Review: BATAS

| Selasa, 07 Juni 2011 | |

Dilema di Batas Negara

Perfilman tanah air boleh berbangga hati, karena di bulan Mei ini, bioskop lokal diisi oleh film-film yang bisa dikatakan membuat senyum ini mengembang lebar, melihat keajaiban sineas-sineas kita yang masih tetap punya semangat tinggi untuk memamerkan karyanya yang berkualitas. Setelah saya terkesima dengan keindahan cerita dan alam dalam “The Mirror Never Lies”, kemudian dihibur oleh pola cerita sederhana yang menyenangkan, sekaligus takjub dengan akting para pemain di “7 Hati 7 Cinta 7 Wanita”. Akhirnya saya berkesempatan untuk menengok satu lagi film bagus yang rilis pada 19 Mei lalu, sebuah karya dari Rudi Soedjarwo (Mengejar Matahari), “Batas”. Ya, saya tahu agak telat baru menonton sekarang, tepatnya beberapa hari lalu (reviewnya pun telat), lucunya pada saat ingin menonton ini awalnya saya menyangka akan menonton “sendirian”. Tahu sendiri, tema yang diusung film yang diproduseri oleh Marcella Zalianty ini bukanlah tema yang populer, well ternyata saya salah ditambah datang telat masuk studio, sekitar 5 menitan. Senang sekali ketika melihat deretan kursi bagian atas di studio 6 itu hampir terisi penuh.
“Batas” sendiri akan mengisahkan Jaleshwari (Marcella Zalianty), yang ditugaskan untuk terjun langsung ke lapangan, mencari tahu kenapa program pendidikan yang digagas oleh perusahaannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Guru-guru yang dikirim ke tempat dimana program tersebut ditargetkan justru tidak ada yang bertahan lama, mereka pulang tanpa ada alasan yang jelas. Berangkatlah Jaleshwari menyebrangi pulau, meninggalkan Jakarta yang menawarkan segala kemewahan hidup untuk menyapa Borneo (Kalimantan) tepatnya desa pedalaman di wilayah Entikong sana, sebuah tempat yang masih dikelilingi hutan lebat, dimana garis batas antara dua negara Indonesia—Malaysia faktanya hanya ditandai dengan sebuah patok kayu yang bersimbolkan angka-angka. Sesampainya disana Jaleshwari disambut dengan ramah oleh Adeus (Marcell Domits), menatap untuk pertama kalinya kehidupan masyarakat Dayak sambil dirinya diantar untuk diperkenalkan dengan pemimpin adat, Panglima Adayak (Piet Pagau). Ada salah paham yang terjadi, Jaleshwari dikira seorang guru, tidak sempat memperbaiki kekeliruan dia pun terpaksa diam.
Review Film Batas
Jaleshwari akhirnya menginap di rumah Nawara (Jajang C Noer), atas usul seorang bocah yang sempat mengambil handphone Jaleshwari saat ia baru saja sampai, namanya Borneo (Alifyandra), dia tak lain juga cucu Nawara, belakangan diketahui ternyata Borneo adalah cucu Panglima, semenjak putri mereka tiada, hubungan Nawara dan Panglima memang jadi berbeda, dibatasi oleh rasa sakit dan bersalah dari masa lalu yang tampaknya belum juga redup. Di rumah Nawara, Jaleshwari bertemu dengan gadis misterius bernama Ubuh (Ardina Rasti), yang kerap terdengar menangis, mengeluarkan banyak air mata namun menyembunyikan rapat-rapat rahasianya, sangat rapuh dan ketakutan. Keesokan paginya, karena kekeliruan soal guru itu, Jaleshwari harus bersiap mengajar di depan murid-murid yang tidak banyak, termasuk Borneo yang paling semangat untuk belajar. Tidak ingin ada salah paham lagi, dia akhirnya mengaku kepada Adeus, jika dia bukanlah seorang guru. Namun karena merasa tidak tega melihat semangat anak-anak, dia akan terus berperan sebagai guru, dengan hanya dia dan Adeus yang tahu. Justru ketika Jaleshwari sudah mulai terbiasa mengajar dan ingin mengajak anak-anak lain ikut sekolah, sebuah batasan yang sudah lama terbentang di tempat tersebut menghalangi niat baik Jaleshwari, belum lagi ada seorang bernama Otik (Otiq Pakis) yang bermulut manis tapi menginginkan sang ibu guru untuk angkat kaki dari desa.
