaya di film) cukup bisa menghadirkan kekonyolan yang tak mengganggu, bersama dengan Cage, mereka mampu menyuguhkan lelucon yang lumayan lucu ketika secara bersamaan harus serius menangkis setiap serangan musuh. Saya rasa hal yang paling mengganggu dari film ini adalah rambut keriting Balthazar yang terlihat “senorak” sepatu lancip untuk orang tua yang dipakainya. “The Sorcerer’s Apprentice” sepertinya harus belajar lebih banyak lagi dalam lingkaran Merlin untuk bisa menjadi penyihir yang paling hebat.

Review: Let Me In

| Senin, 14 Februari 2011 | |
Bersetting di Los Alamos, New Mexico, 1983 yang dingin dan bersalju, Owen (Kodi Smit-McPhee), bocah 12 tahun  pendiam dan penyediri yang hidup bersama Ibunya ini sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Abby (Chloë Grace Moretz) akan merubah hidupnya selamanya. Ya, semuanya bermula disaat Abby dan ‘ayahnya’ (Richard Jenkins) pindah ke apartemen tepat disebelah tempat tinggal Owen, dari sini Abby dan Owen mulai secara perlahan menjalin persahabatan, bahkan seiring berjalannya waktu mereka mulai menyukai satu sama lain. Masalahnya Owen tidak pernah mengetahui siapa Abby dan segala misteri yang disembunyikan gadis cilik itu dibalik wajah manisnya?
2008 lalu, disaat Hollywood memulai ‘invasi’  vampire movienya dengan menelurkan instalemen pertama saga Twilight, dunia perfilman pun berguncang.  Kisah romansa antara manusia  dan vampire yang diadaptasi dari novel laris  Stephenie Meyer berjudul sama itu menjadi sebuah fenomena baru yang ‘menjangkiti’ penontonnya, khususnya para penonton remaja di seluruh bumi dengan kisah percintaan antara Bella dan Edward. Di saat nyaris bersamaan, di belahan bumi lain, tepatnya di sebuah negara Eropa bernama Swedia, tanpa banyak publistas dan jauh dari hingar bingar, ‘lahirlah’ Let the Right One In / LÃ¥t den rätte komma in, sebuah horror-drama besutan sutradara Tomas Alfredson yang juga sama-sama merupakan film adaptasi novel dan mengusung tema percintaan terlarang antara anak manusia dan mahkluk penghisap darah.
Jika Twilght tampil bak sebuah sinetron romantis dengan segala ke-lebayan-tingkat tingginya, menjual wajah-wajah tampan dan jelita seorang Rpattz dan K-Stew, Let the Right One In tampil sebaliknya. Dengan segala kesederhanaanya film yang sudah banyak memboyong banyak penghargaan dari festival-festival film dunia ini membawa genre vampirefranchise milik Summit Entertaiment tersebut. kedalam tingkatan yang lebih tinggi,  yang tentunya tidak dipunyai oleh
Menilik kesuksesan yang diperoleh Let the Right One In, versi daur ulang alias remake tentu tinggal menunggu waktu saja. Benar saja, 2 tahun kemudian, atau tepatnya 2010 lalu, Matt Reeves yang sebelumnya pernah menghadirkan Cloverfield, mencoba membawa kisah vampire Swedia itu ke tanah Hollywood dalam Let Me In. Pertanyaan saya mungkin sama dengan pertanyaan kebanyakan penonton versi aslinya, “Perlukah remake untuk sebuah film yang sudah bagus?” apalagi melihat kebiasaan buruk Hollywood yang kerap kali merusak kualitas film-film orisinil dalam setiap versi remake-nya.
Untung saja ketakutan saya ternyata tidak terbukti, tidak seperti kebanyakan sineas Hollywood lain, Reeves rupanya tahu benar bagaimana membuat sebuah versi daur ulang yang baik.  Seperti halnya Let the Right One In, Let Me In juga tidak jauh-jauh dari kesan suram, dingin, kelam dan pemilihan tone warna sendu yang menghiasi hampir keseluruhan film, walaupun harus diakui tidak seperti versi kepunyaan Tomas Alfredson, Reeves tampaknya harus bersusah payah membangun tensi ketengangan dengan cara yang terbilang chessy khas Hollywood ketimbang membiarkannya mengalir  apa adanya dalam ambiguitas khas film Eropa, dalam artian Reeves masih harus menggunakan teknik-teknik konvensional seperti pengunaan CGI, scoring atau visual-visual sedikit berlebihan yang terdengar dan terlihat mengerikan untuk menegaskan kepada penontonnya bahwa Let Me In ini memang sebuah film horror. Bukan masalah yang mengganggu memang,  hanya saja menjadikan Let Me In terkesan sedikit kehilangan sentuhan art nya dan menjadi sebuah horror mainstream biasa. Namun sekali lagi, karena digarap dengan baik hal-hal minor tersebut tampaknya tidak terlalu berarti banyak, apalagi bagi mereka penonton awam yang sama sekali belum bersentuhan dengan versi orisinilnya akan tetap dibuat terpesona dengan kisah ‘romantis’ tidak biasa satu ini.
Kodi Smit-McPhee dan Chloë Grace Moretz bisa jadi adalah faktor utama lain yang menjadikan Let Me In mampu bergerak dengan baik, Keduanya sukes mengemban tugas yang pernah dibawakan oleh Kare Hedebrant dan Lina Leandersson dalam versi Swedia-nya. Walupun jujur saja Mortez terlihat sedikit lebih dewasa ketimbang versi novel maupun film aslinya, tidak membuat keduanya kehilangan chemistry yang dibangun dengan baik sejak menit-menit awal. Memang jika dibandingkan Kodi Smit yang lebih mendominasi baik porsi maupun aktingnya, Cortez terasa lebih pasif, ya, karakter misterius sebagai Abby memang secara tidak langsung membatasi performanya untuk dapat berkembang lebih jauh.
Walaupun secara keseluruhan saya tetap lebih menyukai Let the Right One In, namun harus diakui Matt Reeves telah berhasil melalukan ‘pekerjaan rumahnya’ mentransfer elemen-elemen penting novel maupun film aslinya dengan sangat baik. Ya,  Let Me In ini adalah contoh sukses bagaimana harusnya sebuah film daur ulang itu dibuat. Jarang-jarang ada remake yang mampu berbicara banyak, sebanyak film aslinya. Well Done!!

