Tutorial Gabungkan File Dengan Hjsplit

| Sabtu, 02 April 2011 | |
hjsplit, download, tutorial, cara pakai, film, gabung 
Cara Menggunakan :
1) Tata File yang ingin anda gabung, jadikan satu folder, misalnya :
- Saw.VI.2009.R5rip.mkv.001
- Saw.VI.2009.R5rip.mkv.002
- Saw.VI.2009.R5rip.mkv.003
- Saw.VI.2009.R5rip.mkv.004
Lihat urutannya, Harus mempunyai nama yang sama. File yang digabung dapat berekstensi apa saja.

2) Lalu kemudian klik file hjsplit.exe dalam hjsplit.rar, ada 2 pilihan, yakni SPLIT dan JOINING, nah untuk menggabungkan file diatas menjadi satu agar bisa anda tonton, pilih JOINING lalu klik INPUT FILE, nanti akan terbuka windows explorer, pilih urutan pertama dari file yang ingin anda JOINING.

3) Tunggu sampai selesai, file asli 001, 002, 003, dst, bisa anda hapus SETELAH PROSES JOINING SELESAI...

Download HJSPLIT

Review: Buried

| Kamis, 03 Maret 2011 | |

DIKUBUR HIDUP-HIDUP

“Buried” membuka menit pertamanya dengan kegelapan total, beberapa menit penonton hanya akan disuguhi suara seseorang yang terengah-engah sulit bernafas, penonton hanya bisa mendengar suara gaduh seseorang tampak berusaha memberontak keluar dari suatu tempat yang sempit, pertanyaan siapa dia dan apa yang terjadi seketika langsung hinggap dalam benak masing-masing penonton, termasuk saya yang ketika itu duduk di deretan kursi dua teratas. Sekilas saya mengingat bangun dari tidur dalam suasana yang sama—bukan mimpi, saya tahu itu karena saya dalam keadaan sadar walau belum 100 persen—beberapa saat terpikir bahwa ini mimpi, selanjutnya saya berpikir “apakah saya buta?”, momen yang menakutkan walau hanya berlangsung beberapa menit, sampai saya pada akhirnya sadar untuk bangun dari tempat tidur dan mendapati bahwa ini hanya listrik padam, leganya saya sambil mencari saklar yang berada di luar rumah.
Mungkin itulah yang dirasakan oleh Paul Conroy (Ryan Reynolds) sesaat dia sadar dari pingsannya, mendapati dirinya dalam ruang gelap gulita, susah bergerak dalam keadaan mulut terikat. Rodrigo Cortes, sutradara asal Spanyol ini sudah sukses mengantarkan mimpi buruk setiap orang pada menit pertama, mengantarkan ketakutan orang pada ruang gelap, mengantarkan ketakutan orang terikat tanpa tahu apa yang terjadi dengannya. Tapi tidak dengan Paul Conroy, ini bukanlah mimpi buruk yang setiap saat bisa hilang ketika dia terbangun. Chris Sparling (penulis film ini) memilih sebuah takdir yang sangat pahit bagi Paul Conroy, yang hanya seorang pengemudi truk. Paul Conroy akhirnya bisa bebas membuka mata ketika dia berhasil menyalakan zippo, yang secara kebetulan tidak tahu bagaimana caranya bisa ada ditangannya yang terikat.
Paul Conroy berada di sebuah peti mati! dengan cahaya yang terbatas dia bisa melihat itu, dia terperangkap entah seberapa meter di dalam tanah, di dalam peti kayu. Selama hampir 20 menit, kita pun diajak untuk merasakan ketakutan, kegelisahan, dan kebingungan Paul yang kala itu masih terbata-bata mengingat apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Tidak ada narasi, tidak ada dialog hanya ada Paul yang meneriakkan ketakutannya sambil berupaya keluar dari peti tersebut, tapi segala upayanya hanya sia-sia belaka dan upaya saya untuk menebak-nebak apa yang terjadi dengan Paul juga sama sia-sianya. Okay saya pun memutuskan tidak ambil pusing untuk terus bermain tebak-tebakan dan fokus untuk menikmati sebuah “kemalangan”, Paul pun akhirnya bisa sedikit bernafas lega pada saat sebuah telepon genggam, lebih tepatnya blackberry, bergetar tanda ada panggilan masuk. Paul pun dengan susah payah dalam kondisi sesempit itu dan oksigen yang terbatas untuk mencoba meraih alat komunikasi yang mungkin bisa menolongnya.