“Batas” bukan soal meributkan perbatasan antara kedua negara, tetapi menunjukkan apa yang terjadi di sebuah desa yang tempatnya hanya beberapa kilo dari garis batas, ketika seseorang yang asing masuk kemudian mencoba mendobrak batasan yang selama ini ada, menekankan keinginannya untuk mengubah kenyataan. Walau jalan menuju perubahan itu memang tidaklah mudah bagi Jaleshwari, dia harus lebih dahulu keluar dari “batas” yang selama ini mengurungnya, meninggalkan kemewahan Jakarta dan melakukan segala hal yang berbeda di tempat yang baru ini. Bukan juga perkara yang mudah ketika nanti ia juga akan berhadapan dengan penghalang yang membatasi dirinya untuk melakukan apa yang ia anggap benar. “Batas” juga tidak hanya membicarakan Jaleshwari, walau pada akhirnya film ini terkesan “filmnya Jaleshwari”, tetapi kita bisa melihat karakter-karakter lain mencoba tampil untuk menceritakan kisahnya. Adeus yang selama ini “betah” dalam zona batas amannya tapi sejak kedatangan Jaleshwari, zona tersebut mulai terusik. Adeus bukan pengecut yang selalu menunduk ketika dia diancam Otik, dia hanya perlu waktu dan keberanian, itu saja. Si gadis misterius yang diberi nama Ubuh oleh Nawara, memang hanya bisa menangis dan diam, tapi ada saatnya ketika dia merasa “aman”, dia dengan sendirinya keluar dari batas yang membatasinya dan bercerita tentang “lukanya”.
Film ini ingin menceritakan banyak hal, termasuk juga menyinggung ketimpangan yang teramat jelas (walau tidak diperlihatkan secara langsung tetapi bisa dibayangkan lewat pembicaraan antara Jaleshwari dan Adeus) di antara kedua sisi perbatasan, sampai-sampai orang desa, termasuk Adeus bilang negeri seberang itu bagaikan “surga”, dari situ kita bisa membayangkan sendiri perbedaan itu, tidak perlu digambarkan. Sayangnya saat film ini mempunyai judul “Batas”, filmnya sendiri seperti tidak punya batas dan ruang lingkup cerita makin melebar bukannya dipersempit, sah-sah saja sih jika film ini ingin bercerita banyak hal, tapi akhirnya toh banyak juga yang ditinggalkan begitu saja untuk kembali kepada kisah Jaleshwari. Beberapa konflik yang sebetulnya sudah disusun rapih dari awal, entah kenapa juga terkesan “digampangkan” ketika tiba waktunya untuk konflik tersebut diselesaikan, antara Jaleshwari dan Otik misalnya.
Namun sebetulnya kekurangan tersebut tidak mengganggu kenikmatan saya dalam menonton dan mencerna setiap pesan yang ingin disampaikan. Filmnya yang beralur tidak terburu-buru dan jadi semacam ujian untuk menguji batas kesabaran saya pun bukanlah hal yang mengganggu, sebaliknya walau lamban saya masih bisa menikmatinya dan justru ketika film ini selesai kok malah terasa cepat berlalu. Apa yang akhirnya mengusik kenyamanan adalah ketika saya tidak terlalu merasa terhubung dengan “Batas”, saya yang salah atau memang film ini kurang begitu punya chemistry yang kuat dengan penontonnya. Beruntung, film yang diproduksi Keana Productions ini masih punya nilai plus dari sisi performa akting para pemainnya, yang menjadi catatan saya adalah Ardina Rasti, walau porsi kemunculannya tidak banyak, tapi mampu mencuri perhatian sekali. “Batas” juga punya kekuatan dalam visualnya, seorang Edi Michael mampu memotret gambar-gambar indah yang tidak hanya memanjakan mata tapi sanggup bercerita lebih. Jika saja film ini bisa lebih fokus pada satu cerita, mungkin hasilnya bisa berbeda, namun bukan berarti “Batas” adalah film yang jelek, kisahnya masih bisa dinikmati apalagi film ini masih memiliki kekuatan lain dari sisi visual dan akting, membuat saya sebetulnya tetap ingin berlama-lama di desa dimana Borneo tinggal. Enjoy!!