Review: Saw VI

| Kamis, 06 Januari 2011 | |

"Live or die, make your choice"

Saw VI (2009)
Perlu gw ceritain cerita film yang udah masuk seri ke-6 ini? Bagi yang gak tau serial Saw, film ini bercerita tentang serial-killer yang menangkap orang-orang yang dianggapnya tidak menghargai hidup dan menguji mereka dalam sebuah 'tes' gila untuk dapat bertahan hidup. Jigsaw killer, begitulah John Kramer (Tobin Bell), dipanggil oleh polisi dan media massa. Dalam film-film sebelumnya, diceritakan bahwa John terkena sebuah tumor ganas yang lambat laun memangsa dirinya. Sebelum ia meninggal pun, John dengan sangat pintarnya masih dapat menyusun rangkaian lika-liku tes-tes maut serta mempersiapkan 'penerusnya'.
Dalam film ke 6 ini, *sedikit Spoiler sih* penerus Jigsaw, detektif Mark Hoffman (Costas Mandylor) juga terus melanjutkan petuah dari Jigsaw. Kali ini, korbannya adalah seorang pimpinan asuransi kesehatan yang harus melalui tes dimana ia harus memutuskan siapa bawahan-bawahannya yang hidup dan siapa yang tidak.

Dari seri-seri sebelumnya pun sebenarnya kualitas film ini bisa ditebak. Cheesy story, bad acting, bad dialog & lines, complicated and more complex tests. Jujur, gw sangat menikmati Saw pertama dan kedua. Menurut gw, kedua film itu adalah 2 dari thriller psikologi terbaik yang pernah gw tonton. Tetapi sejak seri ketiga dan seterusnya, kualitas film ini cukup menurun drastis. Dari kisahnya yang sangat unik, lama kelamaan bikin muak karena jalinan ceritanya yang tambah rumit. Ujian maut nya pun semakin kesini semakin brutal, tak bermoral dan terlalu ribet. Belom lagi salah satu ciri khas Saw yaitu twist ending di setiap filmnya. Di film ini, twist endingnya yang paling gak kerasa. Apa karena sudah ketebak ya polanya? Tapi gw akuin ceritanya film ini mungkin sedikit lebih berbobot dari seri ke-4 dan ke-5.
Tapi gw gak mau munafik, gw pasti selalu penasaran dengan seri yang satu ini. Jelas, bahwa film ini tidak menawarkan sesuatu yang fresh dan sensasi thrilling seperti film awalnya. Tapi entah kenapa gw selalu penasaran dengan ceritanya dan tentu aja tes-tes yang ada di film ini. Walaupun lama-lama makin aneh dan ga jelas, tapi tetep aja bikin penasaran hahaha sempet terkesan juga sama 'russian roullette' versi Saw di film ini. Walaupun film ini pendapatannya paling rendah dari seluruh film Saw dan tidak menjadi peringkat 1 box-office, tapi kocek yg didapat selalu berkali-kali lipat dari budget yang dipakai. Ini yang katanya membuat Lionsgate udah teken kontrak sampai seri ke-10. Game over? Not yet!

Review: Inception

| | |

"Dreams feel real while we're in them. It's only when we wake up that we realize something was actually strange"

THIS REVIEW MAY CONTAIN SPOILERS. READ AT YOUR OWN RISK.
Inception (2010)
Domm Cobb (Leonardo DiCaprio) adalah seorang pencuri mimpi ulung. Ia mampu mencuri berbagai informasi rahasia melalui mimpi-mimpi seseorang. Tugasnya untuk mencuri mimpi seorang petinggi di perusahan energi, Saito (Ken Watanabe) yang berujung kegagalan nyatanya malah membuat Cobb ditawarkan sebuah pekerjaan oleh Saito. Cobb diminta oleh Saito untuk masuk ke dalam mimpi Robert Fischer Jr. (Cillian Murphy) dan menanamkan sebuah ide baru ke dalamnya, istilah lainnya adalah inception. Fischer sendiri adalah seorang ahli waris perusahaan energi yang menjadi saingan perusahaan Saito. Saito ingin membuat Fischer untuk menutup perusahaan ayahnya agar perusahaan Saito lah yang menjadi perusahaan nomor 1 di dunia. Melakukan inception sendiri bukanlah suatu hal yang mudah karena melibatkan lapisan-lapisan mimpi yang harus diciptakan agar misi tersebut sukses dilaksanakan.
Berkat penawaran Saito dan perjanjian yang menguntungkan untuk Cobb, ia kemudian membentuk suatu tim yang akan membantunya melaksanakan misi yang membahayakan tersebut. Pertama ada Arthur (Joseph Gordon-Levitt), seorang yang selama ini sering ikut serta dalam misi-misi Cobb. Lalu direkrutlah Eames (Tom Hardy), Ariadne (Ellen Page) dan Yusuf (Dileep Rao), yang masing-masing memiliki tugasnya masing-masing. Tanpa yang lain ketahui, Cobb memiliki suatu kelemahan, yaitu proyeksi mendiang istrinya, Mal (Marion Cotillard) yang selalu mengganggu dan menggagalkan misi-misi Cobb. Berhasilkah mereka semua?

