Review: Blood Diamond

| Kamis, 07 April 2011 | |

Lebih Dari Sekedar Pencarian Sebuah Berlian

Blood Diamond
Bersetting tempat di Sierra Leone pada saat konflik dan perang sipil tahun 1999. Diperlihatkan dalam film ini, dimana negara hancur berantakan dikarenakan perlawanan antara pihak tentara pemerintah dan pihak pemberontak. Film ini menggambarkan dengan jelas kekerasan dan kejahatan yang mengerikan diakibatkan oleh perang. Termasuk amputasi tangan orang-orang tidak berdosa oleh pihak pemberontak, hanya agar mereka tidak bisa lagi ikut dalam pemilu.
Film dimulai dengan penangkapan Solomon Vandy (Djimon Hounsou), seorang nelayan miskin, oleh pemberontak Revolutionary United Front (RUF) saat mereka menyerang sebuah desa bernama Shenge. Terpisahkan dari keluarganya, khususnya anaknya yang dibawa oleh RUF, Solomon dijadikan budak di sebuah tambang berlian dipimpin oleh Captain Poison. Sedangkan anaknya bernama Dia, yang diculik oleh pemberontak RUF, dicuci otaknya untuk akhirnya menjadi pembunuh.
RUF memanfaatkan berlian untuk mendanai perang mereka, menukar berlian-berlian itu dengan senjata api. Saat bekerja di tambang berlian, Solomon dengan tidak sengaja menemukan berlian berwarna merah muda yang langka. Sesaat sebelum serangan pasukan pemerintah, Captain Poison melihat Solomon yang berusaha menyembunyikan berlian tersebut. Akibat serangan, Captain Poison terluka sebelum dapat merebut batu berlian dari Solomon. Keduanya akhirnya dibawa ke penjara Freetown, ibukota Sierra Leone.
Danny Archer (Leonardo DiCaprio), mantan tentara bayaran dari Rhodesia (now Zimbabwe), berdagang senjata dengan imbalan berlian dari Komandan RUF. Berusaha membawa secara ilegal berlian, Archer tertangkap dan di penjara. Archer bekerja membawakan berlian kepada seorang tentara bayaran asal Afrika Selatan bernama Colonel Coetzee, yang sekaligus menjadi bawahan sebuah perusahaan berlian milik Van De Kaap. Archer yang sangat putus asa karena kehilangan berlian ketika dia tertangkap dan dimasukkan ke penjara yang sama dengan Solomon, berusaha mencari cara agar ia bisa membayar berlian yang hilang kepada Colonel Coetzee.
Saat di penjara inilah, Archer mengetahui ada penemuan berlian besar merah muda dan berencana menemukannya. Setelah keluar dari penjara dan mengatur pembebasan Solomon, Archer menawarkan bantuan kepada Solomon untuk mempertemukannya dengan keluarganya dengan imbalan berlian. Archer dan Solomon, dibantu oleh Wartawan Amerika bernama Maddy Bowen (Jennifer Connelly), berusaha mencari keluarga Solomon diantara rumitnya situasi di Sierra Leone.
Archer yang berencana hanya memanfaatkan Solomon dan mencuri berlian lalu kabur dari Afrika selamanya, namun rencana tersebut tercium oleh Bowen. Bowen yang seorang humanitarian, menolak membantu Archer asalkan memberitahu semua informasi mengenai perdagangan berlian untuk menghentikan berlian-berlian berdarah ini keluar dari Afrika dan menghentikan pendanaan untuk konflik ini. Archer pun memberikan semua informasi yang ada, lalu mendapatkan akses ke Kono untuk berlanjut mencari berlian.
