Review: Alangkah Lucunya (negri ini)

| Minggu, 09 Januari 2011 | |
Pendidikan itu penting. Kalau ingin jadi koruptor, ya harus sekolah

Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, harusnya bisa menghasilkan sebuah sinergi besar bagi negeri Indonesia demi tercapainya kesejahteraan masyarakat. Kenyataannya, rakyat miskin masih saja banyak, pengangguran dimana-mana, tingkat kriminalitas meningkat, serta masih banyaknya anak-anak yang belum bisa menikmati pendidikan sebagaimana mestinya. Yang makin menyedihkan, ketika jurang antara yang kaya dan miskin makin menganga, ketidakadilan semakin meraja lela dimana mereka dengan modal kecil yang harus selalu dikalahkan. Koruptor bisa tebar pesona menikmati hasil jarahan besar uang rakyat, di sisi lain pencopet dengan hasil jarahan yang jauh lebih kecil seringkali mendapatkan hukuman yang bisa sangat mengenaskan.


Mendapati banyaknya pencopet belia, Muluk (Reza Rahadian) dengan berbekal sarjana di bidang manajemen, berusaha mengentaskan para pencopet belia yang dikelola oleh Jarot (Tio Pakusadewo). Meski sudah mempunyai gelar sarjana, Muluk ini sudah dua tahun menganggur. Sempat terpikirkan beternak cacing, namun dia mundur ketika ada pihak-pihak yang mentertawakan niat tersebut. Program yang ditawarkan oleh Muluk, terkesan sangat muluk-muluk, namun berkat bantuan dua temannya, Pipit (Ratu Tika Bravani) dan Samsul (Asrul Dahlan) yang juga menganggur meski berpendidikan tinggi, perlahan-lahan program Muluk mulai mendapatkan hasil. Ketiganya bahu-membahu membangun mental positif anak-anak dengan pelajaran agama, budi pekerti serta kewarganegaraan.
Sebuah program, tentu akan bisa berjalan kalau ada sokongan dana. Minta pada ayahnya (Deddy Mizwar) sangatlah tidak mungkin. Maka dilontarkanlah ide semacam management fee sebesar 10% dari hasil mencopet. Dana yang terkumpul, kedepannya akan dijadikan sebagai modal bagi anak-anak untuk beralih profesi yang lebih halal. Ketika segalanya terlihat sesuai dengan apa yang diharapkan, muncul gugatan yang dilematis yakni ketika ayah Muluk, Pak Makbul (Deddy Mizwar) dan ayah Pipit (Slamet Rahardjo) yang sangat relijius, murka mendapati anak-anak mereka menikmati uang haram. Apa langkah Muluk dkk selanjutnya?


Setelah digempur puluhan film horor dan drama percintaan, kehadiran Alangkah Lucunya (Negeri Ini)/ALNI memberikan kesegaran tersendiri bagi dunia sinema nasional. Seperti karya Deddy Mizwar sebelumnya, ALNI memasukkan banyak kritikan, terutama kepada kebijakan pemerintah, isu nasionalisme dan balutan dakwah agama yang cukup kental. Bagi Gilasinema, Deddy Mizwar adalah seorang pengkhotbah yang asyik, karena banyak sekali bermain diwilayah abu-abu. Deddy Mizwar tidak menghujani penonton dengan dogma-dogma. Dia hanya membeberkan suatu realita yang pada akhirnya memaksa penonton untuk melakukan semacam pengkajian dan pemahaman sendiri. Solusi diserahkan pada masing-masing individu. Dalam ALNI, kecuali pemerintah, tidak ada yang benar-benar salah atau benar.


Hasilnya? ALNI menjadi sebuah tontonan yang sangat berat karena meninggalkan semacam PR bagi penontonnya. Tidak mudah, mengingat Deddy Mizwar memberikan banyak PR yang dilematis. Apakah langkah yang ditempuh oleh Muluk dkk harus dihentikan gara-gara bertentangan dengan ajaran agama? Padahal, tujuan mereka sangatlah baik dan menunjukkan hasil, meski mungkin kalau kisah berlanjut akan mengalami gugatan baru perihal pekerja di bawah umur. Aksi mereka itu ibarat antitesis dari kondisi riil negeri ini. Banyak orang cerdas di negeri ini yang mengalami kemerosotan moral. Bandingkan dengan para anak-anak pencopet yang mengalami peningkatan moral berkat aksi Muluk dkk. Muluk memanfaatkan uang haram untuk tujuan yang baik, sedangkan para koruptor memanfaatkan hasil jarahan demi kepentingan diri sendiri. Menyedihkan, ketika ilmu dan kecerdasan hanya dimanfaatkan demi ambisi pribadi (materi).