Inception was really a mind-blowing movie! Tanpa basa basi, gw akan mencoba untuk mereview film paling rahasia tahun ini menurut pemikiran gw sendiri. Gw mungkin bisa membagi film ini menjadi beberapa bagian. Bagian yang pertama, atau 30 menit awal, adalah bagian penjelasan. Bagian ini mungkin agak sedikit memusingkan, tetapi disinilah kita bisa mengerti sebagian besar mengenai dunia ciptaan Nolan yang satu ini. Perekrutan Ariadne yang benar-benar baru dalam dunia mimpi ini bisa dikaitkan juga dengan kita yang belum mengenal seluk beluk dunia tersebut. Pengenalan totem disini juga membuat kita mengerti bagaimana mereka bisa membedakan antara mimpi dan realita (nice one, Nolan!). Bagian kedua, atau 30 menit berikutnya, adalah bagian persiapan. Kalau pada 30 menit awal kita mulai diperkenalkan dengan konsep dunia mimpi ini, dalam bagian ini, kita akan masuk lebih dalam mengenai apa saja rencana Cobb. Apa saja yang harus dipersiapkan, ide-ide cara pelaksanaannya dan semacamnya.

Nah bagian selanjutnya adalah bagian pelaksanaan. Rencana yang terlihat sudah sangat matang dipersiapkan nyatanya tidak berjalan semulus yang mereka perkirakan. Banyak juga resiko-resiko yang luput diperhitungkan, seperti pertahanan bawah sadar Fischer (bravo Nolan, karena dengan ini, jadi ada sosok antagonis), mystery guilt yang dipendam oleh Cobb terhadap Mal, sampai dengan perkenalan dunia limbo, atau dunia antah berantah antara mimpi dan realita. Then it leads us to the ending, beberapa teka-teki terungkap yang berakhir pada suatu, IMO, open ending. Apakah totem milik Cobb berhenti? Atau tidak? Sayangnya layar sudah terlanjur diganti dengan closing credit.

Layaknya film ini, Nolan tak hanya memberikan satu lapisan saja untuk Inception. Selain main storyline tentang penginjeksian ide ke dalam mimpi, ada juga cerita mengenai sosok Mal yang terus menghantui Cobb. Bagaimana penyesalannya terhadap kematian Mal dan kejauhannya dengan anak-anaknya ternyata sangat membahayakan misi-misi Cobb. After all, di ending, film ini akan berfokus kepada kelegaan dan penerimaan kenyataan oleh karakter Cobb. Ada lagi tentang hubungan antar ayah dan anak keluarga Fischer. Walaupun hanya mimpi, dan gw tidak mengetahui apakah ini nyata atau tidak, adegan ketika Fischer Jr. mengetahui rahasia dibalik brankas milik ayahnya menurut gw sangat mengharukan.

Kedetilan Nolan dalam menciptakan ide yang out of the world ini patut diacungi jempol. Siapa yang mengira awalnya kalau kita bisa melakukan pencurian ide melalui mimpi? Bahkan dream within dream? Atau inception? Hal hal seperti totem, limbo, atau perubahan sifat para proyeksi ditulis oleh Nolan dengan sangat baik. Sepertinya Nolan benar-benar fokus agar tidak terdapat adanya hole yang bisa meruntuhkan idenya tersebut. Tapi walaupun ada juga, toh ini adalah dunia mimpi yang ditulis sendiri oleh Nolan. Seperti bagaimana Eames bisa merubah tampilan fisik dirinya pun gw masih tidak terlalu mengerti. Selain dari dunia mimpi, pentingnya jenis pesawat yang mereka gunakan (Boeing berapa ya? lupa) agar misi mereka berhasil juga menjadi satu detil yang rasanya benar-benar dipikirkan matang-matang. Kalau di film lain mungkin tidak akan pernah disinggung. Setting yang digunakan oleh Nolan juga tak kalah imajinatif. Dari pelosok kota, sampai gunung bersalju. Dari koridor hotel hingga pantai antah berantah.