Perjalanan yang penuh rintangan dari pihak pemberontak dan juga medan yang berat menuju berlian yang dicari, menambah kedekatan antara Archer dan Solomon, bukan lagi sebagai partner dengan tujuan masing-masing, tetapi sebagai teman yang saling membantu. Keduanya yang semula bersifat egois dan keras kepala dikarenakan desakan kepentingan pribadi, dengan pencarian keluarga dan berlian ini, akan mengubah segalanya. Archer pun akan mendapat pelajaran yang amat berharga yang selama ini dia abaikan begitu saja. Konflik, Dosa, Darah dan Berlian menyatukan dua orang ini. Akankah Solomon bertemu dengan keluarganya dan Archer mendapat berlian yang diinginkannya?
Archer & Solomon
Blood Diamond, merupakan film bagus yang menguras emosi gw. Edward Zwick, sang sutradara berhasil membuat film yang lengkap akan drama, action, dan pesan-pesan moral didalamnya. Film yang dinominasikan untuk 5 oscar ini,  termasuk nominasi bagi Leonardo DiCaprio sebagai Aktor Terbaik dan Djimon Hounso sebagai Aktor Pendukung Terbaik. Keduanya memang menampilkan akting terbaiknya untuk film yang dibuat tahun 2006 silam.
Khususnya dengan aksen khas Inggris-Afrika yang dibawakan Leonardo menambah nilai plus untuk peran Archer yang dibawakannya. Leonardo makin lama semakin matang saja dalam berakting,  sebelumnya dia juga bermain bagus di The Departed. Tinggal menunggu waktu saja serta peran dan film bagus lagi untuk Leonardo DiCaprio, kemungkinan besar  dia akan mendapatkan Oscar pertamanya.
Pendalaman peran yang sukses juga diperlihatkan oleh Djimon Hounsou. Gw pribadi salut sama akting Djimon Hounsou sebagai Solomon, bener-bener menjiwai peran ayah yang bersikeras untuk menemukan keluarga dan anaknya. Tepat banget film ini memasukkan mereka berdua dalam jajaran pemainnya. Karena duo pencari berlian ini memang tampil maksimal.
Film yang juga memiliki unsur politik dan sosial didalamnya ini, menampilkan juga aktris cantik Jennifer Connelly, yang apik memerankan Maddy Bowen, wartawan Amerika yang kuat dan juga cerdas, dimana dia harus membantu dalam pencarian keluarga  Solomon dan sekaligus berlian yang diinginkan oleh Archer.
Sekali lagi gw dibuat tersentuh dan sedih dengan keadaan Afrika yang menjadi set film ini. Setelah sebelumnya, gw udah pernah liat situasi konflik yang membawa kesengsaraan bagi negara dan rakyatnya, melalui film-film seperti Hotel Rwanda, Lord of War, dan masih banyak lagi. Kenyataan tragis yang membuat gw memejamkan mata dan mengelus dada.
Situasi yang amat kacau-balau di negara yang sebetulnya kaya akan sumber daya alam, termasuk berlian, namun amat miskin karena perang berkepanjangan. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bersenang-senang dari kekacauan ini, entah itu pemimpin yang mendapat keuntungan secara materi dari konflik sehingga dia juga terus dapat memimpin atau seorang pedagang senjata seperti Archer ini yang mendapatkan banyak uang dengan memanfaatkan perang. Mereka yang pandai mendapatkan banyak uang dari konflik yang sebenarnya membuat rakyat menderita, kenyataan pahit dan memilukan yang dapat dilihat difilm ini.
Gw sih jujur nga pernah bosen untuk menonton film Blood Diamond ini, pelajaran yang bisa kita ambil dari film ini amat berharga. Selain emang filmnya bagus, penuh pesan moral, gw juga punya kenangan pribadi di film yang berdurasi 143 menit ini. Cuma nga mungkin-lah gw ungkapin disini, kan udah gw sebut sebagai “kenangan pribadi”. Hahahahahaha. Gw amat-sangat merekomendasikan untuk nonton film yang gw rating dengan nilai 4 bintang dari 5, enjoy then!!!!