RED RIDING HOOD (2011) BDRip 720p

| Minggu, 05 Juni 2011 | |


____________________________________________________________________________________
Info: RED RIDING HOOD
Release Date: 11 March 2011
Genre: Fantasy | Horror | Mystery
Cast: Amanda Seyfried, Gary Oldman, Billy Burke
Quality: BDRip 720p
Source: 720p BluRay x264-Felony
Subtitle: Indonesia

____________________________________________________________________________________

Sinopsis:

Selama bertahun-tahun penghuni desa kecil di tepi hutan itu hidup dalam ketakutan. Mereka memang telah membuat sebuah perjanjian yang akan membuat mereka selamat dari ancaman para penguasa hutan namun di saat bulan purnama tiba, perjanjian yang selama ini dipegang teguh sepertinya sudah tak berlaku lagi. Akan ada banjir darah di seluruh penjuru desa.
Di saat yang bersamaan, Valerie (Amanda Seyfried), salah satu penghuni desa kecil itu, mengalami masalah berat dalam hidupnya. Ia sangat mencintai Peter (Shiloh Fernandez) namun kedua orang tuanya telah menjodohkan Valerie dengan seorang pria kaya bernama Henry (Max Irons). Tak mau berpisah dari Peter, Valerie pun berencana melarikan diri dari rumah, sayangnya untuk itu ia dan Peter harus melewati hutan belantara yang dikuasai oleh para serigala jadi-jadian.
Sementara itu, penduduk desa yang mulai resah pun meminta bantuan Father Solomon (Gary Oldman), seorang pemburu serigala jadi-jadian, untuk membunuh makhluk buas yang selama ini menebar teror di desa mereka. Betapa terkejutnya penduduk desa saat Father Solomon berkata bahwa bisa saja serigala jadi-jadian yang mereka takuti ini sebenarnya adalah salah satu penghuni desa itu.
____________________________________________________________________________________
Download Fileserve :
DOWNLOAD part 2
DOWNLOAD part 3
Join file dengan HJSplit

Download filesonic :
DOWNLOAD part 2

DOWNLOAD part 3
Join file dengan HJSplit

Single Link :
DOWNLOAD
____________________________________________________________________________________