Duo Deddy Mizwar dan Aria Kusumadewa yang lewat Identitas menyoroti soal carut marutnya pelayanan kesehatan, dalam ALNI mencoba membeberkan kegagalan sistem pendidikan yang tidak mampu menyentuh semua kalangan dan juga belum berhasil mengentaskan kemiskinan. Dengan alokasi 20% dari APBN untuk pendidikan, mengapa belum juga terlihat adanya peningkatan kualitas hidup. Program BOS yang harusnya mensukseskan Program Wajib Belajar 9 Tahun justru mendorong banyak SD dan SMP untuk meningkatkan standar menjadi RSBI yang bisa melegalkan berbagai pungutan. Pendidikan Dasar makin mahal dari sebelum adanya BOS dan sekolah terbaik hanya bisa diakses oleh mereka yang mampu. Nilai berupa angka menjadi ukuran kecerdasan anak (UAN), tanpa melihat potensi anak di bidang yang lain.
Tapi bukan hanya salah pemerintah juga lho. Pentingnya pendidikan belum disadari oleh semua lapisan masyarakat. Sebagai contoh, tempat dimana Gilasinema tinggal. Keberhasilan seseorang tidak diukur dari tingkat pendidikan, tapi dari apa yang dia hasilkan dari pekerjaannya yang bisa dilihat oleh mata telanjang seperti kendaraan atau rumah. Dan kalau ada iuran kampung atau bantuan dari pemerintah, tujuannya untuk apa? Pembangunan jalan yang sebenarnya tidak terlalu mendesak untuk diperbaiki. Gilasinema membayangkan, ada baiknya kali ya kalau suatu kampung itu ada iuran demi pendidikan anak-anak berprestasi dan berpotensi di suatu bidang, dan sebagai balasannya, ketika si anak ini berhasil bisa membangun kampungnya.


Aduuuh...jadi ngelantur. Kesimpulannya, ALNI adalah sebuah film yang komplet dan cerdas. Lucu sekaligus pahit, terutama endingnya yang sukses membuat tangis. Dan seperti halnya Naga Bonar(Jadi) 2, ALNI juga menghadirkan gesekan antar generasi. Kehadiran beberapa produk mungkin terasa mengganggu, namun naskah olahan Musfar Yasin sangat rapat dan menghadirkan banyak quote-qoute segar, tajam dan cerdas. Gilasinema suka sekali dengan dialog pas Rina Hasyim sedang mengisi TTS :


Rina Hasyim : Yang nentuin haram atau halal siapa Beh?
Slamet Rahardjo : MUI!
Rina Hasyim : Lima kotak Beh.
Ratu Tika Bravani : Allah ... Nyak!

Gilasinema juga dibuat terhenyak dengan ”amien” setelah lagu Indonesia Raya. Iya ya, Lagu Indonesia itu kan ibarat doa, namun kita lupa untuk mengamininya. Brillian!!!


Selain kekuatan naskahnya, yang dari Gilasinema baca idenya sudah ada sejak 9 tahun yang lalu, ALNI sangat tertopang dengan penampilan para pemainnya yang padu dan prima. Untuk barisan pemain senior, sudahlah gak usah dibahas. Mereka selalu tampil jauh dari mengecewakan. Reza Rahadian kembali menunjukkan potensinya sebagai calon bintang besar. Penampilan aktor yang sudah Gilasinema sukai sejak tampil di Film Horor ini terlihat matang dan dewasa serta bisa mengimbangi para pemain senior. Ekspresinya di penghujung film benar-benar mantap. Kalau boleh berpesan, Mas Reza ini jangan nglakuin hal-hal yang macam-macam ya. Sayang sekali dengan potensi besar yang kau miliki (sok banget ya hehehe). Asrul Dahlan yang aksi bagusnya di King kurang dilirik, juga pantas diberi tepuk tangan. Sedangkan untuk Ratu Tika Bravani, dia pantas diberi lebih banyak kesempatan untuk tampil. Para anak-anak jalanan juga tampil bagus dan natural. Tidak sia-sia mereka digodok selama dua bulan. Alangkah Lucunya (Negeri) Ini adalah sebuah film yang wajib tonton, dan setelahnya kamu bakalan dibuat yakin ALANGKAH TIDAK LUCUNYA NEGERI INI!