Review: The Book of Eli

| | |

Buku Misterius Penentu Nasib Manusia

Siluet masa depan, mungkin kata-kata yang cocok untuk mewakili visualisasi yang coba dilukiskan oleh Albert Hughes dan Allen Hughes di “The Book of Eli”. Sebuah proyeksi suram yang coba di tampilkan oleh duo sutradara yang kerap dijuluki dengan The Hughes Brother ini, mengundang kita untuk bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan bumi dimana Eli (Denzel Washington) sekarang hidup. Lekukan-lekukan kehancuran dan hitam pekat kehidupan terpigura dengan “manis”, yah manis namun hampa layaknya bentangan padang pasir yang sekarang menyelimuti tanah subur peradaban manusia. Semua tampak mati tak bernyawa, begitu pula kota-kota yang dulu pernah ramai oleh suara bising manusia yang berseliweran menumpuk impian, harapan, kekayaan, pahala, dan juga dosa. Melalui perjalanan Eli kita akan meneropong jauh ke masa depan, dimana diceritakan dunia yang terlahir kembali dari puing-puing perang besar yang terjadi 30 tahun silam. Kini yang tersisa dari perang (perangnya sendiri tidak pernah dijelaskan secara rinci, mungkin perang nuklir) tersebut hanyalah kematian.
The Hughes Brother tentu tidak akan membiarkan perjalanan Eli melintasi aspal tandus tak berujung ini berakhir membosankan dengan rutinitas pria berkacamata hitam lengkap dengan tas besar dan senjata ini mencari makan dan “survive” di Amerika yang sekarang berembel-embel “post-apocalypse”. Eli yang mempunyai misi pribadi menuju ke barat ini tak begitu saja lepas dari ancaman yang mempertaruhkan nyawanya. Penghuni bumi tak lagi ramah di masa ini (apakah kenyataannya ramah?), mereka tak mengenal hati nurani, tanya mereka untuk menulis atau membaca, itu pun hal yang sulit dikerjakan. Bodoh dan tak punya rasa kemanusiaan, melengkapi dunia yang tak lagi punya warna ini. Eli yang seorang diri berjalan setapak demi setapak tanpa teman ataupun “bodyguard” hanya akan menjadi sasaran empuk para perampok tak punya otak ini, yang ada di otak mereka hanya bagaimana mendapatkan barang milik orang lain untuk bisa “survive” hari ini dan esok.
Disinilah secara mengejutkan sutradara yang menghilang selama 10 tahun lamanya (well, karya terakhir mereka adalah “From Hell” di tahun 2007) ternyata menambahkan warna berbeda ke dalam filmnya. Sekilas kita mengira Eli hanyalah manusia yang beruntung masih bisa hidup dan tidak punya kemampuan apa-apa, namun itu semua diubah ketika dia harus berhadapan dengan maut. Eli diperlihatkan mahir “bermain” dengan machete-nya, kawanan perampok tak ubahnya seperti keju yang terpotong-potong dengan mudah. Hughes Brother mengemas adegan action-nya tidak setengah-setengah, dengan berani mereka menghadirkan aksi-aksi Eli yang sadis menebas musuh-musuhnya. Di awal film, kekerasan yang bukan lagi berada di level ringan ini sudah mulai menjilati adrenalin kita, menghibur dengan caranya sendiri lewat tangan terpotong dan kepala yang terputus karena tebasan Eli. Tetapi jangan dulu menyimpulkan ini adalah film yang akan hanya mengobral adegan kekerasan dan action murahan. Semua tambalan action tersebut tertata rapih dengan koreografi yang tidak asal. Di film berdurasi 118 menit ini pun, Denzel melakukan aksi-aksi perkelahiannya tanpa stuntman alias mencontoh ala Jacky Chan.