SUBTITLE INDONESIA

Review: KENTUT

| Sabtu, 04 Juni 2011 | |

Awal Petaka dan Keberuntungan

Sindiran terhadap budaya, sosial dan politik yang biasa dapat ditemukan di dalam kehidupan Anda selama masih berbangsa, bernegara dan bertanah air Indonesia menjadi topik pembicaraan utama dalam Kentut, sebuah film arahan Aria Kusumadewa yang menjadi karyanya setelah memenangkan status sebagai Sutradara Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2009 lewat film Identitas (2009). Seperti halnya Identitas (2009), ada begitu banyak nada-nada satir yang dapat ditemukan dalam cara penceritaan Aria pada Kentut – yang membuat Aria semakin menjauhi gaya penceritaan simbolis yang dulu sempat melekat pada dirinya lewat dua karya pertamanya, Beth (2002) dan Novel Tanpa Huruf R (2003). Hanya saja, Aria kali ini terlihat lebih santai dalam bercerita. Dengan menggunakan komedi yang mengalir ringan dari deretan dialog yang disampaikan para karakter di film ini, Aria berhasil membuat setiap penonton menertawakan bagaimana kehidupan yang sebenarnya mereka jalani di setiap kesehariannya. Bagian tercerdasnya, tidak seorangpun yang sadar bahwa diri merekalah yang sedang ditertawakan.
Kentut dibuka dengan kisah persaingan dua kandidat yang sedang berusaha memperebutkan kursi Bupati di Kabupaten Kuncup Mekar: Patiwa (Keke Soeryo), seorang calon independen perempuan dengan pemikiran yang sangat maju, dengan Jasmera (Deddy Mizwar), seorang calon yang akan berusaha untuk melakukan apa saja demi meraih simpati masyarakat. Dengan berbagai pemikiran majunya tentang kesejahteraan masyarakat, Patiwa sepertinya telah dapat dipastikan untuk memenangkan pemilihan kepala daerah di kabupaten tersebut. Sialnya, pada suatu hari, ketika Patiwa dan Jasmera baru saja selesai melakukan debat terbuka di sebuah saluran televisi, seorang yang tak dikenal datang dan melakukan penembakan terhadap Patiwa.
Manajer kampanye Patiwa, Irma (Ira Wibowo), jelas kelimpungan akibat tertembaknya Patiwa. Ia kemudian berusaha sekuat tenaga agar kondisi lemah yang saat ini dialami Patiwa tidak dimanfaatkan oleh pesaingnya untuk merebut momen dan kesempatan Patiwa dalam memenangkan pemilihan Bupati. Tembakan yang diarahkan kepada Patiwa sebenarnya tidak begitu parah. Tim dokter yang dipimpin oleh dr Ferry (Cok Simbara) sendiri dengan mudah menyelesaikan tahapan operasi medis kepada Patiwa. Namun, jiwa Patiwa ternyata tidak bergantung pada operasi tersebut. Demi menentukan apakah Patiwa dapat segera sembuh atau tidak, dr Ferry kemudian menyatakan bahwa Patiwa harus melakukan satu hal: mengeluarkan kentut. Kini, seluruh masyarakat Kabupaten Kuncup Mekar sedang menunggu Patiwa untuk segera mengeluarkan kentutnya.
Gila? Jelas! Sebuah film yang memuat kata ‘kentut’ sebagai judulnya jelas saja diwajibkan untuk mampu menampilkan jalan cerita yang seunik dan segila mungkin… dan Aria memiliki naskah cerita yang cukup mumpuni untuk memenuhi tanggung jawab itu. Semenjak awal, Aria menceritakan Kentut dengan begitu sederhana. Walaupun awalnya hanya memuat kisah persaingan antar dua orang yang sedang berebut kekuasaan, Aria mampu menghantarkan begitu banyak sindiran sosial dan politik terhadap kehidupan masyarakat modern lewat dialog-dialog yang disampaikan oleh para karakternya. Karakter Patiwa dan Jasmera sendiri sepertinya telah menjadi sebuah sindiran sendiri mengenai bagaimana masyarakat saat ini sering memandang dan memilih kehidupan politik yang ingin mereka jalani. Politikus yang sebenarnya