Fakta bahwa Inception ini sendiri adalah suatu film yang menuntut kita untuk berfikir sepanjang film (in a good way, though) sebagai suatu film summer mungkin memang jarang terjadi. Bahkan setelah film selesai pun diskusi tentang film ini sepertinya sulit untuk dihentikan. Film summer itu biasanya tidak terlalu memikirkan cerita, yang penting menghibur. Explosion sana-sini sudah sangat dimaklumi. Hadirnya The Dark Knight tahun lalu, sepertinya meruntuhkan anggapan bahwa film summer tidak harus pintar. Terbukti dengan racikan yang pas antara plot yang baik dan adegan aksi yang mendebarkan juga sangat menguntungkan. Sebenarnya sih memang ada yang seperti ini, namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Inception sendiri menghadirkan banyak adegan aksi yang breathtaking. Bisa diambil contoh, adegan perseteruan antara Joseph Gordon Levitt dan proyeksi alam bawah sadar Fischer dalam suatu keadaan anti-gravity bisa dibilang sangat amat seru sekali (maaf atas hiperbolanya, lol). Scene menegangkan ketika penceburan van, ataupun adegan-adegan baku tembak yang juga gak kalah heboh.

Permainan para pemainnya pun juga bisa dibilang oke. Not that outstanding, but not bad either. Leonardo DiCaprio berakting lumayan baik disini. Gw lebih suka di Shutter Island tapi. Joseph Gordon Levitt dan Tom Hardy bermain cukup prima. Dua karakter ini lah yang tak jarang menghibur dengan beberapa celetukan atau adegan yang memancing senyum. Akting-akting dari aktor lain juga pas. Alunan musik menegangkan karya Hans Zimmer yang sekilas mirip dengan score Dark Knight ini juga turut membangun tense dalam film ini. Tidak adanya embel-embel 3D pun gak membuat film ini lack of special effect. Membuat jalan kota tergulung layaknya karpet atau jembatan yang terbangun sendiri sangat seru untuk ditonton.

Inception akan memperkukuh Nolan sebagai salah satu sutradara terbaik yang pernah ada. Dengan ide yang fresh (walaupun memang terinspirasi dari beberapa film) dan kompleks, Nolan telah menciptakan suatu dunia imajinasi yang sangat asik untuk dinikmati. Keribetan dan kedetilan Inception mungkin akan sedikit membingungkan, tetapi Nolan mempersembahkan itu dengan sangat elegan. Memiliki cerita yang pintar, dibumbui dengan adegan aksi yang heboh dan special effect yang amazing, Inception adalah salah satu film summer terbaik tahun ini (in some point, gw masih memilih Toy Story 3 untuk yg terbaik). Walau begitu pun, proyek yang mungkin paling rahasia tahun ini, terbayar dengan memuaskan. Selamat Nolan, satu lagi film yang akan membuat track-listing Anda semakin cantik.