Bagian demi bagian plot cerita bergulir datar sampai akhirnya menghantarkan Eli ke sebuah kota kecil yang dipimpin oleh Carnegie (Gary Oldman), seorang yang mempunyai visi yang sebenarnya “mulia” namun tercemar oleh niat buruk ingin menumpuk kekayaan dan menguasai manusia lain demi kepentingan diri sendiri. Sekali lagi kota ini dihiasi pesona “post-apocalyse” yang kental. Aroma kehancuran tercium tajam lewat puing-puing kota mati yang sekarang dihuni oleh manusia-manusia baru yang tersesat. Tak pernah mengenal Tuhan, tak punya panduan hidup, apalagi aturan dan hukum, mereka tak pernah membaca dan kehilangan sumber pengetahuan. Karena ternyata semua buku yang ada didunia ini sudah hangus terbakar bersama perang. Eli dengan misi ke baratnya pun dikisahkan memiliki buku yang kelak bisa menyelamatkan umat manusia. Sebuah buku yang akan menjadi panduan manusia menapaki hari esok yang tampaknya tidak begitu cerah.
Carnegie pun tidak menyia-nyiakan kedatangan Eli, buku yang selama ini dia cari pada akhirnya diantar langsung oleh orang asing dan dia sangat menginginkan buku tersebut bagaimanapun caranya. Namun sayangnya Eli orang yang sangat keras kepala dan lebih memilih meninggalkan kota tersebut daripada harus bergabung dengan Carnegie dan teman-temannya, tentu saja Eli juga tidak begitu saja melepaskan buku yang dibawanya untuk jatuh ke tangan Carnegie. Hughes Brother sudah memoles dunia paska kiamatnya dengan amat kejam tanpa ampun, lewat aksi “tegas” si pembawa buku. Lalu ketika cerita mulai berkembang menjadi perseteruan antara Eli vs. Carnegie, film ini menjadi semakin menarik sekaligus terlunta-lunta. Hughes Brother memang patut diacungi jempol ketika tampil membawakan tema “post-apocalypse” yang berbeda, apalagi ketika menyadari bahwa makin menuju ke akhir sebuah pesan religius di film ini makin terasa. Paska kiamat, cerita yang religius, dan menariknya setting kehancuran, menjadi resep andalan film ini untuk bisa disukai penonton.
Cukup disayangkan, resep menarik yang ada ternyata tidak didukung oleh plot dan juga segi akting. Berbicara soal plot, dari awal bisa dikatakan film ini berjalan terlunta-lunta dengan cerita berkisar pada bagaimana caranya Eli melindungi dirinya dan bukunya. Walaupun cerita berkembang dengan masuknya tokoh sidekick- seperti Solara (Mila Kunis), tambahan adegan action dimana-mana, dan misteri yang lambat laun terkuak, semua itu sepertinya tidak menghantar film ini menjadi sesuatu yang istimewa. Denzel Washington yang punya porsi mendominasi juga sedikit mengecewakan, aktingnya dirasa lemah dan kurang mengundang simpatik. Begitu pula Gary Oldman, walau tampil liar menjadi seorang Carnegie, aktingnya juga kurang ditempa dengan sempurna. Hasilnya pemeran Gordon di dua seri Batman ini, kurang maksimal mengeluarkan kebolehannya berakting.
Akting biasa dari keduanya pun berimbas pada perseteruan Denzel vs. Oldman yang terlihat “dingin” dan tak berchemistry. Tidak usah membahas soal Mila Kunis, jelas peran dia disini hanya sebagai pemanis, lumayan-lah sebagai seorang side-kick. Secara keseluruhan “The Book of Eli” tampil asyik dalam menggambarkan sebuah dunia dalam pose terburuknya, kehancuran yang dramatis. Terlepas dari ceritanya yang terkikis oleh plot yang lumayan datar, tapi twist di akhir dan iringan musiknya terbukti sudah menyelamatkan film ini dari “apocalypse” yang sebenarnya. Pesan-pesan kehidupan dan relijius-nya menjadi sebuah hiasan tersendiri, setidaknya bisa “menghangatkan” hati nurani. Pesan-pesan tersebut juga hadir bukan bermaksud untuk menceramahi tetapi mengingatkan lewat cara tontonan yang menghibur. Apakah Hughes Brother akan menghilang selama 10 tahun lagi? enjoy!