Review: Drag Me To Hell

| | |

"Soon it will be you, will come begging to me.."

Drag Me To Hell (2009) bercerita tentang Christine Brown (Alison Lohman) seorang loan officer di salah satu perusahaan dan menjadi kandidat kuat menjadi calon asisten manager. Suatu hari, seorang wanita gypsy tua bernama Sylvia Ganush (Lorna Raver) memintanya untuk memberikan extension atas rumahnya yang bakal digusur. Karena wanita tersebut sebelumnya telah diberi 2x extension, dan juga untuk menunjukan bahwa ia (Christine) memiliki guts untuk membuat tough decision kepada bosnya, Christine terpaksa tidak memberikan extension terhadap wanita tua tersebut. Setelah wanita tua tersebut memohon2 dan accidentally di buat 'malu' oleh Christine, wanita tersebut kemudian mengutuknya. Semenjak itu, hidup Christine selalu terganggu roh2 halus. Dan ia hanya memiliki 3 hari sebelum ia 'dikirim' ke neraka...

Things I noticed...
  1. Drag Me To Hell definitely a Hell of an entertainment!!! Better than what I had expected it. The horror's good and the thrills are both shocking and (surprisingly) fun.
  2. The story itself, it's kinda short and simple. That's why it's whole lot easier to understand. Well not every good movie has to have a deep & complex stoy, right? Sometimes, the simplest story makes the biggest impression (mulai nge-quote ngaco)
  3. Personally, film ini ga serem (apa karena gw suka & sering nntn film horror?). Serius, hantu nya malah lebih serem yg di Coming Soon (yg sedikit mengecewakan itu). Tapi film ini sering banget ngagetin! Tambahan musik/score yg super duper kenceng juga menambah ke-kagetan.
  4. I, myself, was little bit surprised with a few funny lines/dialogs/scenes. Serius, gw sampe ketawa2 melulu di XXI, apalagi nntnya bareng anak2 sekelas lagi, mana pada ngelawak semua hahaha some parts turned out so cheesy, but I love most of it.
  5. I read somewhere about the same formula (horror with a lil taste of comedy) that Sam Raimi, the director, used in his former same-genre and legendary movie (so they say), Evil Dead, and the sequel(s). Gw harus bener2 nntn film2 itu!! Hahaha
  6. Let me warn you about some of the disgusting scenes in this movie. There were a few of them. And when I meant disgusting, they truly are.
  7. Roh2 yang berada di film ini berbeda dengan film2 horror jaman sekarang. Seems a bit old-fashioned. Jadi nya sedikit membuat 'fresh'. And the effects they're using; not bad.
  8. Love Alison Lohman here! Walaupun kadang2 suka lebay sih, tapi menurut gw udah cukup bagus. Same with the rest of the cast.
  9. The ending... Udah mulai agak ketebak di menit2 terakhir film berjalan. Sedikit predictable, but I think it's a well-done. Dan gw gak akan ngebocorin apa2 lagi, soalnya lebih enak kalo nonton tanpa ada bayangan sama sekali hahaha
So, the conclusion...
Mengalahkan Angels & Demons dalam peringkat Best Summer Movies 09 So Far dalam list gw (tentu belom termasuk Up, Transformers & Harry Potter). Tipikal film horror yg dipenuhi adegan ngagetin & disgusting. Cocok buat ditonton rame2. Di film ini juga ada sedikit tambahan bumbu2 komedi yang membuat film ini ga terlalu serius, jadi kesannya real + ga dibuat2. Seperti yang gw bilang, A HELL OF AN ENTERTAINMENT!! Good job, Mr. Raimi!!