Untuk pertama kalinya kita akan mendengar suara orang lain, selain suara gelisah Paul, untuk pertama kalinya juga satu-persatu pecahan puzzle terkumpul, pertanyaan kenapa Paul bisa ada di peti mati tersebut akhir sedikit terkuak. Panggilan tersebut berasal dari orang yang menculiknya, meminta tebusan 5 juta dolar atau dia akan dibiarkan mati, Paul juga akhirnya ingat jika rombongannya sebelumnya diserang oleh orang tidak di kenal. Dengan menggunakan telepon genggam, Paul pun berusaha menghubungi semua orang, termasuk istrinya, perusahaannya, dan tidak ketinggalan FBI, apakah Paul akhirnya bisa diselamatkan? apakah kita juga akan “diselamatkan” untuk tidak bosan melihat film yang hanya menyorot satu orang di satu lokasi sempit atau justru sebaliknya “Buried” berhasil mengubur rasa bosan itu?
“The Amityville Horror” di tahun 2005, adalah kali terakhir saya melihat Ryan Reynolds berakting begitu ketakutan, kala itu karena melihat rumahnya berhantu. Semenjak film horor ini saya jarang lagi melihat dia “merinding”, karena Reynolds pun lebih asyik bermain dalam drama/komedi romantis. Sebelum melihat dia berakting heroik dalam balutan kostum superhero di film “Green Lantern”, film karya Rodrigo Cortes “Buried” ini bisa dibilang ajang pembuktian terbaik bagi Reynolds dimana kita bisa melihat akting yang begitu maksimal dari seorang Reynolds, yang juga kelak akan memerankan tokoh jagoan Deadpool ini. Berbeda dengan “Devil” yang juga memanfaatkan lokasi sempit sebuah lift, di sini lakon yang dihadirkan bukan lagi lima orang yang terjebak melainkan satu orang yang terkurung dalam peti mati. Jika dalam film yang ditulis oleh M. Night Shyamalan, kita masih diajak untuk bernafas bebas keluar dari kurungan lift karena film ini juga menceritakan keadaan di luar lift tersebut, “Buried” tidak melakukan itu, film ini memblokir akses penonton untuk mengetahui apa yang terjadi dibalik peti kotak kayu tersebut. Yah kita akan dikurung bersama Paul Conroy yang diperankan oleh Reynolds, selama 90-an menit tanpa sedikitpun diberi celah untuk mengintip keluar.
Rodrigo Cortes melakukan tugasnya dengan BRILIAN, memanfaatkan satu orang pemain saja dengan lokasi yang itu-itu aja plus hanya sebuah peti mati sempit dan gelap dengan minimnya cahaya. Tidak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya bagaimana Cortes melakukan itu, mengesekusi cerita yang hanya menyorot seorang yang terjebak dalam peti mati, apa yang akan membuat film ini menarik? pertanyaan tersebut pun akhirnya seperti “diludahi” balik oleh Cortes. Ternyata apa yang ditawarkan film yang premier di festival film Sundance ini adalah sebuah serangkaian cerita yang tidak hanya menarik, tetapi bisa membuat penonton terpaku di bangkunya masing-masing, “menghibur” saya dengan suapan-suapan ketegangan yang maksimal. Minimnya cahaya, sempitnya ruang gerak, sesaknya nafas, diperlakukan sangat istimewa sebagai “teman setia” yang kerjanya menggenjot mood kita untuk tetap sejalan dengan setiap hembusan nafas Paul yang makin terburu-buru memasukkan udara ke paru-paru. Cortes dengan cemerlang sanggup mengisi setiap menit film ini dengan ketegangan demi ketegangan yang dijamin membuat kita juga ikut bersumpah-serapah, berteriak kasar seperti apa yang dilakukan Paul.