TRON: Legacy (2010) BDRip

| | |
Info: TRON: Legacy
Release Date: 17 December 2010
Genre: Action | Adventure | Sci-Fi | Thriller
Pemain: Jeff Bridges, Garrett Hedlund, Bruce Boxleitner, Olivia Wilde, Beau Garrett, John Hurt
Quality: BDRip 720p
____________________________________________________________________________________

Sinopsis


Hampir seumur hidupnya, Sam Flynn (Garrett Hedlund) tak pernah bertemu ayahnya. Dua puluh lima tahun yang lalu, Kevin Flynn (Jeff Bridges), ayah Sam tiba-tiba menghilang tanpa bekas. Terobsesi menemukan ayahnya yang hilang, Sam pun menghabiskan seumur hidupnya mempelajari komputer dan teknologi dunia virtual.

Sam hanya punya petunjuk bahwa ayahnya menghilang secara misterius setelah masuk ke dalam dunia virtual namun Sam tak tahu persis di mana ayahnya berada. Dengan berbekal petunjuk itu Sam pun mulai menjelajah dunia virtual untuk membebaskan ayahnya yang terjebak di sana selama seperempat abad.

Tanpa sepengetahuan Sam, Kevin ternyata terjebak di dunia virtual di mana ia harus bertarung layaknya para gladiator di jaman Romawi kuno. Seiring berjalannya waktu, Kevin pun makin tua dan tak bisa selamanya bertahan di dunia yang sangat keras ini. Bila Sam terlambat datang menyelamatkan sang ayah, bisa jadi ayah-anak ini tak akan lagi bisa bertemu selamanya.
____________________________________________________________________________________
Size 800 MB (.mkv)
DOWNLOAD Part 1
DOWNLOAD Part 2
DOWNLOAD Part 3
DOWNLOAD Part 4
Join file dengan HJSplit
 ____________________________________________________________________________________
Single Link:
DOWNLOAD FS
DOWNLOAD EU
DOWNLOAD Maknyos
 ___________________________________________________________________________________
 Subtitle Indonesia

The Warriors Way (2010) BDRip

| | |





Info: The Warriors Way

Release Date: 3 December 2010 (USA) 
Genre: Action | Fantasy | Western
Cast: Dong-gun Jang, Kate , Geoffrey Rush, Danny Huston
Quality: BDRip 480p

____________________________________________________________________________________

Sinopsis


Yang (Dong-Kun Jang) adalah pendekar legendaris. Terlahir untuk bertarung dan dilatih untuk menjadi pembunuh terbaik. Tak ada yang bisa mengalahkan Yang dan ini membuat pendekar yang satu ini jadi mimpi buruk paling ditakuti. Membunuh bukanlah hal yang sulit buat Yang, sampai suatu ketika, nuraninya berkata lain. Gagal menjalankan tugas artinya Yang harus benar-benar jadi sebuah legenda. Yang harus mati.

Dalam sekejap mata Yang jadi buronan dan tak ada tempat aman buat pendekar ini. Satu-satunya cara adalah pergi sejauh mungkin dari negeri kelahirannya. Perjalanan kemudian membawa Yang ke daratan Amerika yang masih sangat liar. Di tempat baru ini Yang berkenalan dengan beberapa orang yang terlihat biasa-biasa saja. Di balik apa yang terlihat, orang-orang ini ternyata menyimpan masa lalu yang tak terduga.