Review: Harry Potter and the Deathly Hallows part 1

| | |



Plot: The boy who lived, Harry Potter (Daniel Radcliffe) akhirnya akan menginjak umurnya yang ke-17. Umur dimana ia tidak lagi dianggap hanya sebagai penyihir cilik, dan dimana perlindungan yang dulu mendiang Ibu nya berikan, akan terhapus. His nemesis, Lord Voldemort (Ralph Fiennes) juga mulai memperkuat dirinya serta antek-anteknya, Death Eaters, hingga mampu menguasai Kementrian Sihir. Semenjak aksi pengungsian dirinya dari rumah Dursley yang berakhir tragis, Harry dan kedua sahabatnya, Ron Weasley (Rupert Grint) dan Hermione Granger (Emma Watson), tahu bahwa keadaan akan menjadi lebih dark dan difficult di hari-hari ke depan. Sebuah petualangan mencari Horcruxes (kepingan jiwa) milik Voldemort yang juga tugas peninggalan dari Dumbledore pun harus dilalui oleh trio tersebut sebagai satu-satunya cara untuk dapat mengalahkan Voldemort.
Review: Sebuah pembuka so-called epic finale dari satu series yang dianggap sebagai motion picture event of our generation, which I totally agree with. Ketika keputusan untuk membagi dua seri terakhir Harry Potter menjadi dua bagian yang pertama gw pikir adalah kesel karena jadi harus nunggu lebih lama lagi untuk melihat aksi terakhir trio favorit gw di layar lebar. Tak sedikit juga yang berspekulasi bahwa Warner Bros bermaksud untuk memerah lebih banyak keuntungan ketika tahu bahwa series 'tambang emas' ini harus berakhir. But no, setelah menyaksikan Part 1, it's not about the money, it's about the story. Dibuka dengan sangat brilian dan emotionally relevant dengan adegan Hermione harus menghapus ingatan orang tua nya dan menghapus foto-foto dirinya. Adegan ini memang tidak tergambar di bukunya, hanya sebuah cerita yang Hermione ceritakan. Tapi dengan adanya adegan ini, film ini sudah menandakan bahwa it's not like any other Potter films. The stakes were higher, the situation were getting darker. Lupakan sejenak Prisoner of Azkaban yang gw anggap sebagai Potter's darkest film yet, Part1 sekarang sudah membuktikannya dengan cerita yang lebih kompleks dan korban-korban yang berjatuhan dimana-mana.
Melihat dari alurnya, Part 1 ini memang lebih cenderung ke arah drama. Pengubahan cerita yang dilakukan oleh Steve Kloves, sang screenwriter memang tidak terlalu signifikan. Bahkan bisa dibilang Part1 diadaptasi hampir seperti bab per bab dari bukunya. Untuk mereview filmnya tentu harus berpakuan pada cerita novelnya. Untuk ceritanya sendiri, Rowling memang ratunya dalam hal mengaduk emosi tanpa menghilangkan tingkat ketegangan. Untungnya lagi masih ada selipan humor-humor khas Rowling yang dipakai dalam film ini. Sebagai seorang pembaca, tidak sulit bagi gw untuk mengikuti alurnya. Mungkin untuk non-reader atau hanya mengikuti filmnya akan agak sulit mencerna banyak informasi. Singgungan cerita-cerita maupun tokoh-tokoh terdahulu yang diselipkan disini juga menjadi suatu nostalgia tersendiri. Seru melihat tokoh-tokoh lama bermunculan disini, yang juga banyak tambahan karakter-karakter baru (beberapa overdue yang harusnya muncul sebelum2nya) seperti Bill Weasley, Mundungus Fletcher, beberapa Death Eathers, serta si eksentrik Xenophillius Lovegood (Rhys Ifans).