“F**k you Cortes!” bagaimana dia bisa membuat film ini begitu emosional, tidak hanya pintar mengarahkan Ryan Reynolds untuk memaksimalkan performanya, tetapi juga dia sanggup membuat setiap emosi Reynolds untuk berinteraksi dengan penontonnya. Paul sukses melempar setiap ketakutan, kebingungan, rasa hopeless-nya, kegelisahan, dan juga termasuk kata-kata kotornya untuk tersampaikan dengan tepat hinggap di bangku para penontonnya. Ketika Paul kesal dengan pihak perusahaan, FBI, dan pihak terkait lainnya, Cortes juga dengan cerdik mampu menyelipkan sebuah pesan anti-perangnya, memberi sebuah gambaran “bodoh”-nya pemerintah Amerika ketika berurusan dengan masalah penyanderaan warganya, semua seakan berbelit-belit dan penuh birokrasi ketika semua menyangkut warga sipil dan bukan seorang jenderal. Ketika saya juga ikut memaki-maki perlakuan mereka kepada nasib hidup Paul, Cortes entah dimana sepertinya tersenyum karena sudah berhasil membuat penonton termasuk saya, untuk ikut melebur ke dalam film, untuk ikut terperangkap dalam peti, untuk ikut terkubur dalam ketegangan.
“Buried” pun tidak hanya pintar memanipulasi emosi, mengingatkan akan sebuah mimpi buruk, tetapi juga sanggup membuat kita senantiasa berada di posisi tersudut, mencekam dengan setiap ketegangan yang dimasukkan Cortes sekop demi sekop sampai akhirnya saya terkubur dengan ketegangannya. Bahkan film ini sanggup mengingatkan betapa satu bar status baterai telepon genggam itu benar-benar penting, siapapun pasti pernah berada pada posisi genting, dimana ketika handphone diperlukan justru tidak bersahabat karena “low-batt” dan kita tidak membawa charger, hidup seperti berakhir begitu saja. Film ini mengajak kita ke momen tersebut namun melipat-gandakan situasinya menjadi berpuluh kali lipat, seakan hidup Paul tidak hanya tergantung pada takdir yang sedang berlomba dengan waktu, tetapi juga bergantung pada baterai telepon genggam.
Pengambilan gambar yang menyorot layar status baterai pun sesekali diperlihatkan untuk menambah ketegangan. Berbicara soal bagaimana film ini bermain kamera, hal ini juga yang jadi kelebihan film ini. Entah apa yang dilakukan Eduard Grau dengan kamera tersebut, yang jelas dia berhasil menangkap momen-momen Paul versus peti mati dengan luar biasa apik. Setiap pergerakan kamera, memutar 360 derajat, meng-close up, dan juga menyorot lambat dari atas telah berhasil menghias visual film ini untuk selaras dengan ketegangan yang ingin dimunculkan. Ketika semua berjalan dengan brilian, sekarang tinggal bagaimana Reynolds mampu mengajak penonton untuk bermain “kubur-kuburan” dengannya, dan dia ternyata sanggup melakukannya juga dengan brilian. Cortes dan satu pemain bernama Ryan Reynolds sudah berhasil menutup rapat-rapat rasa bosan, walau dengan jalan cerita yang lambat. Namun jalan cerita tersebut memang dibuat tidak hanya untuk mengulur waktu tetapi sudah pas dalam usahanya membuat penonton menunggu, karena terkadang menunggu itu lebih buruk dari kematian itu sendiri. “Buried” sudah menyuguhkan 95 menit terbaiknya dengan menawarkan rentetan ketegangan dan juga kejutan demi kejutannya, giliran saya memberikan film ini tempat terbaik di daftar film terbaik 2010 dan memaku film ini dengan label ENDING terbaik tahun ini.