Ron (Geoffrey Rush) ternyata adalah mantan petarung sementara Lynne (Kate Bosworth) yang cantik ternyata juga punya bakat khusus yang jarang dimiliki wanita lain. Lynne jago melempar pisau dan ia punya misi pribadi membalaskan dendam masa kecilnya. Kedatangan Yang sendiri ternyata juga mengundang kedatangan beberapa orang dari masa lalu Yang. Yang belum aman. Ia masih jadi buronan dan para pemburunya kini telah datang.
 ___________________________________________________________________________________
Size 400MB :
Download Movie EU
Download Movie Myks
 _____________________
Subtitle Indonesia

Review: The Expendables

| Selasa, 05 April 2011 | |

Sebelum saya mendengar soal “The Expendables”, sempat terpikir kapan film Indonesia punya film yang merekrut aktor-aktor laga jaman dahulu dan menggabungkannya dalam satu film non-stop action. Advent Bangun yang jika tidak salah ingat pemeran si buta dari gua hantu versi klasik, Willy Dozen mungkin? yang dulu menghibur dengan serial laga “Deru Debu”, ditambah George Rudy, Dede Yusuf, dan jika tidak keberatan saya masukkan pemeran sinetron Wiro Sableng yang sayangnya saya lupa siapa namanya. Sambil menunggu impian aktor-aktor laga tersebut beradu jotos dan akting dalam satu film menjadi kenyataan, Sylvester Stallone justru lebih dahulu punya inisiatif mengumpulkan kawan-kawan dari film laga untuk bermain dalam film bertenaga steroid dan multi action, tentu saja dia tidak merekrut pemain dari tanah tropis Indonesia melainkan memboyong dedengkot action-hero dari ranah Hollywood.
Menggiurkan! sekaligus mengajak saya kembali bernostalgia ke masa-masa dimana film action masih berjaya dengan aktor-aktor kekar membawa senjata dan menghabisi ratusan pasukan tanpa sedikitpun terluka. Semua itu ditambah nikmat saat mengetahui idola masa lalu tersebut tergabung dalam satu film, tentu saja saya berharap ditendang di bokong berkali-kali dan lebih keras. Tapi apakah Sylvester Stallone yang duduk di bangku sutradara mampu mengatur teman-temannya yang berotot keras dan mungkin juga keras kepala ini? mungkin Stallone harus mengikat kepalanya dan menuliskan “saya Rambo” untuk mengingatkan mereka untuk tidak main-main dengannya. Siapa saja yang berhasil dirayu oleh Stallone? Jason Statham yang kita kenal di trilogi “The Transporter”, siapa yang tidak kenal dengan aktor legenda kungfu Jet Li, puluhan film laga sudah dibintangi dari perannya menjadi Wong Fei Hung sampai (well) menjadi mumi tanah liat di “The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor”. Stallone juga memboyong lawan tandingnya di film “Rocky IV”, yaitu  Dolph “Ivan Drago” Lundgren.
Proyek ambisius ini tentu saja tidak akan membuat Stallone puas jika hanya dimainkan oleh 4 orang, maka dia mengajak juga Mickey Rourke, Steve Austin, dan manusia-manusia berotot lain termasuk menggandeng Bruce Willis dan Arnold Schwarzenegger untuk muncul sebentar menjadi cameo. Setelah mengumpulkan pemain dream team-nya dan Stallone membuat saya bertanya-tanya akan seperti apa film ini jadinya, kini saatnya dia menggiring saya untuk melirik cerita yang ternyata masuk ke daftar film yang jangan-terlalu-hiraukan-segi-ceritanya atau nimati-saja-adegan-laganya-lupakan-plotnya. Sebuah kata luar biasa memang sepertinya menjauhi film ini jika menengok segi cerita, tidak ada sesuatu yang baru, plotnya bisa ditebak walau kita menutup mata sekalipun, konfliknya klise dan terlihat condong ke arah konyol. Stallone yang memerankan Barney Ross, ketua dari kelompok bernama “The Expendables”—kelompok tentara bayaran dengan ciri khas tato burung gagak dan tengkorak—bersama dengan rekan-rekan seperjuangan mendapat misi untuk menjatuhkan seorang diktator di Amerika Selatan (dengan nama negara fiktif). Namun misinya terancam gagal karena adanya penghianatan, Ross kini harus berjuang tidak hanya untuk menyelesaikan misinya tersebut tetapi juga menolong nyawa yang tak bersalah. Bersama dengan pasukan berani matinya, Ross pun menantang kematian.