berniat baik dan tulus dalam membangun masyarakat, yang digambarkan lewat karakter Patiwa, seringkali mendapatkan label naif dan munafik oleh banyak orang. Sebaliknya, masyarakat justru lebih tertarik untuk memilih seorang wakil yang memiliki karakter yang lebih ‘berwarna’ seperti Jasmera, seseorang yang lebih sering terdengar karena hal-hal kontroversi (baca: buruk) yang ia lakukan atau ucapkan daripada prestasi yang ia torehkan. Entah apa yang akan dikatakan Naga Bonar ketika ia melihat kondisi politik Indonesia saat ini.
Kentut kemudian berjalan dengan menghadirkan beberapa karakter baru dan semakin banyak plot cerita. Disini Aria mulai terlihat kebingungan dalam menhyatukan kepingan-kepingan pesan dan cerita yang ingin ia sampaikan kepada para penontonnya. Jangan salah, Aria masih mampu mengeksekusi ceritanya dengan cukup baik dan menghibur. Namun sangat jelas terasa bahwa tampilan yang ia berikan lebih lemah daripada ketika Kentut hanya berfokus pada persaingan antara Patiwa dan Jasmera. Aria memasukkan begitu banyak metafora dan sindiran-sindiran halus terhadap struktur masyarakat Indonesia saat ini. Mulai dari bagaimana mereka menjalani kepercayaan mereka, sifat yang selalu berusaha untuk mengambil untung walau dalam sebuah musibah sekalipun (cerdas!), wartawan yang terkadang ‘mendewakan’ UU Pers sebagai perlindungan demi mencari berita (walau terkadang mereka juga melanggar UU yang melindungi orang lain) hingga sindiran terhadap sikap feminisme juga tidak luput dari sasaran Aria. Jalan cerita yang tadinya terlihat sederhana secara tiba-tiba berubah menjadi begitu padat dan kadang terasa terlalu berlebihan. Untung Aria masih mampu menyelipkan sensibilitas komedinya pada setiap adegan sehingga Kentut tidak pernah terasa melelahkan.
Dari jajaran pemeran, Deddy Mizwar jelas telah menjadi atraksi terdepan semenjak film ini dimulai. Tidak seperti penampilan Deddy pada beberapa film sebelumnya – yang lebih sering terlihat terlalu bijaksana dan preachy, penampilan Deddy sebagai Jasmera terasa begitu lepas dan komikal. Sangat menyenangkan untuk disaksikan. Para pemeran lainnya juga mampu tampil dengan kemampuan akting yang tidak mengecewakan, walau beberapa kehadiran mereka terlihat kurang begitu bermakna akibat kurangnya penggalian karakter yang diberikan Aria terhadap peran mereka. Scene stealer pada Kentut jelas adalah Rahman Yakob yang berperan sebagai Rahman Sianipar, seorang kepala petugas keamanan di rumah sakit. Dengan aksen Batak yang jenaka, dan dialog-dialog cerdas dan komikal yang diberikan padanya, sangalah mudah untuk menyukai kehadiran karakter Rahman setiap kali ia berada di dalam jalan cerita.
Menyaksikan Kentut, sebagian orang mungkin akan bertanya-tanya pada dirinya: Apakah kemampuan bangsa Indonesia untuk menertawakan diri mereka sendiri telah sebegitu meningkatnya? Atau hal tersebut hanya terjadi dalam sebuah film layar lebar belaka? Aria Kusumadewa melakukan pekerjaan yang sangat cerdas dalam menyusun rangkaian cerita dan dialog satir yang tidak hanya tajam dan mengena namun tetap tidak melupakan untuk menghibur penontonnya. Walau pada paruh kedua film Aria terlihat terlalu ambisius dalam menyampaikan segala ide-idenya, dan dengan sebuah akhir kisah yang kurang memuaskan, namun Aria tetap berhasil memberikan penampilan yang baik pada Kentut lewat arahan yang ia berikan pada jajaran pemerannya maupun tata produksi yang mampu terjaga dengan baik. Seandainya ada lebih banyak film Indonesia yang secerdas ini. ENJOY!!