Untuk divisi akting, trio Radcliffe-Grint-Watson memang sudah terlihat mendewasa seiring dengan filmnya yang semakin gelap. Walaupun jujur, masih terasa adanya awkward moment disana-sini, yang probably kesalahan terletak pada naskah, tapi hubungan antara mereka terasa lebih kuat. Akting-akting pemeran pembantu juga gak kalah heboh, walaupun porsi mereka sangat minim disini. Helena Bonham Carter yang menjadi si gila Bellatrix masih terasa menyeramkan, Jason Isaacs sebagai Lucius Malfoy juga terlihat menderita akibat tekanan batin sang Dark Lord. Part1 juga memanjakan kita dengan sinematografi gemilang, sama seperti Half-Blood Prince. Sepertinya akan mendapat Oscar nod lagi nih. Score nya juga walaupun tidak begitu gembar-gembor, masih terasa pas menjaga intens cerita.
Kembali ke adaptasinya, memang ada beberapa hal yang diganti untuk lebih mudah divisualisasikan dan tidak membuang waktu bertele-tele (movie-wise speaking). Tapi melihat penggambaran sempurna Seven Potters, breakout to Ministry, meeting with 'Bathilda', sampai penceritaan Deathly Hallows yang sepertinya harus digarisbawahi karena dibuat dengan sangat artistik, membuat gw sangat puas dengan adaptasinya. Seperti yang gw bilang, cerita Part1 ini memang terlihat lebih dewasa dari film-film sebelumnya. Karakter-karakter tidak sedikit yang kehilangan nyawa, satu adegan antara Harry dan Hermione yang berciuman mesra (walaupun hanya imajinasi), penyiksaan Bellatrix pada Hermione dan beberapa adegan lainnya memang terasa bukan adegan dalam film family-oriented lagi.
Salah satu hal yang membuat Part 1 menarik adalah unsur magic bukan lah menjadi suatu hal ditonjolkan atau dipusatkan, tapi special effectnya yang luar biasa mengagumkan benar-benar menyatu dengan cerita. Ingat bagaimana terkesannya kita ketika pertama kali quidditch dimainkan, ataupun saat Harry harus bertarung dengan naga dalam Goblet of Fire? Part 1 memang memiliki adegan-adegan dengan special effect yang seru. Aksi cursing (not profanity) dengan tongkat sihir, transformasi seven Potters, adegan dalam Ministry dibuat dengan natural. Memang agak terasa terlalu cepat antara pergantian sequence, tapi dengan alur yang dibuat menarik, jadi adegan demi adegan masih bisa enak dinikmati. Kalau Half-Blood Prince sempat dicerca karena membuat ending yang sangat menggantung dan anti-klimaks. Kloves dan Yates membuat keputusan tep at mengakhiri Part1 dengan adegan yang menyayat hati. Adegan kematian salah satu tokoh yang loveable dibuat secara dramatis dan lebih emosional daripada kematian Sirius maupun Dumbledore yang gw anggap tidak seru sama sekali.