Review: Avatar

| Kamis, 06 Januari 2011 | |

"You're not on Kansas anymore, you're on Pandora, ladies and gentlemen"

Avatar (2009)
Bermula ketika planet Bumi sudah kekurangan energi, para manusia kemudian menemukan planet Pandora yang memiliki kekayaan energi yang melimpah ruah. Upaya untuk mengambil energi di planet tersebut ternyata tidak mudah. Selain karena udara yang tidak bersahabat, ada juga faktor dari 'penduduk' lokal planet tersebut, bangsa Na'vi, makhluk yang menyerupai manusia (dan sedikit mirip monyet hahaha) dengan kulit biru dengan kemampuan berhubungan dengan alam. Source energi terbesar dalam planet Pandora terletak tepat dibawah tempat tinggal mereka.
Jake Sully (Sam Worthington) adalah mantan angkatan laut yang lumpuh. Ketika kakaknya meninggal, ia terpaksa harus mengikuti sebuah proyek Avatar, yaitu menggunakan pikirannya untuk mengontrol Avatar body yang diciptakan mirip dengan bangsa Na'vi. Pada saat percobaan pertamanya, Jake malah tanpa sengaja tersesat dalam hutan Pandora. Dalam usahanya mempertahankan diri dari makhluk-makhluk ganas, ia diselamatkan oleh Neytiri (Zoe Saldana), seorang putri bangsa Na'vo. Melihat sesuatu yang menarik dalam diri Jake, raja bangsa Na'vi menugaskan Neytiri untuk mengajari Jake untuk hidup sebagai Na'vi. Di lain pihak, Jake juga ditugasi untuk meyakinkan bangsa Na'vi untuk pindah dari home tree mereka agar source energi dibawahnya dapat diambil, kalau tidak, pihak manusia akan merusak hutan dan mengambil dengan paksa. Hal ini lah yang menjadi dilema bagi Jake. Jake yang akhirnya keburu jatuh cinta dan terkesan dengan bangsa Na'vi dan Pandora (dan juga Neytiri), juga harus memikirkan bahwa dengan sumber energi itulah bumi yang sedang sekarat dapat terselamatkan. Siapa yang akhirnya ia bela?

Salah satu film termegah tahun ini. James Cameron, sineas yang membawa kita kepada film terbesar abad ini, Titanic, kini kembali lagi dengan sebuah film yang sangat mengedepankan teknologi (yang katanya) super canggih. Promosi yang sebenernya tidak terlalu besar-besaran sudah terbayar dengan nama Cameron dan berita bahwa film ini menghabiskan hampir setengah milliar dollar dalam proses pembuatannya. Film ini menjajikan effect yang luar biasa menawan. Dengan segala kelebihan-kelebihan yang disampaikan bulan-bulan sebelumnya, gw menjadi sedikit antipati terhadap salah satu film paling ditunggu akhir tahun ini. Kenapa? Karena dari experience2 yang gw dapet, high expectations could lead into major disappointment. Ternyata gw salah. Film ini benar2 membuat gw terkesima.
Benar memang cerita film ini klise dan gampang ditebak. Agak sedikit mengingatkan gw dengan Princess Mononoke malah (gw doang ya yang mikir gitu? tapi emang mirip kan?). Tetapi ceritanya mengalir dengan asik. Walaupun agak sedikit kelamaan pun tetep aja gw gak kerasa nontonnya. Kelamaan juga mungkin karena runtut banget ceritanya pas Jake bener2 harus belajar menjadi seorang Na'vi. Di awal-awal film mungkin sedikit menjemukkan menurut gw, karena memang gak sabar sama Pandora nya hahaha Belom lagi action sequence dan battle terakhir yang.. GILA! Magnificent! Oiya thumbs up juga sama para cast yang bermain dengan baik, walaupun belom sempurna juga. Para cast manusia nya oke, bangsa Na'vi nya juga gak kalah baik, walaupun pake CGI, tapi agak keliatan sedikit akting2 para pengisi suaranya.
The best part of this movie, as you guys maybe have already known: the effects. The graphics were spectacular. Mulus banget dan penuh warna-warna yang enak banget buat dilihat. Tampilan planet Pandora yang heavenly tertangkap jelas banget sama special effect yang canggih banget itu. Ditambah lagi dengan creatures2 yang sangat amat unik. Pinter banget itu yang bikin, keren2 soalnya, kayak gabung2in hewan-hewan bumi jadi bentuk yang gak jelas gitu hahaha gw suka banget sama 'naga'nya.As for the Na'vis, pretty cool ideas. Agak geli-geli juga sih ngeliat suku ini awalnya. Dengan tampilan seperti manusia kulit biru (inget baru2 ini belajar tentang mutasi gen manusia biru *beneran ada*) tapi kelakuan primitif, maksudnya hidupnya kayak macem Tarzan, jalannya juga hahaha Gw juga suka sama ada rambut-rambut halus dibalik rambut mereka yang panjang yang gunanya untuk berhubungan dengan binatang-binatang di Pandora.