Review: SANCTUM

| | |

Terjebak di Dalam Gua

Seperti yang dibuktikan Titanic (1997) dan Avatar (2009), tampilan audio visual yang begitu memukau memegang peranan yang sangat penting dalam setiap film yang melibatkan nama James Cameron. Begitu vital, tampilan audio visual yang seringkali menawarkan terobosan baru dalam dunia perfilman tersebut menjadi faktor yang tidak dapat disangkal menjadi titik penting penghasil aliran emosi di dalam jalan cerita film itu sendiri. Di lain pihak, film-film yang ditangani Cameron seringkali memiliki kelemahan dalam segi penceritaan. Yang paling sering dikritisi, tentu saja, adalah kekurangmampuan Cameron untuk melakukan supervisi pada deretan dialog para karakter yang ada di dalam jalan cerita filmnya. Sanctum, yang walaupun hanya melibatkan Cameron sebagai seorang produser eksekutif, juga memiliki keterikatan ciri khas kualitas yang sama dengan film-film yang menjadi karya Cameron sebelumnya.
Tidak dapat disangkal, premis yang berjanji untuk menghadirkan sebuah petualangan ke bagian dasar dan terdalam dari Bumi, ke sebuah wilayah yang sama sekali belum pernah disentuh oleh manusia, dan disajikan dengan tampilan audio visual yang kualitasnya diawasi oleh seorang James Cameron, akan membuat setiap orang menanti kehadiran Sanctum. Dan benar saja, Sanctum adalah sebuah thriller yang berhasil menyajikan petualangan bawah tanah dengan cara yang spektakuler. Namun lebih dari itu, Sanctum benar-benar lemah dalam hal karakterisasi dan penceritaan dialognya. Bahkan lebih lemah dari apa yang pernah ditampilkan oleh Cameron dalam Titanic maupun Avatar!
Ditulis oleh John Garvin dan Andrew Wight, yang diinspirasi dari kisah nyata yang dialami oleh Wight ketika ia hampir saja tewas dalam melakukan kegiatan ekspedisi penyelaman ke sebuah gua bawah laut, Sanctum berkisah mengenai perjalanan yang dilakukan pasangan Carl Hurley (Ioan Gruffudd) dan Victoria (Alice Parkinson) ke Papua Nugini untuk menjelajahi situs gua bawah laut bersama Frank McGuire (Richard Roxburgh), seorang penyelam profesional, dan anaknya, Josh (Rhys Wakefield). Frank telah terlebih dahulu mempersiapkan gua bawah laut tersebut untuk dijelajahi oleh Carl dan Victoria, sehingga ketika jutawan itu datang, Frank akan membawa mereka masuk dalam sebuah petualangan yang tidak akan mereka lupakan seumur hidup mereka.
Malang, alam sepertinya berkehendak lain. Tepat ketika Carl, Victoria dan Josh bergabung bersama Frank dan tim ekspedisinya di gua bawah laut tersebut, sebuah badai datang menerjang dan mengancam kehidupan mereka. Ketika akhirnya gua tersebut mulai tertutupi oleh banjir, satu-satunya jalan keluar dari teror tersebut adalah untuk menempuh alur gua bawah laut tersebut  sebelum akhirnya mereka dapat menemukan sebuah jalan keluar yang berada di lautan luas. Terdengar seperti sebuah petualangan biasa? Belum ada manusia satupun yang pernah menjelajahi gua bawah laut tersebut. Ditambah dengan kehadiran intensitas emosi yang cukup tinggi di antara para penjelajah tersebut, kematian sepertinya akan dengan mudah menyelinap dan mengambil korbannya.