Part 1 adalah sebuah pembuka yang memuaskan untuk ending Harry Potter, dengan fokus pada cerita yang mostly loyal dengan bukunya dan emotional feeling pada karakter-karakternya. The effect? Well it's a Harry Potter fi lm, you'll find the most sophisticated special effect you'll ever find these days. An emotional roller-coaster ride with magic blend in its core. Akting-akting para pemain utama juga ikut dewasa sesuai dengan atmosfir filmnya. Layaknya mengobati kesalahan Half-Blood Prince, ending film ini terasa sangat membuat penasaran dengan cliffhanger yang ditaruh dengan pas. Gw sejujurnya memang lebih menyukai the second half of the book, yang jauh lebih tegang dan seru. But to know what David Yates brought to the first half, I am really excited to watch the other part so freaking bad. July 2011, come sooner pleaseeeee.

Review: Zodiac

| | |



Plot: San Fransisco, akhir dekade 60an. Publik digegerkan dengan seorang serialkiller yang menamakan dirinya 'Zodiac'. Terror dari mass murderer tersebut bermula ketika satu surat kabar mendapat surat tantangan dari Zodiac. Dalam surat-suratnya, Zodiac mengaku telah membunuh belasan orang bahkan ia akan terus melakukan hal tersebut. Hal ini menarik perhatian seorang kartunis Robert Graysmith (Jack Gyllenhall) yang hobi memecahkan teka-teki dan jurnalis Paul Avery (Robert Downey, Jr.) Hal yang sama juga mengusik dua detektif, Inspector David Toschi (Mark Ruffalo) dan William Armstrong (Anthony Edwards). Kasus yang berlarut-larut ini nyatanya tanpa tidak disadari membuat mereka terobsesi. Sebenarnya siapakah sosok dibalik Zodiac itu?

Satu lagi sebuah film authentic dan seriously-created dari sutradara David Fincher. David Fincher dikenal dengan film-film thriller dan suspensenya seperti Se7en, Fight Club, The Game dan Panic Room serta film Oscar material seperti The Curious Case of Benjamin Button. Fincher pun saat ini sedang dibicarakan dimana-mana berkat film teranyarnya, The Social Network dipuji dimana-mana. Predikat Best Director untuk Oscar tahun depan memang masih sangat jauh untuk disematkan mengingat masih banyak film-film yang mampu menyalip film paling bersinar sejauh ini untuk Oscar Race tahun 2011. Proyek Fincher selanjutnya juga tidak main-main, me-remake sebuah film Swedia, The Girl With The Dragon Tattoo.

So lets talk about the movie more. Zodiac adalah suatu film yang exhaustingly intriguing. Durasinya yang mencapai 2 jam lebih menjadi tidak terasa dengan serunya naskah dan akting para pemainnya. Naskah film ini diinspirasi oleh kejadian yang benar-benar terjadi. Spoiler, no spoiler, sepertinya sudah menjadi suatu pengetahuan umum bahwa kasus Zodiac ini sampai saat ini belum officially cracked. Siapa kah Zodiac yang asli? Masih menjadi misteri. Walaupun memang ada spekulasi yang mengatakan bahwa mereka telah menemukan tersangka utama yang diyakini memang benar-benar wujud asli dibalik Zodiac, tapi toh sebelum disidangi tersangka tersebut sudah terlanjur meninggal duluan karena sakit jantung. Jadi, apa yang membuat film ini asik untuk ditonton?