Gw merekomendasikan lo untuk nonton yang 3D. Sebenernya pun tanpa 3D, kata orang-orang juga film ini memang sudah cukup spektakuler dalam hal grafis. Tapi kayaknya 3D memang lebih nampol. Ya tapi ketika nntn 3D lo harus menerima resiko nntn tanpa subtitle. Tapi sih gw fine-fine aja. Soalnya karena memang cerita nya gak terlalu berat dan masih dapat dimengerti, gw juga udah ngerti garis besar ceritanya. Jadi kalau memang nonton yang 3D, kalau bisa udah ngerti ceritanya sebelumnya, biar gak rugi-rugi banget lah. Tapi walaupun terlanjur pun, lo masih akan termanjakaan dengan tampilan visual nya yang... udah lah gak usah gw ungkapkan lagi hahaha
Overall sih film ini sebenernya sangat pas untuk dijadikan film hiburan dan sangat cocok memang dengan atensi yang diberikan pada film ini. Gembar-gembor film ini beberapa minggu lalu ternyata sebanding dengan hasilnya sendiri. Gw gak kecewa nntn film ini dan gak kecewa dengan cerita serta CGI nya yang dijanjikan sangat canggih. Tapi jika dinobatkan sebagai one of the year's best? Hmmmm bisa sih diselipkan, tapi sepertinya masih ada film-film yang sedikit lebih baik dari film ini (baca: District 9 hahaa). Tetapi nominasi Golden Globe untuk Film Terbaik memang masih pantas-pantas saja kalo disematkan untuk Avatar.

Sebagai film yang ditunggu-tunggu, film ini melebihi ekspektasi gw. Ceritanya yang klise tetap berjalan dengan lancar, ditambah dengan grafis yang yang wah banget. Durasi nya yang 2,5 jam-an memang sedikit berlebihan dan sebenarnya agak bisa dikurangin, cuman dengan tampilan visual yang mencengangkan itu, kayaknya 2,5 jam terasa begitu cepat. Keragaman budaya suku Na'vi sampai makhluk-makhluknya menjadi sebuah hiburan tersendiri. Sebuah masterpiece baru dari sang sutradara Titanic. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah Avatar akan menyamai kesuksesan gemilang dari Titanic -- film terlaris sepanjang masa dan 11 Oscar diraih? We'll see..

Review: Saw VI

| | |

"Live or die, make your choice"

Saw VI (2009)
Perlu gw ceritain cerita film yang udah masuk seri ke-6 ini? Bagi yang gak tau serial Saw, film ini bercerita tentang serial-killer yang menangkap orang-orang yang dianggapnya tidak menghargai hidup dan menguji mereka dalam sebuah 'tes' gila untuk dapat bertahan hidup. Jigsaw killer, begitulah John Kramer (Tobin Bell), dipanggil oleh polisi dan media massa. Dalam film-film sebelumnya, diceritakan bahwa John terkena sebuah tumor ganas yang lambat laun memangsa dirinya. Sebelum ia meninggal pun, John dengan sangat pintarnya masih dapat menyusun rangkaian lika-liku tes-tes maut serta mempersiapkan 'penerusnya'.
Dalam film ke 6 ini, *sedikit Spoiler sih* penerus Jigsaw, detektif Mark Hoffman (Costas Mandylor) juga terus melanjutkan petuah dari Jigsaw. Kali ini, korbannya adalah seorang pimpinan asuransi kesehatan yang harus melalui tes dimana ia harus memutuskan siapa bawahan-bawahannya yang hidup dan siapa yang tidak.