Review: Resident Evil Afterlife

| | |

My name is Alice. I had worked for the Umbrella Corporation. Five years ago, the T-Virus escaped, and everybody died. Trouble was… they didn’t stay dead

Alice kembali!!…bukan di dunia ajaib bernama wonderland tapi masih di bumi dan masih dengan para zombie. “Resident Evil: Afterlife”, menambah satu seri lagi dalam daftar franchise adaptasi game survival-horror yang dimulai tahun 2002 ini. Bukan suatu kejutan jika pada akhirnya franchise ini akan berlanjut ke film ke-4 tahun ini, bermodal kepercayaan diri karena kesuksesan secara komersil—dengan bujet dibawah $50 juta, film-film “Resident Evil” selalu mencuri perhatian penonton dan meraih untung berlipat ganda—tentu saja zombie-zombie ini akan kembali tergiur wangi uang, walau mendapat kritikan pedas dari para kritikus dan pecinta game-nya. Lalu, selain Alice siapa lagi yang “lolos” dari kejaran mayat hidup dan kembali untuk “survive” di film terbaru? ternyata Paul W. S. Anderson juga kembali turun tangan menyutradarai film yang dimulainya 8 tahun yang lalu. Dia memang tidak duduk di kursi panas sutradara di 2 sekuel berikutnya namun tetap menulis naskahnya merangkap sebagai produser. Jadi apakah dengan nasib Alice dan kawan-kawannya berada di tangan Mr. Anderson (lengkap dengan cara bicara agent Smith di The Matrix), film ini akan jauh lebih baik dari pendahulu-pendahulunya?
Alice diceritakan sudah mengetahui bahwa dirinya dikloning oleh perusahaan Umbrella, musuh bebuyutannya. Dipicu oleh balas dendam, dia pun memanfaatkan saudara-saudara se-DNA-nya untuk ikut bergabung menyerang markas perusahaan berlogo payung merah ini. Alice disini akan mengingatkan kita dengan “Neo”, superior, tak terkalahkan, punya kekuatan super dan ditambah dia juga punya pasukan kloning yang akan membuat agent Smith cemburu. Namun usaha Alice menghabisi perusahaan pencipta T-virus ini tidak sesuai rencana, semua kloningnya terbunuh dan Alice sendiri kehilangan kekuatannya. Sepertinya Anderson belajar dari kesalahannya di Resident Evil: Extinction, menciptakan Alice layaknya superhero ketimbang fokus pada heroine yang berjuang dengan kekuatan manusia biasa. Setelah menjadi normal, Alice terbang dengan pesawatnya menuju tempat bernama Arcadia di Alaska, satu-satunya kota yang dipercaya tidak terjangkit virus. Tapi yang ditemukan oleh Alice hanya pantai kosong tak bertuan, dia justru bertemu dengan teman lamanya dari film sebelumnya Claire Redfield (Ali Larter) yang amnesia. Bersama dengan Claire, mereka terbang menuju Los Angeles, disana mereka menemukan orang-orang yg selamat dan juga ribuan zombie…serta makhluk besar bernama Axeman.