Pertama adalah inti dari fokus utama cerita ini. Zodiac karya Fincher ini tidak hanya berfokus tentang lika-liku aktifitas sang antagonis, tetapi juga aspek negatif yang turut diakibatkan kepada orang-orang yang menginvestigasi kasus ini. Take Graysmith (Gylenhall) and Toschi (Ruffallo) for examples. Berhari-hari, minggu, bahkan bertahun-tahun mencari kebenaran tentang kasus ini ternyata membuat kehidupan mereka jadi lebih complicated. Semua konsentrasi tercurahkan hanya untuk mengetahui siapakah Zodiac itu. Ada satu adegan yang cukup lucu menurut gw ketika karakter Robert Graysmith turut mengikutsertakan anak-anaknya untuk membantu memecahkan teka-teki Zodiac.

Permainan akting yang jempolan juga dibawakan dengan baik oleh Jake Gylenhall, Robert Downey, Jr., Mark Ruffallo dan yang terluput, Anthony Edwards. Sebenernya baru nyadar juga sih, Robert Downey ini walaupun bermain sangat baik dan kadang-kadang memancing senyum dengan tingkahnya yang sedikit arogan, tapi karakter seperti inilah yang sekarang menjadi stereotip bagi Downey. You really need to step out of you comfort zone, sir, before people consider you boring.

Film ini memang benar-benar bernuansa 60-70an. Dilihat dari setting, costume hingga penataan musiknya. Ini mungkin yang gw suka dengan film-film David Fincher yang selalu authentic. Kesan realistis bahwa film ini terinspirasi dengan kejadian nyata juga tertuang dengan time table yang teratur. Gak langsung, besoknya besoknya besoknya. Tapi loncat2 misalnya ke 3 hari kemudian, beberapa bulan kemudian hingga beberapa tahun kemudian, tergantung dengan adanya informasi baru terkait dengan kasus Zodiac. Keseriusan David Fincher beserta sang scirptwriter dan produser menginvestigasi kasus ini secara mendalam untuk memperakurat cerita juga patut diacungi jempol. Satu lagi yang membuat film-film David Fincher juara adalah: brilliantly beautiful cinematography dan warna-warna yang pas untuk mendampinginya. Coba saksiksan sendiri Zodiac dan lihat betapa artistiknya penangkapan adegan2nya yang luar biasa. Kudos buat DOP dan cameramennya!

Apa yang patut disayangkan adalah minimnya respon publik terhadap film ini. Dirilis pada bulan Maret memang sebenarnya bisa dibilang agak sedikit salah. Musim dimana bukan musim yang lazim untuk mencari keuntungan (walaupun akhirnya mitos ini dihancurkan oleh financially succesful Alice in Wonderland). Serta musim yang juga kurang mendapat respon baik dari awards-season yang biasanya dimulai musim Fall. Bertengger di beberapa top 10 kritikus memang sebenarnya sudah menjadi prestasi tersendiri bagi Zodiac. Gw yakin sebenernya, sama seperti Fight Club, Zodiac mungkin akan menjadi cult movie yang cukup terkenal beberapa tahun mendatang.

Great movie with a great script and great performances. David Fincher memang, sama seperti Christopher Nolan, memiliki suatu skill yang brilliant untuk meng-craft karya mereka menjadi sangat artistik dan memiliki ciri khas. Zodiac ini memang berdurasi panjang dan beberapa scene terlihat terlalu sadis, tapi dengan skrip yang dinamis serta cinematography yang apik dan musik yang oke membuat Zodiac tidak membosankan. Tagline film ini juga pas sekali dengan pesan yang ingin dibawa Zodiac; There's more than one way to lose your life to a killer. For short: dont get too obsessed! Lol. Anyway, Zodiac is a must!