Dari seri-seri sebelumnya pun sebenarnya kualitas film ini bisa ditebak. Cheesy story, bad acting, bad dialog & lines, complicated and more complex tests. Jujur, gw sangat menikmati Saw pertama dan kedua. Menurut gw, kedua film itu adalah 2 dari thriller psikologi terbaik yang pernah gw tonton. Tetapi sejak seri ketiga dan seterusnya, kualitas film ini cukup menurun drastis. Dari kisahnya yang sangat unik, lama kelamaan bikin muak karena jalinan ceritanya yang tambah rumit. Ujian maut nya pun semakin kesini semakin brutal, tak bermoral dan terlalu ribet. Belom lagi salah satu ciri khas Saw yaitu twist ending di setiap filmnya. Di film ini, twist endingnya yang paling gak kerasa. Apa karena sudah ketebak ya polanya? Tapi gw akuin ceritanya film ini mungkin sedikit lebih berbobot dari seri ke-4 dan ke-5.
Tapi gw gak mau munafik, gw pasti selalu penasaran dengan seri yang satu ini. Jelas, bahwa film ini tidak menawarkan sesuatu yang fresh dan sensasi thrilling seperti film awalnya. Tapi entah kenapa gw selalu penasaran dengan ceritanya dan tentu aja tes-tes yang ada di film ini. Walaupun lama-lama makin aneh dan ga jelas, tapi tetep aja bikin penasaran hahaha sempet terkesan juga sama 'russian roullette' versi Saw di film ini. Walaupun film ini pendapatannya paling rendah dari seluruh film Saw dan tidak menjadi peringkat 1 box-office, tapi kocek yg didapat selalu berkali-kali lipat dari budget yang dipakai. Ini yang katanya membuat Lionsgate udah teken kontrak sampai seri ke-10. Game over? Not yet!

ALICE IN WONDERLAND

| | |





Dated Released : 5 March 2010
Quality : BRRip 720p
Info : imdb.com/title/tt1014759
Starring : Johnny Depp, Mia Wasikowska
Genre : Adventure | Family | Fantasy
_________________________________


Download File [600MB-mkv]
___________________________
Download Subtitle Indonesia
Download Subtitle English


____________________________________________________________________________________
R E S E N S I

Tak terasa waktu telah bergulir dengan cepat. Alice (Mia Wasikowska) kini telah berusia 19 tahun dan melupakan segala petualangan yang sempat ia alami ketika masih kecil. Alice tak akan ingat jika saja petualangan itu tak datang lagi kepadanya tepat ketika ia sedang berada di sebuah pesta.

Alice yang sedang berada di sebuah pesta tiba-tiba menyadari bahwa ia akan segera dilamar di hadapan para pengunjung pesta saat itu. Merasa tak siap menghadapi itu, Alice pun mencoba untuk menghindar. Saat berusaha melarikan diri inilah Alice bertemu White Rabbit (Michael Sheen) yang membimbingnya masuk ke lubang yang ternyata menuju ke Wonderland.

Sepeninggal Alice sepuluh tahun sebelumnya, terjadi sebuah kudeta. Red Queen (Helena Bonham Carter) berhasil mengambil alih kekuasaan dari White Queen (Anne Hathaway). Seluruh penghuni Wonderland hanya bisa menunggu waktu yang tepat sambil mempersiapkan diri untuk merebut kembali kekuasaan dari Ratu yang jahat ini.

Kembali bertemu Cheshire Cat (Stephen Fry), Tweedledee dan Tweedledum (Matt Lucas), March Hare (Noah Taylor), Mad Hatter (Johnny Depp) dan Caterpillar (Alan Rickman), ingatan masa lalu Alice pun kembali. Kini Alice menjadi tumpuan harapan semua penghuni Wonderland yang telah lama hidup dalam tekanan