Mr. Anderson (lagi-lagi dengan gaya bicara agent Smith :p) benar-benar memanfaatkan dengan baik “Resident Evil: Afterlife” untuk menumpahkan semua egonya, termasuk mengemasnya dalam bentuk 3D, bukan konversi seperti film-film 3D kebanyakan tapi memanfaatkan teknologi yang dikembangkan oleh sutradara favoritnya, James Cameron, lewat Fusion Camera System (teknologi yang sama yang digunakan Avatar). Tapi ketika Anderson terlalu sibuk mempersiapkan filmnya untuk tampil maksimal dengan kacamata 3-D, hasilnya adalah film ini justru terlihat berlebihan, plotnya terlupakan dan bergantung pada ceritanya yang pintar berbicara lewat adegan action. Dari sekian banyak adegan-adegan aksi yang ditawarkan pun, tidak semua dikemas dengan intensitas hiburan yang maksimal, kadarnya ringan hanya untuk bersorak-sorai sejenak (seperti pemandu sorak yang kelelahan). Anderson hanya cukup menambahkan adegan-adegan action yang sudah kadaluarsa, klise, lalu mendaur-ulangnya dan me-make-overnya sedikit untuk terlihat seperti baru. Formula “basi”nya pun diracik dengan slow motion yang berlebihan.
Adegan-adegan action yang banyak meniru apa yang sudah dilakukan trilogi The Matrix ini memang tidak dipungkiri mampu memukau mata tapi nol besar dalam misi utamanya mengajak adrenalin saya untuk berdecak kagum, kegirangan berlari dari kejaran zombie. Plotnya mudah-ditebak-membosankan-datar-tak-karuan, ditambah dengan barisan adegan gerak lambat yang berlebihan, film ini mengerti sekali untuk membuat saya diam dan sesekali menghela nafas tanda bahwa film ini mulai membawa saya ke titik bosan. Film ini seperti mengajak kita menaiki roller coaster yang tidak pernah berhasil menanjak ke puncak, apalagi mengajak kita terjun bebas dari ketinggian. Momen-momen survival-nya pun hanya sanggup mengajak saya sebentar untuk merasakan “girang” lewat beberapa adegan pertempuran dengan zombie dan monster besar bernama Axeman, tapi sekali lagi gagal untuk mengajak saya untuk sampai ke titik klimaks. Apalagi Anderson senang sekali menyelipkan adegan percakapan dan konflik tidak penting yang parahnya sengaja untuk dipanjang-panjangkankan untuk menghabiskan durasi.
“Resident Evil: Afterlife” yang anehnya seperti film ke-empat The Matrix di awal, makin terlihat seperti film yang berdiri sendiri apalagi ketika Anderson tampaknya lupa dengan apa yang di tuliskannya di film ketiga. Jika pada film ketiga diceritakan T-virus sudah menyebar ke seluruh belahan dunia dan merubah wajah bumi yang biru menjadi gersang, air sungai kering lalu daratan ditutupi oleh padang pasir. Di film ini, lucunya bumi masih hijau, pohon-pohon masih hidup seperti tidak terjadi apa-apa. Bahkan kota Los Angeles, belum tertimbun padang pasir dan justru tampak seperti baru saja terjadi zombie outbreak dengan gedung-gedung yang masih terbakar. Nilai plus disini untuk Anderson dan semua orang dibalik layar yang sanggup menghadirkan dunia post-apocalyptic yang benar-benar memperlihatkan kehancuran total. Walau meng-anaktirikan zombie dengan menjadikan mereka sepasukan figuran tetapi saya mengacungkan jempol dengan kemunculan adanya Axeman (The Executioner), monster yang satu ini cukup didesain menakutkan ketika filmnya sendiri tidak menakutkan sama sekali. Anderson telah berhasil menciptakan virus yang lebih mematikan daripada T-virus sendiri, yaitu virus bosan, menginfeksi 90 menit durasinya tanpa menawarkan sedikitpun obat penawar.