Sanctum menggunakan sebuah kamera khusus 3D untuk memperoleh gambar-gambarnya – sebuah kamera yang juga digunakan oleh James Cameron pada Avatar dan teknologinya telah dikembangkan Cameron selama hampir satu dekade. Wajar saja jika kemudian Sanctum dipenuhi dengan deretan gambar indah, misterius serta mencekam akan pemandangan dari sebuah gua bawah laut. Tim produksi juga menghabiskan cukup banyak waktu dalam menciptakan latar belakang lokasi yang tepat untuk dapat memberikan pengembangan yang lebih mendalam mengenai suasana yang diperlukan di dalam jalan cerita. Dan mereka, harus diakui, berhasil melakukannya. Dengan latar belakang tempat yang menggunakan pemandangan alam yang benar-benar nyata, gelap dan cenderung sempit, Sanctum berhasil menghadirkan teror tersendiri yang akan datang dari kemampuan film tersebut untuk mengeluarkan rasa takut penontonnya akan ruang yang gelap dan terbatas.
Berbanding terbalik dengan tampilan audio visualnya yang seperti dikerjakan secara intensif oleh sekumpulan tim produksi profesional, naskah cerita Sanctum justru terlihat seperti dikerjakan oleh mereka yang sama sekali tidak mengerti mengenai bagaimana cara mengembangkan cerita dan karakter dengan baik. Hasilnya, di sepanjang penceritaan, banyak dialog-dialog yang terkesan dangkal dikeluarkan oleh para karakter yang setara dangkalnya dalam hal karakterisasi. Plot kisah mengenai hubungan antara ayah dan anak yang berkembang di tengah-tengah jalan cerita juga terkesan kurang mampu menghasilkan ikatan emosional yang baik kepada para penontonnya.
Pengembangan karakterisasi dan cerita yang dangkal, tentu saja, memberikan pengaruh yang besar pada kemampuan para jajaran pemeran film ini untuk dapat menampilkan permainan terbaik mereka. Walau diisi dengan beberapa nama aktor dan aktris populer asal Australia, departemen akting Sanctum sama sekali tidak memberikan sebuah kontribusi yang berarti pada kualitas film ini secara keseluruhan. Richard Roxburgh hampir tampil tipikal sebagai seorang pria ambisius dengan kepribadian yang tertutup. Sementara Ioan Gruffudd juga gagal memberikan permainan yang berkelas. Selain dua aktor tersebut, nama-nama lainnya juga sepertinya tidak akan begitu diingat akan kontribusi akting yang mereka berikan dalam film ini.
Sebagai sebuah film yang mengatasnamakan petualangan bawah laut sebagai tema utama jalan ceritanya, Sanctum sebenarnya tampil cukup menarik. Walau harus menghabiskan sebagian waktunya dalam menghadirkan deretan drama yang terasa kurang esensial sebelum menghadirkan deretan konflik dan adegan dengan intensitas emosional yang cukup hangat, ketika Sanctum menghadirkan konflik utama ceritanya, Sanctum benar-benar mampu tampil mempesona, khususnya dengan kemampuan sutradara Alister Grierson dalam mengarahkan timnya dalam menghadirkan tata produksi yang begitu mengagumkan. Tetap saja, naskah cerita harus diakui sebagai bagian kelemahan terbesar Sanctum. Dangkal dan dipenuhi dengan berbagai hal klise yang kadang tidak masuk akal. Jelas bukan karya dengan  kualitas yang akan mau diingat oleh James Cameron dalam jangka waktu yang cukup lama. enjoy!!