Sederhana dan tidak muluk-muluk, Stallone yang juga menuliskan cerita untuk film ini sepertinya lebih fokus untuk bagaimana caranya membuat penonton berbinar-binar lewat aksi jagoan berotot meninju siapa saja, menembak apapun, dan meledakkan semuanya. Bukan berarti Stallone dan rekan penulis skenario Dave Callaham (Horsemen, Doom) tidak mau menuliskan cerita yang yang lebih berbobot, tampaknya mereka sudah tahu dan mengerti tidak usah menambah bobot kepada film ini karena toh berat badan dari para pemainnya saja sudah menjadikan film ini “berat”. Stallone sendiri bukan pencerita yang buruk, dia selalu terlibat dalam penulisan cerita di hampir semua filmnya, termasuk Rocky (1976) yang memperoleh 3 Oscar dan 7 nominasi di ajang penghargaan tersebut, salah satunya nominasi skenario terbaik oleh Stallone.
Stallone juga bukan sutradara yang buruk, film-film ambisius terakhirnya Rambo (2008) dan Rocky Balboa (2006) justru menjadi pukulan balik yang telak kepada mereka yang sudah lebih dahulu pesimis dengan comeback-nya dia sebagai aktor dan sekaligus sebagai sutradara. Saya suka dengan kisah John Rambo yang kembali dengan brutal membantai pasukan dengan senjata besar. Stallone juga berhasil membawa Rocky kembali tanding di ring tinju dan mengembalikan masa kejayaannya. Jadi jika “The Expendables” terlihat kurang serius, saya hanya berpikiran positif saja, mungkin Stallone ingin benar-benar mengajak kita bermain di permainan yang tidak membutuhkan otak tetapi cukup dengan otot saja. Stallone hanya ingin menyenangkan kita yang rindu dengan film-film laga yang punya aroma “tua” dan mengabulkan impian para penggemar jagoan film laga untuk bisa melihat jagoan-jagoannya berkumpul dalam satu film saling melempar adrenalin. Walau nantinya film ini akan terlihat seperti kemasan film kelas B atau straight to DVD, saya masih tetap memberikan potongan jempol saya untuk Stallone karena dedikasinya pada film-film laga ketika ketangguhannya termakan oleh umur yang tidak muda lagi.
Mari kita nikmati saja apa yang ditawarkan oleh Stallone di film yang dijamin membuat anda tersentuh dengan kakek-kakek berbadan jagoan tapi ternyata punya hati lembut ini ketika pada saatnya mencurahkan isi hatinya. “The Expendables” adalah aksi laga menegangkan yang memompa darah sampai ke otak dan merangsang adrenalin untuk menari-menari, diantara hujan peluru dan ledakan dimana-mana. Satu-satunya yang saya garis bawahi adalah permainan spesial efek yang tidak rapih, hasilnya adalah adegan yang tidak maksimal karena terlihat jelas palsunya. Tapi entah kenapa justru spesial efek yang terlihat bohongan ini malah menambah keasyikan menonton, walau terganggu tapi “feel” film-film tahun 80-an jadi makin terasa. Stallone juga tidak lupa menambahkan lelucon-lelucon diantara adegan-adegan brutal penuh darah. Untuk urusan berakting, seperti saya yang tidak peduli dengan ceritanya yang “lemah”, saya juga tidak perlu risau dengan akting Stallone dan kawan-kawan kekarnya ini, karena akting mereka adalah menembak dengan jitu atau meledakkan bangunan sampai roboh dan mereka terbaik di bidang “akting” tersebut di film ini. Sekarang mari berharap kita punya film tandingan dengan aktor-aktor laga Indonesia yang tak kalah jauh macho.