Review: Rumah Tanpa Jendela

| | |

Bu, kapan kita punya rumah yang ada jendelanya

Benturan takdir yang mempertemukan antara si kaya dan si miskin lagi-lagi menjadi tema yang diangkat sineas Indonesia, kini lewat film keluarga arahan Aditya Gumay berjudul “Rumah Tanpa Jendela”. Tema yang juga baru-baru ini diangkat oleh “Rindu Purnama” sebagai pondasi ceritanya, film debut penyutradaraan Mathias Muchus tersebut sama-sama menghiasi perfilman tanah air di bulan Februari ini. Walau punya tema cerita yang bisa dibilang senyawa, namun di bawah arahan sutradara Aditya Gumay, film “Rumah Tanpa Jendela” akan terkecap berbeda dengan adanya unsur musikal di dalamnya. Musik dan tari-tarian ditambah nyanyian yang kebanyakan ditampilkan oleh anak-anak menjadi visualisasi pas untuk menggambarkan keceriaan anak-anak dan juga mimpi-mimpi mereka. Jika pada film sebelumnya, “Emak Ingin Naik Haji”, Aditya Gumay sukses mengaduk-ngaduk emosi penonton lewat peran yang dimainkan oleh Atie Kanser dan  Reza Rahadian. Sekarang kesederhanaan kisah persahabatan yang terjalin antara kedua malaikat kecil yang dipisah status sosial ini bisa dibilang banyak dibumbui keceriaan dan kehangatan, walau pada akhirnya Aditya Gumay masih akan menyeret penontonnya ke situasi menyentuh dan menyedihkan, tapi dengan takaran yang pas dan tidak berlebihan untuk usahanya mendongkrak sisi drama yang ingin ditonjolkan film ini.
“Rumah Tanpa Jendela” yang kembali diramaikan oleh kehadiran Atie Kanser sebagai seorang nenek yang lincah dan penyabar, akan menceritakan dua sisi dadu yang berbeda, Rara (Dwi Tasya) boleh dibilang gadis kecil yang enerjik dan selalu bisa melihat sesuatu dengan cara positif didampingi keluguannya, seperti anak-anak lain seumurannya, Rara juga pastinya punya mimpi dan keinginan, eh bukan boneka atau gaun yang bagus untuk ke pesta, tapi hanya sebuah jendela untuk rumahnya. Jendela? yah barang yang terlihat murah dan banyak menghiasi rumah-rumah mereka yang beruntung, tapi untuk Rara dan keluarganya untuk makan sehari-hari saja sudah sulit apalagi mengabulkan impian untuk memiliki jendela. Rara hanya tinggal di perkampungan kumuh dimana dia dan puluhan anak-anak lain tinggal bersama orang tua mereka yang memiliki beragam pekerjaan, yah termasuk juga sebagai pemulung. Sedangkan ayah Rara (Rafi Ahmad) untuk menghidupi anak dan Si Mbok (Ingrid Widjanarko), harus banting tulang setiap hari berjualan ikan hias dan memperbaiki sepatu. Rara yang juga bekerja serabutan dari mengamen dan mengojek payung pun hanya bisa meminta dan bersabar untuk selembar daun jendela.
Nah beda jauh dengan sisi kehidupan Rara, di tempat lain, Aldo (Emir Mahira) hidup di keluarga yang berkecukupan, rumah mewah dan segala kebutuhannya selalu terpenuhi, namun Aldo yang sedikit “berbeda” dengan anak lainnya merasa kesepian ketika Ayah dan Ibunya beserta kakak-kakaknya terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Kesepian Aldo sedikit terobati ketika neneknya, Nek Aisyah (Atie Kanser), memutuskan untuk tinggal di Jakarta dan menemani cucunya. Kesepian Aldo pun makin hilang ketika dia bertemu teman baru, Rara, walau harus diawali tidak baik, karena Rara pada saat itu tidak sengaja terserempet mobil yang ditumpangi Aldo dan neneknya. Sejak saat itulah, keduanya saling berbagi dan menjalin persahabatan yang tulus, Aldo jadi sering datang ke tempat dimana Rara tinggal, berkenalan dengan teman-teman Rara lainnya, termasuk menyumbangkan buku-buku untuk sekolah singgah dimana Rara dan teman-temannya belajar bersama guru sukarelawan bernama Bu Alya (Varissa Camelia). Lalu bagaimana dengan impian Rara untuk merasakan sinar matahari lewat sepasang jendela? apakah Aldo juga akan merasakan kehangatan kasih sayang keluarga yang utuh?
Seperti Rara dan juga Aldo yang berbagi kehangatan lewat persahabatan layaknya sebuah sinar matahari pagi, “Rumah Tanpa Jendela” juga mampu membagi rasa hangat tersebut pada penontonnya, selain nantinya juga mengantarkan kita ke adegan demi adegan yang penuh keceriaan anak-anak, yang salutnya mampu disampaikan dan digarap dengan apik, semangat dan kepolosan anak-anak di film ini berhasil mengajak kita untuk sementara waktu melupakan kesibukan kita dibalik kursi bioskop untuk melebur bersama mereka ke sebuah kisah yang diceritakan dengan pola sederhana namun tetap menyenggol dengan pas emosi dan hati penonton. Ketika film-film “ajaib” masih saja ngesot dengan enaknya dan nangkring dengan pe-de-nya di bioskop, film-film sederhana namun penuh makna dan pesan moral macam “Rumah Tanpa Jendela” menjadi begitu berharga dimata saya, karena tidak hanya mengingatkan saya betapa kesederhanaan itu indah dan segala nikmat kehidupan itu patut selalu disyukuri, tetapi juga melalui film-film seperti inilah sampai sekarang saya masih bisa tetap optimis dengan film-film lokal, kemasan film yang serba kurang itu bisa diperbaiki nanti yang terpenting tidak mengurangi kualitas cerita dan film itu sendiri apalagi sampai membuat film asal jadi dan asal taruh judul seperti film-film yang seenaknya ngesot dan menzalimi perfilman nasional.