Review: THE WARD

| | |
 
Hampir satu dekade berlalu semenjak John Carpenter merilis film layar lebar terakhirnya, The Ghosts of Mars (2001). Dalam masa-masa itu, Carpenter lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyutradarai satu episode dari sebuah serial televisi, menjadi produser untuk remake filmnya sendiri dan menyaksikan bagaimana Hollywood begitu berminat untuk melakukan reka ulang terhadap film-film yang dulu pernah ia sutradarai sekaligus menurunkan derajat kualitas film-film tersebut. Tragis. Namun, sepuluh tahun waktu berlalu dan John Carpenter akhirnya memutuskan bahwa sudah saatnya ia kembali duduk di kursi sutradara. Hasilnya… The Ward! Sebuah film horor yang akan dianggap cukup cerdas jika dunia belum pernah menyaksikan puluhan film lain yang memiliki jalan cerita menyerupai Shutter Island (2010) atau Belahan Jiwa (2006).
Berlatar belakang kota Oregon, Amerika Serikat, pada tahun 1966, The Ward menempatkan Amber Heard — yang terakhir kali terlihat menjadi salah satu alasan mengapa Drive Angry begitu dapat dinikmati — berperan sebagai Kristen, seorang wanita cantik namun dengan jalan pemikiran yang sedikit terganggu. Setelah membakar sebuah rumah dengan tanpa alasan yang jelas, Kristen kemudian dimasukkan ke sebuah institusi mental. Di bawah pengawasan Dr Stringer (Jared Harris), Kristen pada awalnya menunjukkan perlawanan kuat terhadap keputusan sepihak tersebut. Namun, setelah melalui beberapa malam di tempat tersebut, Kristen mulai menyaksikan beberapa keanehan yang membuatnya bertekad mengeluarkan seluruh pasien dari gedung institusi mental tersebut.
Tentu keinginan untuk keluar dari institusi mental tersebut tidaklah semudah untuk membalikkan telapak tangan. Beberapa pasien yang ia temui disana, Zoey (Laura Leigh), Emily (Mammie Gummer), Sarah (Danielle Panabaker) dan Iris (Lyndsy Fonseca), bahkan mengatakan adalah sebuah hal yang tidak mungkin untuk keluar dari gedung tersebut. Kristen kemudian mulai menemukan bahwa ada sebuah kekuatan lain yang sepertinya ingin melenyapkan setiap pasien yang berada di institusi mental tersebut. Ketika satu persatu pasien yang ia kenal mulai menghilang, Kristen akhirnya membulatkan tekadnya bahwa ia harus mampu keluar dari gedung tersebut apapun resikonya.
The Ward dimulai dengan opening credit yang cukup meyakinkan. Memamerkan berbagai teknik gila yang digunakan beberapa institusi mental dalam usaha untuk menyembuhkan pasien mereka, serta ditambah dengan iringan tata musik karya Mark Kilian, opening credit dari The Ward sepertinya menjanjikan penontonnya bahwa Carpenter memang benar seorang yang ahli dalam meramu film-film bertema horor. Namun… opening credit hanya mengambil beberapa menit dari film yang berdurasi 88 menit ini. Setelah karakter Kristen dimasukkan ke dalam institusi mental, berbagai hal klise yang sepertinya akan sangat mudah untuk dapat ditebak para penggemar film horor mulai mengambil tempatnya di dalam jalan cerita.
Sepuluh tahun adalah jangka waktu yang lama untuk absen dari proses pembuatan sebuah film. Dan Carpenter sepertinya benar-benar tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan terhadap The Ward merupakan sebuah proses yang telah begitu banyak dilakukan para sutradara horor lainnya di sepanjang jangka waktu sepuluh tahun tersebut. The Ward berisi begitu banyak momen-momen klise dimana penonton akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan mengenai ‘siapa yang berada di balik pintu?’ ‘siapa yang sedang mengawasi seorang karakter’ atau momen-momen kehadiran secara tiba-tiba seorang karakter misterius yang diharapkan akan dapat memberikan beberapa kejutan pada penontonnya. Berhasil, pada beberapa bagian. Namun kebanyakan teknik ini telah begitu mudah terbaca oleh penonton dengan mendengarkan tata musik yang tiba-tiba mengalun dengan ritme menegangkan atau keheningan yang tiba-tiba mengambil tempat di sebuah adegan.
Walau begitu, harus diakui Carpenter mampu memberikan kemasan yang cukup baik untuk jalan cerita yang cukup klise tersebut. Tata produksi film ini dihadirkan dengan tampilan yang tidak mengecewakan, bahkan seringkali menjadi pendukung utama bagi kehadiran kejutan yang terasa kurang begitu mampu dimunculkan oleh jalan cerita. Departemen akting juga diisi oleh jajaran aktris muda yang cukup mampu membawakan karakter mereka dengan baik, walaupun sama sekali belum dapat disebut sebagai suatu hal yang cukup memuaskan. Setidaknya, Amber Heard tetap mampu menunjukkan kalau ia memiliki bakat terpendam yang menunggu seorang sutradara yang tepat untuk menggunakan bakat tersebut dengan baik. John Carpenter bukanlah orang yang tepat.
The Ward bukanlah sebuah film yang akan memberikan sesuatu yang baru bagi mereka yang memang seorang penggemar film-fim dari genre horor. Dipenuhi berbagai hal klise khas sebuah film horor, The Ward setidaknya masih mampu memberikan penampilan yang cukup baik dari para jajaran pemerannya, tata produksi serta beberapa kejutan yang mampu bekerja dengan baik di beberapa bagian cerita. Dengan pengarahan yang lebih tepat dan naskah cerita yang lebih padat mungkin The Ward akan mampu tampil sebagai sebuah film horor yang lebih memuaskan. Bukan sebuah karya terburuk bagi John Carpenter, namun jelas bukan sebuah karya dengan tingkatan kualitas yang akan diharapkan para penggemar film-film Carpenter setelah menunggu hampir selama satu dekade.