“Rumah Tanpa Jendela” bukan tanpa cela di tengah cerita simpelnya yang terhantarkan dengan sempurna ke tiap kursi penonton. Yah saya kecewa dengan kemasan visualnya yang bisa dbilang kurang cerah, seperti menonton film ketika baru bangun tidur saja, agak gelap jadi kurang menikmati pada saat film ini berniat memamerkan gambar-gambar yang indah, sayang sekali. Satu lagi dan yang bisa dibilang cukup mengganggu adalah kualitas tata suaranya, ini memang bukan film action yang perlu hingar bingar efek suara yang memanjakan telinga, tapi kedepannya film drama seperti ini saya harap bisa lebih memperhatikan tata suara, karena walau film drama, penonton akan lebih enak dan nyaman ketika suara yang dihasilkan jernih dengan kualitas gambar dan suara yang sinkron, sayangnya film ini terkadang gambar yang disampaikan tidak selaras dengan suara yang sampai ke telinga. Tapi biarlah, seperti yang saya singgung di paragraf diatas, kemasan yang kurang bisa diperbaiki di film berikutnya, sisi teknis yang sekarang cukup mengganggu kenikmatan menonton semoga bisa lebih diperhatikan.
Untungnya semua kekurangan, termasuk cerita yang beberapa kali terpeleset, tidak fokus, musikalnya hilang begitu saja dan menyelipkan beberapa adegan tidak penting, termasuk seperti adegan “sekolah SD Obama” misalnya, yang walaupun sejalan dengan pesan film ini tentang sebuah impian tapi adegan tersebut seperti numpang lewat dan “tidak kena”, kenapa tidak mencoba cari panutan dari negeri sendiri, mungkin akan lebih punya makna tersendiri. Cukuplah bicara melulu soal kekurangan, ketika lubang-lubang tersebut pun sanggup di tambal permainan akting dua tokoh utama anak-anak dalam film ini, Emir Mahira (Garuda di Dadaku) apik melakonkan anak yang terbelakang dengan bahasa tubuh dan penyampaian dialog yang pas. Aktingnya pun berhasil menjalin chemistry yang lumayan kuat dengan lawan main, Rara yang diperankan Dwi Tasya, walaupun debut pertama kalinya di film layar lebar, dia mampu bermain natural, luwes, sesekali masih terlihat kekakuan ketika berdialog, ah tapi kepolosan anak-anak ini pada saat berakting sekali lagi membuat saya lupa dengan kekurangan-kekurangan film ini.
Aditya Gumay sepertinya mengerti sekali bagaimana mengarahkan anak-anak ini dan memperlakukan mereka di depan kamera, menjadi wajar memang karena pengalamannya bertahun-tahun yang dekat dengan dunia anak, apalagi ketika dia mendirikan Sanggar Ananda yang sukses menghasilkan anak-anak yang berbakat, jika ada yang ingat dengan “Lenong Bocah”, itu adalah salah-satu dari karya sanggar ini. “Rumah Tanpa Jendela” pun akhirnya memang akan menjadi film anak-anak, dikemas terkadang juga dengan adegan dan dialog kekanak-kanakan yang polos, lalu apa film ini hanya akan membuat senang anak-anak saja, tidak juga. Saya yang bukan lagi pantas disebut anak-anak justru terhibur dengan apa yang disampaikan Aditya Gumay, dengan segala pesan moral yang dikemas dengan warna-warni kehidupan yang manusiawi dan tidak berlebihan. Letupan-letupan emosi yang dirangkai oleh cerita yang ditulis oleh Aditya Gumay dan Adenin Adlan pun mahir dalam misinya untuk mempermainkan perasaan saya sebagai penonton. “Rumah Tanpa Jendela” pun mampu menjadi film keluarga yang tidak terlalu menggurui dan dengan mudah kita dapat memetik kematangan makna di setiap kisahnya.

DEVIL

| | |



Dated Released : 17 September 2010
Quality : BRRip
Info : imdb.com/title/tt1314655
Lihat : Trailer
Starring : Chris Messina, Caroline Dhavernas, Bokeem W
Genre : Horror | Mystery | Thriller



Download File |Sub Indo
 __________________________________________________________________________________
 SINOPSIS
 
Kata orang hidup ini penuh dengan kejutan. Setiap saat kita berhadapan dengan pilihan dan kesempatan yang tak pernah terduga datangnya. Di lain sisi, ada yang bilang kalau tidak ada satu pun di dunia ini yang terjadi tanpa alasan yang jelas. Semuanya sudah diatur dan direncanakan. Tapi bagaimana kalau yang terjadi itu benar-benar di luar dugaan. Seperti bertemu sang iblis misalnya.

Seperti biasa, kehidupan berjalan normal dan tak ada yang aneh. Setidaknya sampai suatu hari ada sekelompok orang yang terjebak di dalam lift dan tak bisa keluar. Segala macam cara sudah mereka lakukan namun tetap saja seolah tak ada harapan bisa keluar dari dalam lift.